"Aku ingin meletakkan sekuntum sajak di makam Nabi, Supaya sejarah menjadi jinak. Dan mengirim sepasang merpati" (Kuntowijoyo)

Minggu, 17 Januari 2016

The Ecstasy of Giallorossi Gold


“Eh Rudi Garcia wis resmi dipecat to bung ?” kata seorang teman via wasap pada Rabu malam. Saya sendiri tak tahu menahu soal pemecatan pelatih berkebangsaan Perancis tadi. Tapi, apabila Rudi Garcia benar-benar dipecat, bukan sebuah kabar yang mengagetkan. Maklum, salah satu pengamat bursa transfer di jagad sepakbola, yaitu Gianluca Di Marzio sudah mengemukakan rumor tersebut pada hari Minggu, pasca hasil imbang yang diderita AS Roma kontra AC Milan. Gianluca Di Marzio sendiri memang dikenal valid apabila menyampaikan pemberitaan mengenai transfer pemain maupun pergantian pelatih. Saat itu, Gianluca Di Marzio menyatakan bahwa Luciano Spalletti menjadi pilihan utama AS Roma, opsi lainnya adalah Marcelo Bielsa dan Jorge Sampaoli.

Info yang disampaikan Di Marzio ternyata terbukti, tanggal 15 Januari kemarin Roma mengumumkan pelatih baru mereka, Luciano Spalletti. Juru taktik berkepala plontos yang pernah menangani AS Roma dari tahun 2005 hingga 2009. Pertanyaannya, apakah Rudi Garcia layak dipecat ? Kalau aku sih yes, entah yang lain kayak coach Justin yang kerap mengisi acara ESPN FC di Net TV. Bagi coach Alvin, Rudi Garcia masih layak melatih Roma, alasannya selisih poin dengan pemuncak klasemen tidak terlalu banyak. Tapi, ia agak pesimis apabila Roma berambisi meraih scudetto dengan materi pemain yang ada. Saya kurang setuju dengan pendapat tersebut. Apabila membandingkan skuad Roma dengan tim lain, seperti Inter Milan, Napoli ataupun Fiorentina. Jelas, kualitas pemain Roma lebih mewah. Skuad mereka secara kualitas hanya kalah dengan Juventus.

Rudi Garcia layak dipecat karena tak punya variasi taktik. Pelatih yang pernah merumput bersama Lille tersebut dikritik oleh banyak pihak karena tak mempunyai plan B. Ia tetap konsisten memakai formasi 4-3-3 yang secara permainan sudah terbaca oleh lawan-lawannya. Selain itu, kekalahan telak di Camp Nou atas Barcelona juga sebuah blunder besar. Memakai high pressing pula, ealah Rud, ya jelas keteteran menghadapi kecepatan pemain Barca. Pasca kekalahan tersebut, mental pemain Roma langsung turun. Mirip seperti musim kemarin, ketika Roma dibabat 1-7 oleh Bayern Muenchen. Dewi fortuna mungkin mampir sebentar skuad Roma, mereka berhasil lolos ke fase 16 besar Liga Champions dan mencatatkan diri sebagai tim yang pernah lolos dengan poin paling minim sepanjang sejarah. Bayangkan, Il Lupi hanya mengemas enam poin dari lima pertandingan yang mereka jalani. Mereka bersanding dengan Zenit St Petersburg yang pernah lolos ke fase 16 besar dan hanya mengemas enam poin pada musim 2013/14. Siapa pelatih Zenit kala itu ? sayang sekali, pria yang beruntung tersebut bernama Luciano Spalletti.


Tapi toh, bagaimanapun juga, sebagai fans AS Roma, ucapan terima kasih layak disampaikan kepada Rudi Garcia. Di musim pertamanya, beliau berhasil mengubah AS Roma menjadi penantang serius Juventus. Ia berhasil menumbuhkan mental pemain yang turun, apalagi sejak menelan kekalahan dari rival abadinya di ajang final Coppa Italia 2013. Di musim pertamanya, Rudi Garcia mengantarkan Roma menjadi runner up dengan raihan 85 poin, jumlah terbanyak sepanjang Roma berlaga di Serie A. Sepakbola menyerang nan indah yang disajikan oleh Garcia juga menuai pujian. Memang, pada musim tersebut Roma tidak berpartisipasi di kompetisi Eropa dan menjadi nilai plus agar lebih fokus ke liga domestik. Tapi kesalahan demi kesalahan terus dipelihara oleh Rudi Garcia pada musim kedua dan ketiganya. Kesalahan di bursa transfer juga menjadi biang masalah sejatinya. Walter Sabatini, selaku direktur sepakbola patut bertanggung jawab atas pilihan pemain yang gagal nyetel dengan permainan Rudi Garcia.

Lalu, apa yang bisa diharapkan Romanisti terhadap Luciano Spalletti ? memang sih, ada yang bilang bahwa yang namanya mantan tuh susah untuk dilupakan. Tapi, apabila bicara soal mantan, bagaimana dengan Zdenek Zeman ? ya, rezim Zeman II memang menuai kegagalan dibalik sepakbola cantik yang ia suguhkan. Nah, apakah Spalletti akan mengikuti jejak Zdenek Zeman ? atau mungkin akan seperti Nils “The Baron” Liedholm yang kembali lagi ke Roma pada tahun 1979 dan berhasil menjadikan Roma sebagai serigala yang disegani pada periode 1980an. Liedholm, Zeman dan Spalletti merupakan pelatih yang menyuguhkan inovasi baru di Italia. Liedholm mengenalkan sistem zonal marking disaat klub Italia lainnya cenderung pada sistem libero dan man marking. Zdenek Zeman sendiri selalu bersikukuh menerapkan “attack, attack, attack” dari detik pertama, padahal kala itu klub Italia sedang digandrungi model catenaccio. Terakhir, formasi 4-6-0 yang kerap disebut strikerless pernah dipopulerkan oleh Spalletti ketika melatih Roma. Gaya tersebut kelak akan melahirkan peran false nine yang menuai kesuksesan di kubu Barcelona dan timnas Spanyol. Persamaan lain yang patut diperhitungkan dari ketiga pelatih tadi adalah, mereka gemar mengorbitkan pemain-pemain muda.


Luciano Spalletti memang menjadi pelatih yang terakhir kali memberikan gelar bagi AS Roma. Bisa dibilang, kejelian Spalletti membuahkan kesuksesan di tubuh AS Roma. Selama tiga musim, Roma berhasil finish di posisi kedua dan menjadi kompetitor utama Inter Milan. Wajar, selepas kasus calciopoli, performa Juventus dan Milan agak melempem di liga domestik. Kondisi tersebut, layak dibandingkan dengan persaingan Serie A musim ini. Serie A tidak melulu dikuasai oleh dua tim. Sampai detik ini, Roma masih bertengger di peringkat lima dengan jarak 10 poin dari Napoli, pemuncak klasemen sementara. Kans Scudetto bisa dibilang masih terbuka lebar. Asalkan konsistensi permainan terus terjaga hingga akhir musim. Kalaupun gagal meraih titel juara, bagi saya pribadi bukan sebuah masalah. Berhasil lolos Liga Champions merupakan raihan yang positif bagi De Rossi dkk. Asalkan mereka mampu bermain konsisten, penuh semangat dan menyuguhkan sepakbola atraktif.

Seperti biasa, Spalletti dikenal sebagai pelatih yang konsisten memakai formasi 4-2-3-1. Empat bek berada di depan kiper, fullback kanan dan kiri akan membantu serangan.  Spalletti juga kerap menempatkan dua gelandang yang beroperasi sebagai holding midfielder. Di posisi lain, dua winger akan mengapit gelandang serang untuk membantu striker. Namun, cedera yang mendera beberapa pemain Roma pada musim 2006/2007 memaksa Spalletti untuk memutar otaknya. Formasi 4-2-3-1 seolah-olah berubah menjadi 4-6-0 atau 4-5-1-0 ataupun 4-1-5-0. Totti yang mempunyai keahlian untuk menyuplai bola tetap berada pada posisi gelandang serang. Ia tetap turun ke bawah untuk menjemput bola, distribusi akan ia alirkan ke dua pemain sayap, yaitu Rodrigo Taddei atau Mirko Vucinic di sisi kiri dan Mancini di sebelah kanan. Dua gelandang ditengah akan membantu serangan, plus dua bek sayap yang terkadang juga menyisir lapangan untuk membangun serangan. Di satu sisi, posisi De Rossi akan mengemban tugas sebagai jenderal di area pertahanan AS Roma. Kelihaian Spalletti untuk tetap memasang Totti sebagai gelandang serang dengan asumsi terlihat seperti striker palsu terbukti efektif. Pemain yang akan berumur 40 tahun pada September mendatang berhasil mengemas 26 gol di musim 2006/2007. Spalletti juga berhasil menyulap Vucinic yang sebenarnya berposisi asli sebagai striker untuk beroperasi disisi kiri sebagai sayap.

Eksperimen atas taktik 4-2-3-1 tersebut memang berbuah manis, dua Coppa Italia (2006-2007 dan 2007-2008) serta satu buah Super Coppa (2007) berhasil mendarat di Olimpico. Di jagad Champions League, permainan Roma juga mencuri perhatian banyak pihak. Sayang, di tahun 2007, Roma menelan kekalahan telak (7-1) atas Manchester United di fase perempatfinal. Kekalahan tersebut mengindikasikan, bahwa permainan yang diterapkan Spalletti cenderung “sangat menyerang”. Konon, Sir Alex Ferguson terinspirasi atas inovasi yang dilakukan Luciano Spalleti. Formasi dengan role striker palsu sempat diterapkan Manchester United pada musim 2007/2008. Rudi Garcia juga pernah menyuguhkan gaya tersebut di musim pertamanya melatih Roma. Peran Totti sebagai false nine terbukti ampuh ketika anak asuh Rudi Garcia berhasil menjungkalkan Inter Milan dengan skor 0-3.


Melatih klub semacam AS Roma memang bukan hal yang mudah. Tekanan dari pemilik klub dan suporter sangatlah tinggi. Apabila menilik dari periode 90an, terhitung hanya ada empat pelatih yang mampu bertahan selama dua musim lebih, yaitu Carlo Mazzone (1993-1996), Fabio Capello (1999-2004), Luciano Spalletti (2005-2009) dan tentu saja, Rudi Garcia (2013-awal 2016). Beban yang diemban Luciano Spalletti sangatlah berat. Satu hal utama yang perlu diperbaiki adalah mental pemain. Hal tersebut akan berimbas pada konsistensi permainan Giallorossi. Selain itu, harapan agar skema permainan cantik kembali diperlihatkan oleh Spalletti juga bukan hal yang mudah untuk direalisasikan. Pertanyaannya, apakah gaya bermain dengan role false nine mampu diterapkan Spalletti. Katakanlah, peran Totti saat itu diserahkan kepada Edin Dzeko ? Striker asal Bosnia tersebut sejauh ini masih kurang konstribusi golnya. Ia seringkali terlihat turut menjemput bola. Kondisi tadi wajar, sebab pemain sayap Roma semacam Salah atau Gervinho memang dikenal pelit untuk crossing. Padahal Dzeko sendiri lebih dikenal sebagai orthodox forward. Dzeko sebagai false nine secara skill jelas diragukan, akan tetapi menempatkan Pjanic pada role tersebut jelas lebih efektif. Posisi Dzeko alangkah baiknya disulap seperti Vucinic, bisa diletakkan di sisi kanan menggantikan Gervinho yang kemungkinan besar akan berlabuh di negeri China. Posisi lain yaitu sayap kiri akan ditempati oleh Mohammed Salah maupun Iago Falque. Dua gelandang tengah akan diisi oleh Florenzi dan Nainggolan, dibelakang mereka akan ada De Rossi. Kualitas gelandang yang dimiliki AS Roma tak perlu diragukan lagi. Apalagi, ketika Strootman benar-benar fit, daya jelajah pemain tersebut akan sangat efektif di gaya bermain Spalletti.

Problem yang perlu diperbaiki Roma adalah masalah pertahanan, terutama bek sayap. Ingat, Lucas Digne tidak punya pelapis yang sepadan. Begitupun pada posisi bek kanan, Maicon sudah termakan usia, Torosidis bermain angin-anginan dan support serangan sangatlah minim. Memakai Florenzi sebagai bek kanan juga tak terlalu efektif. Solusinya jelas, beli bek sayap. Rumor yang beredar, Adriano sudah memberikan sinyal berminat merumput dengan Pjanic dkk. Kabarnya, dalam waktu dekat, Roma akan melakukan negoisasi dengan Barcelona. Opsi lain yang muncul adalah Domenico Cristico. Pemain Zenit tersebut secara blak-blakan rindu untuk merumput kembali di kompetisi Serie A dan bersedia reuni dengan Spalletti. Selain kedua nama diatas, Davide Santon dan Matteo De Sciglio dirumorkan menjadi target AS Roma. Bagi saya, kedua nama terakhir masih terlalu hijau untuk bermain di kompetisi Eropa. De Sciglio yang mampu bermain sebagai bek kanan maupun bek kiri dikenal sering mengidap riwayat cedera. Davide Santon jarang dimainkan oleh Mancini pada musim ini. Kalaupun ingin mengambil pemain Inter, nama lain yang layak dipertimbangkan adalah Juan Jesus. Posisi lain yang rawan adalah bek tengah. Penjualan Romagnoli jelas blunder besar Sabatini musim ini, apalagi penggantinya adalah Rudiger yang sejauh ini belum menunjukkan konsistensinya sebagai bek tengah. Sisi pertahanan Roma kehilangan seorang komandan seperti Benatia atau Burdisso. Manolas tak punya mental tersebut, jiwa seorang Mexes sudah terlanjur menitis ditubuh pemain asal Yunani tersebut. Disatu sisi, Castan tak kunjung fit pasca operasi tumor. Faktor komunikasi antar lini pertahanan mungkin juga menjadi problem. Bayangkan, ada empat bek dan satu kiper dengan latar belakang negara yang berbeda-beda. Hal tersebut berimbas pada performa Szczesny yang seringkali kehilangan fokus akhir-akhir ini.


Kamis, 14 Januari, seorang pria berkepala botak tiba di kota Roma. Namanya dielukan-elukan di bandara Fiuminico, “Daje Mister !”, teriak beberapa orang. Pria tersebut lalu menuju Trigoria, markas AS Roma. Di depan pintu gerbang, terpampang satu buah spanduk bertulisan “Bentornato Mister”. Dunia maya pun turut gempar, ada yang pesimisis, adapula yang optimis. Ya, namanya masih dikenang oleh fans AS Roma sampai saat ini. Luciano Spalletti adalah “The Ecstasy of Gold”, meminjam judul lagu yang dipopulerkan oleh Ennio Morricone. Iya, “The Ecstasy of Giallorossi Gold”. Doni, Panucci, Mexes, Juan, Cassetti, Tonetto, Pizzaro, Perrotta, Vucinic, Mancini, Giuly, Aquilani dsb adalah masa lalu. Sekarang merupakan era kedua De Rossi dan Totti bersama Spalletti untuk menjaga kapal Roma supaya tidak oleng. Sebuah kapal yang penuh warna dengan sentuhan Italia, Brasil, Perancis, Bosnia, Spanyol dll. “Roma, Roma, Roma.. core de sta citta”


Trivia:
  1. Diawal tahun ini, Spalletti akan bereuni dengan Totti dan De Rossi di Trigoria, markas AS Roma. Ternyata, bukan hanya dua nama tersebut yang akan berenuni. Aurelio Andreazolli akan kembali bekerja dengan Luciano Spalletti di AS Roma sebagai asisten pelatih. Semenjak Spalletti meninggalkan Roma pada tahun 2009, Andreazolli tetap bertahan di Roma sebagai staff. Bahkan, Andreazolli sempat naik jabatan menjadi pelatih tim utama ditahun 2013 menggantikan Zdenek Zeman. Selain itu, Daniele Baldini dan Domenichini juga diminta Spalletti untuk bekerja lagi di Trigoria. Sebenarnya Morgan De Sanctis juga bereuni dengan Spalletti. Iya, De Sanctis pernah dipercaya Spalletti untuk menjaga mistar gawang Udinese dari tahun 2002-2005.
  2. Bersama keluarganya, Luciano Spalletti menjalankan bisnis custom furniture. Usaha pribadi juga dilakukan oleh Rudi Garcia, ia memiliki usaha butik fashion di Perancis.
  3. Luciano Spalletti dan Rudi Garcia sama-sama pernah membubuhkan rekor sebagai pelatih yang mengalami kekalahan terbesar di ajang Liga Champions. Saat itu, Cristiano Ronaldo dkk berhasil mengobrak-abrik pertahanan Roma dengan skor 7-1 pada musim 2006/2007. Nasib lebih buruk menimpa Rudi Garcia ditahun 2014, pemain Roma dipermalukan di kandangnya sendiri, skor 1-7 untuk tim Bavaria.

Selasa, 04 Agustus 2015

Menanti Keajaiban Transfer AS Roma


Disaat para rivalnya berbenah diri, Roma malah terlihat lamban di bursa transfer musim ini. Memang, sebelum jendela transfer dibuka, Roma sudah bermanuver terlebih dahulu untuk mengunci Radja Nainggolan. Pemain keturunan Batak tersebut memang bermain apik musim kemarin. Performanya paling konsisten dibanding pemain-pemain yang lain. Imbasnya, Roma harus merelakan salah satu talenta dari akademi mereka, yaitu Andera Bertolacci yang dilego ke AC Milan dengan mahar 20 juta euro. Harga yang teramat “wah” untuk ukuran pemain semacam Bertolacci. Bandingkan dengan Julian Draxler yang diincar oleh Juventus, mereka menyiapkan 25 juta euro untuk merekrut pemain berbakat dari Schalke tersebut. Jelas, kualitas jam terbang Draxler jauh lebih baik ketimbang Bertolacci.
            Lalu kenapa fans Roma patut was-was disela-sela bursa transfer yang akan ditutup akhir bulan ini. Bayangkan, Juventus selaku juara musim lalu sangat jeli melakukan pembenahan. Sebab beberapa pemain bintang meninggalkan Turin, seperti Tevez, Pirlo, Vidal, Storari. Tapi toh skuad mereka lalu dibenahi lagi, datang Dybala, Khedira, Neto dan mungkin saja Gotze atau Draxler akan merapat ke kubu La Vechia Signora. Sisi negatifnya, Allegri mungkin akan merombak total formasi Juventus musim ini. Duo klub Milano juga sangat gencar untuk membuang pundi-pundi uang mereka. Milan semakin gila-gilaan di daya gedor serangan. Bacca dan Luiz Adriano merapat di San Siro. Sungguh beruntung nasib Mihajlovic, bak tertimpa durian runtuh ketika pertama kali menapakkan kaki di Milanello. Berbanding terbalik dengan Inzaghi yang sejak awal sudah tertimpa batu. Inter Milan juga tak mau kalah saing. Mereka sudah mendatangkan Kondogbia, biarpun banyak yang berpendapat bahwa harganya terlalu mahal. Inter juga sukses memperpanjang kontrak Handanovic. Pertahanan Inter memang kacau balau musim kemarin. Akan menjadi mimpi buruk bagi fans Inter apabila musim ini mereka melepas Handanovic. Selain Kondogbia, Inter juga menampung Jovetic yang kembali merumput di tanah Italia. Di sisi pertahanan, tiga pemain muda berbakat akan diasuh Mancini, yaitu Murillo, Davide Santon dan Martin Montoya.
Bagaimana dengan Roma ? Target mereka banyak dibajak oleh rival-rivalnya di Serie A. Carlos Bacca serta Luiz Adriano memilih AC Milan. Marton Montonya serta Davide Santon merapat ke Inter Milan. Alih-alih menyibukkan diri untuk mencapai kesepakatan dengan Dzeko, seakan-akan Roma lupa bahwa skuad mereka masih bolong diposisi bek kiri dan kiper. Beruntung, disaat gonjang-ganjing tadi, secara lihai Sabatini “menculik” Szczesny dari Arsenal dengan status pinjaman. Nah, tinggal satu yang jadi masalah, yaitu bek kiri serta menjual beberapa pemain yang menumpuk di posisi sayap dan striker.
Beberapa minggu yang lalu, jurnalis ESPN, James Horncastle berpendapat bahwa Roma masihmenjadi kandidat kuat dalam perebutan Scudetto musim ini. Asalkan target mereka untuk mendatangkan Dzeko terpenuhi. Asumsi tadi dapat dibenarkan, mengingat kualitas serangan Roma musim lalu menurun drastis. Apalagi fans Roma tidak bisa lagi berharap banyak terhadap legenda mereka, Francesco Totti. Bisa dipastikan, apabila Dzeko benar-benar merapat ke Trigoria, Totti rela untuk dicadangkan. Kabarnya, kesepakatan secara personal dengan Dzeko sudah tercapai. Hanya tinggal menyelesaikan nilai transfer dengan Manchester City. Namun, sejauh ini semua berita tersebut stautsnya masih “kabarnya”. Yak, sebagai suporter Roma, saya masih skeptis, bahkan pesimis untuk berkata “mampu bersaing” dengan Juventus di musim 2015/16.
Lagi-lagi petir kembali menyambar suasana hati pendukung Roma. Terlempar kabar bahwa Roma mungkin akan menjual talenta muda mereka, yaitu Alessio Romagnoli ke AC Milan apabila Dzeko ataupun Mohamed Salah akan bergabung dengan Roma. Patut diakui, kabar bahwa Romagnoli ingin bereuni dengan Mihajlovic terdengar santer. Roma mematok harga yang sangat besar sejatinya, 30 juta euro bagi pemain kelahiran Anzio tersebut. Kabar terbaru, Arsenal juga tertarik untuk meminangnya.


Apakah Roma diuntungkan dengan penjualan tadi ? saya sendiri berpendapat tidak. Bayangkan, Roma hanya punya empat bek musim ini. Yaitu, Manolas, Castan, Mbiwa dan Romagnoli sendiri, dengan jaminan Leandro Castan sudah fit total setelah hampir setahun absen merumput karena tumor otak. Selain itu, Romagnoli juga dapat diplot sebagai bek kiri. Di musim 2013/14, Rudi Garcia sempat memasangnya sebagai bek kiri dan penampilannya lumayan bagus. Satu lagi nilai plus adalah Romagnoli merupakan didikan asli Roma dan penting untuk dipertahankan sebagai syarat aturan homegrown Liga Champions. Pemain berusia 20 tahun tersebut akan bergabung dengan putra Roma yang lain, seperti Florenzi, De Rossi dan Totti.
Memang, disaat menyaksikan beberapa laga ujicoba yang dilakoni Roma kemarin, penampilan Romagnoli tidak terlalu istimewa. Disaat melawan City, Romagnoli kerap lengah mengawal pemain Manchester City, terutama saat offside trap. Begitu pula ketika bertemu Sporting Lisbon, Romagnoli dan Mbiwa masih kurang klop. Tapi, apabila kita berpatokan pada penampilannya bersama Sampdoria musim lalu, memang layak diacungi jempol. Situs WhoScored mencatat rating 7,02 bagi penampilannya selama 28 sebagai starter dan 2 kali dari bangku cadangan. Kalau toh pemain yang menyukai Valentino Rossi tersebut jadi dijual, tentu dana segar yang Roma dapatkan akan dipakai untuk membeli Dzeko. Tapi perlu diingat, akan timbul lubang di bagian pertahanan. Roma mungkin belum yakin untuk memasang talenta mereka yang sudah malang melintang di skuad Italia U-19, seperti Capradosi dan Calabresi sebagai backup di jantung pertahanan tim utama. Bagaimanapun juga, menjual Romagnoli sama saja dengan bunuh diri. Apalagi melegonya ke AC Milan, akan menjadi dosa besar yang tak termaafkan bagi Il Lupi musim ini.
Tersirat kabar, Roma fokus untuk meminjam Lucas Digne dari PSG. Pemain berusia 22 tahun akan kembali dilatih oleh Garcia apabila setuju merapat di Roma. Namun, Roma tak boleh bersantai, pemain yang sempat bermain di Lille tadi juga diincar oleh Liverpool. Saya sendiri memang tidak mengikuti Liga Prancis, jadi tak paham seluk beluk Lucas Digne. Tapi penampilannya di Piala Dunia 2014 kemarin cukup menjanjikan, apalagi usianya masih muda. Satu hal yang menarik adalah, Lucas Digne merajah tubuhnya dengan gambar bintang-bintang. Mengingatkan saya kepada salah satu pemain kesayangan yang juga berkewarganegaraan Prancis dan mempunyai tatto bintang,  Philippe “Rugantino” Mexes. Secepatnya, Roma harus mendapatkan pemain yang berposisi bek kiri, siapapun itu. Bergantung dengan Ashley Cole sama saja dengan mimpi untuk bisa kencan dengan Raisa Andriana.
Lalu skenario apa yang seharusnya dijalankan oleh Roma di bursa transfer musim ini. Pertama, pertahankan Romagnoli sebisa mungkin. Kita tak bisa mengharapkan penampilannya akan seperti musim lalu dari pemain yang digadang-gadang sebagai the next Nesta tersebut. Namun, ketimbang menjual bek tengah dan mencari lagi bek tengah sama saja dengan gali lubang tutup lubang. Apalagi di bursa transfer kali ini, tak terlihat gelagat Roma untuk mendatangkan bek tengah. Kedua, menjual Destro, Gervinho dan Doumbia. Kesalahan besar Sabatini musim lalu adalah membeli Seydou Doumbia. Kualitasnya sungguh tak sesuai dengan ekspektasi, hanya dua gol yang dia cetak. Untuk Destro, pemain tersebut memang tak betah di Roma. Ia mengharapkan supaya bisa bermain reguler, solusinya cuman satu, jual saja ketimbang menjadi duri dalam skuad inti. Begitu juga dengan Gervinho, toh Roma juga sudah punya Iturbe dan Ibarbo. Florenzi juga kerap diplot sebagai sayap. Mumpung harganya masih tinggi, tak ada salahnya untuk menjual Gervinho, biarpun secara skill masih dibutuhkan oleh skuad semacam AS Roma dan sesuai dengan gaya bermain Rudi Garcia. Lagi pula Roma sudah deal dengan Mohamed Salah. Pemain Mesir tersebut juga sudah berlatih dengan tim utama. Hanya saja, Fiorentina masih ngeyel dan menganggap bahwa mereka masih punya hak peminjaman Salah dari Chelsea satu musim lagi. Pundi-pundi uang dari transfer ketiga pemain tadi bisa dialokasikan untuk membeli Dzeko serta meminjam Mohamed Salah. Ingat, Roma bukan PSG, Real Madrid ataupun Manchester City yang bisa seenaknya membuang-buang jutaan euro untuk belanja pemain. Prinsipnya, harus ada pemain yang keluar apabila ingin mendatangkan pemain baru.


Detik-detik menuju tutupnya bursa transfer memang masih lama. Jadi, bersiap-siaplah dengan transfer madness musim ini. Sebagai penggemar Roma, saya sangat mengharapkan tangan emas Walter Sabatini. Seperti ketika dia berhasil menggaet Strootman dan Kostas Manolas. Ataupun mendatangkan Jose Holebas menjelang tutupnya bursa transfer musim kemarin. Kalau perlu Ashley Cole juga dijual musim ini dan tiba-tiba Sabatini berhasil merayu Adriano atau Ricardo Rodriguez, hihihi. Mungkin itu hanya mimpi, tapi kota Roma kan memang ditakdirkan untuk diselimuti keajaiban bukan ? Forza La Magica Roma !!!

Selasa, 17 Maret 2015

Menanti Laga Pamungkas Copa Del Rey 2015


Dua gol yang dicetak oleh Aduriz dan Etxeita ke gawang Espanyol berhasil mengantarkan Athletic Bilbao melaju ke final Piala Raja Spanyol. Klub yang bernama resmi Athletic Club tersebut berhak lolos dengan agregat 3-1 atas Espanyol. Tropi Copa Del Rey merupakan target paling realitis bagi Los Leones. Apalagi setelah mereka terlempar dari fase 32 besar UEFA Europe League. Mereka juga memastikan bonus tiket otomotis berlaga di Europe League musim depan. Sebab, musuh mereka di final besok adalah Barcelona. Sejauh ini, Barcelona masih memimpin klasemen La Liga, sedangkan Athletic Bilbao berada di peringkat delapan. Menang atau kalah, jatah Europe League sudah dikunci oleh anak asuh Ernesto Valverde. Teramat mustahil, Barcelona terlempar dari empat slot kursi Liga Champions yang dimiliki kompetisi La Liga. Apalagi bagi klub sebesar Barcelona, tampil di ajang kelas dua macam Europe League merupakan takdir yang memalukan.

Kekalahan Espanyol tentu mengubur penantian panjang masing-masing suporter yang ingin menyaksikan Derby Catalonia di laga pamungkas tersebut. Maklum, terakhir kali Espanyol dan Barcelona bertemu di laga pamungkas Copa Del Rey terjadi sekitar 58 tahun yang lalu.  Akan tetapi, kesuksesan Athletic Bilbao dan Barcelona melaju ke final juga dianggap sebagai momentum penting bagi kedua kubu. Terhitung sudah sembilan kali mereka bertemu di laga pamungkas Copa del Rey. Di sisi lain, final tersebut seakan mengingatkan peristiwa 20 tahun yang lalu. Ketika Athletic Bilbao berhasil menjungkalkan Maradona dkk di Stadion Santiago Bernabeu, bahkan diakhiri dengan perkelahian antar pemain. Kala itu, rivalitas antara Athletic Club dengan Barcelona sedang memanas.
Disatu sisi, laga final yang mempertemukan Barcelona dan Bilbao ini membuat pening federasi sepakbola Spanyol. Sebab, laga final tersebut diyakini kental dengan nuansa politik. Ya, Barcelona kerap dianggap sebagai representasi bangsa Catalan. Sedang Athletic Bilbao mewakili entitas Basque. Kedua bangsa tersebut masih berusaha untuk melepaskan diri dari pemerintahan Spanyol. Lalu, sejauh apa peranan Barcelona dan Athletic Club mewarnai percaturan konflik politik di Spanyol ? Terutama terkait dengan tuntutan kemerdekaan yang terus dilontarkan oleh masyarakat Catalan dan Basque sendiri.

Konflik kedua daerah dengan pemerintah pusat sudah terjadi sejak lama. Terutama disaat meletusnya Perang Sipil Spanyol pada tahun 1936-1939. Perang saudara di Spanyol yang kerap diartikan sebagai gladi resik Perang Dunia II tersebut melibatkan dua kubu, yaitu Republikan dan Nasionalis. Sebab, beberapa negara yang kelak bertarung di jagad Perang Dunia II turut membantu kedua kubu diatas. Misalnya, Italia dan Jerman yang mendukung front Nasionalis. Bahkan, oleh Jenderal Franco, mereka “dihadiahi” sebuah daerah di Basque Country, yaitu Guernica untuk menjajal bom atom. Sedangkan Inggris, Amerika Serikat, Mexico, Uni Sovyet menjadi sekutu blok Republikan. Uniknya, beberapa intelektual serta seniman asing turut mendukung kaum Republikan. Semisal, Ernest Hemingway, Pablo Piccasso, Robert Capa, Leon Trotsky dan George Orwell.

Daerah Catalan dan Basque sendiri didominasi oleh kaum sosialis, komunis dan anarkis. Mereka membela kubu Republikan yang sempat memimpin pemerintahan setelah berhasil menjungkalkan kekuasaan monarki di Spanyol. Kala itu faksi Republikan jengah dengan tindakan otoriter kerajaan Spanyol yang didukung oleh otoritas gereja serta tuan tanah. Pungutan pajak yang teramat tinggi membuat kubu Republikan melakukan kudeta. Mereka juga didukung oleh kaum buruh yang menuntut upah lebih tinggi. Setelah itu kaum Republikan berhasil menguasai pemerintahan Spanyol. Namun pemerintahan mereka mendapatkan tentangan dari kaum Nasionalis yang dipimpin Jenderal Franco. Mereka tetap menginginkan adanya campur tangan pihak kerajaan di tubuh Spanyol. Pada akhirnya Madrid jatuh ditangan Nasionalis.

Setelah itu tampuk kekuasaan berpindah ke kubu Nasionalis yang disokong oleh Falange, partai berpaham fasis. Jenderal Franco lalu dinobatkan sebagai Perdana Menteri Spanyol. Selama pemerintahan fasisme Franco, Catalan dan Basque dibungkam. Mereka dilarang berbincang-bicang dengan bahasa Basque atau Catalan. Pemerintah Spanyol mewajibkan sekolah-sekolah yang berada di kedua wilayah tersebut mengajarkan bahasa Spanyol. Di jalanan, bendera Catalan dan Basque tidak boleh dikibarkan. Apabila ada yang berani melanggar peraturan tersebut, jawabannya hanya ditangkap lalu dibunuh. Biarpun, ada pengecualian ketika warga Basque menggelar txoxo. Yaitu, acara masak bersama sembari bercakap-cakap membincangkan makanan dengan bahasa Basque dan secara khusus hanya dikuti oleh kaum laki-laki. Akan tetapi, secara keseluruhan pemerintahan Franco melarang pemakaian simbol Catalan dan Basque disegala lini. Namun, ada satu tempat yang tidak bisa dikontrol oleh Jenderal Franco, yaitu stadion sepakbola. Masyarakat Basque dan Catalan bebas berbicara dengan bahasanya masing-masing di tempat itu. Di stadion, mereka berduyun-duyun menampakkan simbol-simbol yang berhubungan dengan kedua bangsa tersebut. Di tempat itu, masyarakat Basque dan Catalan merayakan rasa sukacitanya.


Sampai detik ini, sebagian besar masyarakat Catalan menganggap bahwa mereka bukanlah warga Spanyol. Biarpun tetap ada segelintir pihak yang menginginkan agar Catalonia menjadi bagian dari negara Spanyol. Konflik yang mendera Catalonia dengan pemerintah pusat sebenarnya disebabkan oleh problem yang menyangkut masalah identitas, politik dan ekonomi. Faktor-faktor tersebut juga menjadi alasan utama kenapa Euskadi (Basque Country) ingin melepaskan diri dari Spanyol dan Prancis.

Sebelumnya, Barcelona dan Athletic Club sempat bertemu di final Copa Del Rey 2009 dan 2012. Kedua laga tersebut diwarnai insiden menarik, disaat lagu nasional Spanyol didengungkan. Dua kali bertemu di final, baik suporter Blaugrana maupun Los Leones malah menyoraki lagu kebangsaan tersebut. Mereka bahkan membawa peluit untuk menimbulkan suara berisik disaat lagu kebangsaan Spanyol dinyanyikan. Mereka “menghina” lagu kebangsaan masyarakat Spanyol, sebuah kamera sempat menangkap beberapa suporter yang mengacungkan jari tengahnya. Padahal pertandingan tadi dihadiri oleh Raja Spanyol dan beberapa pejabat pemerintahan. Ketika final Piala Raja Spanyol tahun 2009, panitia sudah mengantisipasi adanya insiden tersebut dengan memasang sound sebesar 100.000 watt. Namun, tetap saja sorak sorai yang diluapkan masing-masing pendukung tetap bergema di Stadion Mestalla, Valencia.



Bahkan di final Copa Del Rey 2012, kapten Barcelona yaitu Carlos Puyol serta Xavi Hernandez merayakan kegembiraannya dengan mengibarkan bendera Senyera dan Ikkurina. Senyera merupakan bendera kebangsaan Catalan, sedang Ikkurina milik Basque. Selain itu, kedua klub tersebut paling kerap menunjukkan simbol Catalan atau Basque di setiap pertandingan dibandingkan klub sekota yang lain. Misalnya, di laga Espanyol kontra Athletic Bilbao kemarin. Pendukung Espanyol lebih memilih membawa bendera nasional Spanyol daripada bendera masyarakat Catalan, baik Senyera ataupun Estelada.


Sampai detik ini, federasi sepakbola Spanyol belum memastikan dimana laga final akan digelar. Sebelumnya, mereka sempat memutuskan untuk memakai stadion Santiago Bernabeu. Sayang, presiden Real Madrid menolak keputusan tersebut. Ia berkilah bahwa pada bulan Mei, mereka berencana memperbaiki toilet stadion. Pernyataan tersebut keluar setelah Barcelona dan Athletic Club dipastikan melaju ke final Copa del Rey. Media pun berspekulasi bahwa keputusan Florentino Perez diatas sebagai bentuk larangan atau antisipasi supaya Barcelona tidak merayakan kemenangannya di tanah suci sang rival. Disamping kemungkinan timbulnya protes yang dilancarkan oleh masing-masing pendukung. Perlu diingat, pada bulan November kemarin, Catalonia sempat mengajukan referendum. Namun, pemerintah Spanyol menunda usulan tersebut.

Jauh-jauh hari, federasi sepakbola Spanyol sudah menyiapkan plan B untuk mengantisipasi kemungkinan tersebut. Opsi terdekat adalah Stadion Vicente Calderon. Akan tetapi, pada minggu yang sama jelang laga final, stadion milik Atletico Madrid tersebut menggelar konser band AC/DC. Stadion Ramon Sanchez-Pizjuan kepunyaan Sevilla juga dijadikan pilihan lain. Problemnya adalah suporter Athletic Club harus menempuh jarak sekitar 1000 km. Stadion lain yang paling fleksibel adalah Mestalla milik Valencia. Sayangnya stadion lawas tersebut kapasitasnya hanya sekitar 55.000.

Bagi anak asuh Luis Enrique, laga final di Santiago Bernabeau dianggap paling ideal. Bayangkan, apabila Barcelona merayakan kemenangannya di tanah Madrid. Mereka akan menginjak-injak kedigdayaan Real Madrid dan meludahi seluruh simbol yang terpampang. Selain itu, kapasitas stadion yang mampu menampung 81.044 penonton juga menjadi keuntungan apabila dilihat dari segi finansial. Kedua kubu sudah memastikan akan membawa ribuan massa di ajang final, setidaknya masing-masing klub akan membawa 40.000 pendukungnya ke Madrid. Kedatangan kedua suporter juga bisa diartikan secara simbolik. Seolah-olah masyarakat Catalan dan Basque “menyerang” kota Madrid sambil meneriakkan “independencia, independencia !” Akan tetapi penolakan Real Madrid bisa kita anggap sebagai keputusan yang wajar. Sebagai warga Spanyol, tentu mereka akan naik pitam apabila mendengar atau melihat simbol negara dan lagu kebangsaan mereka dihina oleh masyarakat Catalan dan Basque.

Barcelona dan Athletic Club kerap dianggap sebagai klub klasik di Spanyol. Rivalitas antara Barcelona dan Athletic Bilbao sempat memanas pada medio 80an. Bersama Real Madrid, mereka belum pernah terdegradasi ke Segunda Division. Sejauh ini, Barcelona mengoleksi 26 gelar Piala Raja Spanyol dari 36 laga final yang pernah mereka jalani. Sedangkan Athletic Club sudah merasakan final sebanyak 26 kali dan membawa pulang tropi Copa del Rey sebanyak 23 gelar.

Disisi lain, pembinaan akademi mereka termasuk kategori jempolan di Spanyol. Nama La Masia sudah dikenal sebagai gudangnya pemain-pemain kaliber. Sedang La Lezema milik Athletic Club juga lumayan disegani sebagai pabrik yang konsisten menelurkan pemain berdarah Basque. Mungkin, nama-nama pemain Athletic Club tidak sehebat didikan La Masia. Pengembangan akademi pemain jelas menjadi fokus utama Los Leones. Sebab, klub yang bermarkas di San Mames tersebut menerapkan kebijakan khusus dalam segi transfer pemain. Sampai detik ini mereka hanya merekrut pemain keturunan Basque. Aturan tersebut sebenarnya sempat diterapkan oleh rival mereka, yaitu Real Sociedad. Namun di tahun 1989, mereka mulai merekrut pemain non Basque karena aturan tadi dirasakan memberatkan klub. Kebijakan tersebut sebenarnya menguntungkan dari sisi finansial. Sebab klub lebih leluasa memanfaatkan jasa pemain dari akademi mereka. Akan tetapi, acuan “pemain keturunan Basque” yang diterapkan oleh Athletic Club juga banyak diperdebatkan oleh beberapa pengamat. Mengenai rincian kebijakan tersebut akan dibahas dilain waktu.
Kebijakan transfer yang dipakai oleh Athletic Club tersebut secara simbolik menyatakan rasa cinta mereka terhadap suku Basque. Disamping itu, Athletic Club juga dikenal dekat PNV (Partido Nationalista Vasco/Basque Nationalist Pary), salah satu partai besar di Basque Country. Beberapa anggota PNV menduduki posisi penting di struktur organisasi Athletic Bilbao. Di sisi lain, Barcelona memang tidak menerapkan aturan khusus untuk memakai pemain Catalan di timnya. Akan tetapi, pemain berdarah Catalan selalu menghiasi skuad Barcelona. Untuk musim ini kita bisa menyebut nama-nama seperti Xavi Hernandez, Pique, Busquet ataupun Martin Montoya. Semboyan milik Barcelona, yaitu “Mes que un club” (Something more than a club) juga mengartikan bahwa mereka bukanlah sekedar klub sepakbola. Representasi Catalan sangat melekat di dalam tubuh Barcelona.

Federasi sepakbola Spanyol berjanji akan memastikan venue final Copa del Rey pada tanggal 25 Maret. Belum lama, Javier Tebas selaku presiden La Liga, melontarkan gertakan kepada pendukung Barcelona dan Athletic Bilbao. Dirinya mengancam akan menghentikan laga final apabila masing-masing suporter bersiul ketika lagu kebangsaan Spanyol dinyanyikan. Biarpun laga final besok sarat akan unsur politis. Kita pun bisa menampiknya dengan pendapat yang cukup ironis. Kita tahu bahwa laga tersebut ibarat sebuah hadiah dari seorang raja untuk rakyatnya. Pertanyaannya, kenapa Barcelona dan Athletic Bilbao berambisi untuk meraihnya ? Mengingat, masa lalu Catalonia dan Basque pernah dilumuri darah, akibat kebencian mereka terhadap seorang raja. Esperanza Aguirre, seorang politikus senior di Spanyol sempat menyampaikan kritikannya di koran El Mundo. Klub yang “membenci” Spanyol seharusnya tidak boleh berpartisipasi di ajang Copa del Rey selama-lamanya. Apakah Real Madrid sudi menyewakan stadionnya sehari saja demi keberlangsungan final Piala Raja Spanyol besok ? Ataukah, fans Barcelona dan Athletic Club harus melawat ke Valencia ? Baiklah, kita nantikan saja laga yang akan digelar pada 31 Mei besok.

Jumat, 13 Februari 2015

Viareggio Cup : Karnaval Talenta-talenta Muda di Italia


Di bulan Februari ini, negeri Italia menggelar kembali kompetisi Viareggio Cup atau Torneo di Viareggio. Ajang unjuk gigi talenta-talenta muda, baik dari Italia sendiri maupun dari luar negeri. Beruntung sekali, pada kompetisi Viareggio Cup ke 67 tersebut, salah satu klub dari Indonesia diundang, yaitu Pro Duta. Banyak pengamat yang menganggap, Viareggio Cup merupakan ajang prestisius untuk menapaki ke jenjang berikutnya. Kompetisi yang nama resminya adalah Viareggio Cup World Football Tournament tersebut bahkan lebih bergengsi ketimbang kompetisi reguler antar Primavera di Italia. Baik, Campionato Nazionale Primavera ataupun Coppa Primavera.

Viareggio Cup digelar oleh CGC (Centro Giovani Calciatore) Viareggio. Sebuah organisasi yang terbentuk pada tahun 1947 dan fokus pada pembinaan olahraga (atletik, hockey, basket, voli dan sepakbola). Tentunya CGC Viareggio bekerjasama dengan CONI, FIGC, UEFA serta FIFA dalam penyelenggaraan kompetisi tersebut. Torneo di Viareggio baru digelar dua tahun kemudian setelah berdirinya CGC. Ajang sepakbola khusus untuk tim U-21 (baik klub ataupun negara) tadi juga kerap disebut Coppa Carnevale. Mengingat, waktu penyelenggaran turnamen bersamaan dengan Viareggio Carnival. Karnaval tahunan tiap bulan Februari yang digelar oleh Region Tuscany sejak tahun 1873. Nah, di kompetisi pertamanya, mahkota Viareggio Cup berhasil direbut oleh AC Milan. Kala itu, panitia sudah mengundang beberapa klub non Italia. Yaitu Nice dan Rapid Menton dari Prancis, serta Bellinzona dari Swiss.

Format Viareggio Cup selalu berubah-ubah sejak 1949 hingga sekarang. Statistik serta format kompetisi tersebut, bisa kita cek di web RSSSF berikut. Perubahan secara berkala selalu mereka lakukan untuk memperbaiki kualitas turnamen. Mengundang klub-klub asing tentu akan meningkatkan daya tawar Coppa Carnevale sebagai ajang internasional. Mereka pun mulai menambah kuota peserta menjadi 48 tim sejak tahun 2006. Di ajang pertama, Viareggio Cup hanya diikuti 10 tim. Beranjak ke turnamen tahun kedua, 12 tim mereka undang. Berikutnya, di tahun 1951 hingga 1974, Coppa Carnevale mulai diikuti 16 tim dengan sistem gugur. Pengecualian untuk tahun 1957 dan 1959 yang hanya diikuti 8 tim.

Di tahun 1975, mereka mulai memakai sistem grup. Kompetisi dibagi menjadi empat grup yang diikuti 16 tim. Peringkat 1 dan 2 di masing-masing grup berhak lolos babak berikutnya. Sistem tadi bertahan hingga gelaran Viareggio Cup ke 42. Sistem kembali dirubah di tahun 1990, dimana setiap peserta terbagi ke dalam 8 grup. Setiap grup diisi 3 tim dan hanya juara pertama saja yang berhak lolos ke babak perempatfinal. Sistem paling rumit terjadi dari tahun 1991 hingga 1997. Misalnya, di tahun 1991, Coppa Carnevale terbagi menjadi enam grup. Di dalam satu grup, empat tim tidak saling bertemu satu sama lain. Melainkan tim A akan melawan tim B dua leg, begitu pula dengan tim C dan D. Dua tim yang lolos secara agregat tersebut akan bertemu untuk menuju ke perempatfinal. Mengingat dari masing-masing grup hanya bisa meloloskan enam tim. Maka, dua tim lain yang diperbolehkan untuk melaju ke babak berikutnya adalah mereka yang unggul berdasar agregat gol. Misalnya, kasus di Grup C dan Grup E kala itu. Bologna melawan Bari berakhir imbang, 0-0. Sedang Roma dan Torino berkesudahan 1-1. Tak ada yang menang, tapi keempat tim tersebut berhak lolos ke perempatfinal karena di empat laga lain, terdapat tim yang menderita kekalahan.Peraturan semacam itu juga dipakai kembali di Viareggio Cuo 1992. Hanya saja, di fase grup mereka saling bertemu satu sama lain. Dua tim terbaik akan lolos ke fase 2nd round. Nah, di babak ini, peraturan agregat gol berlaku. Pada saat itu, fase 2nd round berkesudahan sebagai berikut :

Torino 1-1 Roma [6-5 pen]
Bari 2-1 Napoli
Parma 3-2 Cesena
Milan 5-0 Modena
Fiorentina 2-0 Inter
Atalanta 1-0 Dinamo Moscow

Biarpun menderita kekalahan, Roma dan Dinamo Moskow diperbolehkan maju ke babak perempatfinal karena menjadi tim terbaik diantara tim-tim yang kalah (best losers). Model semacam itu terus berjalan hingga tahun 1996. Karena di tahun 1997, Viareggio Cup sudah memakai sistem delapan grup. Biarpun, di tahun 1994, dua belas tim yang lolos dibagi lagi kedalam dua grup di fase 2nd round. Namun, prinsipnya tetap sama, tim yang menjadi best loser tetap akan lolos ke babak perempatfinal. Hanya saja, di tahun 1996, ada sebutan lucky losers di fase second round. Saat itu diterima Parma dan Bari.

Penambahan kuota peserta kembali terjadi di tahun 1997-1999. Viarregio Cup mulai dikuti 32 tim dan dibagi ke dalam 8 grup. Selanjutnya, eksebisi di tahun 2000-2005, mereka mengundang 40 tim yang dipisahkan ke dalam 10 grup. Pengoleksi nilai terbaik serta agregat terbaik untuk peringkat 1 dan 2 di masing-masing grup, berhak melaju ke babak 16 besar. Di ajang yang ke 58, Viareggio Cup mulai diikuti 48 tim dan terbagi menjadi 12 grup. Format tersebut bertahan hingga tahun 2013. Kecuali kompetisi di tahun 2009 yang hanya memakai 10 grup. Selanjutnya, peserta Coppa Carnevale kembali disusutkan menjadi 32 tim pada tahun 2014 hingga saat ini.

Mulai tahun 2009, laga perebutan tempat ketiga dihapus oleh panitia. Namun, di tahun yang sama, mereka mulai memberikan predikat pemain terbaik ( Torneo di Viareggio Golden Boy). Pemain pertama yang disematkan gelar tersebut adalah Guido Marilungo. Sedangkan tahun kemarin diraih Alberto Cerri dari Parma.

Ajang Silaturahmi antar Klub se-Dunia

Apabila dilihat dari segi mutu dan kualitas permainan, turnamen Viareggio Cup memang layak dicap sebagai kompetisi skala internasional. Biarpun, baru-baru ini pihak AC Milan mengeluarkan pernyataan mengenai buruknya kualitas lapangan. Selepas menerima kekalahan atas PSV, Filipo Galli selaku kepala akademi AC Milan menyatakan, mungkin tahun ini merupakan partisipasi terakhir mereka di ajang tersebut. Ketika menonton siaran langsung AS Roma melawan Belgrano, saya juga berpendapat bahwa lapangannya sangat buruk sekali. Sulit untuk melakukan umpan-umpan datar dan pendek. Namun, patut diakui, secara keseluruhan fasilitas akademi sepakbola di Italia memang tidak sebagus di negara lain. Misalnya, di Spanyol, Jerman, Belanda, Belgia ataupun Inggris. Apalagi di Viareggio, fasilitas pembinaan sepakbola tidak semoncer milik Atalanta, Empoli, AS Roma atau AC Milan. Terlepas dari segala kontroversialnya, ajang Viareggio Cup tetap layak dinikmati. Sebab, kompetisi tersebut menjadi ajang pertemuan antar talenta-talenta muda sedunia. Biarpun kurang kompetitif jika mencermati komposisi tim yang turut berlaga.

Sejak awal kompetisi, klub-klub luar Italia sudah diundang untuk berpartisipasi. Biarpun secara keseluruhan, mayoritas peserta kompetisi Viareggio Cup adalah klub dari Italia. Setidaknya, perwakilan antar benua sudah pernah menikmati Coppa Carnevale. Pada awalnya, panitia hanya mengundang klub dari Italia serta sekitaran Eropa. Tim luar Eropa yang pertama kali mencicipi kompetisi tersebut adalah Boca Juniors, pada tahun 1970. Selanjutnya, klub-klub dari benua lain pun mulai turut mengikuti Viareggio Cup. China misalnya, mereka menjadi negara Asia pertama yang menjajal Torneo di Viareggio. Kala itu mereka diwakili sebuah tim yang bernama, Beijing Youth. Indonesia juga boleh berbangga, sebab mereka merupakan negara di Asia Tenggara yang pertama kali mengikuti ajang tersebut. Di tahun 1994, Indonesia berada di grup A, bersama dengan Napoli, Torino dan Cosenza. Sayang, mereka tak mampu lolos ke fase berikutnya. Bahkan gawang Indonesia menjadi pundi-pundi gol bagi ketiga kompetitornya.

Sejauh ini, wakil dari Asia Tenggara hanyalah Indonesia dan Malaysia. Di tahun 2007 dan 2008, Malaysia mengirimkan timnya ke Italia, yaitu Malaysia Indian. Nasibnya tak jauh beda dengan Indonesia, dua tahun mengikuti Viareggio Cup, Malaysia Indian selalu menempati juru kunci. Kenyataan tersebut juga dirasakan Pro Duta FC baru-baru ini. Di pertandingan pertama, mereka dibantai 6-0 oleh Parma yang diasuh Hernan Crespo. Biarpun pulang dengan tangan hampa, satu hal yang penting bagi mereka adalah pengalaman. Benua Afrika tidak ketinggalan untuk mengirimkan perwakilannya. Beberapa tim yang sempat ambil bagian di ajang tersebut adalah Aljazair, Nairobi (Kenya) dll. Citra internasional semakin terasa, ketika Australia mulai mengirimkan tim ke ajang tersebut. Di tahun 1998, Club Marconi menjadi perwakilan pertama dari negeri Kangguru. Nah, pada tahun 2002, Leichhardt Tigers mewakili Australia untuk tampil di ajang Viareggio Cup. Klub yang berasal dari Sydney tersebut unik, sebab didirikan oleh komunitas imigran Italia yang tinggal di Australia. 

Salah satu hal yang menarik adalah kompetisi ke 54. Saat itu, panitia mengundang dua perwakilan dari Israel dan Palestina. Tidak bermaksud untuk merujuk ke arah politik, namun masing-masing kubu tidak bertemu dalam satu grup. Kita bisa menafsirkan bahwa sepakbola berusaha menyatukan perpecahan yang disebabkan hal-hal berbau rasial. Salah satu sisi positifnya adalah Viareggio Cup mampu mengundang dua negara yang sedang berkonflik. Di tahun itu, untuk pertama kalinya Viareggio Cup didatangi para pemuda dari seluruh benua di dunia. Masing-masing benua mengirimkan perwakilannya di kompetisi Coppa Carnevale 2002. Di gelaran yang sama, New York United ikut serta mewakili Amerika Serikat. Keberanian panitia saat itu patut diacungi jempol. Mengingat, iklim politik internasional sedang memanas pada tahun-tahun tersebut. Isu terorisme semakin menguat setelah tragedi 9/11. Selain itu, Amerika Serikat juga menginvansi Irak dua tahun sesudahnya. Viareggio Cup secara tersirat menyatakan, bahwa sepakbola bisa menjadi arena untuk mencapai perdamaian.

Peristiwa menarik juga terjadi di tahun 2000. Saat itu, Maccabi Haifa (Israel) berada satu grup dengan Lazio. Sejarah berkata, bahwa Lazio menjadi basis suporter getol mengeluarkan slogan-slogan anti-semit. Hal tersebut menjadi perhatian bagi presiden Lazio saat itu. Di bulan September 2001, Sergio Cragnotti memutuskan untuk mengikuti laga persahabatan yang digelar di Stadion Olimpico, Shalom Cup namanya. Suporter garis keras Lazio sempat mengecam dan memboikot adanya pertandingan tersebut. Karena Lazio akan menghadapi Maccabi Haifa dan ASEC Abidjan (Pantai Gading). Pertemuan antara Lazio dengan Maccabi Haifa tersebut, baik ditingkat junior ataupun senior layak diapresiasi. Tentu, citra Lazio yang buruk bisa sedikit terhapus dengan adanya pertandingan diatas. Hal tersebut juga menjadi harapan Sergio Cragnotti kala itu.

Sedikit tambahan, Shalom Cup sebenarnya sudah digelar sejak tahun 2000. Laga persahabatan yang bertujuan untuk mendukung terciptanya perdamaian di tanah Arab. Saat itu sedang bergejolak konflik antara Israel dengan negara-negara Arab. Tiga klub bertemu satu sama lain dengan durasi 45 menit/pertandingan. Tiga klub yang berlaga saat itu adalah AS Roma, Beitar Jerusalem (Israel) dan Waquass (Jordania).

Secara sekilas, partisipasi antar negara menunjukkan bahwa Viareggio Cup merupakan ajang yang patut diperhitungkan. Mengingat, kompetisi reguler U-21 yang melibatkan klub di seluruh dunia jarang digelar. Kalaupun ada, turnamen tersebut sifatnya lebih ke ajang persahabatan dan tidak berlangsung secara tahunan. Kompetisi yang mempertemukan antar negara menjadi nilai plus bagi Viareggio Cup. Selain menjadi ajang pamer para talenta muda, Coppa Carnevale merupakan karnaval para pemuda dari antar negara dan saling bergandengan satu sama lain.

Menengok Kembali Lulusan dan Pemenang Viareggio Cup


Kurang lengkap rasanya apabila tidak membahas beberapa pemain top dari Italia yang sempat menjajal Viareggio Cup. Kita tahu bahwa Italia berhasil merebut Piala Dunia untuk ketiga kalinya di tahun 1982. Rata-rata skuad yang diusung oleh Italia saat itu merupakan jebolan turnamen Viareggio. Misalnya, Dino Zoff muda yang sempat menjajal Viareggio Cup bersama Udinese. Nama-nama lainnya seperti, Paolo Rossi, Franco Baresi, Fulvio Collovati, Gaetano Scirea, Giancarlo Antognoni, Ivano Bordon, Gabriele Oriali, Franco Causio, Bruno Conti serta Francesco Graziani. Lalu, Italia kembali meraih gelar keempat mereka di tahun 2006. Seakan-akan tuah Viareggio kembali melengkapi kesuksesan negeri Pizza tersebut. Skuad yang dibawa rata-rata pernah menikmati turnamen Viareggio Cup. Seperti, Gianluigi Buffon, Fabio Cannavaro, Gattusso, Del Piero, Totti, De Rossi, Luca Toni, Angelo Peruzzi, Nesta, Amelia, Inzaghi, Barone, Oddo, Perrotta, Zambrotta serta Andrea “the architect” Pirlo. Tuah Viareggio semakin terbukti, mengingat Marcelo Lippi berasal dari daerah tersebut.

Beberapa pemain lain patut disebutkan, biarpun mereka tidak pernah meraih gelar Piala Dunia. Namun setidaknya sempat merumput bersama timnas Italia. Misal beberapa pemain yang sudah gantung sepatu atau bahkan sudah tiada. Antara lain Giancinto Fachetti, sang kapten juara Euro Cup 1968 lalu Sandro Mazzola, Pierino Prati, Giancarlo De Sisti, Aldo Maldera atau Francesco Rocca. Untuk pemain yang besar di era 90an hingga 2000an, ada Roberto Mancini, Gianluca Vialli, Giuseppe Gianinni, Angelo Di Livio, Walter Zenga, Pagliuca, Panucci, Ferrara, Di Biaggio, Costacurta, Tacchinardi serta Paolo Maldini.

Generasi Viareggio Cup di era 2000an terus berkibar sampai sekarang. Kompetisi tersebut setidaknya berperan menghasilkan talenta-talenta Italia yang sampai detik ini masih kita lihat keahliannya mengolah bola. Siapa yang tidak mengenal si bengal Antonio Cassanno, lalu Alberto Aquilani, putra Roma yang rawan cedera, duo bek tangguh Chiellini dan Bonucci atau mungkin Morgan De Sanctics. Disamping itu, ada pula beberapa nama yang sampai sekarang masih berkesempatan untuk membela timnas Italia. Seperti, Marchisio, Candreva, Cerci, Florenzi, Insigne, Perin, El Shaarawy, Balotelli, Destro, Bertolacci, Immobile, Gabbiadini, Simone Zaza, Cristante, Romagnoli hingga si wonderkid, Domenico Berardi. Yak, mereka semua pernah mengenyam turnamen Viareggio Cup.

Apabila penjelasan diatas lebih fokus kepada pemain dari Italia. Kali ini, mari kita telusuri beberapa pemain non Italia yang pernah mengikuti Coppa Carnevale. Jadi, sebelum Gabriel Batistuta merumput bersama Fiorentina, ternyata legenda Fiorentina tersebut pernah “merasakan rumput” di Italia bersama Deportivo Italiano di tahun 1989. Di tanah Italia, dirinya berhasil mengemas tiga gol. Batistuta dkk tergabung di dalam grup B, satu grup dengan Milan, Napoli dan CSKA Sofia. Sayang, laju Deportivo Italiona terhenti di babak perempatfinal. Mereka kalah adu penalti dengan juara Coppa Carnevale 1989, yaitu Torino. 

Batistuta hanyalah satu diantara ratusan pemain non Italia yang pernah mendatangi Viareggio Cup. Nicolas Burdisso, Zalayeta, Edinson Cavani, Cafu, Marquinhos serta Icardi adalah beberapa nama dari Amerika Latin yang rela berlayar ke Italia demi berkompetisi di Viareggio Cup. Di kancah Eropa tentunya kita mengenal Gareth Southgate, P. Neville, West Brown, Owen Hargreaves, Andy Carroll, Philip Lahm, Bastian Schweinsteiger, Radja Nainggolan, Aubameyang, F. Djordjevic, Lukaku, Varane hingga Julian Draxler. Pemain-pemain tersebut pernah menghiasai Torneo di Viareggio ketika masih menggayuh ilmu di tim U-21.

Diatas diceritakan apabila di tahun 2009, Viareggio Cup mulai memberikan hadiah bagi pemain terbaik di kompetisi tersebut. Entahlah, bisa disebut sebagai kutukan atau tidak. Sejauh ini, sudah ada lima pemain yang memperoleh gelar Torneo di Viareggio Golden Boy. Diawali Guido Marilungo (2009), Ciro Immobile (2010), Simone Dell’Agnello (2011), Leonardo Spinazzola (2012), Bryan Cristante (2013) dan Alberto Cerri (2014). Akan tetapi, apabila dilihat sampai detik ini, karir mereka tidaklah fenomenal. Mengenai Simone Dell’Agnello serta Leonardo Spinazzola, saya tidak bisa memberi komentar. Namanya saja baru saya dengar sekarang. Sedang Guido Marilungo, gak asing sih, ya karena namanya kerap malang melintang gitu di game Football Manager. Ciro Immobile mungkin sempat bersinar ketika membela Torino dan berhasil menjadi capocannoniere Serie A musim kemarin. Namun, karirnya sekarang bisa dibilang malah anjlok. Atau mungkin masih perlu adaptasi bersama Borrusia Dortmund. Begitu juga dengan Cristante yang sampai detik ini masih ditunggu tuah “wonderkid”nya. Karir mudanya dihabiskan di akademi AC Milan, kemudian dilego ke Benfica dan sejauh ini baru memainkan empat laga. Terakhir, ada striker jangkung Alberto Cerri yang juga menyandang predikat wonderkid di Football Manager. Mungkin, masih terlalu hijau untuk membicarakan karirnya. Semoga saja karir buruk tidak menimpa Alberto Cerri serta para penerusnya.

Tahun 2015 merupakan gelaran Viareggio Cup ke 67. Itu berarti sudah ada 66 gelar yang diserahkan kepada sang juara tiap tahunnya. AC Milan boleh berbangga, selain mendapat kehormatan sebagai pemenang pertama kali Viareggio Cup. Klub yang bermarkas di Milanello tersebut juga menyandang predikat sebagai peraih trofi terbanyak. Total, sembilan gelar Viareggio Cup telah mereka raih. Keberhasilan di ajang Viareggio Cup bagi AC Milan dirasa cukup menggembirakan, sebab mereka sama sekali belum pernah merasakan gelar di kompetisi Campionato Nazionale Primavera. Sayang, di kompetisi yang ke 67 ini, mereka gagal mempertahankan gelar karena sudah tereliminasi sejak fase grup.

Di bawah AC Milan ada Juventus dan Fiorentiona, masing-masing mengoleksi delapan piala. Disusul Dukla Praha, Inter Milan serta Torino yang sudah meraih enam gelar. Lalu Sampdoria (4x), AS Roma (3x), Atalanta (2x), Genoa (2x) serta Vicenza (2x). Sisanya ada Anderlecht, Bari, Bologna, Bresica, Cesena, Empoli, Juventud de Las Piedras, Napoli, Partizan Belgrade dan Sparta Praha yang sejauh ini baru mendapatkan satu gelar Viareggio Cup. Partizan Belgarde menjadi tim pertama dari luar Italia yang berhasil menyabet piala. Di tahun 1951, kemenangan mereka atas Sampdoria mengakibatkan trofi Viareggio Cup harus singgah sebentar di Yugoslavia.

Sekali lagi, kita boleh berpendapat bahwa Viareggio Cup merupakan kompetisi U-21 yang prestisius. Tujuannya memang untuk pengembangan sepakbola. Namun, apabila Viareggio Cup kita ibaratkan sebagai sebuah bunga, kok kurang harum wanginya. Predikat kompetisi internasional memang layak disematkan. Namun, turnamen Coppa Carnevale rasanya kurang menggigit dan tidak terlalu kompetitif. Ketika melihat dominasi tim Italia memenangi kompetisi diatas. Sebaiknya, Viareggio Cup mengundang akademi-akademi yang notabene dicap berhasil. Disamping mengundang akademi kelas dua yang tujuannya untuk mengembangkan sepakbola dan memberikan mereka pengalaman. Kuota akademi dari Italia mungkin bisa dikurangi. Kita tunggu tahun depan, apakah Viareggio Cup berani mengajak dan mengumpulkan akademi sepakbola terbaik di dunia menjadi satu. Seperti, Barcelona, Southampton, West Ham, Manchester United, Santos, Gremio, Argentinos Junior, Benfica, Sporting CP, River Plate, Boca Juniors, Standard Leige, Mimosas, Feyenoord, Ajax, Dinamo Zagreb, Partizan Belgrade, Anderlecht dll.

Viareggio merupakan daerah yang bersejarah dalam sepakbola Italia. Di tempat itu, untuk pertama kalinya seorang hakim garis tewas karena tidak sengaja ditembak oleh polisi yang sedang berusaha menghentikan kerusuhan antar suporter yang turun ke lapangan. Selanjutnya, Viareggio menjadi tempat penting bagi FIGC. Digelar sebuah pertemuan petinggi-petinggi sepakbola Italia disana dan menghasilkan Viareggio Charter. Muncul kesepakatan, disetiap pertandingan hanya boleh ada satu pemain asing di lapangan. Selain itu, pertemuan tersebut juga menjadi awal babak baru (era) profesional sepakbola Italia.

Sebagai penutup, mari kita membuat prediksi, tim mana yang menjadi juara Viareggio Cup tahun ini. Sampai tulisan ini selesai dibuat, Coppa Carnevale sudah mencapai babak perempatfinal. Adapun hasilnya sebagai berikut : 1) AS Roma vs Atalanta (1-1*), 2) Inter Milan vs Pescara (3-1), 3) Spezia vs Fiorentina (0-3), 4) Verona vs Napoli (3-2 pen). Sedianya, babak semifinal akan digelar dua hari kemudian. Inter Milan masih menunggu hasil akhir antara Roma dan Atalanta. Sedangkan Fiorentina dipastikan melawan Verona. Karena saya fans AS Roma, ya jelas dong kalau menebak juara tahun ini adalah mereka. Forza Roma !

Selasa, 30 Desember 2014

Membunuh dan Membebaskan Kesenyapan


Dua belas tahun lalu, ketika saya pertama kali menginjakkan kaki di bangku SMP dan harus menjalani masa orientasi sekolah. Sekitar 240 murid digiring oleh beberapa guru serta kakak angkatan. Kita berjalan kaki menuju sebuah monumen, namanya Monumen Pahlawan Pancasila. Monumen tersebut berada di dalam kompleks Batalyon 403 di daerah Kentungan, Depok, Sleman. Kebetulan, sekolah saya berdekatan dengan bangunan tersebut. Seorang guide menceritakan kronologis pembunuhan dua perwira (Letnan Kolonel Sugijono, Kolonel Katamso) yang konon diinisiasi oleh PKI (Partai Komunis Indonesia). Disamping itu, pria tersebut juga mendongeng mengenai penculikan jenderal – jenderal di Jakarta beserta penyiksaannya di Lubang Buaya. Memori diatas merupakan salah satu dari sekian banyak pengalaman saya yang berkaitan dengan kasus Gestok.

Di kampungku, dulu ada seorang warga, namanya (alm) Saridjo. Beliau mempunyai tiga orang putra. Setiap pagi, dia selalu membawa handuk dan satu buah gayung. Ia beranjak mandi ke kali Boyong dekat kampungku. Ya, pak Saridjo adalah salah satu warga yang dianggap simpatisan PKI dan sempat mendekam di penjara. Beberapa warga kerap menyebutnya “wong PKI”, termasuk orang tua saya sendiri. Ketika masih kecil, mendengar kata “PKI” merupakan hal yang menakutkan. Terutama ketika SD, setelah nobar film Pengkhianatan G30S/PKI karya Arifin C Noer bersama keluarga. Phobia komunis memang masih merajalela sampai sekarang di negeri ini. Warisan dari kampanye (propaganda) anti Komunis yang dikontrol pemerintah Orde Baru. Saya sendiri termasuk produk yang menikmati naturalisasi sejarah, meminjam istilah yang disampaikan oleh Budiawan. Barangkali kalian juga merasakannya.

Apa yang saya alami 12 tahun yang lalu ternyata masih terjadi juga di dunia pendidikan kita. Terekam sebuah scene, seorang guru tengah mengajarkan pelajaran sejarah di kelas, di dalam dokumenter The Look of Silence garapan Joshua Oppenheimer. Di negeri ini, indoktrinasi anti komunis sudah ditanamkan sejak dini. Dihadapan murid-muridnya, guru tersebut menerangkan kekejian dan keburukan PKI. Salah satu murid dalam kelas tersebut adalah putra Adi Rukun. Ia terlihat mengantuk dan malas mendengarkan ocehan gurunya. Adi Rukun, namanya mendadak terkenal setelah film Senyap diluncurkan. Ia adalah subjek utama di dalam film yang menyabet penghargaan di Venice Film Festival 2014. Setelah membuat geger Indonesia dengan The Act of Killing alias Jagal. Nama Joshua kembali mencuat setelah menelurkan karya terbarunya, yaitu The Look of Silence atau Senyap.


Semasa hidupnya, Adi Rukun tidak pernah bermain di sungai bersama kakaknya, menyentuh mukanya pun tak pernah. Sang kakak, yaitu Ramli ikutan dibantai bersama simpatisan PKI yang lain di tahun 65. Adi, lahir dua tahun kemudian setelah Ramli tiada. Rasa penasaran Adi mengenai kematian kakaknya semakin menjadi ketika dirinya bertemu Joshua di kampung halamannya, Deli Serdang, pada tahun 2005. Kala itu Joshua mengunjungi rumah Rukun dan Rohani, orangtua (alm) Ramli dan Adi yang notabene lahir di daerah Jawa Timur. Mereka berdua lalu mendiskusikan tentang pembantaian massal 1965-66 yang turut menyeret kakak Adi ke alam kubur. Ia pun meminta Joshua untuk mempertemukan dirinya dengan pelaku pembantaian massal di Deli Serdang. Biarpun pada awalnya Joshua menolak, karena alasan keamanan. Akhirnya, harapan Adi diatas mulai berjalan di tahun 2011. Sebelum proses pertemuan dengan jagal terlaksana, Adi lebih dahulu menonton beberapa rekaman video mengenai pengakuan para jagal mengeksekusi simpatisan PKI. Petualangan pun dimulai setelah itu.

Membunuh dan Mengaku “Pahlawan”


Bukan perkara mudah bagi Adi menyaksikan pengakuan seorang jagal menganiaya para tahanan dengan sadisnya. Ia menonton aksi Inong bersama Amir Hasan memperagakan metode “penyembelihan” anggota-anggota PKI disekitaran Sungai Ular, Deli Serdang, salah satunya adalah Ramli. Kakak kandung Adi dibunuh dengan cara digorok lehernya. Sampai-sampai darah yang menetes pun mereka minum. Alasannya, supaya mereka tidak menjadi gila dan lebih luwes melakukan pembantaian. Bahkan, sebelum jasad Ramli dijeburkan ke sungai, mereka sempat menggolok selangkangannya hingga menyayat penis kakak Adi tersebut. Cara- cara semacam itu hampir dilakukan ke setiap korban. Mereka ditendang, dipukuli, lalu para jagal menggorok lehernya dengan pedang, tak lupa mereka meminum darah para korban. Bahkan, ada juga tahanan perempuan yang dipotong payudaranya. Sebelum mayat-mayat tadi dibuang di sungai Ular.

Bagi Inong dan Amir Hasan, kakak Adi sejatinya adalah orang baik. Namun, karena dirinya menjadi bagian PKI, tetap saja harus diseret untuk dieksekusi. Sebenarnya Ramli sempat melarikan diri sebelum dirinya dihabisi di sungai Ular. Sang ibu melihat putranya pulang ke rumah dalam kondisi terlunta-lunta, punggung dan perutnya bersimbah darah tertusuk pisau. Ketika berada di rumah, Ramli sempat meminta ibunya untuk membuatkan secangkir kopi. Air yang direbus, baru saja mendidih, tapi pintu rumah keburu digedor. Siapa yang tahu bahwa itu adalah pertemuan terakhir Rohani dengan putra pertamanya. Karena Amir Hasan dkk “menjemput” Ramli dengan alasan akan mengobati dirinya.


Menurut penuturan Inong serta Amir Hasan, apa yang mereka lakukan adalah bentuk pengabdian terhadap negara. Mereka memang pimpinan komando aksi pembantaian tersebut. Perlu diketahui, Inong dan Amir Hasan melakukan pembunuhan secara spontanitas. Bahkan, berdasar pengakuan mereka, tentara sama sekali tidak terlibat. Mereka hanya berjaga-jaga di jalan, tak ikut turun ke Sungai Ular. Menurut beliau, tentara tidak turut membunuh supaya negara tidak disalahkan. Biarlah rakyat yang dimobilisasi untuk membantai, agar negara tetap “bersih” wajahnya.

Selepas pembantaian berakhir, mereka masih bangga mampu merenggut nyawa simpatisan PKI. Mereka mengaku sebagai pahlawan, pembela Pancasila, penyelamat negara. Tak sedikitpun rasa penyesalan muncul dibenak mereka. Bahkan masih mampu “bergaya” didepan ladang pembantaian. Ya, biarpun secara sistem, para jagal diatas juga termasuk korban atas pembunuhan berencana tersebut.

Membuka Luka, Dendam dengan Kacamata
Sehari-hari, Adi bekerja sebagai ahli kacamata. Lagi – lagi Joshua kembali “menjebak” dan “menipu” para jagal. Alih-alih menawarkan jasanya untuk memeriksa mata, Adi malah menginterogasi salah satu jagal yang turut membunuh kakanya, yaitu Inong. Sayang, Inong kurang suka ketika Adi menanyakan perihal keterlibatannya dalam operasi penumpasan simpatisan PKI. Inong mengaku, pertanyaan Adi terlalu dalam dan bersifat politis, ia tidak suka dengan politik. Samar memang, sesamar mata Inong yang berhasil “diperiksa” Adi.

Usaha Adi tidak berhenti sampai situ. Ia lalu berkunjung menemui dua tokoh masyarakat di Deli Serdang. Pertama, ia menemui Amir Siahaan yang sekarang menjadi pimpinan ormas Pemuda Pancasila setempat. Pria tersebut mengaku sebagai pemimpin pembantaian anggota PKI di Deli Serdang. Mereka memobilisasi warga untuk turut membantu pembantaian. Komando aksi yang dipimpin Amir Siahaan juga menyiapkan lubang-lubang untuk mengubur hidup-hidup para simpatisan komunis. Ketika Adi mengaku bahwa dirinya adalah adik kandung salah satu simpatisan PKI yang turut terbunuh, sontak Amir Siahaan terkejut. Gaya bicaranya menjadi terbata-bata dan sempat mengelak karena pembantaian di Deli Serdang terdiri atas berbagai macam sub divisi. Bisa jadi dirinya tidak turut melumuri tangannya dengan darah Ramli. Namun Adi tetap bersikeras, bahwa Amir turut terlibat karena saat itu dirinya bertindak sebagai pimpinan. Amir Siahaan sempat bertanya tempat tinggal Adi, namun Adi sungkan untuk menjawabnya karena alasan keamanan.


Keberanian Adi kembali diuji ketika menghadapi M.Y. Basrun, pimpinan DPRD Deli Serdang. Pria tersebut terlihat pongah dan bangga menceritakan masa lalunya menumpas simpatisan PKI. Anggota DPRD diatas sempat terperangah ketika Adi mengaku bahwa kakaknya adalah korban dari penumpasan tersebut. Kontan, anggota DPRD tadi malah mengalihkan pembicaraan. Ia menganggap, pembunuhan yang terjadi di Deli Serdang tidaklah besar. Padahal ada sekitar 500 nyawa yang terpaksa menjadi tumbal. Pria yang menjabat sebagai ketua DPRD sejak tahun 1971 tadi juga balik menggurui Adi Rukun. Gaya bicaranya sangat licin dan diplomatis, ia berujar bahwa semua keluarga korban pasti tak menginginkan tragedi tersebut terulang lagi dan meminta mereka untuk merubah. Agak kabur, apa maksud “perubahan” yang disarankan oleh M.Y. Basrun.

Perjalanan Adi tidak berhenti disitu. Ia lalu bertamu ke rumah pamannya sambil memeriksa penglihatannya. Konon, paman Adi turut ambil bagian di dalam operasi penumpasan oknum PKI. Kala itu, paman Adi bertugas untuk menjaga para tawananan yang akan dieksekusi. Ia sendiri mengaku, tidak tahu apabila diantara ratusan tahanan yang ia jaga, salah satunya adalah keponakannya sendiri. Ia juga bersikeras, bahwa apa yang dirinya perbuat merupakan panggilan untuk membela negara dan agama. Perbincangan disudahi karena situasi makin memanas, paman Adi terlihat naik pitam. Di sisi lain, Adi terlihat kelelahan dan mimik mukanya tampak kecewa. Sempat terlintas keheningan disela-sela perbincangan mereka. Adi lalu bergegas untuk berpamitan, tampak sorot mata paman Adi mengamati langkah keponakannya meninggalkan kediamannya.


“Kalau saya tolak, mereka membunuh kita, awak jaga keamanan. Mereka tak pernah salat... berani-beraninya kau menyalahkan saya...” (Paman Adi Rukun)

Usai bertamu di rumah pamannya, Adi berbagi pengalaman kepada mamaknya. Ia menceritakan bahwa adik mamak pernah bertugas untuk menjaga para simpatisan PKI. Rohani mengaku, selama ini adiknya tidak pernah menceritakan hal tersebut. Ia lalu menasehati putranya agar lebih berhati-hati. Karena para pelaku pembantaian massal masih berkuasa sampai sekarang. Sepanjang hidupnya, Rohani memendam rasa benci yang teramat dalam kepada tetangganya yang bertindak sebagai eksekutor. Bertahun-tahun ia menyimpan dendam dan tak sudi untuk saling menyapa. Adi serta ibunya berusaha mengobati luka yang senantiasa menghantui. Mereka berdua mengunjungi makam Ramli, tanpa kehadiran sang ayah yang didera sakit-sakitan. Maklum umurnya sudah ratusan, biarpun mengaku baru berusia 16 tahun. Adi mengayuh sepeda, memboncengkan sang mamak. Menyusuri jalan-jalan yang dikelilingi perkebunan sawit.




Bertamu Tuk Merajut Damai
Hanya satu kata yang diharapkan oleh Adi yaitu, “maaf”. Tapi, satu kata pun tak muncul dari Inong, Amir Siahaan, seorang anggota DPRD serta paman Adi sendiri. Sebuah film dokumenter memang harus melewati proses editing lebih dahulu. Supaya tercipta struktur dramatik yang mereka cita-citakan. Kita sebagai penonton tentu tidak tahu menahu, atau bahkan tidak akan diberitahu oleh sutradara mengenai urutan siapa saja yang dahulu diwawancarai. Nah, di akhir film The Look Silence ini kita akan menemukan adegan semacam “rekonsialiasi” kecil antara Adi dengan keluarga pelaku. Entah kenapa scene berbau maaf-maafan tersebut diletakkan di menit-menit mendekati film berakhir. Seakan-akan menampakkan bahwa permintaan maaf adalah kunci utama untuk merajut jembatan rekonsialiasi. Atau malah sebuah jalan untuk membuka kembali luka lama yang terlanjur menganga.


Adi mendatangi kembali seorang pria tua, mantan jagal tentunya. Pria beruban tersebut ditemani seorang putrinya, mereka menyambut Adi dengan tangan terbuka. Sang putri tahu, bahwa dulu ayahnya ikut menumpas simpatisan PKI yang dicap sebagai pembelot negara. Ia merasa bangga, ayahnya bagaikan seorang pahlawan dibenaknya. Begitu juga dengan si pria tua yang bernama Samsir tadi, ia mengaku turut membantai ratusan tahanan. Bahkan, kepala seorang perempuan pernah ia bungkus. Lalu kepala tadi ia bawa ke kedai kopi milik orang Cina. Sepele alasannya, sekedar untuk menakut-nakuti saja. Ia pun menceritakan, bahwa dirinya juga meminum darah korban yang berhasil dia bunuh. Alasannya sama seperti Inong serta Amir Hasan. Supaya pikirannya tidak jadi gila, tidak timbul rasa trauma ataupun tidak terbebani ketika mengeksekusi tahanan. Mendengar pengakuan sang ayah, perempuan yang mungkin seumuran dengan Adi tadi terlihat kaget. Ia mengaku, merasa ngeri mengetahui tindakan sang ayah yang merasakan kenikmatan darah manusia. Hati si perempuan kembali terketuk setelah mendengar pengakuan Adi. Panjang lebar Adi menceritakan bahwa kakaknya turut dibantai di dalam operasi yang diikuti Samsir tersebut. Terlihat nanar mata si perempuan, tatapannya kosong. Si lelaki tua pun kelabakan dan menoleh ke belakang sembari menanyakan jam. Kondisi tersebut pun membuat Adi harus buru-buru berpamitan. Si perempuan meminta maaf kepada Adi, atas masa lalu yang menimpa kakaknya. Ia juga berkata bahwa kita adalah saudara, jangan timbul permusuhan diantara mereka. Entah basa-basi atau bukan, tak lupa si perempuan menyampaikan agar Adi sering-sering mampir ke rumahnya. Sendirian dia mengurus sang ayah.


Pengaduan terakhir Adi tertuju pada keluarga Amir Hasan. Sayang, pria yang di dalam rekaman Joshua tersebut mengaku masih menyimpan pedang aslinya yang dipakai untuk membunuh simpatisan PKI, ternyata sudah dipanggil ke Rahmatullah pada tahun 2011. Adi lalu menemui istri dan anak-anak Amir Hasan. Ia menceritakan keterlibatan Amir Hasan yang tega menganiaya dan membunuh kakak kandungnya. Awalnya mereka tidak percaya, namun Adi menunjukkan buktinya dengan video rekaman Joshua Oppeheimer di tahun 2003. Serta sebuah buku “Embun Berdarah” yang berisi tentang pembunuhan simpatisan PKI dan dikarang sendiri oleh Amir Hasan. Mereka shock, tak kuasa menahan sedih dan amarah. Kedua putra Amir Hasan malah membentak Adi dan Joshua. Wajar, posisi mereka sedang terpojok dan merasa bahwa selama ini mereka telah dijebak oleh Joshua. Sebelum angkat kaki, Adi sempat mendengar pengakuan istri Amir Hasan. Ia merasa kasihan dengan arwah almarhum dan meminta supaya segala perbuatannya dimaafkan.


Seratus Menit, Mengukir Kesenyapan
Hampir, seratus menit di dalam dokumenter Senyap, kita disuguhi perbincangan Adi dengan pelaku. Membicarakan motif serta alasan mereka membantai ratusan simpatisan PKI di sekitaran Deli Serdang. Semuanya senyap, sunyi, nyaris tak ada kegembiraan. Mungkin hanya satu scene, ketika Adi bercengkerama dengan putri kandungnya. Suka cita tadi pun rasanya palsu, disaat Adi harus mendengar pengakuan sang istri yang merasa nyawa keluarga mereka terancam.


Satu sosok yang cukup menetralisir keadaan adalah Rohani. Ia memang menanam benih dendam sepanjang hidupnya, namun rasa tegar pun tetap ia pelihara. Sikapnya yang ceplas-ceplos cukup meredakan ketegangan serta kesunyian yang terus-terusan dibangun oleh Senyap. Adi yang sejatinya tidak mengalami langsung peristiwa pembantaian di sungai Ular, terus dihantui rasa penasaran. Hampir setiap usahanya untuk berdamai selalu gagal, dia kurang lihai menjadi negoisator. Akibatnya, setiap ucapan Adi selalu menyulut amarah pelaku atau keluarganya. Inong si tua yang memelihara seekor monyet ternyata mudah naik darah. Amir Siahaan, gaya dan lagaknya diam-diam membahayakan. Lalu si anggota DPRD, perlente namun berbisa, pandai menenangkan situasi dan mengalihkan pembicaraan. Serta keluarga (alm) Amir Hasan yang sebenarnya masih dirundung rasa duka, dengan mudah mereka tercabik emosinya.


Menurut saya, hanya mamak alias Rohani yang benar-benar menunjukkan suasana lucu bercampur miris sebenarnya ditengah ruh kesenyapan. Dia pandai bercanda dengan suaminya. Tak merasa terganggu mendengarkan suaminya mendendangkan lagu “Mana Tahan”. Biarpun tak mau sekamar dengan sang suami karena alasan bau badan dsb, tapi toh dia lah yang selama berpuluh-puluh tahun merawatnya dengan penuh kasih. Memandikannya, membersihkan kamar, menyuapi makan dll. Setiap kata atau tindakan yang berkaitan dengan kematian Ramli merupakan strategi tersendiri untuk menjalani hidup. Rohani sejatinya sedang membunuh kesenyapan yang selama ini berkubang di lingkaran keluarganya.


Akhir cerita, bu Rohani bertemu dengan salah satu korban yang berhasil selamat, yaitu Kemat. Semasa muda Kemat kenal dengan Ramli. Beruntung, dirinya mampu melarikan diri ketika para rombongan sedang disiksa di tengah jalan. Di menit-menit awal, ia mengisahkan proses penculikan korban beserta eksekusinya. Sembari berjalan kaki, Adi dan putranya menyimak penjelasan Kemat dengan runtut. Ketika bertemu Kemat, bu Rohani menangis tersedu-sedu. Tak lupa dirinya mengucapkan syukur karena Kemat berhasil selamat. Disatu sisi, ia memeluk Kemat sembari menangisi kematian putranya. Hati kita akan semakin tersentuh, ketika melihat ayah Adi merangkak kebingungan. Ia ketakutan, was-was apabila dipukuli orang. Ia lupa dengan Ramli, putra kandungnya. Memang, Rukun sudah pikun. Adegan tersebut seolah-olah menyiratkan, betapa mirisnya keluarga Adi. Mungkinkah selama ini, Rukun didera kebingungan dan bertanya-tanya, kenapa putra pertamanya “ditiadakan” ?


Setelah Menonton Senyap, Kita Mau Apa ?
Film Senyap memang “dirayakan” dengan ramai-ramai. Mulai dari pemutaran serentak pada tanggal 10 Desember, lalu diskusi mengenai kasus 65 yang kembali marak, obrolan ringan soal Senyap di kantin-kantin kampus, hingga ribut-ribut pembubaran nonton bareng Senyap. Dokumenter yang didanai oleh Werner Herzog, Errol Morris dan Andre Singer tersebut memang didukung oleh Komnas HAM. Beberapa tokoh dan intelektual di Indonesia juga mengapresiasi film tersebut. Tercatat nama-nama semacam Nia Dinata, Budiman Sudjamitko, Manneke Budiman, Baskara T Wardaya, Ayu Utami, Suciwati Munir, Hilmar Farid dll di dalam credit title. Namun, tak sedikit yang sengaja merusak dan menolak kehadiran Senyap di khalayak ramai.

Respon yang muncul sejauh ini adalah rasa simpati terhadap korban. Biarpun, rasa belas kasih terhadap korban sudah lama ngetrend pasca runtuhnya Orba. Lalu disusul dengan diskusi panjang tentang 65 dan berakibat pada kemunculan buku-buku berbau kiri, komunis dsb. Di sisi lain, banyak juga yang mengecam karena film ini dianggap mengobarkan komunisme di Indonesia. The Look of Silence dianggap tidak netral, karena tidak mengungkap kebiadaban yang pernah dilakukan oleh PKI. Akan tetapi, perbincangan akan semakin melebar apabila kita membahas serangan intelektual-intelektual kiri dalam perdebatan budaya. Ataupun Tragedi Kanigoro yang didasarkan pada dendam PKI atas terbunuhnya kader mereka di Madiun dan Jombang oleh anggota NU pada akhir 1964. Film tersebut memang tidak berniat untuk membahas penyerobotan tanah secara paksa terhadap tuan-tuan haji nan kaya di akhir tahun 1963 akibat mandegnya UUPA 1960 (land reform). Kita tidak hendak melupakan peristiwa tersebut, namun ada meja tersendiri apabila kita ingin membahas babakan diatas.


Film ini lebih memusatkan perhatian pada warisan Orba yang mendoktrin warganya sedemikian rupa. Agar mereka menganggap bahwa komunis telah membuat Indonesia menjadi kelam. Indoktrinasi tersebut yang berakibat pada kemunculan “perang saudara” di kurun 1965 – 66. Sampai-sampai organisasi sebesar Muhammadiyah menyerukan umatnya, bahwa pebasmian PKI sama dengan perang di jalan Allah. Selain banjir darah, indoktrinasi tadi juga mengakibatkan pengucilan keluarga korban, bertahun-tahun lamanya. Padahal tak semua korban yang dicap PKI, tahu atau paham tentang komunisme. Bisa saja karena mereka cuma mendapatkan bibit padi, turut membagi-bagikan beras berapa kilo, ikut main ketoprak atau diberangkatkan ke luar negeri karena kecerdasannya. Eh, kok tiba-tiba diciduk, disiksa, diasingkan atau dibunuh karena diduga aktif mendukung PKI.

Joshua Oppenheimer juga terkesan ingin mendorong (meyakinkan) penonton Senyap bahwa Amerika Serikat berada dibalik tragedi 65. Berdasar footage lama dari NBC News di tahun 1967 yang ditampilkan di dalam film Senyap. Kita dengan mudah akan menuduh negeri Paman Sam turut terlibat di dalam pembantaian massal oknum-oknum partai berlambang palu arit tersebut. Wajar, konstelasi dunia saat itu dikuasai oleh dua pihak, yaitu Amerika Serikat dan Uni Sovyet. Dimana, Amerika Serikat getol memerangi paham komunis sembari membuka celah agar mampu memanfaatkan lumbung-lumbung ekonomi di Nusantara. Arsip NBC News yang dilaporkan oleh Ted Yates tersebut menuturkan beberapa hal yang mengejutkan. Muncul sebuah kata-kata dari mulut orang Indonesia bahwa “Bali makin indah tanpa orang-orang komunis”. Video diatas juga mengungkapkan, perusahaan karet terbesar di daerah Sumatera sudah membaik kondisinya. Karena Serikat Buruh yang kerap menuntut kenaikan upah sudah dihabisi. Sedangkan buruh-buruh selamat, tetap bekerja namun berada di bawah todongan senjata. “Bersih-bersih” komunis juga terjadi daerah lain. Menurut NBC News, orang-orang komunis dibiarkan mati kelaparan di penjara. Ada juga yang dilepaskan lalu diburu oleh warga. Kesimpulannya, laporan NBC diatas semakin meyakinkan publik, bahwa pembantaian massal 65 sudah diorganisir, dimobilisasi secara sistematis dan menghasilkan pembunuhan kolektif.

“Seharusnya kita-kita yang tua ini diajak ke Amerika. Kita kan sudah berjasa. Tak naik pesawat pun tak apa, naik kapal laut pun tak apa. Ini karena Amrika ajarkan pada kita benci komunis,”
(Amir Siahaan)

Otak pembantaian massal 1965-66 memang susah terungkap, bahkan untuk diangkat ke International Criminal Court. Menurut Budiawan hal tersebut disebabkan karena pelaku pembantaian menjadi penguasa dan simpatisan komunis menjadi korbannya. Berbeda dengan proses hukum yang terjadi di Vietnam, Kamboja, Rusia, eks Yugoslavia dsb. Warga sipil yang jadi korban bukanlah penganut paham komunis. Karena itulah, proses hukum sangat didukung oleh negara adikuasa kala itu. Lagipula, di Indonesia sendiri, antek-antek yang diduga sebagai insiator atau otak utama pembantaian massal tersebut kebanyakan sudah tiada.



Sebenarnya, sebelum Senyap muncul pun, isu campur tangan Amerika Serikat sudah lama terkuak di meja-meja diskusi yang mungkin nyawanya hanya hidup di sekitaran menara gading. Kita bisa mengecek ulang keterlibatan Amerika Serikat di film Shadow Play, dokumenter mengenai peristiwa 65 yang rilis pada tahun 2001. Konon, Amerika Serikat menyerahkan 5000 daftar simpatisan PKI yang harus dihabisi. Menurut sejarawan Robert Cribb, jumlah yang terlindas pembantaian massal tidak diketahui secara pasti jumlahnya. Sejauh ini, dipercaya pada kisaran 200 ribu hingga 3 juta jiwa. Angka tersebut muncul berdasarkan hasil yang disampaikan beberapa pihak. Misalnya, Komisi Pencari Fakta yang dibentuk Presiden Soekarno mencatat ada 78 ribu korban. Lalu, Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib) yang berasumsi ada 1 juta nyawa yang dibunuh. Mantan pimpinan RPKAD, Sarwo Edhie Wibowo malah mengakui bahwa korban mencapai 3 juta orang. Di kubu lain, menurut aktivis Kiri, nyawa yang terenggut sekitar 2 juta jiwa. Angka-angka diatas memang kurang bisa dipercaya, terlalu berlebihan dan sarat akan klaim masing-masing pihak. Namun, Robert Cribb meyakini, kemungkinan ada sekitar 500 ribu korban yang tewas. Itu belum termasuk jutaan simpatisan PKI yang disiksa lalu dipenjara. Apabila jumlah tersebut benar, itu berarti pembantaian massal simpatisan PKI termasuk salah satu pembunuhan sistematis terbesar di dunia. Seraya mengutip istilah Henk Schulte Nordholt, pembunuhan massal merupakan penyucian ritual. Sebagai alat untuk mencapai mimpi mereka, menuju pertumbuhan, perdamaian dan kesejahteraan baru.


Kalaupun, Amerika Serikat memang terlibat, baru-baru ini terdengar bahwa mereka akan mengusut kasus tersebut. Mungkin, Amerika Serikat akan mengucapkan kata maaf atas tragedi yang melibatkan mereka. Pertanyaannya, apa yang akan dilakukan oleh pemerintah Indonesia ? Ingat, berbagai kasus HAM di Indonesia sampai detik ini belum menemui jalan terang. Ironisnya, kasus HAM sendiri selalu digoreng dandijadikan dagangan ditiap kampanye Pilpres berlangsung. Di sisi lain, Aksi Kamisan masih rutin berjalan untuk menuntut keadilan. Selain kasus 65, masih ada kasus pelanggaran HAM yang belum dibereskan oleh pemerintah. Misalnya, tragedi Talangsari, pelanggaran HAM di Timor Timur, aktivis-aktivis yang hilang entah kemana, hingga kasus Aceh yang jauh dari sorotan media dsb.

Kata maaf, memang tidak cukup untuk mengobati perih yang kadung tertanam lama. Tapi setidaknya, tindakan tersebut menyatakan bahwa negara bertanggung jawab dan mengutuk tragedi hitam yang menimpa masyarakat Indonesia di masa lalu. Rekonsiliasi sosial memang sudah lama terbangun secara alamiah. Kesadaran diatas malah bergerak dari bawah. Namun perdamaian tidak akan pernah tercapai apabila dikotomi “korban” vs “pelaku”, “kita” vs “mereka” masih dibangun. Bagi Hersri Setiawan, pemisahan-pemisahan tersebut harus dirombak kembali. Bukan bermaksud untuk menyalahkan atau menyudutkan. Namun, film Senyap sendiri malah menajamkan dikotomi tersebut. Sikap Rohani dapat dikatakan sebagai penolakan atas rekonsiliasi dalam lingkup yang lebih kecil. Ketika dirinya masih saja membentengi dan menjaga jarak dengan sosok yang membunuh putra kandungnya. Entah karena saya yang alpa atau memang tak ada, sepertinya tidak terucap kata untuk menerima permintaan maaf dari mulut Adi. Biarpun, kata-kata bisa berarti hanya sebagai pemanis belaka, istilah Jawanya abang-abang lambe. Setidaknya, Adi bersikap tegar serta tulus berjabat tangan dan berpelukan dengan pelaku.


Semuanya memang harus diawali oleh negara. Mengutip pernyataan Hersri Setiawan mengenai Sesaji Raja Sunya. Cucu Arjuna tersebut mengadakan Sesaji Raja Sunya ketika memimpin Astina. Sebuah lakon post Baratayudha yang sebenarnya belum pernah saya lihat, bahkan saya dengar. Saya sendiri sebenarnya agak meragukan adanya lakon tersebut, namanya hampir mirip dengan upacara yang dilakukan oleh Yudhistira, yaitu Sesaji Raja Suya. Ah, sudahlah. Jadi begini, Sesaji Raja Sunya berarti upacara penebusan atas perang saudara yang menewaskan banyak nyawa, pertarungan antara Pandawa dan Kurawa yang melibatkan sekutu-sekutu mereka. Parikesit selaku penerus tahta Astina, ingin menebus segala dosa yang ditimbulkan leluhurnya dengan mempersembahkan 40 ekor kuda. Lalu sebagai pemimpin, dia melakukan semedi. Ironisnya di hari yang ke 40, nyawa Parikesit direnggut oleh Naga Taksaka.

Saya ingat, sebelum Jokowi naik tahta, sebuah pagelaran wayang kulit serial Baratayudha digelar di sekitaran jalan Mangkubumi, Yogyakarta. Lakon Jumenengan Parikesit menjadi cerita pamungkas sebagai bentuk sambutan atau bahkan menasbihkan pemimpin baru di Indonesia. Bayangkan apabila Parikesit benar-benar menitis di tubuh Jokowi. Lalu Jokowi seolah-olah mengadakan Sesaji Raja Sunya dengan cara meminta maaf atas tindakan negara yang membabi buta membantai simpatisan PKI. Tentu teramat pening kepala presiden kita. Mengingat disaat pemilu kemarin cap komunis melekat di tubuh pria kelahiran Solo tersebut. Pasalnya, gerakan yang secara terang-terangan menolak komunis masih saja “dipelihara” oleh negara. Selain itu, wacana komunis terus menerus dibenturkan dengan paham anti agama, terutama Islam. Padahal paham komunis sendiri berkedok untuk melawan kapitalis, bukan religiusitas. Biarpun, tujuan komunise sendiri sama dengan cita-cita tradisi keilmuan Islam yang oleh Kuntowijoyo disebut sebagai ilmu sosial profetik. Gagasan profetik merujuk pada konsep nahi munkar yang sebenarnya searah dengan prinsip sosialisme (marxisme, komunisme, teori ketergantungan, teologi pembebasan) dan bertujuan bahwa perkembangan dapat dicapai melalui liberasi (pembebasan).


Bagaimanapun juga, ucapan maaf memang harus dilakukan oleh negara. Untuk mengawali tindakan saling “berpelukan”, “berjabat tangan” serta ribuan kata maaf yang akan meluncur. Tentunya, tanpa harus ditanggapi dengan negatif karena alasan kepentingan politik semata. Semoga “pembebasan” tersebut tercapai. Amin.

“Let us forgive each other, only then will we live in peace” – Leo Tolstoy

*****

“Secara sudut pandang sih menarik. Adu domba antara “korban” (walapun korban ndak langsung) dan pelaku. Nah, yang ngganjel bagiku adalah Joshua seolah mengembalikan ke penonton mana pihak yang benar/pihak yang tertindas dan mana pihak yang salah. Tapi kupikir dia sudah menggiring opini penonton bahwa pihak pelaku adalah pihak yang salah (antagonis) dan pihak korban adalah pihak yang bener (protagonis). Padahal sebenarnya nggak sesimpel itu. Masih banyak misterinya. Apakah benar kalau pihak korban itu benar-benar dibantai demi kekuasaan Orba ? Jangan-jangan mereka emang berniat kudeta ?”
(Gading Paksi, alumni Fisipol UGM)

“Piye, yo? Hmmm, ada perasaan yang campur aduk. Kekejaman dan kebohongan seperti ditampilkan secara telanjang. Kadang aku tidak kuat membayangkan apa yang dirasakan oleh mas itu, dan bagaimana caranya ia mampu meredam semua sedih dan pahitnya. Tapi kejujuran yang ditampilkan itu seperti punya pesan, bahwa selama ini kita hanya menatapi kebohongan dan kita senang menyaksikannya.”
(Irfan Drajat, mahasiswa Kajian Budaya Media UGM).