Ketika paduan kata dan pikiran sempat bersatu menjadi sebuah nada berupa suara ketikan. Hanya saja, semua menjadi goyah ketika ada satu sosok tiba-tiba lewat. Suasana ruangan tersebut memang sunyi, menciptakan ketenangan.
"JAGA KETENANGAN RUANGAN INI"
"ANDA AKAN DIPERINGATKAN APABILA AKTIVITAS ANDA MENGGANGGU KETENANGAN DI RUANGAN INI"
Begitulah.
Iya, dia lewat, menemui teman-temannya, lalu duduk. Tanpa diduga, tanpa diprediksi, dia muncul. Entahlah, mungkin dia sedang ada tugas. Beberapa menit berlalu, dia hendak keluar. Sempat lewat disampingku, namun tak menyapa. Maklum kita memang tidak akrab.
Lalu, aku menengok ke belakang, dan tiba-tiba dia juga menengok ke arahku. Ah, mungkin mau melihat orang lain. Haha
Aku pikir semuanya sudah selesai dan dia pergi. Ternyata tidak, dia datang lagi, lalu duduk di tempat semula. Pukul 14.25 WIB, dia belum keluar juga. Dering bel berbunyi, tanda bahwa perpustakaan akan tutup. Aku belum beranjak dari kursiku. Menunggu.
Lalu, aku pun tersadar, "Oh tidak, Philip Morris ku terbengkalai".
25-10-2013
2.26 PM
"Aku ingin meletakkan sekuntum sajak di makam Nabi, Supaya sejarah menjadi jinak. Dan mengirim sepasang merpati" (Kuntowijoyo)
Sabtu, 26 Oktober 2013
Selasa, 08 Oktober 2013
Elegi Negeri Bahari
Perlu ada upaya
melihat,
Upaya melihat dengan
menjungkir-balikan segala makna
yang sudah ada
Untuk sampai pada yang
tak dikenal
Hidup sejati yang
berada di tempat lain
Di bawah sini cuma
khayali
Dijejali dengan rangka
kerontang
Hasil pemikiran sempit
masyarakat Barat
Arthur Rimbaud |
Penyair terkenal dari Prancis yang sempat mampir di Salatiga dengan menaiki
kapal serdadu Hindia Belanda di tahun 1876
Ketika berkunjung ke ART|JOG, saya
sempat memandangi salah satu karya yang berjudul “Bahtera Kaum Urban”. Saya
sendiri lupa, siapa perupa karya tersebut. Satu hal yang membuat saya tertarik
dari karya tersebut adalah wayang. Ya, si perupa menampilkan sosok punakawan
dalam karya tadi. Sebuah kapal yang diisi oleh Semar, Gareng, Petruk dan Bagong.
Mereka saling bekerja satu sama lain dengan riang dan gembira. Itulah
punakawan, simbol pekerja keras dan gemar bernyanyi, biarpun mereka ditempa
oleh kerasnya kehidupan.
Saya jadi ingat sebuah tulisan milik (alm)
AB Lapian, sejarawan bahari kita yang terkemuka. Di dalam bukunya yang berjudul
Pelayaran dan Perniagaan Nusantara : Abad
Ke-16 dan 17,[1]
beliau menjelaskan mengenai strata sosial pelayaran di sekitar abad 16 dan 17. Golongan
paling atas adalah para “perwira”. Mereka yang disebutkan sebagai “perwira”
antara lain nakhoda, jurumudi, jurubatu, serta mualim. Nakhoda sendiri masih dibagi menjadi dua, yaitu nakhoda laut yang mengurusi pelayaran
serta nakhoda darat, tugasnya
mengurusi muatan, mencatat segala pemasukan dan pengeluaran. Lalu jurumudi, sudah terlihat dari namanya,
tugasnya pasti mengemudikan kapal. Lain jurumudi,
lain pula jurubatu, apa itu jurubatu ? namanya unik juga ya.
Ternyata jurubatu bertugas mengurusi
jangkar. Kadang-kadang jurubatu
jumlahnya ada dua, posisi mereka berada di haluan karena bertanggung jawab supaya
kapal tidak menabrak karang.
Posisi
berikutnya adalah mualim, sekarang
lebih dikenal sebagai navigator. Posisi ini sangat penting disaat kapal sedang
berlayar. Seorang mualim yang bekerja dalam kapal dengan ukuran besar, biasanya
dibantu oleh mualim kecil. Tugasnya
juga beda, mualim kecil berurusan dengan layar dan tali temali kapal. Selain
itu, mualim kecil harus mempunyai
pengetahuan tentang arah angin. Maka dari itu, mualim kecil juga disebut sebagai mualim angin.
Hierarki
selanjutnya ada golongan para tukang
atau bintara. Pemimpin golongan ini
disebut tukang agung. Tukang agung
mempunyai beberapa asisten, yaitu tukang
kiri (mengurusi lambung kapal bagian kiri) serta tukang kanan (mengurusi lambung kapal bagian kanan). Lalu ada tukang tengah yang bertugas dibagian
tengah kapal. Selain itu adapula tukang
petak, tugasnya memilah-milah penempatan barang. Terakhir, tukang gantung layar, pekerjaannya
langsung dibawah pengawasan mualim angin.
Golongan
paling bawah dalam kapal adalah awak kapal (anak kapal). Awak kapal dipimpin
oleh serang (mandor). Bisa dikatakan
isi dari awak kapal adalah para orang rendahan. Misalnya orang banyak (orang merdeka),
orang abdi (budak) serta orang berhutang.
Ada juga yang disebut sebagai orang turun
penukan , dirinya dipekerjakan oleh nakhoda selama masih mempunyai hutang,
namun dirinya punya kekuasaan atau tanggungjawab tertentu dalam kapal. Selanjutnya
ada golongan yang disebut sebagai muda-muda,
yaitu seorang taruna atau pelajar yang sedang mencari pengalaman di kapal. Saat
magang, mereka bertugas mengawasi orang abdi serta menemani nakhoda apabila
turun ke darat. Selain itu, saat pelayaran berlangsung, muda-muda juga bertugas mengawasi orang jaga dan orang yang bekerja
di bagian anjungan.
Ada juga
sosok-sosok lain dalam kapal, namun posisi mereka tidak masuk dalam hierarki
atau struktur organisasi dalam kapal. Contohnya, para kiwi, yaitu pedagang-pedagang yang kepentingannya hanyalah
berdagang, mereka tidak turut andil dalam pelayaran. Para kiwi tadi dipimpin oleh maula kiwi. Lalu, orang tumpang atau orang
penumpang , mereka ikut berlayar dengan cara membayar uang tambang.
Terakhir, orang senawi, mereka
menumpang dan ikut berlayar dengan cara membantu di kapal tanpa membayar uang
tambang.
Saya
pikir karya “Bahtera Kaum Urban” memang sarat akan simbol di dunia pelayaran
kita. Terutama ketika si perupa menghubungkan antara kapal dengan wayang. Kapal
merupakan warisan maritim kita, begitu pula dengan wayang (punakawan). Apakah
kita pernah menemukan sosok punakawan dalam cerita Mahabharata di India ?
tentunya belum pernah. Lautan yang luas cerminan dunia yang keras,
terombang-ambing oleh derasnya badai dan ombak. Namun kejamnya alam tadi,
dicairkan oleh luwesnya punawakan, sosok yang kuat nan penggembira, penghibur
para raja dikala gundah gulana.
***
Menarik, ketika pergelaran ART|JOG
kali ini mengangkat tema mengenai maritim. Karya-karya yang ditampilkan memang
menawan. Lekat dengan suasana maritim, ya ini Indonesia, ini Maritim ! Budaya
maritim bukanlah sekedar gambaran mengenai hamparan lautan luas, lalu dihiasi
oleh kapal-kapal yang berlayar. Atau mungkin para nelayan yang terombang-ambing
karena besarnya ombak. Saat mengunjungi ART|JOG, kita akan sadar dan
tercengang, bahwa maritim lebih dari itu semua. Transaksional (ekonomi), ikan,
budak, buku harian, rempah-rempah, strata sosial, konflik, imigran dan masih
banyak lagi.
Siapa
yang tidak tahu bahwa negara kita adalah negara maritim. Ketimbang disebut
negara agraris, Indonesia lebih layak disebut sebagai negara maritim alias
bahari. Mengingat luas lautnya lebih besar ketimbang daratan. Mengamini apa
yang disampaikan Anthony Reid, salah satu sejarawan terkemuka mengenai Asia
Tenggara, beliau menyatakan bahwa Indonesia merupakan tempat penting dalam
perdagangan Asia Tenggara. Sebelum abad ke 19, jaringan perdagangan (pelayaran)
sangatlah ramai. Namun setelah abad 19, sistem tersebut dihancurkan. Reid juga
menjelaskan, di abad 18 Indonesia dilanda krisis ekonomi. Penyebabnya adalah
hancurnya kekuasaan lokal serta jayanya kongsi dagang terkenal di dunia kala
itu, VOC. Ada cerita, bahwa Sultan Agung menjadi salah satu faktor krisis
tersebut.
***
Sesungguhnya,
kita patut bertanya-tanya, apakah benar “Di Laut Kita Jaya?” Kalau kita
menengok masa lalu, jawabannya mungkin “iya”. Siapa yang tidak mengenal
digdayanya Majapahit serta Sriwijaya. Atau mungkin, kita juga bisa
mempertanyakan, kenapa sampai ada relief kapal di Candi Borobudur, mengingat
secara geografis, wilayah Borobudur berada di daerah agraris.
Dulu, negeri ini memang mendominasi
jalur-jalur perdagangan di Asia Tenggara. Bayangkan, saking ramainya, Malaka
membutuhkan empat orang syahbandar untuk mengurusi pelabuhan tersebut. Di
pelabuhan Banda Aceh juga mengalami nasib yang sama, terutama pada rezim Sultan
Iskandar Muda. Agaknya romantisme historis seperti itu perlu dihilangkan
sejenak, sudah saatnya kita merefleksikan kisah historis negeri ini,
menjadikannya sebagai pengalaman dan tumpuan untuk melihat ke depan. Jangan
sampai kita dikebiri lagi, bercerminlah pada pengalaman yang dulu-dulu. Ingat,
di abad 17, rakyat di Maluku dibebani pajak yang amat berat. Siapa yang
menikmati keuntungan tersebut ? Tentunya para pedagang asing, raja-raja lokal
serta para pegawai pelabuhan. Mereka menikmati hasil pungutan pajak tadi.
Degradasi ekonomi benar-benar dialami Maluku ketika VOC memutus tali
perdagangan dengan pedagang asing. Hak monopoli rempah-rempah semakin membabi
buta. Habis sudah Maluku di sekitar abad ke-18 dan 19.
Maritim
bukanlah petualangan sekelompok pelaut untuk menemukan pulau Greenland seperti
yang digambarkan komik One Piece. Namun maritim adalah ranah ekonomi ( urusan
perut, urusan duit ), politik, sosial dan juga budaya. Negeri ini sudah cukup
dibohongi atau dikhianiati, baik oleh oknum asing ataupun penguasa lokal. Mari
kita kembalikan lagi semboyan “Di Laut Kita Jaya !”
[1]
Bisa dilihat
dalam Adrian B. Lapian, Pelayaran dan
Perniagaan Nusantara Abad Ke-16 dan 17 (Jakarta: Komunitas Bambu, 2008).
Kamis, 26 September 2013
“Karena aku merokok !”
Malam itu, oh maaf mungkin dini
hari, iya dini hari. Ada cerita tentang laki-laki dan perempuan yang sedang
mengobrol. Mereka saling bertemu di malam minggu, tanpa janjian terlebih
dahulu. Mereka bukan sepasang kekasih, nampaknya itu perlu ditekankan. Ingat,
bukan sepasang kekasih.
Ceritanya, si perempuan tiba-tiba
ingin menonton wayang. Si lelaki akhirnya menjemput si perempuan dikostnya. Tapi
karena lika-liku pikiran lelaki yang sedang ruwet, akhirnya mereka malah mampir
untuk meminum kopi sebentar. Pada akhirnya mereka berhasil menyaksikan
pagelaran wayang dan saling berpamitan sebelum adzan subuh berkumandang.
Nah, ketika sedang meminum
kopi, terciptalah sebuah percakapan diantara mereka. Ada beberapa pohon
beringin disekitar mereka, mungkin usianya sudah ratusan tahun. Mungkin juga
pohon beringin tadi ikut nimbrung dan menguping apa sih yang sedang mereka
bicarakan.
Lalu, si lelaki ingin merokok,
namun koreknya habis. Si perempuan tiba-tiba mengeluarkan sebuah korek.
Laki-laki tadi heran, “Kok kamu bisa bawa korek ?” Gadis tersebut sempat
tertawa, lalu menyahut dengan girang “Karena aku merokok !” Sebungkus rokok
Sampoerna Mild Flava ia keluarkan dari tasnya lalu diletakkan diatas meja.
Gadis tadi sempat menyalakan
rokoknya disela-sela perbincangan. Dia mengaku, bahwa dirinya bukanlah seorang
perokok. Namun si lelaki menyadari, perempuan yang sedang bersamanya tersebut, sudah
cukup lihai untuk merokok. Banyak hal yang mereka obrolkan, mulai dari watak
orang Jogja, kuliah, unit kegiatan mahasiswa, si Kribo, dan lain-lain. Hingga
akhirnya mereka memutuskan untuk menyudahi pembicaraan. Sekian ..
Jumat, 20 September 2013
Perang, Kebencian dan Dendam di Kota Abadi
“Who will fight
with me? Who will fight with me? Will you fight for me? Will you fight for me?”
(Ancient Rome The Rise and Fall of an Empire : Caesar | BBC )
Siapakah
yang akan menjadi bangkai di hari Minggu besok ? pertanyaan tersebut agaknya
tepat untuk dilayangkan kepada tifosi Lazio dan AS Roma. Sejarah akan mencatat
rekor baru, dimana Serie A 2013/14 akan mempertontonkan lima derbi (derbi satu
kota) dalam satu musim. Derby Della Capitale patut berbangga, karena mereka
menjadi bagian dari kelima derbi yang lain. Sisanya, Derby Della Mole (Juventus
vs Torino), Derby Della Madonina/Derby Milano (AC Milan vs Inter Milan), Derby
Della Lanterna (Sampdoria vs Genoa) dan Derby Verona (Chievo vs Verona).
Beberapa
media ada yang mengatakan kalau Derby Della Capitale merupakan derby paling
panas dibanding derby-derby lain di Italia. The Rome Derby lebih ganas dan
sarat emosi dibanding Derby Della Madoninna atau Derby Della Mole bahkan Derby
Italia. Harga diri menjadi taruhannya, serta siapa yang layak mengibarkan
bendera diseantero kota Roma.
Faktanya,
persaingan sengit kedua klub tersebut dimulai sejak tahun 1927. Perlu diingat, Giallorossi
adalah gabungan dari tiga klub di Roma pada saat itu. Yaitu Pro Roma (1911), FBC
Roma (1899) dan Alba Audace (1907). Secara resmi, AS Roma baru terbentuk pada
tahun 1927. Penggabungan alias merger tiga klub kota Roma tersebut digagas oleh
diktator Italia kala itu, yaitu Benito Musollini. Dimana Musollini merasa
jengah atas dominasi klub Italia Utara di jagad sepakbola Italia. Uniknya,
Lazio merupakan satu-satunya klub kota Roma yang menolak merger tersebut, Lazio
sendiri lahir pada tahun 1900.
Sejauh
ini, Lazio menganggap bahwa merekalah klub pertama di kota Roma, mengingat AS
Roma baru muncul 27 tahun kemudian. Merekalah yang pantas mendapatkan gelar
kaisar Roma. Nah, AS Roma pun menghujat Aquile. Bagi mereka, pendukung adalah
orang luar/outsider di kota Roma. Lazio adalah sekumpulan petani dari pedesaan.
Selain itu, warna biru langit serta lambang burung elang sama sekali tidak
menunjukkan ciri khas dari sebuah kota Roma. Warna biru langit milik Lazio
justru menunjukkan tipikal dari bendera Yunani. Sedangkan elang adalah hewan
sakral milik Dewa Jupiter.
Apabila mengacu dari mitologi Romulus dan Remus,
serigala menjadi peranan penting dalam sejarah kota Roma. Warna merah mewakili
Vatikan, sedang warna kuning mengadopsi warna kebanggaan kekaisaran Romawi. Selain
itu, serigala juga kerap dihubungkan dengan Mars (dewa perang), ayah dari dua
bayi kembar yang lahir dari rahim Rhea Silvia.
Akan
tetapi, seekor elang juga merupakan simbol penting disaat kekaisaran Romawi
mengalami masa kejayaan. Entahlah, elang ataupun serigala. Pastinya, di setiap
tahun mereka selalu bertemu, siapa yang tercabik, lalu dikencingi.
Disisi
lain, Lazio juga berpendapat bahwa para fans AS Roma adalah para turis
(pendatang dan keturunan imigran) dari daerah selatan nan jauh. Sekedar
tambahan, para pendukung Lazio kebanyakan berasal dari utara kota Roma yang
kaya serta berhaluan politik sayap kanan. Sedang tifosi AS Roma didominasi oleh
masyarakat kelas menengah (kaum proletar) berpaham politik sayap kiri.
Mayoritas berasal dari selatan kota Roma. Tempat mereka di stadion Olimpico pun
berbeda, Lazio menghuni Curva Nord, sedang AS Roma di Curva Sud.
Berbagai
kerusuhan, penghinaan, hujatan serta banner rasis kerap kali muncul di saat
berlangsung Derby Della Capitale. Salah satu pemain favorit Lazio, yaitu Paolo
Di Canio adalah pemain yang kerap memberikan salam fasis dihadapan
pendukungnya. Di tahun 2001, sempat terbentang sebuah banner bernada fasis dan
rasis yang ditujukan untuk AS Roma. Banner tersebut menghujat AS Roma, mereka
lahir dari ras kulit hitam serta sekelompok masyarakat Yahudi. Rentangan banner
tersebut merupakan respon dari Laziale yang sebelumnya sempat dihina oleh suporter
AS Roma. Romanisti pernah memajang sebuah banner yang menyatakan bahwa Lazio
adalah kambing dan pendukungnya merupakan sekumpulan para penggembala. Sejauh
ini pendukung Lazio memang identik dengan simbol-simbol bernada fasis, mereka juga
sering memajang lambang swastika. Di musim 98-99, Laziale pernah membuat banner
dengan panjang sekitar 50 m yang berbunyi "Auschwitz is your town, the
ovens are your houses”
Permusuhan
dua klub yang sarat emosi tersebut pun sampai memakan korban, dimana suporter
Lazio tewas pada saat derby berlangsung. Di tahun 1979, salah seorang fans
Lazio, Vicenzo Paparelli tewas setelah matanya terkena serangan roket jarak
jauh. Kematian tersebut menjadi noda hitam persepakbolaan Italia, seorang
suporter tewas di stadion. Selanjutnya, pada tahun 2004, pertandingan AS Roma
vs Lazio sempat dihentikan oleh suporter AS Roma. Dimana tiga orang dedengkot
ultras AS Roma turun ke lapangan dan meminta Fransesco Totti untuk menghentikan
pertandingan. Pertandingan tersebut diselimuti rumor adanya kematian seorang
anak kecil di luar Olimpico, karena tertabrak mobil polisi. Derby kota Roma akhirnya
dihentikan, setelah wasit Roberto Rosetti menelpon Adriano Galliani selaku
presiden FIGC. Ada indikasi yang sebenarnya terjadi diluar lapangan adalah
keributan suporter AS Roma dengan para polisi. Kerusuhan tersebut mengakibatkan
170 orang terluka dan 13 orang ditahan akibat peristiwa memalukan tadi. Di tahun
2009, pertandingan sempat dihentikan selama 13 menit karena luncuran kembang
api ke dalam lapangan yang menyebabkan mata pedih.
Sejauh
ini Derby Capitolino sudah berlangsung 172 kali. AS Roma berhasil meraih
kemenangan sebanyak 63 kali dibanding Lazio yang baru mengoleksi 48 kemenangan.
Sisanya kedua klub tersebut berbagi 61 kali hasil imbang. Derby Roma pertama
kali berlangsung pada 8 Desember 1929 di stadion Campo Rondinella. 1-0 untuk AS
Roma, gol tersebut dicetak oleh Rodolfo Folk. Kemenangan Lazio yang pertama
terjadi pada tanggal 23 Oktober 1932, 2-1 untuk mereka. Gol dari Lazio dicetak
oleh DemarÃa dan Castelli. Kemenangan terbaik untuk AS Roma terjadi pada musim
1933-1934, mereka menang 5-0 atas Lazio. Kelima gol tadi dicetak oleh Tomasi (3
gol) dan Bernardini (2 gol). Sedang hasil terbaik bagi Lazio terjadi pada tahun
2006-2007, mereka berhasil membungkam AS
Roma dengan skor 3-0. Ketiga gol tadi dicetak oleh Ledesma, Oddo dan Mutarelli.
Di musim 1997-98 ada peristiwa unik bagi Lazio. Mereka meraih empat kali
kemenangan Derby Roma dalam satu musim. Mereka menang 3-1 dan 2-0 di kompetisi
Serie A. Serta dua kemenangan lagi di perempat final Coppa Italia dengan skor
4-1 dan 2-1.
Il Capitano Fransesco Totti merupakan pemain dengan penampilan terbanyak dalam
Derby Roma, total 31 pertandingan ia jalani. Di Lazio ada Aldo Pulcinelli dan
Giuseppe Wilson, masing-masing menjalani 19 kali Derby. Legenda AS Roma, Dino
Da Costa meduduki puncak pertama sebagai top scorer di Derby Della Capitale.
Sebelas gol berhasil ia lesakkan ke gawang Lazio. Pelatih Fiorentina saat ini,
Vicenzo Montella menjadi satu-satunya pemain yang mencetak gol terbanyak dalam
satu pertandingan. Montella membobol 4 gol ke gawang Lazio pd 11 Mar 2001. Montella mengakui, dirinya begitu gembira saat pertandingan tersebut. Sampai sekarang,Montella masih mencintai AS Roma. Scudetto di tahun 2001 adalah momen terindahselama hidupnya.
Mungkin
agak dibuat-dibuat, tapi fakta membenarkan bahwa haram hukumnya, AS Roma
memakai jasa (membeli) pemain yang pernah berbaju Lazio ataupun sebaliknya.
Ketika Pazzini pindah ke Milan, atau Ogbona bermain untuk Juventus, hal
tersebut tidak menjadi problem bagi mereka. Beberapa pemain yang pernahberseragam Lazio dan AS Roma antara lain, Sinisa Mihajlovic, Roberto Muzzi,Diego Fuser, Luigi Di Baggio, Lionello Manfredonia dll. Entah patut
berbangga atau tidak, fakta unik lainnya adalah, Arne Selmosson merupakan pemain
yang pernah mencetak gol baik saat membela Lazio atau AS Roma.
"Much
more than just a game", itulah kata yang tepat untuk menyebut Derby Della
Capitale. Tomasso Rochi juga berujar, bagi mereka Roma adalah Lazio, biarpun
warna kota Roma dipakai oleh Il Lupi. Bagi fans Lazio ataupun AS Roma, menang dalam
Derby Della Capitale itu lebih indah dan bergengsi daripada meraih Scudetto. Fransesco
Totti dan legenda AS Roma, Giacomo Losi juga mengamini pendapat tersebut.
Mereka bukan sekadar pemain, tetapi suporter bagi AS Roma. Roman adalah simbol
bagi kedua klub. Bagi para Laziale, Paolo Di Canio adalah icon dan menginspirasi
mereka, Di Canio adalah Lazio. Kebencian yang mengitari laga tersebut bisa kita
nikmati dalam dokumenter yang dibuat oleh Football Rivalries. Kalau
boleh bermimpi, entah tahun berapa, saya ingin melihat Montella melatih Roma lagi
dan Di Canio menukangi Lazio. Lalu mereka berdua bertemu dalam Derby Della
Capitale, Montella yang kalem melawan Di Canio yang agresif. It's very
beautiful. Forza Roma !
Kita
tahu, benteng terbesar di Italia adalah seorang nyonya yang mampu mengoleksi
emas begitu banyak. Tahun kemarin nyonya tersebut berhasil mendulang emas
kembali. Musim yang panjang nan terjal harus dilewati seekor serigala. Serigala
pincang, iya serigala ompong. Secara tragis, mereka gagal menambang sebongkah
perak. Serigala tadi terlihat sangat kelelahan, matanya nanar, menonton seekor
elang terbang dengan gemilang dihiasi cincin perak dijarinya. Serigala pincang
tadi dianggap wafat. Sebuah pemakaman diadakan untuk menghormatinya.
Ironis, ribuan tangis palsu mengiringi jasadnya. Serigala mungkin hanya mati
suri. Mereka mencoba untuk bangkit, mencakar dan mencabik-cabik seekor elang.
Mencoba menancapkan kembali bendera kuning dan merah diatas kota abadi.
“Are
you ready for a war ?” (William Wallace | Braveheart)
Rabu, 18 September 2013
Cerita, Kota dan Senja
Ada cerita dalam senja di
sebuah kota tertua di Jogjakarta
Di balik kempul dan gong itu,
aku berusaha mencuri pandanganmu
Tanpa harapan, bahwa kamu akan
membalasnya
Bisa saja, karena dirimu, aku
lupa satu ketukan nada
Satu tabuhan salah, rusak sudah
semua perpaduan irama
Asap rokok mengepul, tanpa
mempedulikan kiri dan kanan
Sangat disayangkan, tiada lagi
pertemuan tabuhanmu dan tabuhanku
Pedih, seperti asap rokok yang
menyelip di mataku
Kamu tahu, aku rindu rutinitas
di hari itu
Dan disela ramahnya kota tersebut, aku mengingat senyumanmu
2013
Senin, 16 September 2013
Imagining Argentina
Ketika sebuah negara telah
berada “dibawah acungan senjata”, saya kira warga yang berdiam disana akan
berontak. Entah dalam batin, atau dimunculkan dalam bentuk tindakan. Ada
beberapa film mengenai pergulatan antara masyarakat dengan negara yang pernah
saya tonton. Antara lain, Diaz Don’t Clean Up The Blood (Italia : 2012).
Beberapa hari yang lalu, saya menonton sebuah film Argentina. Film tersebut
berjudul Imagining Argentina. Salah satu teman saya, yaitu mbak Heni,
merekomendasikan film tadi. Mbak Heni berujar, film tersebut menarik karena
menceritakan “petrus-petrus” Argentina pada tahun 1979-1983. Ketika rezim
militer menguasai negeri para pesepakbola kondang. Mungkin saja Maradona
menjadi saksi ketika Argentina berada “dibawah acungan senjata”.
Imagining Argentina, film yang
dibuat oleh Christopher Hampton pada tahun 2004 ini, merupakan adaptasi atas
novel karya Lawrence Thornton dengan judul yang sama. Sebuah novel yang latar
belakangnya berbasiskan sejarah. Di saat Argentina berada dalam posisi yang
pelik, negeri tersebut terlibat “Dirty War” antara tahun 1979-1983. Kita juga
tahu, pada tahun-tahun tersebut Argentina sempat beradu meriam dengan Inggris.
Pulau Malvinas atau Falkland yang menjadi taruhannya.
Carlos Rueda (Antonio Banderas)
dan Cecilia Rueda (Emma Thompson) hidup di Argentina disaat pemerintahannya
dikuasai oleh militer. Mereka mempunyai satu putri, yaitu Teresa Rueda (Leticia
Dolera). Carlos sekeluarga terpaksa harus melawan pemerintah, ketika Cecilia
mengirimkan sebuah artikel yang mengkritik pemerintah Argentina atas kasus “hilangnya”
beberapa siswa sekolah yang memprotes kenaikan tarif bus. Akhirnya Cecilia
ditangkap oleh sekelompok oknum yang dikendalikan oleh pemerintah.
Berbagai macam usaha dilakukan
oleh Carlos untuk menemukan istrinya. Entah darimana datangnya, tiba-tiba
Carlos mempunyai kekuatan ajaib alias indera keenam. Carlos bisa mengetahui
nasib para korban yang terindikasi telah “hilang”, apabila ia berdekatan dengan
siapapun yang berkaitan atas korban-korban yang “dihilangkan”. Tidak ada
penjelasan kenapa atau dari siapa Carlos memperoleh kekuatan misterius
tersebut. Carlos yang berprofesi sebagai pengajar teater tersebut, akhirnya
mengadakan sebuah forum tiap hari Selasa. Forum tadi berisi rekan atau keluarga
para korban “hilang”. Carlos memberikan sebuah penawaran atau mungkin bisa
disebut solusi, yaitu pembacaan nasib korban-korban yang “hilang”. Menurut
saya, forum tersebut bukanlah solusi yang tepat. Carlos tidak menawarkan sebuah
solusi, ia hanya membuat problem dan menciptakan kesedihan.
Saya sendiri memberikan nilai
tujuh atas film Imagining Argentina. Ada beberapa tokoh atau adegan yang
menurut saya tidak terlalu menarik. Antara lain, pertemuan Carlos dengan
sepasang suami istri yang sempat menghuni kamp Auschwitz. Carlos yang linglung
berusaha mencari pencerahan di sekitar pedalaman Argentina. Sepasang suami
istri Yahudi tersebut nampaknya menjadi pemanis atas simbol “imajinasi” dan
“perjuangan” dalam film Imagining Argentina.
Selain itu, sang sutradara doyan sekali
mengumbar adegan eksploitasi terhadap perempuan. Penamparan, pukulan serta
pemerkosaan kerap muncul. Bukannya kelompok subversif di Argentina tidak melulu
perempuan. Namun kenapa, korban yang dianiaya oleh pemerintah militer hanyalah
perempuan. Ada satu adegan yang mungkin mewakili kaum laki-laki. Yaitu, disaat
teman kerja Carlos, Silvio Ayala (Ruben Blades) dipenjara lalu diinterogasi dan
akhirnya dihukum dengan cara dijatuhkan dari helikopter. Silvio lebih memilih
bungkam dan memproklamirkan dirinya sebagai seorang Argentina sejati ~> “I’m
Silvio Ayala, I’m Argentinian !”
Apabila kita berekspektasi
bahwa Imagining Argentina akan memunculkan suasana panasnya rezim diktator nan
militeristik, sayang sekali, kita tidak akan menemukannya. Imagining Argentina
menawarkan kepada kita, untuk tidak mengulangi kembali masa lalu yang suram. “Never
to look back. But it is our sacred duty to look back.”
Imagining
Argentina, menyuguhkan data-data sejarah untuk mengawali dan mengakhiri adegan.
Caption yang disuguhkan untuk mengawali film adalah tampilan foto atau video
pada masa berlangsungnya tragedi berdarah di Argentina. Wajah bengis barisan
militer, sekelompok ibu-ibu berdemo dll. Sedangkan di penghujung film, si
sutradara berusaha menunjukkan kegilaan rezim militer Argentina selama
1979-1983. Ada sekitar 30.000 ribu korban “hilang”, baik laki-laki, perempuan
ataupun anak-anak. Data tersebut berdasarkan Amnesti Internasional. Selain itu
ditunjukkan pula puluhan ribu korban yang “hilang” diberbagai macam negara. Seperti,
Bosnia Herzegovina, Irak, Kongo, Rusia, India, Kuba, Chili, Kolombia, Mexico,
Peru, Srilanka, Libya dan tentunya tanah air beta, Indonesia.
Somewhere
in the world today, someone is “disappearing!” (Imagining Argentina)
Kamis, 29 Agustus 2013
La Magica Roma
Beberapa
bulan yang lalu, saya membaca twit seorang romanisti. Laki-laki tadi menulis
lima momen besar selama dia menjadi seorang romanista. Saya lalu membalas twit
lelaki tadi, saya menulis “seeing Montella flying !” Ya, melihat seorang bomber
mencetak gol lalu melakukan selebrasi ala pesawat terbang sungguh menjadi
pemandangan yang indah bagi saya. Saya punya teman, namanya Ijah. Dia pernah
berujar, waktu kecil dirinya suka dengan Montella. Kenapa ? Ijah mengaku senang
melihat gaya Montella ketika mencetak gol, ditambah paras ganteng Montella yang
mempesona kaum hawa.
Akhirnya bulan bola sudah hadir
kawan-kawan. Selama setahun kedepan kita akan disuguhi begitu banyak
pertandingan bola luar negeri. RCTI beralih haluan menyiarkan Liga Spanyol,
mengingat Liga Champion sudah dibajak SCTV. MNC Group terpaksa harus kehilangan
jatah siaran liga paling terkenal di seantero dunia, liga Inggris menjadi hak SCTV. Setelah sekian tahun menghilang,
masyarakat Indonesia kembali disuguhi liga Jerman. Kompas TV memegang hak
siarnya. Masih seperti tahun kemarin, “beauty of Calcio” tetap berada di tangan
TVRI.
Pastinya setiap akhir pekan,
olahraga yang penggemarnya masih didominasi kaum pria tadi menjadi santapan
malam nan mengasyikkan. Twit war antar fans tentunya akan hadir disela-sela
timeline kita. Lalu setiap hari Senin atau mungkin Selasa, diskusi soal
perempuan akan berganti topik. Obrolan tentang bola menjadi kawan bagi teh
ataupun kopi di kantin kampus. Ya, perayaan dan hiburan bagi suporter layar
kaca akhirnya kembali dimulai. Selamat !
****
One
drama ends, but another drama begins. Sayang, saya bukan seorang WS Rendra yang
pintar bermain kata-kata dan mencipta naskah drama. Tapi drama AS Roma kembali
lagi menyelimuti hari-hari saya. Drama yang mampu membuat mood saya tiba-tiba
berubah. Minggu kemarin, idola saya kembali membobol gawang, setelah 25
pertandingan tanpa satu gol pun di medan Serie A. Grande De Rossi ! Mungkin
terlalu awal, ketika saya harus bilang bahwa AS Roma mampu bersaing dalam
perebutan Scudetto. Saya sendiri masih yakin, kalau tahun ini masih menjadi
jatah si Nyonya Tua. Hanya saja setitik harapan nampaknya muncul, disaat minggu
kemarin AS Roma meraih kemenangan tandang.
Maklum,
raihan tiga poin atas Livorno merupakan kemenangan pertama di pertandingan awal
musim selama lima tahun terakhir. Grande Rudi Garcia ! Tidak dapat disangkal,
Roma dalam posisi yang amat terpuruk semenjak ditinggal Luciano Spaletti.
Berbagai macam pelatih dengan gaya strategi yang berbeda-beda didatangkan. Mulai
dari Ranieri, lalu Luis Enrique hingga Zdenek Zemanlandia. Sebelum Spaletti,
Roma juga dirundung frustrasi soal pelatih. Luigi Del Neri terpaksa harus
mundur di musim 2004/05, posisi klasemen yang buruk menjadi alasan suporter
Roma mengkudeta Del Neri. Selanjutnya, pos pelatih Roma diisi oleh mantan
bintang, bahkan legenda Roma, Rudi Voller dan Bruno Conti. Pada tahun-tahun
selanjutnya, terutama pasca Spaletti, beberapa mantan pemain Roma juga mengisi
kursi pelatih AS Roma. Ada Claudio Ranieri serta Vicenzo Montella. Roma
terjerat utang berkepanjangan, rezim Sensi diganti oleh rezim Amerika. Mungkin,
AS Roma terpikat dengan gaya tiki-takanya Barcelona. Luis Enrique muncul,
hasilnya apa ? tetap buruk. Musim berikutnya, Zdenek Zeman datang kembali.
Pelatih yang doyan merokok tersebut tentunya menjanjikan gaya bermain “attack,
attack, attack !”. Lagi-lagi klub melakukan blunder. Roma tidak percaya dengan
takhayul ternyata, sejarah mencatat, bahwa mantan pelatih tidak pernah sukses,
ketika dia menjadi kembali melatih klub yang sebelumnya pernah dia tukangi.
Aurelio
Andreazolli dipercaya menggantikan Zeman. Aurelio datang semenjak rezim
Spaletti, dia memutuskan bertahan di Roma, ketika Spaletti menyatakan
mengundurkan diri dari kursi pelatih Roma. Bermusim-musim, Roma dirundung
badai, kondisi yang sangat sulit untuk diperbaiki. Saya sendiri tidak tahu apa
tips yang tepat untuk klub favorit saya tadi. Puncaknya, Roma harus tertunduk
lesu di Olimpico. Serigala tidak mampu menggigit seekor elang. 1-0 untuk Lazio.
Olimpia diizinkan untuk terbang mengitari Olmpico. Maaf, Montella tidak lagi
terbang di Olimpico.
Gosip
mengenai siapa yang patut mengisi pos pelatih AS Roma terus mengeruak,
berbulan-bulan lamanya. Allegri dikabarkan mendekat ke Trigoria, tapi Adriano
Galliani buru-buru mengajaknya makan malam. Perpanjangan kontrak di Milan,
deal. Muncul nama lain, yaitu Laurent Blanc. Konon kalau Blanc menjadi pelatih
Roma, asistennya adalah Vincent Candela. Tapi nyatanya, Blanc malah melatih
PSG, menggantikan Ancelotti. Nama terakhir tadi sempat diisukan menjadi pelatih
Roma saat klub memutuskan untuk memecat Zdenek Zeman. Isu bahwa Ancelotti akan
kembali lagi ke Olimpico sebenarnya sudah lama menjadi konsumsi publik. Dia
sempat menyatakan keingginannya untuk melatih Roma. Namun, papa Carlito sendiri berujar,
bahwa gajinya yang sangat tinggi menjadi alasan utama klub untuk tidak
mengontraknya. Saya sendiri masih ingat ketika membaca tabloid Bola, Ancelotti
berkata bahwa klub yang ingin dia latih hanyalah Milan dan Roma. Sayang, pria
bertangan dingin tersebut akhirnya menyeberang ke London. Sayapun sejauh ini
terus berharap, bahwa Ancelotti akan melatih AS Roma, entah kapan. Comeback to Rome
papa Carlo !
Drama tentang
pelatih Roma memang sudah selesai. Namun, berbagai macam drama masih saja
muncul. Lumrah ketika sebuah klub harus merelakan pemain mereka pergi, lalu
membeli pemain baru. Memang beberapa tahun terakhir, sepakbola dunia semakin
rusak. Teman saya pernah bercerita, dulu sangat
jarang sekali pemain yang baru merumput selama satu atau dua musim,
tiba-tiba dijual di musim selanjutnya. Sekarang ? jangan salah, duit sudah
menjadi dewa. Sepakbola adalah bisnis bung ! Agaknya, saga transfer adalah
tangga dramatik sebelum kita menikmati satu kemenangan atau nir kemenangan
selama semusim ke depan.
AS
Roma terpaksa harus menjual salah satu bek muda (saya sempat menyebut dia, The
Next Aldair ) menjanjikan ke klub “Arab”, eh maaf, klub Prancis maksudnya.
Lalu, Il Lupi berhasil mendatangkan bintang baru Eropa, Kevin Strootman. Pemuda
Belanda tersebut sangat bersinar dikancah Piala Eropa U-21 kemarin.
Selanjutnya, Mehdi Benatia, seorang muslim yang mungkin akan menemai sholat
Miralem Pjanic, mungkin lho bung. Berdasar statistik, permainan Benatia selama
di Serie A lumayan diperhitungkan. Determinasinya sangat tinggi, ahli tackling.
Roma juga mendaratkan kembali Maicon di tanah Italia, sejarah berkata klub
ibukota tersebut sangat hobi memakai jasa pemain asal Brasil. Setelah ditinggal
Stekelenburg, praktis posisi kiper menjadi sangat rawan. Siapa yang muncul ?
Morgan De Sanctic akan merayakan reuni Italia U-21 bersama Fransesco Totti di
Trigoria. Satu bek belia juga hadir, namanya Tin Jedvaj. Entahlah, tapi di
Football Manager dia jago. Semoga di dunia nyata juga begitu. Hahaha
Ketika
beberapa pemain datang, otomatis ada pemain yang harus ditendang. Akhirnya,
pemain yang dianggap duri dalam daging oleh suporter AS Roma dijual juga. Pablo
Osvaldo, striker penggembara berdarah Argentina menjadi barang dagangan ke klub
Inggris, Southampton. Seperti yang diucapkan pengamat sepakbola, James
Horncastle, akhirnya si bajak laut Argentina menemukan kembali pelabuhannya dinegeri James Cook. Musim memang sudah dimulai, namun bursa transfer belum ditutup.
Satu drama muncul kembali, kita tahu bahwa Erik Lamela pernah menandatangani
kontrak baru bersama AS Roma. Namun apa yang terjadi ? ada kabar bahwa dia akan
di jual ke Tottenham, wtf ! seakan-akan kita dibohongi, terutama saat ada
presentasi klub di Olimpico (Open Day). Saat itu Lamela turut serta dikenalkan
kepada publik. Polemik sih, bahwa Roma agak tambun disisi sayap. Reuni pemain
asli Pantai Gading, Gervinho dengan Rudi Garcia tentunya mengakibatkan posisi
sayap makin bertambah. Itupun masih ditambah dengan transfer Adem Ljajic dari
Florence ke Roma. Jadi, bagaimana dengan
Lamela ? harap-harap cemas bro. <~ ( kalimat tersebut saya tulis,
sebelum OFFICIAL transfer ERIK LAMELA. Saat berniat untuk posting tulisan ini,
saya membuka twitter terlebih dahulu. Wow, surprise ! )
****
Saat SMP, saya
punya teman, namanya Ari. Dia seorang Milanisti, kita kerap saling
ejek-mengejek waktu itu. Just for fun, hanya bercanda, tapi itu menyenangkan sekali.
Lalu, tiap sore, saya bersama teman-teman sekampung kerap bermain bola. Kita
bermain bola bersama para mahasiswa yang ngekost di daerah kami. Posisi saya
adalah bek, mereka menjuluki saya “banteng”. Akan tetapi, saya lebih senang
menyebut saya sebagai seorang “Mexes !”. Kalian pasti tahu, siapa itu Philipe
Mexes. Bek tengah dari Prancis, berambut gondrong, selalu dikuncir tiap kali
bermain. Tekel yang keras, beringasan, provokatif, saya senang dengan dia.
Mexes ! Sayang sekali ketika dia harus berlabuh ke Milan, tapi itulah
sepakbola.
Bagi
saya pribadi, Roma merupakan klub bola yang diselimuti oleh mitos. Mereka
sangat memuja-muja seorang Roman (baca orang Roma). Roman adalah simbol bagi
mereka, Roman adalah kapten, leader. Mulai dari Giacomo Losi, Fransesco Rocca,
Agostino Di Bartolomei, Bruno Conti, Giuseppe Gianinni, Fransesco Totti serta
De Rossi, atau mungkin Florenzi. Ya, untuk nama yang terakhir, saya berharap
tidak ada lagi Aquilani “kedua”.
Kita tahu
kalau suporter AS Roma lebih memuja Fransesco “Il Principe” Totti ketimbang
Daniele “Il Capitano Futuro” De Rossi. Tapi saya sendiri lebih menyukai Daniele
De Rossi. Lihatlah permainan dia dilapangan, tekel yang tepat, gelandang
bertahan perebut bola serta pengumpan yang lihai. De Rossi selalu bermain
dengan gaya yang berapi-api. Terbukti ketika dia berani beradu mulut dengan
kapten Lazio, Paolo De Canio. Padahal usia mereka jaraknya teramat jauh. Alasan
lain kenapa saya begitu suka dengan Daniele, sangat sepele, De Rossi lahir
dibulan yang sama dengan saya. Saya lahir di bulan Juli tanggal 26, sedangkan
De Rossi pada tanggal 24 Juli. Ajaib bukan ? hahaha. Masih ada keajaiban yang
lain bung, AS Roma diresmikan pada 22 Juli 1927. La Magica Roma !
Saya
tidak mengalami masa keemasan Roma di periode 80an. Scudetto tahun 2001 memang
sangat spesial, tapi saya masih kanak-kanak, emosi akan kemenangan scudetto tidak saya rasakan.
Beberapa tahun berikutnya, Roma ditinggal oleh Capello. Kondisi Roma saat itu
bisa dikatakan sangat terpuruk. Bahkan Totti sampai berkata, bahwa Fabio
Capello mengkhianati AS Roma. Tapi sudahlah bung, akan ada Roma yang baru
setelah itu. Terima kasih Capello atas pengabdiannya sebagai pemain dan
pelatih. Lain cerita, saya senang ketika ada duet Totti dan Vucinic. Bagi saya,
periode Spaletti merupakan era keemasan bagi AS Roma, biarpun agak ternodai di
semifinal Champion. 7-1 ? wtf ! Ya, drama, drama dan drama.
Okee, mungkin agak naif ya
tulisannya. Tapi begitulah. Forza Roma !
Jumat, 26 Juli 2013
Keajaiban Itu Ada
Sekitar tujuh tahun yang lalu,
saya pernah les disebuah bimbingan belajar, tempatnya disekitar jalan Cik Dik
Tiro. Tujuannya untuk persiapan menghadapi UAN serta bertarung untuk kuliah di
UGM. Kampus biru itu amatlah mentereng ketika kita masih jadi anak sekolahan.
Membuat kita silau terhadap puluhan kampus lainnya di wilayah Yogyakarta.
Sekitar lima tahun yang lalu,
dibangun sebuah toko 24 jam di ring road utara. Saat awal dibuka, toko tadi
sepi pengunjung, saya masih ingat, pegawai pertamanya adalah perempuan
keturunan Tionghoa. Selang beberapa bulan, ada pegawai yang magang, kelihatan
dari seragamnya, seperti baju ospek ketika kita menjadi mahasiswa baru. Saya
sempat terkesan ketika melihatnya, perasaan seperti pernah melihat perempuan
tersebut.Tapi kapan, dimana, siapa dia. Insting sejarah saya pun muncul.
Kembali ke jaman ketika saya
masih berseragam putih abu-abu. Sewaktu les, hiruk pikuk di tempat tersebut
amat beragam. Mulai dari tingkat SD sampai SMA. Ada satu anak perempuan yang
cukup menarik perhatian, dia masih SMP. Raut mukanya nampak seperi anak yang
pendiam. Lalu berdasarkan analisis seragam yang dia pakai setiap hari Jumat dan
Sabtu, dapat dipastikan, gadis tersebut sekolahnya di SMP yang lokasinya dekat
bunderan UGM. Gadis tadi selalu menunggu jemputan setiap pulang les. Kalau
tidak salah, ayahnya yang paling sering menjemput. Suatu ketika, saya pernah
bertanya kepada adik teman les saya yang kebetulan juga les di tempat yang
sama. Siapakah gerangan anak SMP tadi ?
Berlanjut ke petualangan di
masa kuliah. Perempuan yang bekerja menjadi karyawan di toko 24 jam, siapakah
dia ? ah, sampai sekarang saya pun tidak tahu. Namun, perempuan tadi nomaden
ternyata, ia kerap dirolling dari tempat satu ke tempat yang lain. Suatu malam,
saya pernah membeli rokok di toko yang letaknya di ringroad, gadis itu sudah
tidak disana. Ternyata dia pindah di toko yang ada di jakal atas. Terakhir,
saya berjumpa dengannya ketika dia keluar dari toko 24 jam yang berlokasi di
jakal bawah. Setelah itu, semua tinggal sejarah (kenangan) bung.
Di tahun 2011, saya masih di
aktif di Gelanggang UGM. Tiap Selasa, Kamis dan Sabtu sore saya selalu jogging
di GSP bersama kawan alias partner jogging saya yang paling setia, sebut saja
dia Apunk. Dari Gelanggang menuju GSP, kita selalu jalan kaki, itung-itung buat
pemanasan. Nah, suatu hari, saya melihat anak SMP yang pernah saya lihat
sewaktu masih SMA. Dia sedang berlatih hockey di selasar Gelanggang. Kerap
sekali saya bertemu dan melihatnya sedang bermain hockey. Saya yakin betul
gadis yang bermain hockey tadi adalah dia, gadis yang menurut pandangan saya
adalah pendiam.
Pasca pertemuan tadi, saya jadi
ingat misteri seorang perempuan yang bekerja di toko 24 jam. Perempuan tersebut
memang mirip sekali dengan anak SMP yang pertama kali saya lihat sekitar tujuh
tahun yang lalu. Apakah mereka ada hubungan darah ? apakah mereka kakak beradik
? entahlah.
Di tahun 2011, saya jarang
sekali ke kampus. Saya memang sempat
“menghilang” dari peredaran mulai tahun 2010 – 2011. Suatu hari saya pernah
berjalan dari basecamp anak sejarah menuju ke Bonbin. Tiba-tiba saya berpapasan
dengan anak SMP itu. Ternyata dia anak FIB. Terima kasih Tuhan, Kamu
mempertemukan kembali saya dengannya. Hahaha.
Hari menjadi minggu dan minggu
menjadi bulan. Berbulan-bulan saya sering melihat gadis kecil tadi di kampus,
di Gelanggang, di bonbin. Tapi siapakah nama kamu.
Intensitas saya dikampus
semakin berkurang, ketika aktivitas di luar begitu banyak. Sayapun sebenarnya
juga malas bermain ke kampus. Otomatis, waktu untuk melakukan pelacakan pun
semakin surut. Suatu saat saya mengetahui kalau gadis tersebut adalah teman
adik kelas saya. Sayapun kroscek ke salah satu adik seperguruan sejarah, kita
bisa menyebut nama mereka Ipul dan Rizki. Ternyata perempuan mungil tadi satu
organisasi dengan Ipul. Mereka gabung dalam salah satu BSO film di kampusku.
Satu kesempatan tiba untuk
mengajak gadis itu mengobrol. Suatu malam, anak-anak sejarah mengadakan
kumpul-kumpul antar angkatan di bonbin. Acara tadi berbarengan pula dengan
screening yang diselenggarakan oleh BSO film di kampus saya. Dua acara tadi
saya hadiri semuanya. Kenapa saya sangat berniat sekali bertemu dengan cewek
tadi. Alasannya cuman satu, saya hanya ingin bilang kalau pernah bertemu dengannya
tujuh tahun yang lalu. Itu saja. Sepele. Yah, kesempatan untuk mengobrol
dengannya memang ada. Biarpun gadis tadi merasa asing dengan saya, yang penting
saya dapat jawabannya. Biarpun jawabannya tidak sesuai dengan harapan yang saya
pikirkan sebelumnya.
Saya yakin bahwa keajaiban itu
memang ada. Bertemu kembali dengan gadis pendiam tadi merupakan keajaiban bagi
saya. Meminjam salah satu judul filmnya Vittorio De Sicca, “Miracolo a Sastra”.
Keajaiban itu ada, tinggal kita menunggunya saja. Entah kapan dan dimana.
Selamat malam, bulan Juli
memang indah bagi saya.
Kamis, 25 Juli 2013
KIPER
Saya teramat terkesan ketika
membaca tulisan milik Goenawan Mohamad yang berjudul “Penjaga Gawang”. Entah
kenapa tulisan beliau ( baca: Catatan Pinggir ) begitu menyihir, memukau.
Goresan tintanya teramat tajam, terkadang lucu dan menggelitik.
Kita tahu kalau mayoritas penduduk Indonesia, terutama
kaum lelaki, sangat hobi menonton siaran sepakbola. Iya, sepakbola. Oh maaf,
ternyata tidak hanya siaran sepakbola. Namun game sepakbola, apa itu Football
Manager, apa itu FIFA, apa itu PES.
Kaum lelaki begitu
menggilai dunia sepakbola. Perhatikan, apabila ada sekerumunan pria sedang
nongkrong, apa yang akan mereka bicarakan ? Perempuan ? Pastinya. Selain itu
kira-kira apa yang patut diobrolkan para lelaki ? Gadget, ah tidak semua lelaki
punya keahlian mengelola keuangan dengan cermat. Politik ? masih nikmat
ngomongin itu ? apa tidak muak dan eneg.
Nah, bagaimana
dengan sepakbola ? tiap akhir pekan, kita selalu disuguhi siaran sepakbola,
baik dalam ataupun luar. Liga Indonesia memang menjadi pilihan kedua masyarakat
kita. Itu pasti, mengingat pengelolaan sepakbola Indonesia begitu carut marut,
dinodai intrik-intrik badan terbesar sepakbola kita. Secara kualitas juga masih
jauh dari sepakbola luar negeri. Tapi ada anehnya bung, tim junior kita bisa
merajai kompetisi internasional tiap tahunnya. Pembinaan sepakbola kita
tampaknya ada yang salah.
Bagaimana dengan
sepakbola luar negeri ? Begitu banyaknya liga Eropa yang tersalur di stasiun
tv, membuat kita kelabakan bukan. Ini mana ini siaran bola yang bagus ! mulai
dari liga Italia, Jerman, Inggris, Spanyol, belum liga Champions Eropa hingga
pertandingan kualifikasi Piala Dunia ataupun Eropa. Banyak pilihan, tapi
masing-masing liga tadi sudah mempunyai basis penonton sendiri. Kalau
akhir-akhir ini sih, kita disuguhi laga eksebisi alias persahabatan dengan
klub-klub beken Eropa.
Diatas tadi saya
menyebutkan kata “penjaga gawang”, merujuk tulisannya Goenawan Mohamad. Bung
Goenawan menceritakan, besarnya tanggung jawab seorang kiper dalam waktu 45 x
2. Sosok tadi jarang disorot di media, apakah kita kerap menonton
cuplikan-cuplikan penyelamatan super seorang kiper ? sangat jarang. Paling
sering adalah cuplikan gol-gol indah atau gol yang maha dahsyat dari seorang
striker.
Itulah sosok kiper
menurut Goenawan Mohamad. Bayangkan, ketika ada counter attack, lalu one on
one, siapa yang membantu kiper ? Penjaga benteng terakhir adalah kiper. Bek
atau gelandang bertahan bisa saja langsung menyerah, angkat tangan, bahkan cuci
tangan. Ketika gol masuk, siapa yang paling disalahkan ? Kiper. “Wah, Valdes ki
pancen goblok !”, “Bajigur og Buffon, utek’e !”, “Pancen bosok og si Kurnia
Mega”, “Haa kok ra ditepis ki pie jew bung ?”, “Kiper’e ra kendel, ra wani
nubruk !”
Kiper.
Goenawan Mohamad juga menceritakan, seorang Albert Camus pernah menjadi kiper
sewaktu kecil. Kiper, penjaga benteng yang terkadang harus berjuang sendirian
serta bertarung matia-matian menghadapi terpaan serangan bertubi-tubi.
Jumat, 25 Januari 2013
Ong Hok Ham: Intelektual Eksentrik
(A Tribute To Onghokham)
Apakah orang dapat belajar dari sejarah? Jawaban saya selalu, “Sayang,
rupanya tidak”, sebab kalau kita dapat dari sejarah, maka kita semua akan lebih
bahagia dan sentosa.
![]() |
| ( Onghokham dan Jacob Vredenbregt ) www.flickr.com/photos/iisg/5579460186/ |
Ong Hok Ham, Onghokham, OHH, Sinyo Hans, Baba Ong, Onze Ong
(Surabaya, 1 Mei 1933 – Jakarta, 30 Agustus 2007)
“Hidup
untuk makan, bukan makan untuk hidup!”. Itulah prinsip dari Pak Ong yang terus
ia pegang sampai akhir hayatnya. Sejarawan satu ini cenderung berbeda dengan
kolega-kolega beliau di UI. Ia tidak seperti Nugroho Notosutanto, R.Z.
Leirissa, Koentjaraningrat, Soekmono yang selalu berpakaian rapi dan bersepatu.
Pak Ong lebih senang memakai sendal, lalu kemeja yang digulung sampai siku
serta kancingnya selalu dibuka dan tas kumal dari kain warna khaki. Pak Ong
memang unik. Bukan hanya sosok sejarawan handal, namun juga dosen, kolumnis, koki
serta pemabuk. Ia adalah penggila pesta yang "membujang" seumur hidup.
Beliau lahir di Surabaya, 1 Mei
1933. Dilahirkan sebagai “Cina Peranakan”. Setelah lulus dari ELS (Europese
Lagere School) sekitar tahun 1950an, ia melanjutkan studinya ke HBS (Hogere
Burger School). Di HBS ini ia mulai tertarik dengan sejarah. Pelajaran sejarah
Belanda dan Eropa ia dapatkan dari Boeder Rosarius, guru sejarah yang ia kagumi.
Ong Hok Ham gemar sekali melahap buku-buku sejarah, terutama mengenai Revolusi
Prancis (1789) serta berbagai peristiwa yang dramatis.
Dari Kampus Rawamangun
menuju Kampus Yale
Pada awalnya, tahun 1955 Ong Hok Ham
terpaksa melanjutkan studinya di Fakultas Hukum UI yang berada di Jln Salemba
no.4. Namun kata hatinya mengatakan bahwa ia ingin menekuni studi sejarah. Biarpun
hal tersebut sempat menjadi pembicaraan di kalangan keluarganya. Dengan bantuan
A.B Lapian, beliau minta dikenalkan dengan ketua jurusan sejarah UI, yang saat
itu dipegang oleh Prof. Dr. Soekanto. Akhirnya beliau pindah ke jurusan Sejarah
Fakultas Sastra UI, yang lokasinya di daerah Rawamangun. Jenjang sarjana muda
ia selesaikan dengan skripsi mengenai Gerakan Samin, sebuah gerakan perlawanan
petani di Pantai Utara Jawa Tengah (Rembang, Pati. Blora dll) pada tahun
1900-1920. Di tahun 1968, skripsi S1 berhasil ia selesaikan dengan judul Runtuhnya Hindia Belanda, dengan periode
antara 1930an-1940an. Yang diterbitkan menjadi buku pada tahun 1987. Pak Ong
mengakui bahwa skripsi miliknya ditulis dengan perspektif Nerlandosentris.
Sebenarnya saat Ong Hok Ham menempuh
perkuliahan di UI ia merasa tidak mendapat guru yang menarik seperti Boeder
Rosarius. Namun disaat menempuh doktor di Universitas Yale, perkuliahan Prof.
H.J. Benda sangat menarik dan provokatif. Dari sinilah gelar doktor ia dapatkan
pada tahun 1975 dengan disertasi yang berjudul The Residency of Madiun: Priyayi and Peasant in the 19th Century.
Sekembalinya dari Universitas Yale, ia lalu aktif mengajar kembali di UI. Pak Ong
telah memberi warna baru mengenai sejarah petani dan pedesaan. Ia bersama
Sartono Kartodirjo merupakan sejarawan Indonesia yang konsisten dalam kajian
sejarah pemberontakan petani. Tulisan dari pak Ong sendiri kebanyakan bertema
mengenai periode kolonial, salah satunya adalah mengenai rijsttafel, sebuah hidangan yang berisi nasi dan berbagai lauk
pauk, sayuran dan sambal. Oleh Pak Lapian, beliau disuruh menulis artikel sejarah
kuliner pada masa kolonial di Jurnal Sejarah yang bertema 4 Abad VOC. Ia sering
dijuluki intelektual publik, sebab ia kerap menulis di Tempo, Kompas dan
Prisma. Bahkan semasa kuliah ia juga aktif menulis di Starweekly pada kurun waktu antara 1958-1961. Tulisan pak Ong dari
segi bahasa tidaklah bagus. Namun tulisannya merupakan komparasi dan analogi
sejarah satu dengan yang lain, sebuah refleksi historis.
Sinyo Hansje atau Hans adalah
panggilan dia disaat masih muda. Keturunan keluarga Han dan Tan, keluarga kaya
dan terkenal di jawa Timur. Kakek dari pihak ibu adalah kapitan Cina di
Pasuruan. Sedang ayahnya, Klaas adalah kawula Belanda. Lies, yaitu ibu Ong
sempat menikah dua kali. Ia mempunyai dua saudara laki-laki, Yan dan Freedy.
Sedang kakak perempuannya bernama Olga. Keluarga Ong hidup dengan gaya
kebarat-baratan. Makan dengan makanan Eropa, berpakaian Barat serta berbahasa
Belanda. Periode 50an dan 60an adalah masa-masa sulit bagi Ong. Pada zaman itu
golongan asing begitu dibenci. Banyak warga Tionghoa atau Belanda mengungsi ke
daerah asalnya. Namun Ong tetap bertahan, akhir 1950 ia sering menulis mengenai
Cina peranakan dalam Star Weekly yang
dipimpin Auwjong Peng Koen atau P.K Ojong.
Bersama P.K Ojong dan Ong Tjong Hay
(Sindhunata), ia mendirikan LPKB (Lembaga Pembinaan Kesatuan Bangsa).
Perkembangan selanjutnya, LPKB pun berubah menjadi Bakom PKB (Badan Komunikasi
Penghayat Kesatuan Bangsa). Saat itu Ong menjadi aktivis golongan “asimilasi”,
golongan yang menghendaki peleburan etnis Cina menjadi warga Indonesia.
Golongan “asimilasi” sendiri mendapat perlawanan dari golongan “integrasi”.
Golongan yang menolak peleburan 100% etnis Cina menjadi warga Indonesia.
Tanggal 24 Maret 1960, Ong Hok Ham ikut menandatangani piagam “Menuju Asimilasi
yang Wajar”. Setelah pemberontakan G 30 S di tahun 1965, Ong sempat frustasi.
Saat kembali ke Pasuruan ia melihat banyak manusia yang dibunuh. Bahkan ada
deretan bambu runcing yang dipasangi penggalan kepala-kepala korban. Sontak ia
berteriak, “Hidup PKI !, hidup Aidit!”. Setelah itu ia ditahan dan dijebloskan
ke penjara beberapa bulan, sebelum dibebaskan atas bantuan Nugroho Notosutanto.
Ada banyak kejadian menarik dalam
kehidupan Ong Hok Ham. Seperti yang diutarakan oleh Benedict Anderson, saat
masih muda Ong Hok Ham sering bertengkar dengan Soe Hok Gie. Masalahnya tentu tentang
politik. Dimana Ong merupakan pendukung PNI, sedang Gie saat itu masih simpati
dengan PSI. Ong sering mengejek Gie dengan sebutan bordjuis, sebaliknya Gie
mengatakan bahwa Ong adalah seorang feodal. Ong juga sering mengeluarkan sebuah
anekdot. Diantaranya ia mengatakan bahwa Belanda itu membosankan, angkuh,
goblok dan picik. Lalu Tionghoa totok adalah orang yang rakus, lihai, kikir dan
tidak berkebudayaan. Sedang Tionghoa peranakan itu pemalas, gila judi, menor,
pintar menipu diri. Ong juga mempunyai julukan atau istilah tersendiri bagi
orang-orang Sumatera, yaitu “dull” khususnya orang-orang Padang dan Palembang.
Sedang Batak dan Aceh, bagi Ong masih ada pamor membuat dia takut. Sedang
anekdot untuk orang Sunda, Madura, Banten atau Osing tidak ada.
Sang Koki Sejarah Indonesia
Selain dikenal pandai mengolah sejarah, pak Ong juga seorang kolumnis yang gemar makan. Seorang gourmet (ahli mencicipi/menilai makanan) dan juga koki. Sebenarnya kepandaian dia memasak di dapat saat kuliah di Yale. Tidak salah apabila sekembali dari Yale, ia mendapat dua gelar yaitu sebagai doktor dan koki. Pak Ong merupakan pengajar yang unik. Ong lebih senang bepergian dengan bus. Menurutnya dengan naik bus, dia dapat mengetahui dan mengamati bagaimana kehidupan masyarakat di luar.
Pak Ong sangat senang menyantap tempe Malang, sambal gandaria, bandeng bakar, jangkang, nasi rawon dan telur asing yang masih masir (berserbuk). Pak Ong juga hobi minum kopi robusta yang ia beli di Stasiun Jatingera dan menghisap rokok Gudang Garam filter. Mengenai selera kuliner Chinese, beliau gemar mengudap babi panggang, babi hong, bakut tei, mie dan pangsit goreng, baso tahu dll. Di siang hari dia akan menjadi pria yang sederhana, namun di kala malam dia sudah siap berpesta bersama kolega-kolega asing dan berbincang-bincang dengan bahasa Belanda serta bahasa Inggris. Onze Ong memang bergaya kosmopolitan.
Selain itu Ong Hok Ham juga menggemari masakan Eropa. Contohnya seperti, pate, Hungarian salami, Scandinavian salmon smoked, berbagai jenis keju, roti baguette dan masih banyak lagi. Mengenai minuman favorit dari pak Ong jelas Scotch whisky. Pak Ong juga gemar meminum bir, serta wine. Mengenai Scotch whisky, pak Ong mengaku pertama kali mengenal minuman tersebut saat menjadi liasion officer di KAA Bandung tahun 1955. Di tiap malam ia seringkali mabuk. Parahnya lagi, pak Ong juga sering datang mengajar dalam kondisi setengah mabuk. Kebiasaan minumnya masih ia lakukan, biarpun dirinya terkena serangan stroke pada tahun 2001. Beliau terkena serangan stroke saat mau menghadiri perayaan 80 tahun Pak Sartono di Jogja, Februari 2001. Ia pun langsung dilarikan ke RS Panti Rapih, dan semenjak itu beliau harus memakai kursi roda. Anehnya disaat sedang sekarat, ia masih sempat-sempatnya memikirkan isi lemari es dan koleksi alkohol. Sungguh pribadi yang unik.
Oleh mahasiswa atau mahasiswinya, pak Ong dikenal sebagai dosen killer. Ia kerap meneror murid-muridnya dengan pertanyaan yang susah. Bahkan tidak segan-segan ia melempar penghapus papan tulis ke arah muridnya yang tidak bisa menjawab pertanyaannya serta ribut dikelas. Kata-kata goblok sering beliau lontarkan kepada para muridnya. Untuk mahasiswa atau mahasiswi yang malas membaca, sering dikatakan “bayi-bayi besar yang buta huruf”. Tradisi membaca memang beliau tanamkan kepada murid-muridnya di UI. Selain killer, pak Ong juga unik. Beliau seringkali membawa ikan segar yang habis dibeli dipasar ikan, bau amis pun mencemari ruang kelasnya. Ia tidak mengajar penuh di UI, umur 55 tahun beliau pensiun dari UI. Ia terpaksa berhenti disaat pangkatnya masih golongan III C. Ada yang mengatakan bahwa ia terpaksa pensiun karena nomor pegawainya tiba-tiba hilang.
Sosok satu ini paling senang
menghadiri pesta-pesta. Bukan karena soal makanan, tapi juga mencari gelas yang
isinya alkohol. Ong Hok Ham juga sering menggelar pesta dirumahnya yang
terletak di daerah Cipinang, terutama saat beliau ulang tahun. Makanan yang
disajikan ia masak sendiri. Dan bahan-bahannya juga ia beli sendiri. Ia akan
naik kendaraan umum untuk berangkat ke Pasar Senen membeli daging babi, lalu ke
Blok M membeli daging sapi dan mencari ikan bandeng segar di Pasar Pagi.
Dimalam hari begitu banyak kolega-koleganya yang hadir. Mulai dari kalangan
intelektual, artis, seniman, duta besar, politikus dll. Menurut Takashi
Shiraishi, pesta yang diadakan oleh Ong adalah pesta yang menghidangkan nice meal, nice drink, and nice talk.
![]() |
| ( Onghokham ) http://www.flickr.com/photos/iisg/5579460130/ |
Refklesi Sejarah Kritis
Onze Ong
Kesehatan Ong lama kelamaan makin
memburuk. Ia masih saja menegak wine, padahal penyakit stroke menyerangnya.
Makanan yang dikonsumsi juga kaya akan kolesterol. Hidangan kentang goreng dan
bistik kakap merah menjadi hidangan terakhir bagi Ong Hok Ham. Ia meninggal
pada tanggal 30 Agustus 2007, sekitar pukul 19.00. Beliau disemayamkan di Rumah
duka Dharmais Jakarta Barat dengan baju gaya China berwarna merah buatan Peter
Sie. Ong Hok Ham, seorang agnostik yang upacara pemakamannya dibalut dengan
ritual Budha, Katholik serta Konghucu. Dan dibibirnya terselip sebuah mutiara.
Banyak karya beliau yang telah
diterbitkan. Sebuah tulisan maestro sejarah Indonesia. Beberapa buah karya Ong
Hok Ham yang telah dipublikasikan antara lain, Dari Soal Priyayi sampai Nyi Blorong: Refleksi Historis Nusantara
(2003) yang merupakan kumpulan tulisan beliau di Harian Kompas. Selanjutnya, Wahyu yang Hilang, Negeri yang Guncang
(2003), buku ini berisi 70 buah karangan Ong di Majalah Tempo. Riwayat Tionghoa Peranakan di Jawa
(2005), yang didalamnya terdapat 14 buah tulisannya di Star Weekly. Selain itu ada pula buku The Thugs, the Curtain, and the Sugar Lord – Power, Politics, and
Culture in Colonial Java (2003), Negara
dan Rakyat (1983), Runtuhnya Hindia
Belanda (1987), Anti Cina,
Kapitalisme Cina dan Gerakan Cina: Sejarah Etnis Cina di Indonesia lalu Sukarno: Orang Kiri, Revolusi dan G 30 S
1965. Lalu ada juga tulisan Ong yang berjudul “The Inscrutable and the Paranoid: an Investigation into the Sources of
the Brotodiningrat Affair” dalam buku Southeast
Asian Transition, Approaches Through Social History (ed) Ruth Mc Vey,
sebuah buku persembahan untuk Prof. Harry J. Benda.
Prof. Sartono pernah melontarkan
sebuah sindiran kepada Ong: “Kapan Ong ini mau keluar dari Madiun”. Sebuah
candaan mengenai disertasi Ong Hok Ham yang isinya tentang petani dan priyayi
di Madiun. Ong Hok Ham memang sejarawan yang handal, ia mengembangkan sebuah
pendekatan global dalam studi sejarah Indonesia. Maksudnya, kita harus paham
sejarah dunia, khususnya sejarah Eropa dan Asia apabila ingin menulis sejarah
Indonesia pada masa kolonial agar analisis dan rekonstruksinya tepat. Beliau
mengajarkan sebuah pendekatan global untuk rekonstruksi dan metodologi sejarah
yang pada akhirnya untuk karya historiografi Indonesia. Ong Hok Ham pernah
mendirikan dan mengetuai LSSI (Lembaga Studi Sejarah Indonesia). Yang tujuannya
mengembangkan studi sejarah Indonesia lebih luas dan mendalam. Namun LSSI tidak
dapat bertahan lama, ditambah kondisi pak Ong yang semakin rapuh. Menurut
Bambang Purwanto dalam buku Gagalnya
Historiografi Indonesiasentris?!, pak Ong telah menyumbangkan sebuah warna
lain dalam memahami sejarah Indonesia dan menawarkan beberapa gagasan
alternatif di tengah-tengah arus historiografi yang dominan. Sejatinya, Ong Hok
Ham memang sejarawan yang hobinya teler, namun dia telah membuktikan sebuah
kajian sejarah kritis kepada kita.
Sumber :
Bambang Purwanto (2007). Gagalnya Historiografi Indonesiasentris ?! Yogyakarta : Ombak.
David Reeve, et.al. (2007). Onze Ong : Onghokham dalam Kenangan. Jakarta : Komunitas Bambu.
Onghokham (2004). Dari Soal Priyayi sampai Nyi Blorong : Refleksi Historis Nusantara. Jakarta : Kompas.
Henri Chambert-Loir (1999). Panggung Sejarah Persembahan kepada Prof.Dr.Denys Lombard. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia
Henri Chambert-Loir (1999). Panggung Sejarah Persembahan kepada Prof.Dr.Denys Lombard. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia
Langganan:
Postingan (Atom)





