"Aku ingin meletakkan sekuntum sajak di makam Nabi, Supaya sejarah menjadi jinak. Dan mengirim sepasang merpati" (Kuntowijoyo)

Jumat, 25 Januari 2013

Bocah Kecil


Anak kecil itu berada disamping Avanza hitam. Tanpa mengulurkan tangan, matanya fokus memandang sesuatu. Mulutnya “mlongo”. Dia yang bergelut dengan terik sang surya sedari siang, hingga senja menghampiri malam. Polos namun dekil.

Si kecil tetap tidak meminta-minta. Kaosnya bergambar Naruto, celananya merah. Memang, hari ini adalah Senin.  Sepasang mata kecilnya menyaksikan sebuah layar kaca. Ia melihat domba, ia menonton Shaun The Sheep. Oh iya, anak kecil tadi memang bukan penggembala domba, melainkan digembala  oleh kedua orang tuanya.

Lain lagi dengan di dalam Avanza. Alkisah ada seorang anak kecil duduk dengan nikmat di dalam mobil. Karena di mobil tidak panas atau gerah, tapi dingin, segar dan wangi. Bajunya lebih bagus, bukan kaos, tapi polo. Polos namun rapi. Ia serius melihat domba-domba imut berkeliaran di area peternakan. Dirinya tidak sadar dengan sosok anak kecil diluar mobil. Sama-sama berkeliaran, tapi dijalanan. Eh, bukan salah dia juga apabila sejak kecil sudah kaya.

Merah menjadi hijau. Bayangan anak kecil tadi ditelan derasnya desingan motor. Ia sudah berdiri di trotoar, matanya masih memandangi roda-roda Avanza. Ia merindukan seekor domba.

Masa kecil bocah itu telah direnggut oleh kerasnya jalanan. Fase kecilnya hampa, hilang, ditelan perasan keringat. Dia bukan penggembala, tetapi digembala. Demi sesuap receh untuk keluarganya. Bocah itu tidak tahu apa-apa….

“Anak kecil sekecil itu berkelahi dengan waktu……”


Kamis, 17 Januari 2013

Kado Kecil Untuknya


Pukul 10 pagi, pria ini nampak gusar di hadapan keramaian. Hilir mudik mahasiswa serta mahasiswi tidak mengundang perhatiannya untuk sekedar melirik atau menyapa. Pria itu merogoh sakunya dan membaca kembali sms yang ia terima sekitar satu jam yang lalu.
“Aku di perpus jam 10 mas..”
Ia berjalan ke utara, niatnya menuju kampus Sospol, namun berhenti sebentar di ATM. Selepas itu ia meneruskan tujuannya, entah apa ya ia pikirkan. Memakai kaos merah marun dan setelan jeans warna biru, serta tas punggung hitam di belakang. Sesampai di kampus Sospol, ia lalu menemui temannya. Tak lupa pula ia memesan kopi hitam gelas kecil. Obrolan-obrolan kecil ia lewatkan bersama temannya. Lelaki tadi lalu menjelaskan ke temannya, kenapa ia mengajak untuk ketemu di kampusnya. Satu hal, lelaki itu ingin menyelesaikan satu persoalan yang selama ini mengganjal hatinya. Mengganjal hatinya selama dua tahun lebih. Ya, pria tersebut ingin menemui gadis pujaannya.
Laki-laki tadi lalu menulis sebuah pesan sms, “Di perpus Sospol tho? Okee, aku kesana bentar lagi, lg ktmu temen di kantin Sospol..” Balasan singkat ia terima, “Iyap”
Teman pria tadi sempat menyatakan bahwa dirinya pernah seperti itu pula. Menghadapi persoalan yang sama, daripada mengendap terlalu lama lebih baik langsung diselesaikan, apabila dirasa menganggu pikiran. Mereka berdua lalu menuju perpustakaan Sospol. Sebelum berangkat pria tadi sempat mengobrol sebentar dengan seorang perempuan. Perempuan yang baru dia kenal sehari yang lalu.
Ahirnya mereka tiba di depan pintu perpustakaan Sospol. Si pria nampak kebingungan, apa yang harus dia lakukan. Hampir sepuluh menit mereka berada di luar hanya untuk rembugan. Laki-laki tadi langsung masuk ke perpustakaan, namun keluar lagi. Alasannya dia bingung ada dimana sosok yang dia cari. Pria tadi menulis sms, menanyakan ada dimana gadis yang akan dia temui. Gadis tersebut membalas, “D dalem mas..”
Bergegaslah dirinya, masuk ke perpustakaan. Di dalam, dia hanya celingukan, nampak seperti maling yang kehilangan tujuan. Ia pun keluar lagi, meminta pendapat lagi. Masuk perpustakaan lagi, berulang kali. Karena jengkel, pria tadi lalu mengirim pesan singkat. Menyuruh si gadis untuk keluar sebentar.
Selang kemudian, seorang gadis keluar dari perpustakaan. Memakai jilbab dan baju bermotif garis-garis hitam putih. Yak, mirip motif jersey Juventus. Gadis itu tersenyum. Si pria lalu mengajak mengobrol, sekedar basa-basi. Ia lalu menyuruh perempuan tadi untuk duduk. Sepotong demi sepotong pembicaraan mereka lalui. Dari obrolan standar semacam skripsi, lalu gombalan ataupun mengenai organisasi yang mereka berdua ikuti.
Waktupun memutuskan mereka untuk berbicara lebih dalam. Si pria mengajak gadis tersebut untuk berpindah tempat ngobrol. Gadis tadi merasa canggung, tapi akhirnya ia pun mengikuti permintaan pria tersebut.
Tidak jauh dari tempat mereka mengobrol semula. Pria tadi tidak peduli dengan lalu lalang orang sekitar. Ataupun beberapa mahasiswa yang sedang membaca di dekat mereka. Ia bertekad untuk menyelesaikan semua gundah gulana yang ia simpan selama ini. Hari itu, semua harus selesai, demi kelegaan hati yang mungkin sudah amat sesak bagi dirinya.
Pria tadi mengeluarkan sebuah kado kecil dari dalam tasnya. “Anggap saja ini pengganti gelang yang kamu berikan padaku” ujarnya. Si perempuan nampak tersenyum malu-malu, ia merasa tidak enak, kenapa harus sampai segitunya. Di dalam kado tersebut tersimpan pesan kecil untuk gadis itu. Ia menyuruh untuk membukanya di rumah. Biarpun si gadis amat penasaran dengan isi kado tadi.
Banyak kata-kata terucap saat pertemuan tadi. Pria tadi mengakui bahwa ia menaruh hati kepadanya. Amat lama ia bermimpi bisa bersanding, memadu kemesraan bersama perempuan berjilbab tadi. Hanya sekedar pengakuan perasaan saja, tanpa meminta sebuah jawaban. Yah, mungkin selama dua tahun tersebut, Tuhan belum mengijinkan impian si pria.
Sebuah ucapan terimakasih disampaikan oleh gadis tadi. Ia merasa selama ini lelaki tadi hanya bercanda, karena kerap melontarkan gombalan kepadanya. Itulah alasan dia, kenapa jarang mengubris segala kata-kata atau sms dari pria tersebut. Disadari atau tidak oleh gadis tersebut, lelaki tadi tetap merasa bahwa semua perasaan yang tercurah adalah benar adanya.
Hanya singkat pembicaraan mereka. Bagi pria tersebut, biarlah pesan kecil yang tertulis dalam kado tersebut meneruskan untaian perasaannya akan gadis tadi. Pertemuan mereka hari itu berakhir sudah. Entahlah, ia hanya mampu menatap gadis tersebut membuka pintu dari kejauhan. Biarpun hatinya berbisik, “Kejarlah, sampaikanlah !”

***
Jauh hari kemudian, lelaki tersebut masih merasa terombang-ambing ombak asmara. Ia tetap membiarkan kado kecil itu menjadi merpati yang menyampaikan sebuah pesan. Entah, apakah gadis tersebut menyadari akan makna “I wish we’d met in another life…” *

*quote film The Tourist

Sabtu, 12 Januari 2013

Dua Orang Sahabat


Dua orang sahabat sedang berjalan di hutan. Tiba-tiba seekor beruang meloncat ke arah mereka. Seorang dari mereka lari memanjat pohon dan sembunyi, sementara yang satunya tetap diam terperangah. Karena tidak bisa berbuat apa-apa, ia merebahkan diri di tanah dan berpura-pura mati.
Beruang mendekatinya dan mengendus-endus, lelaki itu berhenti bernafas. Beruang mengendus-endus mukanya berpikir bahwa orang itu telah mati, akhirnya beruang itu pergi.
Setelah beruang telah pergi, temannya turun dari pohon dan tertawa: “Bagaimana,” katanya, “Apa yang dibisikkan beruang itu di telingamu?”
“Dia berkata padaku, bahwa hanya orang-orang jahatlah yang tega meninggalkan sahabatnya yang sedang dalam bahaya.”

(http://www.chessgames.com/portraits/leotolstoy.jpg)

* : dikutip dari Leo Tolstoy, Si Kecil Filip Pergi Sekolah: Enam Puluh Dongeng Anak Rusia,Jakarta, Granit, 2004 (halaman 48)

Rabu, 02 Januari 2013

Persunting Dia


     “Kalau engkau memang mencintainya, silahkan persunting dia.. Aku rela menyerahkan adinda Agnyanawati untuk kau pinang, Samba adikku tercinta. Bahkan, negeri ini silahkan kau duduki, Trajutrisna tidak berarti apa-apa buatku”

NOUVELLE VAGUE | BIZARRE LOVE TRIANGLE (FRENTE COVER)






KELAP-KELAP, CLOROOOOOOT, DUER !
TING, TING, TING, TING ....
SAMPAK !

Menjemput Secarik Kertas Impian


Di kala pagi buta, perempuan itu melewati sebuah lorong panjang.  Mengandeng putranya yang masih kecil serta membawa seikat bunga. Pagi itu dia ingin berkunjung ke “rumah” suaminya. Entah apakah di dalam “rumah” tersebut suaminya benar-benar ada. Karena ia tahu persis, suaminya entah kemana jasadnya. Unknown
Saat perjalanan pulang, putranya masih sering tersenyum gembira, mirip seperti ayahnya. Gemar memakai topi pula. Sepulang dari kunjungannya, perempuan tadi dikejutkan oleh secarik kertas yang bertuliskan “Buon giorno Principessa !” Hanya secarik kertas putih, tergeletak di meja makan.
Hari berikutnya, tepat pukul 07.00 pagi, perempuan tadi menemukan kertas putih, tulisannya sama “Buon giorno Principessa !” Kertas tadi terselip disela-sela jendela. Dirinya hanya bisa tersenyum kecut, antara haru atau gembira.
Lagi-lagi “Buon giorno Principessa !”, kali ini bukan di meja ataupun jendela, tapi di atas rak sepatu. “Ah, ulah siapa ini?” batin perempuan tadi. Tiga hari ia dikejutkan oleh “Buon giorno Principessa !” Selalu di pagi hari dalam waktu yang berbeda. “Bukan, bukan Guido pelakunya. Tapi bisa saja Guido, ya Prince Guido”
Tidak seperti hari-hari biasa, perempuan tadi berusaha untuk bangun lebih pagi, sembari menyiapkan sarapan untuk Joshua, anaknya. “Ya Tuhan, kertas tersebut kenapa lebih pagi tibanya !” ketus si perempuan. Ya, “Buon Giorno Principessa” menyambutnya lebih pagi, tepat di depan pintu kamarnya. Ia lalu bergegas mencuci mukanya, apakah ini mimpi atau bukan. “Ah, Buon Giorno, Buon Giorno !”
Merasa penasaran dengan kertas aneh yang selalu datang tanpa diduga, ia memutuskan untuk tidak tidur sampai pagi. Sarapan untuk Joshua ia persiapkan lebih awal pada malam harinya. Tapi usahanya tetap tidak berbuah apa-apa, kertas tadi ada lagi disaat dirinya ingin menyeduh teh hijau panas. “Buon Giorno Principessa !”
Lima hari sudah berlalu, semuanya dilewati dengan kejutan “Buon Giorno Principessa !” Entah, apakah itu hadiah atau musibah baginya. Ia merasa bahagia membaca tulisan tersebut. Benar-benar mirip dengan garis tulisan suaminya. Namun perempuan tadi juga berpikir, apakah ini teror untuk keluarganya. Bagi dia, “Buon Giorno Principessa !” merupakan anugerah indah dari Tuhan. Ungkapan yang indah dan menyejukkan jiwa selama ini.
Di malam kelima “Buon Giorno Principessa !”, perempuan tersebut benar-benar merasa terharu. Ia menemukan putranya sedang menulis “Buon Giorno Princ”, nampaknya tulisan tersebut belum selesai. Ia benar-benar yakin, bahwa semua ini adalah ulah putranya yang iseng. Perempuan tadi langsung memeluk erat tubuh Joshua, tiada henti haru tangisnya. Joshua hanya bisa tertawa kegirangan, karena perbuatannya ketahuan juga.
Kertas tadi lalu diambil oleh perempuan tersebut. Kertas tersebut ia pajang di atas meja makan. “Buon Giorno Prince !”



Rabu, 26 Desember 2012

Bukan Nyanyian Seorang Bisu



Disaat gelap semakin mengitari malam itu,
Membisu..
Namun terdengar percakapan dan gelak tawa,
Tetap membisu..
Ketika (mungkin) tercipta kembali pertemuan seperti malam itu,
Mungkin( juga) tetap membisu..
Ah, entahlah..
Tuhan, terimakasih atas pertemuan tak terduga dari Mu


( Francis Lai |Love Story ~Where Do I Begin~ )

Kamis, 30 Agustus 2012

SILAU WAYANGKU ~


Adakah yang melebihi kesetiaanku?
Serta mudah tertipu oleh ketampanan Arjuna?
Perkenalkan, namaku Anggraeni
#Anggraeni

Kematian kami demi riuh nya Baratayudha
Perang suci, berbasuh darah
Pada akhirnya, kemenangan itu dirusak oleh cucu Arjuna
#Ontoseno #Wisanggeni

Hasratku, nafsuku, parasku hanya untuk dia
Lipstik ku, bedak ku, wangiku juga untuk dia
Keperawananku juga untuk dia
#Banowati

Perang itu bukan kehendak ku,
Kematian mereka juga bukan kehendak ku,
tapi kehendak ayahku, Wisnu..
#Sitija

Merajut asmara dengannya adalah mimpiku
Aku merasa bahagia, karena dia lelaki yang setia
Namun, kematian ayahku tidak pernah terlintas dalam pikirku
#Setyawati

Saat ribuan panah menghujam tubuhku
Aku merasa bahagia,
Penantian itu telah tiba
#Bhisma

"Wes wae lah Gog, rasah kakean cerewet. Wayah'e micek. Sesuk esuk kudu ketemu Semar lho"
#Togog #Mbilung

12:33 | Pemalang, 30 Sept 2012


Jumat, 24 Agustus 2012

Menonton Wayang

PUKUL dua malam, mungkin dua pagi tepatnya. Sepasang bola mata milik Rizki masih terlihat segar. Tersirat decak kagum dari raut mukanya. Pagi itu ia menonton pagelaran wayang kulit semalam suntuk. “Ting ting ting ting”, sayup-sayup bunyi kecrek milik sang dalang menghipnotis Rizki. Aliran darahnya serasa dialiri rintikan air terjun, begitu menusuk. Perhelatan wayang digelar sedemikian rupa, kelirnya panjang, kemungkinan lebih dari 5 meter. Lalu sindhennya berjumlah sepuluh, cantik-cantik, muda-muda, adapula sindhen tua. Gamelannya mengkilap, bersinar kala tersorot lampu. Terlihat jelas ada gap penonton saat itu. Kalangan pejabat universitas serta para tamu undangan duduk diatas sofa empuk. Paling depan tentunya. Sedang penonton biasa hanya duduk diatas kursi merah bermerk Fukuda. Adapula yang ndeprok di rumput taman, lebih unik lagi ada yang niat membawa tikar panjang.
            Bersama teman perempuannya, Rizki begitu menikmati sajian dalang kondang kota Jogja tersebut. Keahlian mayang sang dalang mungkin warisan dari orangtuanya. Antawacana serta sanggitnya amat menawan. Mengingat ayahnya memang mantan dalang terkenal. Seorang dalang Lekra. Ia satu-satunya anak yang mewarisi bakat ayahnya. Saudara kandung ataupun saudara beda ibu tidak ada yang menjadi dalang kecuali dirinya. Konon bayaran dalang muda tersebut mencapai 30 juta lebih. Itu sudah komplit. Ya, agak mendingan memang bila dibandingkan dalang kesohor Ki Mantheb “pancen oyee”. Dalang sabet asal Solo tersebut biasanya dihargai dengan kisaran ratusan juta rupiah. Wow.
            Rizki begitu cekatan menerangkan siapa tokoh-tokoh wayang kepada temannya tadi. Bagaimana alur ceritanya, ataupun mengartikan bahasa yang diucapkan dalang. Maklum, teman Rizki besar di luar “Jawa”, tetapi letak daerahnya di pulau Jawa. Biarpun sebenarnya si gadis tadi mempunyai darah Surakarta dari orangtuanya. Sembari menikmati suguhan jahe anget serta gorengan, mereka saling mengobrol, saling berkicau di pagi buta. Mengobrol soal wayang. Adegan di kelir menyiratkan bahwa sudah tiba waktunya pertempuran habis-habisan. Adegan wana alias perang begal. Pasca pecahnya gara-gara.

DENGAN setelan kaos abu-abu bergambar muka John Lennon, si perempuan mengajukan sebuah pertanyaan sambil mengigit tempe goreng. “Kenapa Janaka membela Raden Samba?”
“Karena Janaka tahu bahwa si Samba itu titisan Bathara Drema, sedang Bathara Dremi menitis dalam tubuh Dewi Agnyanawati.”
“Siapa itu Drema sama Dremi?”
“Ya, dewa. Dewa dari khayangan yang turun ke bumi karena dihukum. Ya, ya begitu pokoknya,” Terlihat gelagat Rizki bahwa ia kebingungan menjelaskan.
Malam itu lakon yang dibawakan oleh ki dalang adalah “Samba Juwing”. Lakon yang bercerita tentang kematian Samba ditangan kakaknya sendiri, Raden Sitija. Kematian Samba mungkin karma karena tingkahnya, mungkin juga takdir. Kodrat dewa memang tak bisa ditebak. Sang Panyarikan bisa dengan mudahnya menghapus keadaan di marcapada. Biarpun terkadang ulah manusia di bumi sering membuat Bathara Panyirikan mengetuk-etuk kepala dengan telunjuknya sendiri.
            “Wah kasihan dong Raden Sitija. Istrinya berkasih-kasihan, selingkuh sama saudaranya. Jahat ya Samba sama Janaka,” tukas si perempuan.
            “Ah ya tidak tho yo. Sitija kan menyalahi kodrat dewa. Karena ia menikah dengan perempuan yang bukan hak nya,” jawab Rizki.
            “Tapi kan Raden Sitija tadi pas ketemu ibunya, rela kan menyerahkan istrinya dengan Samba?”
            “Lha iya, tapi tetap saja Sitija salah besar karena memutilasi Samba. Membunuh dengan kejam. Memotong – motong tubuh adiknya sendiri.”
            “Lhoh, perbuatan Raden Sitija karena terpengaruh omongan dua punokawannya tadi. Aku kalau jadi Raden Sitija juga akan marah. Harga dirinya sudah diinjak-injak. Padahal dia begitu sayang kepada Raden Samba.”
            “Lha iya.” sahut Rizki.
            “Emang iya,” balas teman Rizki. “Apalagi Janaka tadi malah pergi sewaktu kalah melawan Raden Sitija. Padahal yang membujuk Samba untuk menemui Agnyanawati adalah dirinya. Lelaki macam apa itu, bisanya cuma mengandalkan ketampanan. Tidak bertanggung jawab. Nggak mau deh kalau besok punya anak dikasih nama Janaka atau Samba.”
            Rizki hanya tersenyum kaku mendengar ocehan temannya. Ia kelabakan dengan semua pernyataan yang terurai dari mulut kawan perempuannya. Lalu tempo gamelan semakin cepat kala itu, inilah adegan ketiga dari pagelaran wayang. Manyura. Babak habis-habisan dimulai pada pukul tiga pagi.
           
DALANG malam itu benar-benar menghentak hati Rizki. Kekagumannya atas wayang begitu kuat, wayang semacam candu baginya. Tidak bisa tidur kalau tanpa ditemani wayangan. Adegan perang antara negara meletus di tlatah Trajutrisna. Ngamarta, Mandura, Kumbina, Lesanpura, Dwarawati serta Pringgodani berhadapan dengan kubu Ngastina dan Ngawangga yang membantu pasukan negara kecil Trajutrisna. Peperangan berlangsung amat dahsyat. Korban berjatuhan satu persatu, diawali para sesepuh Mandura. Prabu Basudewa, Prabu Bismaka serta Prabu Setyajid wafat di medan peperangan. Sabetan lesatan anak panah terasa bagaikan kilat menyambar. Serta seolah-olah darah bertumpah ruah dibalik kelir.
            Putra Pandawa yang turut perang dengan lihai menahan keberingasan gempuran buto-buto atau denawa Trajutrisna. Mereka tidak terima dengan kematian menggenaskan saudara mereka dari Parang Garuda. Di pimpin Patih Pancadnyana, serta para wadyabala manggala Trajutrisna yaitu, Yayahgriwa, Ancak-ogra, Mangudhara serta Sinundha. Trajutrisna terpaksa berjuang sendirian menggelar perang besar melawan enam negara. Kubu Ngastina dan Ngawangga dibawah komando Patih Sengkuni dan Adipati Karna lari terbirit – birit. Kalang kabut, ketakutan setelah mendengar Prabu Baladewa mengamuk. Pertempuran terus berkecamuk, berlangsung ramai. Menyusul kematian tetua Mandura, cucu – cucu mereka juga turut meninggal. Palguna, Wisata, Walmuka tewas di tanah lapang Trajutrisna. Perang saudara sebelum Baratayudha ini hanya bisa diakhiri oleh titisan Wisnu, sesuai kehendak dewa. Matinya Raden Sitija berada di tangan ayahnya sendiri, Bathara Kresna menjadikannya sebagai korban pamungkas. Selesai sudah perang besar melibatkan  perseteruan bapak dan anak yang konon disebut perang Gojali Suto tadi.
Paripurna pula pagelaran wayang nan megah di gedung pusat kampus, tempat Rizki menggayuh ilmu. Lalu lalang orang pergi meninggalkan tempat pagelaran. Ada yang lebih dahulu menyulut rokok sebagai teman dinginnya pagi. Muncul pula bunyi suara motor, dimana gendhing Bubaran sedang dimainkan oleh para niyaga. Para penjual rokok dan lapak wayang dadakan bersiap-siap mengemas dagangannya. Sedang dibarisan depan hanya tersisa dua atau tiga pejabat kampus dari sekian puluh tamu undangan yang hadir.
            Rizki lalu mengantar pulang si gadis berkaos John Lennon. Letak kostnya tak jauh dari gedung pusat, tidak sampai satu kilo. Sebelum pamitan Rizki sempat melontarkan untuk mengajak temannya menonton wayang lagi. Kawan perempuan tadi menganggukkan kepala, tanda mengiyakan. Lalu ia melontarkan kata-kata kepada Rizki, “Sitija itu tidak jahat lho Ki’,”
            Rizki terhenyak dengan perkataan tadi. Ia ingat dengan omongannya sendiri sewaktu di motor sekitar tiga menit yang lalu . Pernyataannya terhadap tokoh Sitija dianggap salah oleh rekannya. Rizki hanya mengangkat pundaknya. Sambil berbalik arah, ia melemparkan senyum serta melambaikan tangan. Si gadis membalas senyum Rizki. Lesung pipinya menghiasi raut muka serta senyum manis dari bibirnya yang indah.

SESAMPAI di rumah, kata-kata temannya tadi masih terngiang-ngiang dipikiran. Di otaknya tergambar sosok Raden Sitija. Ia tewas entah dikubur dimana. Jasadnya melayang, karena Sitija tidak bisa mati di atas tanah berkat ajian Pancasonabumi. Namun mata Rizki semakin tak kuat lagi menahan kantuk. Lengkingan suara adzan tak menyurutkan niatnya untuk terlelap.
            Raden Sitija atau Prabu Boma Narakasura ada di luar angkasa. Mayatnya tidak terdeteksi, biarpun ada kemungkinan, jasadnya disimpan oleh kakeknya Sang Hyang Nagaraja di Jalatunda. Sitija melayang, ia merasa bersalah melanggar pesan sang bapa, ia berani melawan serta melukai klangenan cempaka putih[1] Bathara Kresna. Ia menyesal membunuh adiknya Samba, memotong-motong tubuh adik tercintanya. Di angkasa ia melihat Samba dan Agnyanawati bermesraan di khayangan. Wajahnya tertunduk mengingat peristiwa di keputren Trajutrisna. Namun ia bahagia dengan kematiannya, mati ditangan ayahnya, mati ditangan Wisnu. Ia bahagia. Sitija mati sempurna.
            Sebuah kilatan menyambar tubuh Sitija. Seakan-akan tubuhnya jatuh dibumi. Tiba-tiba muncul tiga sosok manusia. Di hadapan sebuah batu nisan mereka sedang memanjatkan doa-doa. Satu orang berbadan besar, berkulit bule. Disampingnya ada dua sosok bertubuh kecil, yang satu gemuk, yang satu kurus pendek. Tiga orang tadi terlihat sedih meratapi batu nisan. Suasana disekitar begitu sepi, jauh dari keramaian dan juga kebisingan umat manusia. Agak angker namun diselimuti keharuan.
            Si bule menyentuh nisan dengan tangannya. Dipukul-pukul nisan tersebut tiga kali. Sedang si gemuk langsung membalikkan badan, ia mengusap tetesan air matanya. Sedang si kurus pendek berucap, “Bahagia disana ya Sinuwun”.
Tidak lain sebenarnya tiga orang tadi adalah Baladewa serta Togog dan Mbilung. Sepeninggal Raden Sitija, nyawa dua punokawan tadi terancam. Ia diincar banyak orang karena ulahnya menimbulkan kemarahan Sitija dan berakibat dengan kematian Samba. Namun Baladewa tahu bahwa Togog dan Mbilung tidak salah. Mereka dituduh secara sepihak untuk mencari sosok yang bisa dikambing hitamkan. Baladewa mengerti bahwa provokasi terhadap Sitija tidak terlontar dari mulut duo punokawan bengal, melainkan Patih Pancadyana serta garuda Wilmuna. Ia tahu persis, sebab dirinyalah orang terakhir yang berdialog dengan Patih Pancadnyana.  Akan tetapi dari peristiwa Arjuna Wiwaha sampai Prabu Kresnadwipayana memimpin Ngastina, hidup Togog dan Mbilung tidak pernah tenang. Begitu nggenes nasib mereka.
            Baladewa, Togog dan Mbilung bergegas pergi. Mereka berkeliling kota, meninggalkan tanah Mandura menuju negara Ngastina. Di kerajaan Mandura, Dwarawati, Ngastina ataupun kerajaan lain, tidak tertanam sebuah jalan bertuliskan Sitija atau Boma Narakasura. Sedang pahatan nama Samba atau Wisnubarata diabadikan serta dibuatkan sebuah patung dan amat dipuja-puja. Kisah tentang Sitija tidak diajarkan disekolah-sekolah. Namanya telah terhapus dari pewarisan kisah lalu. Entah itu berupa mitos, sastra ataupun sejarah.
           
BERDERING keras bunyi alarm dari balik HP milik Rizki. Ia tersadar dari buaian lelap nikmatnya mimpi. Dirinya langsung teringat ucapan teman perempuannya. Dalam batin terurai sebuah kata-kata, “Dia benar. Sitija adalah ksatria yang hilang.”

* di ilhami dari lakon “Samba Juwing” yang dibawakan oleh alm. Ki Nartosabdho dan alm. Ki Hadi Sugito.



[1] Kata klangenan cempaka putih berdasarkan audio wayang Ki Hadi Sugito “Samba Juwing”.

Senin, 13 Februari 2012

SEBUAH “KADO” KECIL DARI RUMAH BUTUT MAIDA


PENCIPTAAN REALITA : IMAGES
          Pengertian film sebenarnya bukan sekedar film yang beredar di bioskop saja. Film-film juga muncul dalam bentuk tayangan sinetron di televisi serta di media elektronik lainnya. Film-film tersebut dibuat oleh pekerja film dengan asas sinematografi.[1] Menurut Alfred Hitchock, membuat film itu harus dipikirkan, bukan hanya merekam apa yang kamu lihat secara langsung. Karena film sendiri tidak hanya berkutat dalam rekaman gambar, melainkan bagaimana kita bisa menciptakan gambar. Pernyataan tadi juga diamini oleh Ingmar Bergman, bahwa faktor utama film adalah images, faktor penunjang lainnya seperti dialog dan suara. Hal itu terbukti bukan dengan adanya film bisu Charlie Chaplin yang sangat legendaris. Itu karena proses penciptaan images saja, minus dialog dan suara.[2]
          Lalu bagaimana dengan penciptaan gambar dalam film Ruma Maida, karena kali ini kita membicarakan film tersebut. Memang Slamet Rahadjo memberikan kritik terhadap perkembangan film di Indonesia isinya miskin imaginasi.[3] Akibatnya film-film kita kalah bersaing dengan film-film asing. Di dalam jajaran jagad 21 atau XXI, dominasi Holywood jelas merajai. Hal tersebut kenapa terjadi, karena film-film Indonesia tidak cerdas. Dalam uraiannya, Slamet Rahardjo memberikan dua contoh film cerdas, yaitu “Petualangan Sherina” (Riri Reza) dan “Arisan” (Nia Dinata). Film-film tadi memberikan suguhan menarik menampilkan realita, agar berbentuk suatu image. Tetap menghibur namun cerdas dan kaya nilai-nilai teknik serta artistik.[4] Film Arisan atau Berbagi Suami merupakan film parodi satire cerminan gaya ibukota yang seolah-olah gemerlap namun dalamnya karatan. Lalu film Petualangan Sherina tergolong berani mendobrak dominasi images-images milik anime Jepang. Film yang sangat polos, dengan menunjukkan keberanian, semangat serta ngglidhiknya anak-anak kecil. Film tersebut jujur, jujur menampilkan kenyataan. Itulah keunggulannya.

IMAGES dalam RUMA MAIDA
          Ya, kali ini berbicara mengenai film Ruma Maida. Awal mula melihat bahilo film tersebut di perempatan Sagan, saya kira film itu akan menceritakan mengenai Laksamana Maeda. Ternyata dugaan tersebut salah. Atiqa Hasiholan begitu cocok memerankan tokoh Maida. Latar belakangnya sebagai aktor teater mungkin sangat membantu proses permainan dia di film Ruma Maida tersebut.[5] Hampir sama dengan apa yang disampaikan diatas, bahwa ini film yang cerdas. Bukan sebuah film yang menyesatkan. Kita dapat melihat berbagai film-film aneh muncul di layar lebar saat ini. Terutama film-film parodi “paha wanita”, film tersebut memang menghibur namun apa nilai akademisnya?
          Sisi kecerdasan dalam film Ruma Maida ini bukan hanya kesadaran sejarah milik Ayu Utami. Akan tetapi bagaimana sang sutradara menampilkan sisi artistik yang menyentuh. Alur-alur yang tersampaikan memang cenderung biasa, tidak membuat kita menebak-nebak atau berpikir layaknya film-film Barat. Namun sekali lagi gambaran realita yang ditunjukkan sangat kaya. Entah itu realita saat masa pendudukan Jepang atau reformasi 1998. Film ini mampu menjadi ajang refleksi bagi kita.
          Film Ruma Maida adalah film fiksi. Beberapa adegan yang tercipta bukan kenyataan. Memang beberapa latar belakangnya ada peristiwa sejarahnya. Apabila film ini oleh Ayu Utami dibuat novel, mungkin kasusnya si Maida akan sama dengan Nyai Ontosoroh nya Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Mereka merupakan tokoh rekaan namun latar belakangnya ditampilkan sesuai dengan realita.
          Saat ditampilkan adegan flashbacknya Ishak Pahing, latar belakang yang ada juga sesuai cerita-cerita sejarah yang ada. Bagaimana proses perpindahan kekuasaan dari tangan Belanda ke Jepang. Kita tahu bahwa di bulan Maret 1942 merupakan proses kekuasaan tadi akan berpindah. Serangan demi serangan harus diterima Hindia Belanda. Onghokham menyampaikan dalam bukunya yang berjudl Runtuhnya Hindia Belanda. Bahwa pada saat itu terdengar penderitaan-penderitaan karena peperangan yang pertama. Mereka (orang-orang Batavia) mengungsi di Hotel Homan karena saat itu tanggal 28 Februari 1942, Tanjung Priok dijatuhi bom. Hotel Homan dipenuhi laki-laki, wanita serta anak-anak dengan membawa koper dan berbagai macam barang.[6]
          Di dalam buku milik Onghokham tadi, juga diceritakan bagaimana keadaan disaat genting tapi masih ada beberapa orang malah berdansa dan berpesta di hotel Homan tadi. Padahal diluar jauh sana tentara-tentara bertempur dengan angkatan perang Jepang.  Makin lama kondisi makin kacau.[7]
          Kembali lagi ke bahasan Ruma Maida. Ruma Maida tampaknya layak menjadi renungan bagi mahasiswa sekarang. Sosok Maida yang mengayomi anak jalanan patut kita contoh. Kepedulian dia terhadap anak jalanan dan pembelajaran sejarah sudah sepatutnya kita tiru. Film ini memang berhasil membuat sebuah images, bukan sekedar merekam images. Tetapi bagaimana penciptaan images tadi dengan pemikiran yang matang. Pada akhirnya images tersebut juga akan dipikirkan oleh khalayak ramai. Film yang cerdas adalah film yang inspiratif.


[1] Slamet Rahardjo Djarot, “Moving Image : Kreatifitas Dalam Kemiskinan Imaginasi”, dalam Waridi dan Bambang Murtiyoso (ed.), Seni Pertunjukan Indonesia : Menimbang Pendekatan Emik Nusantara. (Surakarta: The Ford Foundation dan STSI Surakarta, 2005), hlm. 293.
Yang dimaksud dengan asas sinematografi adalah proses penciptaan film melalu rekaman dengan pita seluloid, pita video, piringan video atau hasil penemuan teknologi lainnya. Proses melewati proses kimiawi, proses elektronik dll. Selanjutnya akan ditayangkan dengan sistem proyeksi mekanik, elektronik dll. Pengertian tadi diambil dari pengertian film yang termuat dalam UU No.8/1992 tentang Film dan Perfilman. Pengertian film dengan perfilman memang berbeda.

[2] Ibid, hlm. 294.

[3] Baca Slamet Rahardjo Djarot, “Moving Image : Kreatifitas Dalam Kemiskinan Imaginasi”, dalam Waridi dan Bambang Murtiyoso (ed.), Seni Pertunjukan Indonesia : Menimbang Pendekatan Emik Nusantara. (Surakarta: The Ford Foundation dan STSI Surakarta, 2005), hlm. 293-297. Salah satu penyampaian menarik mengenai film juga terdapat dalam uraian milik Umar Kayam dalam bukunya yang berjudul Seni, Tradisi, Masyarakat (1981).

[4] Slamet Rahardjo Djarot, “Moving Image : Kreatifitas Dalam Kemiskinan Imaginasi”, dalam Waridi dan Bambang Murtiyoso (ed.), Seni Pertunjukan Indonesia : Menimbang Pendekatan Emik Nusantara. (Surakarta: The Ford Foundation dan STSI Surakarta, 2005), hlm. 296-297.

[5] Kalau tidak salah, Atiqa terlibat dalam grup Teater Merah Putih.
[6] Onghokham, Runtuhnya Hindia Belanda (Jakarta: Gramedia, 1989), hlm.258-259.

[7] Untuk lebih jelasnya, baca buku Onghokham, Runtuhnya Hindia Belanda terutama bagian terakhir. Penjelasan mengenai proses serta keadaaan pada saat jatuhyan Hindia Belanda disampaikan secara runtut.