"Aku ingin meletakkan sekuntum sajak di makam Nabi, Supaya sejarah menjadi jinak. Dan mengirim sepasang merpati" (Kuntowijoyo)

Jumat, 26 Juli 2013

Keajaiban Itu Ada

Sekitar tujuh tahun yang lalu, saya pernah les disebuah bimbingan belajar, tempatnya disekitar jalan Cik Dik Tiro. Tujuannya untuk persiapan menghadapi UAN serta bertarung untuk kuliah di UGM. Kampus biru itu amatlah mentereng ketika kita masih jadi anak sekolahan. Membuat kita silau terhadap puluhan kampus lainnya di wilayah Yogyakarta.

Sekitar lima tahun yang lalu, dibangun sebuah toko 24 jam di ring road utara. Saat awal dibuka, toko tadi sepi pengunjung, saya masih ingat, pegawai pertamanya adalah perempuan keturunan Tionghoa. Selang beberapa bulan, ada pegawai yang magang, kelihatan dari seragamnya, seperti baju ospek ketika kita menjadi mahasiswa baru. Saya sempat terkesan ketika melihatnya, perasaan seperti pernah melihat perempuan tersebut.Tapi kapan, dimana, siapa dia. Insting sejarah saya pun muncul.

Kembali ke jaman ketika saya masih berseragam putih abu-abu. Sewaktu les, hiruk pikuk di tempat tersebut amat beragam. Mulai dari tingkat SD sampai SMA. Ada satu anak perempuan yang cukup menarik perhatian, dia masih SMP. Raut mukanya nampak seperi anak yang pendiam. Lalu berdasarkan analisis seragam yang dia pakai setiap hari Jumat dan Sabtu, dapat dipastikan, gadis tersebut sekolahnya di SMP yang lokasinya dekat bunderan UGM. Gadis tadi selalu menunggu jemputan setiap pulang les. Kalau tidak salah, ayahnya yang paling sering menjemput. Suatu ketika, saya pernah bertanya kepada adik teman les saya yang kebetulan juga les di tempat yang sama. Siapakah gerangan anak SMP tadi ?

Berlanjut ke petualangan di masa kuliah. Perempuan yang bekerja menjadi karyawan di toko 24 jam, siapakah dia ? ah, sampai sekarang saya pun tidak tahu. Namun, perempuan tadi nomaden ternyata, ia kerap dirolling dari tempat satu ke tempat yang lain. Suatu malam, saya pernah membeli rokok di toko yang letaknya di ringroad, gadis itu sudah tidak disana. Ternyata dia pindah di toko yang ada di jakal atas. Terakhir, saya berjumpa dengannya ketika dia keluar dari toko 24 jam yang berlokasi di jakal bawah. Setelah itu, semua tinggal sejarah (kenangan) bung.

Di tahun 2011, saya masih di aktif di Gelanggang UGM. Tiap Selasa, Kamis dan Sabtu sore saya selalu jogging di GSP bersama kawan alias partner jogging saya yang paling setia, sebut saja dia Apunk. Dari Gelanggang menuju GSP, kita selalu jalan kaki, itung-itung buat pemanasan. Nah, suatu hari, saya melihat anak SMP yang pernah saya lihat sewaktu masih SMA. Dia sedang berlatih hockey di selasar Gelanggang. Kerap sekali saya bertemu dan melihatnya sedang bermain hockey. Saya yakin betul gadis yang bermain hockey tadi adalah dia, gadis yang menurut pandangan saya adalah pendiam.

Pasca pertemuan tadi, saya jadi ingat misteri seorang perempuan yang bekerja di toko 24 jam. Perempuan tersebut memang mirip sekali dengan anak SMP yang pertama kali saya lihat sekitar tujuh tahun yang lalu. Apakah mereka ada hubungan darah ? apakah mereka kakak beradik ? entahlah.

Di tahun 2011, saya jarang sekali ke kampus. Saya memang  sempat “menghilang” dari peredaran mulai tahun 2010 – 2011. Suatu hari saya pernah berjalan dari basecamp anak sejarah menuju ke Bonbin. Tiba-tiba saya berpapasan dengan anak SMP itu. Ternyata dia anak FIB. Terima kasih Tuhan, Kamu mempertemukan kembali saya dengannya. Hahaha.

Hari menjadi minggu dan minggu menjadi bulan. Berbulan-bulan saya sering melihat gadis kecil tadi di kampus, di Gelanggang, di bonbin. Tapi siapakah nama kamu.

Intensitas saya dikampus semakin berkurang, ketika aktivitas di luar begitu banyak. Sayapun sebenarnya juga malas bermain ke kampus. Otomatis, waktu untuk melakukan pelacakan pun semakin surut. Suatu saat saya mengetahui kalau gadis tersebut adalah teman adik kelas saya. Sayapun kroscek ke salah satu adik seperguruan sejarah, kita bisa menyebut nama mereka Ipul dan Rizki. Ternyata perempuan mungil tadi satu organisasi dengan Ipul. Mereka gabung dalam salah satu BSO film di kampusku.

Satu kesempatan tiba untuk mengajak gadis itu mengobrol. Suatu malam, anak-anak sejarah mengadakan kumpul-kumpul antar angkatan di bonbin. Acara tadi berbarengan pula dengan screening yang diselenggarakan oleh BSO film di kampus saya. Dua acara tadi saya hadiri semuanya. Kenapa saya sangat berniat sekali bertemu dengan cewek tadi. Alasannya cuman satu, saya hanya ingin bilang kalau pernah bertemu dengannya tujuh tahun yang lalu. Itu saja. Sepele. Yah, kesempatan untuk mengobrol dengannya memang ada. Biarpun gadis tadi merasa asing dengan saya, yang penting saya dapat jawabannya. Biarpun jawabannya tidak sesuai dengan harapan yang saya pikirkan sebelumnya.

Saya yakin bahwa keajaiban itu memang ada. Bertemu kembali dengan gadis pendiam tadi merupakan keajaiban bagi saya. Meminjam salah satu judul filmnya Vittorio De Sicca, “Miracolo a Sastra”. Keajaiban itu ada, tinggal kita menunggunya saja. Entah kapan dan dimana.


Selamat malam, bulan Juli memang indah bagi saya.

Kamis, 25 Juli 2013

KIPER

Saya teramat terkesan ketika membaca tulisan milik Goenawan Mohamad yang berjudul “Penjaga Gawang”. Entah kenapa tulisan beliau ( baca: Catatan Pinggir ) begitu menyihir, memukau. Goresan tintanya teramat tajam, terkadang lucu dan menggelitik.
            Kita tahu kalau mayoritas penduduk Indonesia, terutama kaum lelaki, sangat hobi menonton siaran sepakbola. Iya, sepakbola. Oh maaf, ternyata tidak hanya siaran sepakbola. Namun game sepakbola, apa itu Football Manager, apa itu FIFA, apa itu PES.
Kaum lelaki begitu menggilai dunia sepakbola. Perhatikan, apabila ada sekerumunan pria sedang nongkrong, apa yang akan mereka bicarakan ? Perempuan ? Pastinya. Selain itu kira-kira apa yang patut diobrolkan para lelaki ? Gadget, ah tidak semua lelaki punya keahlian mengelola keuangan dengan cermat. Politik ? masih nikmat ngomongin itu ? apa tidak muak dan eneg.
Nah, bagaimana dengan sepakbola ? tiap akhir pekan, kita selalu disuguhi siaran sepakbola, baik dalam ataupun luar. Liga Indonesia memang menjadi pilihan kedua masyarakat kita. Itu pasti, mengingat pengelolaan sepakbola Indonesia begitu carut marut, dinodai intrik-intrik badan terbesar sepakbola kita. Secara kualitas juga masih jauh dari sepakbola luar negeri. Tapi ada anehnya bung, tim junior kita bisa merajai kompetisi internasional tiap tahunnya. Pembinaan sepakbola kita tampaknya ada yang salah.
Bagaimana dengan sepakbola luar negeri ? Begitu banyaknya liga Eropa yang tersalur di stasiun tv, membuat kita kelabakan bukan. Ini mana ini siaran bola yang bagus ! mulai dari liga Italia, Jerman, Inggris, Spanyol, belum liga Champions Eropa hingga pertandingan kualifikasi Piala Dunia ataupun Eropa. Banyak pilihan, tapi masing-masing liga tadi sudah mempunyai basis penonton sendiri. Kalau akhir-akhir ini sih, kita disuguhi laga eksebisi alias persahabatan dengan klub-klub beken Eropa.
Diatas tadi saya menyebutkan kata “penjaga gawang”, merujuk tulisannya Goenawan Mohamad. Bung Goenawan menceritakan, besarnya tanggung jawab seorang kiper dalam waktu 45 x 2. Sosok tadi jarang disorot di media, apakah kita kerap menonton cuplikan-cuplikan penyelamatan super seorang kiper ? sangat jarang. Paling sering adalah cuplikan gol-gol indah atau gol yang maha dahsyat dari seorang striker.
Itulah sosok kiper menurut Goenawan Mohamad. Bayangkan, ketika ada counter attack, lalu one on one, siapa yang membantu kiper ? Penjaga benteng terakhir adalah kiper. Bek atau gelandang bertahan bisa saja langsung menyerah, angkat tangan, bahkan cuci tangan. Ketika gol masuk, siapa yang paling disalahkan ? Kiper. “Wah, Valdes ki pancen goblok !”, “Bajigur og Buffon, utek’e !”, “Pancen bosok og si Kurnia Mega”, “Haa kok ra ditepis ki pie jew bung ?”, “Kiper’e ra kendel, ra wani nubruk !”
Kiper. Goenawan Mohamad juga menceritakan, seorang Albert Camus pernah menjadi kiper sewaktu kecil. Kiper, penjaga benteng yang terkadang harus berjuang sendirian serta bertarung matia-matian menghadapi terpaan serangan bertubi-tubi.

Jumat, 25 Januari 2013

Ong Hok Ham: Intelektual Eksentrik

(A Tribute To Onghokham)
Apakah orang dapat belajar dari sejarah? Jawaban saya selalu, “Sayang, rupanya tidak”, sebab kalau kita dapat dari sejarah, maka kita semua akan lebih bahagia dan sentosa.


( Onghokham dan Jacob Vredenbregt )
www.flickr.com/photos/iisg/5579460186/
 
Ong Hok Ham, Onghokham, OHH, Sinyo Hans, Baba Ong, Onze Ong
 (Surabaya, 1 Mei 1933 – Jakarta, 30 Agustus 2007)

“Hidup untuk makan, bukan makan untuk hidup!”. Itulah prinsip dari Pak Ong yang terus ia pegang sampai akhir hayatnya. Sejarawan satu ini cenderung berbeda dengan kolega-kolega beliau di UI. Ia tidak seperti Nugroho Notosutanto, R.Z. Leirissa, Koentjaraningrat, Soekmono yang selalu berpakaian rapi dan bersepatu. Pak Ong lebih senang memakai sendal, lalu kemeja yang digulung sampai siku serta kancingnya selalu dibuka dan tas kumal dari kain warna khaki. Pak Ong memang unik. Bukan hanya sosok sejarawan handal, namun juga dosen, kolumnis, koki serta pemabuk. Ia adalah penggila pesta yang "membujang" seumur hidup.

Beliau lahir di Surabaya, 1 Mei 1933. Dilahirkan sebagai “Cina Peranakan”. Setelah lulus dari ELS (Europese Lagere School) sekitar tahun 1950an, ia melanjutkan studinya ke HBS (Hogere Burger School). Di HBS ini ia mulai tertarik dengan sejarah. Pelajaran sejarah Belanda dan Eropa ia dapatkan dari Boeder Rosarius, guru sejarah yang ia kagumi. Ong Hok Ham gemar sekali melahap buku-buku sejarah, terutama mengenai Revolusi Prancis (1789) serta berbagai peristiwa yang dramatis.

Dari Kampus Rawamangun menuju Kampus Yale
Pada awalnya, tahun 1955 Ong Hok Ham terpaksa melanjutkan studinya di Fakultas Hukum UI yang berada di Jln Salemba no.4. Namun kata hatinya mengatakan bahwa ia ingin menekuni studi sejarah. Biarpun hal tersebut sempat menjadi pembicaraan di kalangan keluarganya. Dengan bantuan A.B Lapian, beliau minta dikenalkan dengan ketua jurusan sejarah UI, yang saat itu dipegang oleh Prof. Dr. Soekanto. Akhirnya beliau pindah ke jurusan Sejarah Fakultas Sastra UI, yang lokasinya di daerah Rawamangun. Jenjang sarjana muda ia selesaikan dengan skripsi mengenai Gerakan Samin, sebuah gerakan perlawanan petani di Pantai Utara Jawa Tengah (Rembang, Pati. Blora dll) pada tahun 1900-1920. Di tahun 1968, skripsi S1 berhasil ia selesaikan dengan judul Runtuhnya Hindia Belanda, dengan periode antara 1930an-1940an. Yang diterbitkan menjadi buku pada tahun 1987. Pak Ong mengakui bahwa skripsi miliknya ditulis dengan perspektif Nerlandosentris.
            
Sebenarnya saat Ong Hok Ham menempuh perkuliahan di UI ia merasa tidak mendapat guru yang menarik seperti Boeder Rosarius. Namun disaat menempuh doktor di Universitas Yale, perkuliahan Prof. H.J. Benda sangat menarik dan provokatif. Dari sinilah gelar doktor ia dapatkan pada tahun 1975 dengan disertasi yang berjudul The Residency of Madiun: Priyayi and Peasant in the 19th Century. Sekembalinya dari Universitas Yale, ia lalu aktif mengajar kembali di UI. Pak Ong telah memberi warna baru mengenai sejarah petani dan pedesaan. Ia bersama Sartono Kartodirjo merupakan sejarawan Indonesia yang konsisten dalam kajian sejarah pemberontakan petani. Tulisan dari pak Ong sendiri kebanyakan bertema mengenai periode kolonial, salah satunya adalah mengenai rijsttafel, sebuah hidangan yang berisi nasi dan berbagai lauk pauk, sayuran dan sambal. Oleh Pak Lapian, beliau disuruh menulis artikel sejarah kuliner pada masa kolonial di Jurnal Sejarah yang bertema 4 Abad VOC. Ia sering dijuluki intelektual publik, sebab ia kerap menulis di Tempo, Kompas dan Prisma. Bahkan semasa kuliah ia juga aktif menulis di Starweekly pada kurun waktu antara 1958-1961. Tulisan pak Ong dari segi bahasa tidaklah bagus. Namun tulisannya merupakan komparasi dan analogi sejarah satu dengan yang lain, sebuah refleksi historis.
                        
Sinyo Hansje atau Hans adalah panggilan dia disaat masih muda. Keturunan keluarga Han dan Tan, keluarga kaya dan terkenal di jawa Timur. Kakek dari pihak ibu adalah kapitan Cina di Pasuruan. Sedang ayahnya, Klaas adalah kawula Belanda. Lies, yaitu ibu Ong sempat menikah dua kali. Ia mempunyai dua saudara laki-laki, Yan dan Freedy. Sedang kakak perempuannya bernama Olga. Keluarga Ong hidup dengan gaya kebarat-baratan. Makan dengan makanan Eropa, berpakaian Barat serta berbahasa Belanda. Periode 50an dan 60an adalah masa-masa sulit bagi Ong. Pada zaman itu golongan asing begitu dibenci. Banyak warga Tionghoa atau Belanda mengungsi ke daerah asalnya. Namun Ong tetap bertahan, akhir 1950 ia sering menulis mengenai Cina peranakan dalam Star Weekly yang dipimpin Auwjong Peng Koen atau P.K Ojong.
            
Bersama P.K Ojong dan Ong Tjong Hay (Sindhunata), ia mendirikan LPKB (Lembaga Pembinaan Kesatuan Bangsa). Perkembangan selanjutnya, LPKB pun berubah menjadi Bakom PKB (Badan Komunikasi Penghayat Kesatuan Bangsa). Saat itu Ong menjadi aktivis golongan “asimilasi”, golongan yang menghendaki peleburan etnis Cina menjadi warga Indonesia. Golongan “asimilasi” sendiri mendapat perlawanan dari golongan “integrasi”. Golongan yang menolak peleburan 100% etnis Cina menjadi warga Indonesia. Tanggal 24 Maret 1960, Ong Hok Ham ikut menandatangani piagam “Menuju Asimilasi yang Wajar”. Setelah pemberontakan G 30 S di tahun 1965, Ong sempat frustasi. Saat kembali ke Pasuruan ia melihat banyak manusia yang dibunuh. Bahkan ada deretan bambu runcing yang dipasangi penggalan kepala-kepala korban. Sontak ia berteriak, “Hidup PKI !, hidup Aidit!”. Setelah itu ia ditahan dan dijebloskan ke penjara beberapa bulan, sebelum dibebaskan atas bantuan Nugroho Notosutanto.
            
Ada banyak kejadian menarik dalam kehidupan Ong Hok Ham. Seperti yang diutarakan oleh Benedict Anderson, saat masih muda Ong Hok Ham sering bertengkar dengan Soe Hok Gie. Masalahnya tentu tentang politik. Dimana Ong merupakan pendukung PNI, sedang Gie saat itu masih simpati dengan PSI. Ong sering mengejek Gie dengan sebutan bordjuis, sebaliknya Gie mengatakan bahwa Ong adalah seorang feodal. Ong juga sering mengeluarkan sebuah anekdot. Diantaranya ia mengatakan bahwa Belanda itu membosankan, angkuh, goblok dan picik. Lalu Tionghoa totok adalah orang yang rakus, lihai, kikir dan tidak berkebudayaan. Sedang Tionghoa peranakan itu pemalas, gila judi, menor, pintar menipu diri. Ong juga mempunyai julukan atau istilah tersendiri bagi orang-orang Sumatera, yaitu “dull” khususnya orang-orang Padang dan Palembang. Sedang Batak dan Aceh, bagi Ong masih ada pamor membuat dia takut. Sedang anekdot untuk orang Sunda, Madura, Banten atau Osing tidak ada.

Sang Koki Sejarah Indonesia
Selain dikenal pandai mengolah sejarah, pak Ong juga seorang kolumnis yang gemar makan. Seorang gourmet (ahli mencicipi/menilai makanan) dan juga koki. Sebenarnya kepandaian dia memasak di dapat saat kuliah di Yale. Tidak salah apabila sekembali dari Yale, ia mendapat dua gelar yaitu sebagai doktor dan koki. Pak Ong merupakan pengajar yang unik. Ong lebih senang bepergian dengan bus. Menurutnya dengan naik bus, dia dapat mengetahui dan mengamati bagaimana kehidupan masyarakat di luar.
            
Pak Ong sangat senang menyantap tempe Malang, sambal gandaria, bandeng bakar, jangkang, nasi rawon dan telur asing yang masih masir (berserbuk). Pak Ong juga hobi minum kopi robusta yang ia beli di Stasiun Jatingera dan menghisap rokok Gudang Garam filter. Mengenai selera kuliner Chinese, beliau gemar mengudap babi panggang, babi hong, bakut tei, mie dan pangsit goreng, baso tahu dll. Di siang hari dia akan menjadi pria yang sederhana, namun di kala malam dia sudah siap berpesta bersama kolega-kolega asing dan berbincang-bincang dengan bahasa Belanda serta bahasa Inggris. Onze Ong memang bergaya kosmopolitan.
            
Selain itu Ong Hok Ham juga menggemari masakan Eropa. Contohnya seperti, pate, Hungarian salami, Scandinavian salmon smoked, berbagai jenis keju, roti baguette dan masih banyak lagi. Mengenai minuman favorit dari pak Ong jelas Scotch whisky. Pak Ong juga gemar meminum bir, serta wine. Mengenai Scotch whisky, pak Ong mengaku pertama kali mengenal minuman tersebut saat menjadi liasion officer di KAA Bandung tahun 1955. Di tiap malam ia seringkali mabuk. Parahnya lagi, pak Ong juga sering datang mengajar dalam kondisi setengah mabuk. Kebiasaan minumnya masih ia lakukan, biarpun dirinya terkena serangan stroke pada tahun 2001. Beliau terkena serangan stroke saat mau menghadiri perayaan 80 tahun Pak Sartono di Jogja, Februari 2001. Ia pun langsung dilarikan ke RS Panti Rapih, dan semenjak itu beliau harus memakai kursi roda. Anehnya disaat sedang sekarat, ia masih sempat-sempatnya memikirkan isi lemari es dan koleksi alkohol. Sungguh pribadi yang unik.

Oleh mahasiswa atau mahasiswinya, pak Ong dikenal sebagai dosen killer. Ia kerap meneror murid-muridnya dengan pertanyaan yang susah. Bahkan tidak segan-segan ia melempar penghapus papan tulis ke arah muridnya yang tidak bisa menjawab pertanyaannya serta ribut dikelas. Kata-kata goblok sering beliau lontarkan kepada para muridnya. Untuk mahasiswa atau mahasiswi yang malas membaca, sering dikatakan “bayi-bayi besar yang buta huruf”. Tradisi membaca memang beliau tanamkan kepada murid-muridnya di UI. Selain killer, pak Ong juga unik. Beliau seringkali membawa ikan segar yang habis dibeli dipasar ikan, bau amis pun mencemari ruang kelasnya. Ia tidak mengajar penuh di UI, umur 55 tahun beliau pensiun dari UI. Ia terpaksa berhenti disaat pangkatnya masih golongan III C. Ada yang mengatakan bahwa ia terpaksa pensiun karena nomor pegawainya tiba-tiba hilang.
            
Sosok satu ini paling senang menghadiri pesta-pesta. Bukan karena soal makanan, tapi juga mencari gelas yang isinya alkohol. Ong Hok Ham juga sering menggelar pesta dirumahnya yang terletak di daerah Cipinang, terutama saat beliau ulang tahun. Makanan yang disajikan ia masak sendiri. Dan bahan-bahannya juga ia beli sendiri. Ia akan naik kendaraan umum untuk berangkat ke Pasar Senen membeli daging babi, lalu ke Blok M membeli daging sapi dan mencari ikan bandeng segar di Pasar Pagi. Dimalam hari begitu banyak kolega-koleganya yang hadir. Mulai dari kalangan intelektual, artis, seniman, duta besar, politikus dll. Menurut Takashi Shiraishi, pesta yang diadakan oleh Ong adalah pesta yang menghidangkan nice meal, nice drink, and nice talk.

( Onghokham )
http://www.flickr.com/photos/iisg/5579460130/ 
Refklesi Sejarah Kritis Onze Ong           
Kesehatan Ong lama kelamaan makin memburuk. Ia masih saja menegak wine, padahal penyakit stroke menyerangnya. Makanan yang dikonsumsi juga kaya akan kolesterol. Hidangan kentang goreng dan bistik kakap merah menjadi hidangan terakhir bagi Ong Hok Ham. Ia meninggal pada tanggal 30 Agustus 2007, sekitar pukul 19.00. Beliau disemayamkan di Rumah duka Dharmais Jakarta Barat dengan baju gaya China berwarna merah buatan Peter Sie. Ong Hok Ham, seorang agnostik yang upacara pemakamannya dibalut dengan ritual Budha, Katholik serta Konghucu. Dan dibibirnya terselip sebuah mutiara.
            
Banyak karya beliau yang telah diterbitkan. Sebuah tulisan maestro sejarah Indonesia. Beberapa buah karya Ong Hok Ham yang telah dipublikasikan antara lain, Dari Soal Priyayi sampai Nyi Blorong: Refleksi Historis Nusantara (2003) yang merupakan kumpulan tulisan beliau di Harian Kompas. Selanjutnya, Wahyu yang Hilang, Negeri yang Guncang (2003), buku ini berisi 70 buah karangan Ong di Majalah Tempo. Riwayat Tionghoa Peranakan di Jawa (2005), yang didalamnya terdapat 14 buah tulisannya di Star Weekly. Selain itu ada pula buku The Thugs, the Curtain, and the Sugar Lord – Power, Politics, and Culture in Colonial Java (2003), Negara dan Rakyat (1983), Runtuhnya Hindia Belanda (1987), Anti Cina, Kapitalisme Cina dan Gerakan Cina: Sejarah Etnis Cina di Indonesia lalu Sukarno: Orang Kiri, Revolusi dan G 30 S 1965. Lalu ada juga tulisan Ong yang berjudul “The Inscrutable and the Paranoid: an Investigation into the Sources of the Brotodiningrat Affair” dalam buku Southeast Asian Transition, Approaches Through Social History (ed) Ruth Mc Vey, sebuah buku persembahan untuk Prof. Harry J. Benda.
            
Prof. Sartono pernah melontarkan sebuah sindiran kepada Ong: “Kapan Ong ini mau keluar dari Madiun”. Sebuah candaan mengenai disertasi Ong Hok Ham yang isinya tentang petani dan priyayi di Madiun. Ong Hok Ham memang sejarawan yang handal, ia mengembangkan sebuah pendekatan global dalam studi sejarah Indonesia. Maksudnya, kita harus paham sejarah dunia, khususnya sejarah Eropa dan Asia apabila ingin menulis sejarah Indonesia pada masa kolonial agar analisis dan rekonstruksinya tepat. Beliau mengajarkan sebuah pendekatan global untuk rekonstruksi dan metodologi sejarah yang pada akhirnya untuk karya historiografi Indonesia. Ong Hok Ham pernah mendirikan dan mengetuai LSSI (Lembaga Studi Sejarah Indonesia). Yang tujuannya mengembangkan studi sejarah Indonesia lebih luas dan mendalam. Namun LSSI tidak dapat bertahan lama, ditambah kondisi pak Ong yang semakin rapuh. Menurut Bambang Purwanto dalam buku Gagalnya Historiografi Indonesiasentris?!, pak Ong telah menyumbangkan sebuah warna lain dalam memahami sejarah Indonesia dan menawarkan beberapa gagasan alternatif di tengah-tengah arus historiografi yang dominan. Sejatinya, Ong Hok Ham memang sejarawan yang hobinya teler, namun dia telah membuktikan sebuah kajian sejarah kritis kepada kita.

Sumber :
Bambang Purwanto (2007). Gagalnya Historiografi Indonesiasentris ?! Yogyakarta : Ombak.

David Reeve, et.al.  (2007). Onze Ong : Onghokham dalam Kenangan. Jakarta : Komunitas Bambu.

Onghokham (2004). Dari Soal Priyayi sampai Nyi Blorong : Refleksi Historis Nusantara. Jakarta : Kompas.

Henri Chambert-Loir (1999). Panggung Sejarah Persembahan kepada Prof.Dr.Denys Lombard. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia



Bocah Kecil


Anak kecil itu berada disamping Avanza hitam. Tanpa mengulurkan tangan, matanya fokus memandang sesuatu. Mulutnya “mlongo”. Dia yang bergelut dengan terik sang surya sedari siang, hingga senja menghampiri malam. Polos namun dekil.

Si kecil tetap tidak meminta-minta. Kaosnya bergambar Naruto, celananya merah. Memang, hari ini adalah Senin.  Sepasang mata kecilnya menyaksikan sebuah layar kaca. Ia melihat domba, ia menonton Shaun The Sheep. Oh iya, anak kecil tadi memang bukan penggembala domba, melainkan digembala  oleh kedua orang tuanya.

Lain lagi dengan di dalam Avanza. Alkisah ada seorang anak kecil duduk dengan nikmat di dalam mobil. Karena di mobil tidak panas atau gerah, tapi dingin, segar dan wangi. Bajunya lebih bagus, bukan kaos, tapi polo. Polos namun rapi. Ia serius melihat domba-domba imut berkeliaran di area peternakan. Dirinya tidak sadar dengan sosok anak kecil diluar mobil. Sama-sama berkeliaran, tapi dijalanan. Eh, bukan salah dia juga apabila sejak kecil sudah kaya.

Merah menjadi hijau. Bayangan anak kecil tadi ditelan derasnya desingan motor. Ia sudah berdiri di trotoar, matanya masih memandangi roda-roda Avanza. Ia merindukan seekor domba.

Masa kecil bocah itu telah direnggut oleh kerasnya jalanan. Fase kecilnya hampa, hilang, ditelan perasan keringat. Dia bukan penggembala, tetapi digembala. Demi sesuap receh untuk keluarganya. Bocah itu tidak tahu apa-apa….

“Anak kecil sekecil itu berkelahi dengan waktu……”


Kamis, 17 Januari 2013

Kado Kecil Untuknya


Pukul 10 pagi, pria ini nampak gusar di hadapan keramaian. Hilir mudik mahasiswa serta mahasiswi tidak mengundang perhatiannya untuk sekedar melirik atau menyapa. Pria itu merogoh sakunya dan membaca kembali sms yang ia terima sekitar satu jam yang lalu.
“Aku di perpus jam 10 mas..”
Ia berjalan ke utara, niatnya menuju kampus Sospol, namun berhenti sebentar di ATM. Selepas itu ia meneruskan tujuannya, entah apa ya ia pikirkan. Memakai kaos merah marun dan setelan jeans warna biru, serta tas punggung hitam di belakang. Sesampai di kampus Sospol, ia lalu menemui temannya. Tak lupa pula ia memesan kopi hitam gelas kecil. Obrolan-obrolan kecil ia lewatkan bersama temannya. Lelaki tadi lalu menjelaskan ke temannya, kenapa ia mengajak untuk ketemu di kampusnya. Satu hal, lelaki itu ingin menyelesaikan satu persoalan yang selama ini mengganjal hatinya. Mengganjal hatinya selama dua tahun lebih. Ya, pria tersebut ingin menemui gadis pujaannya.
Laki-laki tadi lalu menulis sebuah pesan sms, “Di perpus Sospol tho? Okee, aku kesana bentar lagi, lg ktmu temen di kantin Sospol..” Balasan singkat ia terima, “Iyap”
Teman pria tadi sempat menyatakan bahwa dirinya pernah seperti itu pula. Menghadapi persoalan yang sama, daripada mengendap terlalu lama lebih baik langsung diselesaikan, apabila dirasa menganggu pikiran. Mereka berdua lalu menuju perpustakaan Sospol. Sebelum berangkat pria tadi sempat mengobrol sebentar dengan seorang perempuan. Perempuan yang baru dia kenal sehari yang lalu.
Ahirnya mereka tiba di depan pintu perpustakaan Sospol. Si pria nampak kebingungan, apa yang harus dia lakukan. Hampir sepuluh menit mereka berada di luar hanya untuk rembugan. Laki-laki tadi langsung masuk ke perpustakaan, namun keluar lagi. Alasannya dia bingung ada dimana sosok yang dia cari. Pria tadi menulis sms, menanyakan ada dimana gadis yang akan dia temui. Gadis tersebut membalas, “D dalem mas..”
Bergegaslah dirinya, masuk ke perpustakaan. Di dalam, dia hanya celingukan, nampak seperti maling yang kehilangan tujuan. Ia pun keluar lagi, meminta pendapat lagi. Masuk perpustakaan lagi, berulang kali. Karena jengkel, pria tadi lalu mengirim pesan singkat. Menyuruh si gadis untuk keluar sebentar.
Selang kemudian, seorang gadis keluar dari perpustakaan. Memakai jilbab dan baju bermotif garis-garis hitam putih. Yak, mirip motif jersey Juventus. Gadis itu tersenyum. Si pria lalu mengajak mengobrol, sekedar basa-basi. Ia lalu menyuruh perempuan tadi untuk duduk. Sepotong demi sepotong pembicaraan mereka lalui. Dari obrolan standar semacam skripsi, lalu gombalan ataupun mengenai organisasi yang mereka berdua ikuti.
Waktupun memutuskan mereka untuk berbicara lebih dalam. Si pria mengajak gadis tersebut untuk berpindah tempat ngobrol. Gadis tadi merasa canggung, tapi akhirnya ia pun mengikuti permintaan pria tersebut.
Tidak jauh dari tempat mereka mengobrol semula. Pria tadi tidak peduli dengan lalu lalang orang sekitar. Ataupun beberapa mahasiswa yang sedang membaca di dekat mereka. Ia bertekad untuk menyelesaikan semua gundah gulana yang ia simpan selama ini. Hari itu, semua harus selesai, demi kelegaan hati yang mungkin sudah amat sesak bagi dirinya.
Pria tadi mengeluarkan sebuah kado kecil dari dalam tasnya. “Anggap saja ini pengganti gelang yang kamu berikan padaku” ujarnya. Si perempuan nampak tersenyum malu-malu, ia merasa tidak enak, kenapa harus sampai segitunya. Di dalam kado tersebut tersimpan pesan kecil untuk gadis itu. Ia menyuruh untuk membukanya di rumah. Biarpun si gadis amat penasaran dengan isi kado tadi.
Banyak kata-kata terucap saat pertemuan tadi. Pria tadi mengakui bahwa ia menaruh hati kepadanya. Amat lama ia bermimpi bisa bersanding, memadu kemesraan bersama perempuan berjilbab tadi. Hanya sekedar pengakuan perasaan saja, tanpa meminta sebuah jawaban. Yah, mungkin selama dua tahun tersebut, Tuhan belum mengijinkan impian si pria.
Sebuah ucapan terimakasih disampaikan oleh gadis tadi. Ia merasa selama ini lelaki tadi hanya bercanda, karena kerap melontarkan gombalan kepadanya. Itulah alasan dia, kenapa jarang mengubris segala kata-kata atau sms dari pria tersebut. Disadari atau tidak oleh gadis tersebut, lelaki tadi tetap merasa bahwa semua perasaan yang tercurah adalah benar adanya.
Hanya singkat pembicaraan mereka. Bagi pria tersebut, biarlah pesan kecil yang tertulis dalam kado tersebut meneruskan untaian perasaannya akan gadis tadi. Pertemuan mereka hari itu berakhir sudah. Entahlah, ia hanya mampu menatap gadis tersebut membuka pintu dari kejauhan. Biarpun hatinya berbisik, “Kejarlah, sampaikanlah !”

***
Jauh hari kemudian, lelaki tersebut masih merasa terombang-ambing ombak asmara. Ia tetap membiarkan kado kecil itu menjadi merpati yang menyampaikan sebuah pesan. Entah, apakah gadis tersebut menyadari akan makna “I wish we’d met in another life…” *

*quote film The Tourist

Sabtu, 12 Januari 2013

Dua Orang Sahabat


Dua orang sahabat sedang berjalan di hutan. Tiba-tiba seekor beruang meloncat ke arah mereka. Seorang dari mereka lari memanjat pohon dan sembunyi, sementara yang satunya tetap diam terperangah. Karena tidak bisa berbuat apa-apa, ia merebahkan diri di tanah dan berpura-pura mati.
Beruang mendekatinya dan mengendus-endus, lelaki itu berhenti bernafas. Beruang mengendus-endus mukanya berpikir bahwa orang itu telah mati, akhirnya beruang itu pergi.
Setelah beruang telah pergi, temannya turun dari pohon dan tertawa: “Bagaimana,” katanya, “Apa yang dibisikkan beruang itu di telingamu?”
“Dia berkata padaku, bahwa hanya orang-orang jahatlah yang tega meninggalkan sahabatnya yang sedang dalam bahaya.”

(http://www.chessgames.com/portraits/leotolstoy.jpg)

* : dikutip dari Leo Tolstoy, Si Kecil Filip Pergi Sekolah: Enam Puluh Dongeng Anak Rusia,Jakarta, Granit, 2004 (halaman 48)

Rabu, 02 Januari 2013

Persunting Dia


     “Kalau engkau memang mencintainya, silahkan persunting dia.. Aku rela menyerahkan adinda Agnyanawati untuk kau pinang, Samba adikku tercinta. Bahkan, negeri ini silahkan kau duduki, Trajutrisna tidak berarti apa-apa buatku”

NOUVELLE VAGUE | BIZARRE LOVE TRIANGLE (FRENTE COVER)






KELAP-KELAP, CLOROOOOOOT, DUER !
TING, TING, TING, TING ....
SAMPAK !

Menjemput Secarik Kertas Impian


Di kala pagi buta, perempuan itu melewati sebuah lorong panjang.  Mengandeng putranya yang masih kecil serta membawa seikat bunga. Pagi itu dia ingin berkunjung ke “rumah” suaminya. Entah apakah di dalam “rumah” tersebut suaminya benar-benar ada. Karena ia tahu persis, suaminya entah kemana jasadnya. Unknown
Saat perjalanan pulang, putranya masih sering tersenyum gembira, mirip seperti ayahnya. Gemar memakai topi pula. Sepulang dari kunjungannya, perempuan tadi dikejutkan oleh secarik kertas yang bertuliskan “Buon giorno Principessa !” Hanya secarik kertas putih, tergeletak di meja makan.
Hari berikutnya, tepat pukul 07.00 pagi, perempuan tadi menemukan kertas putih, tulisannya sama “Buon giorno Principessa !” Kertas tadi terselip disela-sela jendela. Dirinya hanya bisa tersenyum kecut, antara haru atau gembira.
Lagi-lagi “Buon giorno Principessa !”, kali ini bukan di meja ataupun jendela, tapi di atas rak sepatu. “Ah, ulah siapa ini?” batin perempuan tadi. Tiga hari ia dikejutkan oleh “Buon giorno Principessa !” Selalu di pagi hari dalam waktu yang berbeda. “Bukan, bukan Guido pelakunya. Tapi bisa saja Guido, ya Prince Guido”
Tidak seperti hari-hari biasa, perempuan tadi berusaha untuk bangun lebih pagi, sembari menyiapkan sarapan untuk Joshua, anaknya. “Ya Tuhan, kertas tersebut kenapa lebih pagi tibanya !” ketus si perempuan. Ya, “Buon Giorno Principessa” menyambutnya lebih pagi, tepat di depan pintu kamarnya. Ia lalu bergegas mencuci mukanya, apakah ini mimpi atau bukan. “Ah, Buon Giorno, Buon Giorno !”
Merasa penasaran dengan kertas aneh yang selalu datang tanpa diduga, ia memutuskan untuk tidak tidur sampai pagi. Sarapan untuk Joshua ia persiapkan lebih awal pada malam harinya. Tapi usahanya tetap tidak berbuah apa-apa, kertas tadi ada lagi disaat dirinya ingin menyeduh teh hijau panas. “Buon Giorno Principessa !”
Lima hari sudah berlalu, semuanya dilewati dengan kejutan “Buon Giorno Principessa !” Entah, apakah itu hadiah atau musibah baginya. Ia merasa bahagia membaca tulisan tersebut. Benar-benar mirip dengan garis tulisan suaminya. Namun perempuan tadi juga berpikir, apakah ini teror untuk keluarganya. Bagi dia, “Buon Giorno Principessa !” merupakan anugerah indah dari Tuhan. Ungkapan yang indah dan menyejukkan jiwa selama ini.
Di malam kelima “Buon Giorno Principessa !”, perempuan tersebut benar-benar merasa terharu. Ia menemukan putranya sedang menulis “Buon Giorno Princ”, nampaknya tulisan tersebut belum selesai. Ia benar-benar yakin, bahwa semua ini adalah ulah putranya yang iseng. Perempuan tadi langsung memeluk erat tubuh Joshua, tiada henti haru tangisnya. Joshua hanya bisa tertawa kegirangan, karena perbuatannya ketahuan juga.
Kertas tadi lalu diambil oleh perempuan tersebut. Kertas tersebut ia pajang di atas meja makan. “Buon Giorno Prince !”



Rabu, 26 Desember 2012

Bukan Nyanyian Seorang Bisu



Disaat gelap semakin mengitari malam itu,
Membisu..
Namun terdengar percakapan dan gelak tawa,
Tetap membisu..
Ketika (mungkin) tercipta kembali pertemuan seperti malam itu,
Mungkin( juga) tetap membisu..
Ah, entahlah..
Tuhan, terimakasih atas pertemuan tak terduga dari Mu


( Francis Lai |Love Story ~Where Do I Begin~ )

Kamis, 30 Agustus 2012

SILAU WAYANGKU ~


Adakah yang melebihi kesetiaanku?
Serta mudah tertipu oleh ketampanan Arjuna?
Perkenalkan, namaku Anggraeni
#Anggraeni

Kematian kami demi riuh nya Baratayudha
Perang suci, berbasuh darah
Pada akhirnya, kemenangan itu dirusak oleh cucu Arjuna
#Ontoseno #Wisanggeni

Hasratku, nafsuku, parasku hanya untuk dia
Lipstik ku, bedak ku, wangiku juga untuk dia
Keperawananku juga untuk dia
#Banowati

Perang itu bukan kehendak ku,
Kematian mereka juga bukan kehendak ku,
tapi kehendak ayahku, Wisnu..
#Sitija

Merajut asmara dengannya adalah mimpiku
Aku merasa bahagia, karena dia lelaki yang setia
Namun, kematian ayahku tidak pernah terlintas dalam pikirku
#Setyawati

Saat ribuan panah menghujam tubuhku
Aku merasa bahagia,
Penantian itu telah tiba
#Bhisma

"Wes wae lah Gog, rasah kakean cerewet. Wayah'e micek. Sesuk esuk kudu ketemu Semar lho"
#Togog #Mbilung

12:33 | Pemalang, 30 Sept 2012


Jumat, 24 Agustus 2012

Menonton Wayang

PUKUL dua malam, mungkin dua pagi tepatnya. Sepasang bola mata milik Rizki masih terlihat segar. Tersirat decak kagum dari raut mukanya. Pagi itu ia menonton pagelaran wayang kulit semalam suntuk. “Ting ting ting ting”, sayup-sayup bunyi kecrek milik sang dalang menghipnotis Rizki. Aliran darahnya serasa dialiri rintikan air terjun, begitu menusuk. Perhelatan wayang digelar sedemikian rupa, kelirnya panjang, kemungkinan lebih dari 5 meter. Lalu sindhennya berjumlah sepuluh, cantik-cantik, muda-muda, adapula sindhen tua. Gamelannya mengkilap, bersinar kala tersorot lampu. Terlihat jelas ada gap penonton saat itu. Kalangan pejabat universitas serta para tamu undangan duduk diatas sofa empuk. Paling depan tentunya. Sedang penonton biasa hanya duduk diatas kursi merah bermerk Fukuda. Adapula yang ndeprok di rumput taman, lebih unik lagi ada yang niat membawa tikar panjang.
            Bersama teman perempuannya, Rizki begitu menikmati sajian dalang kondang kota Jogja tersebut. Keahlian mayang sang dalang mungkin warisan dari orangtuanya. Antawacana serta sanggitnya amat menawan. Mengingat ayahnya memang mantan dalang terkenal. Seorang dalang Lekra. Ia satu-satunya anak yang mewarisi bakat ayahnya. Saudara kandung ataupun saudara beda ibu tidak ada yang menjadi dalang kecuali dirinya. Konon bayaran dalang muda tersebut mencapai 30 juta lebih. Itu sudah komplit. Ya, agak mendingan memang bila dibandingkan dalang kesohor Ki Mantheb “pancen oyee”. Dalang sabet asal Solo tersebut biasanya dihargai dengan kisaran ratusan juta rupiah. Wow.
            Rizki begitu cekatan menerangkan siapa tokoh-tokoh wayang kepada temannya tadi. Bagaimana alur ceritanya, ataupun mengartikan bahasa yang diucapkan dalang. Maklum, teman Rizki besar di luar “Jawa”, tetapi letak daerahnya di pulau Jawa. Biarpun sebenarnya si gadis tadi mempunyai darah Surakarta dari orangtuanya. Sembari menikmati suguhan jahe anget serta gorengan, mereka saling mengobrol, saling berkicau di pagi buta. Mengobrol soal wayang. Adegan di kelir menyiratkan bahwa sudah tiba waktunya pertempuran habis-habisan. Adegan wana alias perang begal. Pasca pecahnya gara-gara.

DENGAN setelan kaos abu-abu bergambar muka John Lennon, si perempuan mengajukan sebuah pertanyaan sambil mengigit tempe goreng. “Kenapa Janaka membela Raden Samba?”
“Karena Janaka tahu bahwa si Samba itu titisan Bathara Drema, sedang Bathara Dremi menitis dalam tubuh Dewi Agnyanawati.”
“Siapa itu Drema sama Dremi?”
“Ya, dewa. Dewa dari khayangan yang turun ke bumi karena dihukum. Ya, ya begitu pokoknya,” Terlihat gelagat Rizki bahwa ia kebingungan menjelaskan.
Malam itu lakon yang dibawakan oleh ki dalang adalah “Samba Juwing”. Lakon yang bercerita tentang kematian Samba ditangan kakaknya sendiri, Raden Sitija. Kematian Samba mungkin karma karena tingkahnya, mungkin juga takdir. Kodrat dewa memang tak bisa ditebak. Sang Panyarikan bisa dengan mudahnya menghapus keadaan di marcapada. Biarpun terkadang ulah manusia di bumi sering membuat Bathara Panyirikan mengetuk-etuk kepala dengan telunjuknya sendiri.
            “Wah kasihan dong Raden Sitija. Istrinya berkasih-kasihan, selingkuh sama saudaranya. Jahat ya Samba sama Janaka,” tukas si perempuan.
            “Ah ya tidak tho yo. Sitija kan menyalahi kodrat dewa. Karena ia menikah dengan perempuan yang bukan hak nya,” jawab Rizki.
            “Tapi kan Raden Sitija tadi pas ketemu ibunya, rela kan menyerahkan istrinya dengan Samba?”
            “Lha iya, tapi tetap saja Sitija salah besar karena memutilasi Samba. Membunuh dengan kejam. Memotong – motong tubuh adiknya sendiri.”
            “Lhoh, perbuatan Raden Sitija karena terpengaruh omongan dua punokawannya tadi. Aku kalau jadi Raden Sitija juga akan marah. Harga dirinya sudah diinjak-injak. Padahal dia begitu sayang kepada Raden Samba.”
            “Lha iya.” sahut Rizki.
            “Emang iya,” balas teman Rizki. “Apalagi Janaka tadi malah pergi sewaktu kalah melawan Raden Sitija. Padahal yang membujuk Samba untuk menemui Agnyanawati adalah dirinya. Lelaki macam apa itu, bisanya cuma mengandalkan ketampanan. Tidak bertanggung jawab. Nggak mau deh kalau besok punya anak dikasih nama Janaka atau Samba.”
            Rizki hanya tersenyum kaku mendengar ocehan temannya. Ia kelabakan dengan semua pernyataan yang terurai dari mulut kawan perempuannya. Lalu tempo gamelan semakin cepat kala itu, inilah adegan ketiga dari pagelaran wayang. Manyura. Babak habis-habisan dimulai pada pukul tiga pagi.
           
DALANG malam itu benar-benar menghentak hati Rizki. Kekagumannya atas wayang begitu kuat, wayang semacam candu baginya. Tidak bisa tidur kalau tanpa ditemani wayangan. Adegan perang antara negara meletus di tlatah Trajutrisna. Ngamarta, Mandura, Kumbina, Lesanpura, Dwarawati serta Pringgodani berhadapan dengan kubu Ngastina dan Ngawangga yang membantu pasukan negara kecil Trajutrisna. Peperangan berlangsung amat dahsyat. Korban berjatuhan satu persatu, diawali para sesepuh Mandura. Prabu Basudewa, Prabu Bismaka serta Prabu Setyajid wafat di medan peperangan. Sabetan lesatan anak panah terasa bagaikan kilat menyambar. Serta seolah-olah darah bertumpah ruah dibalik kelir.
            Putra Pandawa yang turut perang dengan lihai menahan keberingasan gempuran buto-buto atau denawa Trajutrisna. Mereka tidak terima dengan kematian menggenaskan saudara mereka dari Parang Garuda. Di pimpin Patih Pancadnyana, serta para wadyabala manggala Trajutrisna yaitu, Yayahgriwa, Ancak-ogra, Mangudhara serta Sinundha. Trajutrisna terpaksa berjuang sendirian menggelar perang besar melawan enam negara. Kubu Ngastina dan Ngawangga dibawah komando Patih Sengkuni dan Adipati Karna lari terbirit – birit. Kalang kabut, ketakutan setelah mendengar Prabu Baladewa mengamuk. Pertempuran terus berkecamuk, berlangsung ramai. Menyusul kematian tetua Mandura, cucu – cucu mereka juga turut meninggal. Palguna, Wisata, Walmuka tewas di tanah lapang Trajutrisna. Perang saudara sebelum Baratayudha ini hanya bisa diakhiri oleh titisan Wisnu, sesuai kehendak dewa. Matinya Raden Sitija berada di tangan ayahnya sendiri, Bathara Kresna menjadikannya sebagai korban pamungkas. Selesai sudah perang besar melibatkan  perseteruan bapak dan anak yang konon disebut perang Gojali Suto tadi.
Paripurna pula pagelaran wayang nan megah di gedung pusat kampus, tempat Rizki menggayuh ilmu. Lalu lalang orang pergi meninggalkan tempat pagelaran. Ada yang lebih dahulu menyulut rokok sebagai teman dinginnya pagi. Muncul pula bunyi suara motor, dimana gendhing Bubaran sedang dimainkan oleh para niyaga. Para penjual rokok dan lapak wayang dadakan bersiap-siap mengemas dagangannya. Sedang dibarisan depan hanya tersisa dua atau tiga pejabat kampus dari sekian puluh tamu undangan yang hadir.
            Rizki lalu mengantar pulang si gadis berkaos John Lennon. Letak kostnya tak jauh dari gedung pusat, tidak sampai satu kilo. Sebelum pamitan Rizki sempat melontarkan untuk mengajak temannya menonton wayang lagi. Kawan perempuan tadi menganggukkan kepala, tanda mengiyakan. Lalu ia melontarkan kata-kata kepada Rizki, “Sitija itu tidak jahat lho Ki’,”
            Rizki terhenyak dengan perkataan tadi. Ia ingat dengan omongannya sendiri sewaktu di motor sekitar tiga menit yang lalu . Pernyataannya terhadap tokoh Sitija dianggap salah oleh rekannya. Rizki hanya mengangkat pundaknya. Sambil berbalik arah, ia melemparkan senyum serta melambaikan tangan. Si gadis membalas senyum Rizki. Lesung pipinya menghiasi raut muka serta senyum manis dari bibirnya yang indah.

SESAMPAI di rumah, kata-kata temannya tadi masih terngiang-ngiang dipikiran. Di otaknya tergambar sosok Raden Sitija. Ia tewas entah dikubur dimana. Jasadnya melayang, karena Sitija tidak bisa mati di atas tanah berkat ajian Pancasonabumi. Namun mata Rizki semakin tak kuat lagi menahan kantuk. Lengkingan suara adzan tak menyurutkan niatnya untuk terlelap.
            Raden Sitija atau Prabu Boma Narakasura ada di luar angkasa. Mayatnya tidak terdeteksi, biarpun ada kemungkinan, jasadnya disimpan oleh kakeknya Sang Hyang Nagaraja di Jalatunda. Sitija melayang, ia merasa bersalah melanggar pesan sang bapa, ia berani melawan serta melukai klangenan cempaka putih[1] Bathara Kresna. Ia menyesal membunuh adiknya Samba, memotong-motong tubuh adik tercintanya. Di angkasa ia melihat Samba dan Agnyanawati bermesraan di khayangan. Wajahnya tertunduk mengingat peristiwa di keputren Trajutrisna. Namun ia bahagia dengan kematiannya, mati ditangan ayahnya, mati ditangan Wisnu. Ia bahagia. Sitija mati sempurna.
            Sebuah kilatan menyambar tubuh Sitija. Seakan-akan tubuhnya jatuh dibumi. Tiba-tiba muncul tiga sosok manusia. Di hadapan sebuah batu nisan mereka sedang memanjatkan doa-doa. Satu orang berbadan besar, berkulit bule. Disampingnya ada dua sosok bertubuh kecil, yang satu gemuk, yang satu kurus pendek. Tiga orang tadi terlihat sedih meratapi batu nisan. Suasana disekitar begitu sepi, jauh dari keramaian dan juga kebisingan umat manusia. Agak angker namun diselimuti keharuan.
            Si bule menyentuh nisan dengan tangannya. Dipukul-pukul nisan tersebut tiga kali. Sedang si gemuk langsung membalikkan badan, ia mengusap tetesan air matanya. Sedang si kurus pendek berucap, “Bahagia disana ya Sinuwun”.
Tidak lain sebenarnya tiga orang tadi adalah Baladewa serta Togog dan Mbilung. Sepeninggal Raden Sitija, nyawa dua punokawan tadi terancam. Ia diincar banyak orang karena ulahnya menimbulkan kemarahan Sitija dan berakibat dengan kematian Samba. Namun Baladewa tahu bahwa Togog dan Mbilung tidak salah. Mereka dituduh secara sepihak untuk mencari sosok yang bisa dikambing hitamkan. Baladewa mengerti bahwa provokasi terhadap Sitija tidak terlontar dari mulut duo punokawan bengal, melainkan Patih Pancadyana serta garuda Wilmuna. Ia tahu persis, sebab dirinyalah orang terakhir yang berdialog dengan Patih Pancadnyana.  Akan tetapi dari peristiwa Arjuna Wiwaha sampai Prabu Kresnadwipayana memimpin Ngastina, hidup Togog dan Mbilung tidak pernah tenang. Begitu nggenes nasib mereka.
            Baladewa, Togog dan Mbilung bergegas pergi. Mereka berkeliling kota, meninggalkan tanah Mandura menuju negara Ngastina. Di kerajaan Mandura, Dwarawati, Ngastina ataupun kerajaan lain, tidak tertanam sebuah jalan bertuliskan Sitija atau Boma Narakasura. Sedang pahatan nama Samba atau Wisnubarata diabadikan serta dibuatkan sebuah patung dan amat dipuja-puja. Kisah tentang Sitija tidak diajarkan disekolah-sekolah. Namanya telah terhapus dari pewarisan kisah lalu. Entah itu berupa mitos, sastra ataupun sejarah.
           
BERDERING keras bunyi alarm dari balik HP milik Rizki. Ia tersadar dari buaian lelap nikmatnya mimpi. Dirinya langsung teringat ucapan teman perempuannya. Dalam batin terurai sebuah kata-kata, “Dia benar. Sitija adalah ksatria yang hilang.”

* di ilhami dari lakon “Samba Juwing” yang dibawakan oleh alm. Ki Nartosabdho dan alm. Ki Hadi Sugito.



[1] Kata klangenan cempaka putih berdasarkan audio wayang Ki Hadi Sugito “Samba Juwing”.