"Aku ingin meletakkan sekuntum sajak di makam Nabi, Supaya sejarah menjadi jinak. Dan mengirim sepasang merpati" (Kuntowijoyo)

Selasa, 07 Oktober 2014

Sebuah Pembelaan atas Kekalahan Terakhir

“We were here. We are here. We'll always be here. In victory or defeat, never slaves to the result”


Ketika Mattia Destro masuk menggantikan Totti, skor masih 2-2. Pada menit tersebut, kedua kubu masih berbagi hasil sesuai dengan nomor punggung yang dipakai Destro. Berikutnya Roma melakukan pergantin yang terakhir, Pjanic out, Paredes in. Nampaknya Roma ingin mengakhiri pertandingan dengan hasil imbang. Terlihat dari permainan mereka yang mengutamakan ball possesion dan sedikit melakukan penetrasi di lini pertahananan Juventus. Sayang, tendangan kelas Bonucci membuyarkan impian mereka. Skor 3-2 untuk Juventus, nomor punggung Leandro Paredes membawa tuah untuk La Vechia Signora.

“A cool head…this game really does hurt Italian football,” (Rudi Garcia)
Kalimat diatas mungkin tidak akan dikicaukan Rudi Garcia lewat akun twitternya, apabila pertandingan berjalan dengan adil. Iya, adil bung. Tapi, siapapun tidak dapat mengelak atas keputusan wasit di lapangan. Meskipun seorang Buffon, Pirlo ataupun Totti adalah seorang juara dunia, mereka tetap kalah telak atas kuasa seorang wasit.

Juventus kontra AS Roma merupakan satu dari sekian big match pada pekan kemarin. Di pulau Inggris, disuguhkan Chelsea vs Arsenal. Kota Madrid harus siap menampung para suporter dari tanah pemberontak, Athletic Bilbao. Di ujung sana, ada laga super panas, hujan pun tak mampu menyurutkan tensi Super Clasico kemarin. Lalu, adu taktik antara Vicenzo Montella melawan Mazzarri juga menghiasi kancah sepakbola di negeri Pizza.

Maaf Roma, hidupmu sudah dangdut..
Pertandingan di Juventus Stadium kemarin memang berlangsung atraktif dan panas. Masing – masing kubu terus berjuang demi meraih tiga poin. Roma yang tidak diperkuat beberapa punggawa utama mereka, terus-terusan digempur oleh pasukan berseragam hitam putih. Panasnya laga dimulai ketika tendangan bebas Pirlo mengenai tangan Maicon. Rocchi selaku wasit utama memutuskan untuk menghadiahi lagi sebuah tendangan bebas. Namun, pemain Juventus melakukan protes, mereka beranggapan bahwa posisi Maicon berada di kotak penalti. Ketika kericuhan berlangsung, Rocchi terlihat melakukan komunikasi dengan asisten wasit. Keputusan tiba – tiba diubah, Rocchi memberikan penalti untuk Juventus. Tevez selaku algojo berhasil mengeksekusinya dengan baik. Pertanyaannya, kenapa Rocchi mengubah keputusan pertamanya ? Siapa yang mempengaruhinya ? Jadi amatlah wajar apabila Roma sedikit menyangsikan ketegasan Rocchi saat itu, terutama Rudi Garcia.

Malam itu wasit meminta Rudi Garcia untuk meninggalkan lapangan. Persoalannya karena bahasa tubuh yang diperagakan mantan pelatih Lille tersebut. Garcia sempat menunjukkan gerakan sedang bermain violin. Alasannya tentu merujuk pada hadiah penalti yang diberikan Rocchi untuk skuad Allegri. Entah apa maksud Garcia dengan gaya tersebut, dirinya juga tidak menjawab ketika konferensi pers. Sampai detik ini, hanya dia sendiri yang tahu. Biarpun beberapa analisa mengenai “imajinasi permainan violin ala Garcia” sempat muncul. Sayang memang, “permainan violin” Rudi Garcia yang “sedih”, tidak seperti racikan komposer kondang Italia, Ennio Morricone. Kontras dengan keceriaannya ketika memetik gitar dan bersenandung “Porompopero”.

Drama terus ditunjukkan pada pertandingan tersebut, kali ini Francesco Totti aktornya. Lagi – lagi berawal dari sebuah tendangan bebas. Tendangan Pjanic memang tidak menembus gawang, namun sang Pangeran Roma dilanggar oleh Lichsteiner dari belakang. Kartu kuning untuk Lichsteiner dan penalti untuk Roma. Beruntung, Totti mampu membobol gawang Buffon setelah sekian lama gawangnya bersih dikancah domestik. Sayang, Il Principe harus menerima kartu kuning, ia sempat melakukan selebrasi di hadapan fans Juve. Entah kenapa wasit memberikan kartu untuknya, mungkin karena selebrasinya terlalu berlebihan.

Kedua kubu terus berusaha mencari peluang untuk menghasilkan gol. Terlalu banyak ruang di lini belakang Roma dan mereka kerap kecolongan. Pogba seringkali lepas dari penjagaan dan memberikan umpan silang yang berbahaya. Pada menit ke 44, Roma berhasil mengungguli Juventus. Pergerakan Gervinho yang gesit lalu memberikan umpan kepada Iturbe. Pemain asal Argentina tersebut berhasil lepas dari jebakan offside, bola disambut dan diceploskan lewat kaki kirinya. Tidak lama selepas gol kedua terjadi, Roma melakukan serangan balik. Gervinho menyisir sisi kiri lapangan dan berhasil mengecoh Caceres. Sayang, tendangannya masih melebar.

Bencana kembali menimpa Manolas dkk. Pogba yang lepas dari penjagaan berhasil menerima bola. Pjanic melakukan tackling tepat di luar area penalti. Keputusan kontroversial kembali keluar, penalti untuk Juventus di menit 46. Padahal tambahan waktu yang diberikan hanyalah satu menit. Seydou Keita terlihat tidak percaya atas keputusan Rocchi. Pemain Roma tidak terima, mereka menghampiri tukang adil dan mempertanyakan keputusan tersebut. Sekali lagi, wasit lah yang berkuasa di lapangan hijau. Penalti untuk Juventus tetap ditiupkan dan Tevez kembali mencetak gol keduanya.

Setelah turun minum, permainan berlangsung lambat. Permainan yang keras dibabak pertama terlihat menguras stamina mereka. Beberapa peluang tercipta, Pogba hampir saja mendapatkan kesempatan. Namun bola berhasil disambar Skorupski. Begitu juga dengan Pjanic, umpan dari Gervinho tidak berhasil dimanfaatkan. Memasuki menit – menit akhir, Roma menumpuk pemainnya di tengah untuk menjaga skor. Juventus tetap menunjukkan sisi agresif mereka. Hasilnya tendangan ciamik Bonucci dari luar kotak penalti mengubah segalanya. Biarpun proses terjadinya gol tersebut mengandung unsur offside. Dimana posisi Arturo Vidal terlihat sejajar dan menghalangi pandangan kiper.

Rasa frustrasi berada dipundak pemain – pemain Roma. Mereka kembali bermain agresif dan menyerang. Puncaknya, Manolas terlibat perseteruan dengan Alvaro Morata. Manolas terpancing emosinya karena tekel Morata yang berbahaya. Kedua pemain terlibat adu mulut dan saling dorong sebelum dipisah oleh Allegri. Beberapa pemain Juve dan Roma menghampiri mereka untuk meredakan tensi. Akhirnya kartu merah dilayangkan untuk Manolas dan Morata. Nampak mengulang kejadian di tahun 2001, ketika Asuncao bersama Tachinardi diusir dari lapangan hijau pada menit-menit akhir.


Secara keseluruhan, Juventus memang menunjukkan agresivitasnya dihadapan Maicon dkk. Total 20 tembakan mereka lakukan, 5 diantaranya tepat sasaran. Namun apabila dilihat dari segi permainan, kedua kubu menunjukkan sisi atraktif dari taktik yang mereka terapkan. Chiellini tampak terlihat kesulitan mencegah serangan Roma, terutama ketika Gervinho menguasai bola. Begitu pula dengan kecerdikan Tevez mencari posisi yang nyaman dan melakukan tembakan. Sebuah pelajaran bagi Skorupski dan Mapou Yanga-Mbiwa yang malam itu bermain tidak tenang, kurang fokus dan kerap tidak terkoneksi dengan rekan-rekan yang lain. Permainan yang menyenangkan dan menyebalkan tentunya. Bagaikan mendengarkan musik dangdut. Iya, dikala hati sedang dirundung duka, kita tetap berjoged, tersenyum dan bergembira.

Karena Wasit Memang Hitam dan Putih
Kenapa Gianluca Rocchi yang disalahkan ? lagi-lagi wasit yang menjadi kambing hitam. Wasit kerap luput layaknya manusia biasa. Segala yang ada di dunia terkadang hitam, kadangkala putih. Begitu juga dengan sosok yang bernama wasit. Presiden FIGC, Carlo Tavecchio agaknya ingin meredakan tensi. Ia berujar, bahwa setiap wasit pasti mempunyai kesalahan dan kita harus memakluminya. Seusai pertandingan, Rudi Garcia memang menyayangkan beberapa kebijakan yang dikeluarkan Rocchi. Biarpun, ia juga menyatakan bahwa Roma tidak mampu menyelesaikan kesempatan yang sudah berada di depan mata. Merujuk pada peluang yang diperoleh Gervinho dan Pjanic.

Jadi, begini kawan – kawan. Ketika Roma unggul 2-1, babak pertama hampir berakhir. Detik jam sudah menunjukkan 46 menit lebih sedikit dan wasit menunjuk titik putih. Pertanyaannya, kenapa Rocchi tidak menyemprit peluit sebelum “pelanggaran” oleh Pjanic terjadi ? apa karena posisi Juventus sedang menyerang, bukan dalam kondisi bola mati ? Kalaupun memang pelanggaran, kenapa bukan tendangan bebas ? Maaf kalau sedikit berkonspirasi. Tapi ini masalah mental ketika bermain. Secara mental, pemain – pemain Roma sudah jatuh terlebih dahulu ketika wasit menyulap tendangan bebas menjadi penalti. Selanjutnya, Rocchi mengeluarkan Rudi Garcia. Semuanya memang hak sang pengadil lapangan kala itu.  Mental Roma sempat naik ketika mereka berhasil unggul 1-2 atas La Vechia Signora. Tapi gairah mereka kembali anjlok disaat seharusnya peluit berbunyi dan bola tetap bermain lalu muncul penalti. Keputusan tersebut setidaknya membuat kubu Juventus masih mempunyai harapan dan tidak berada dalam posisi yang tertekan ketika turun minum. Apabila skor tetap 1-2, tentu Roma bisa bermain lebih tenang, fokus dan tidak merasa curiga.

Seharusnya Rocchi memberikan penalti ketika Marchisio dilanggar oleh Holebas di menit ke 10. Agak sedikit menduga-duga memang, apabila penalti tersebut diberikan, tensi permainan tidak akan panas. Sebab keputusan tersebut tidak kontroversial dan Rocchi terlihat sebagai sosok yang dipercaya. Jadi, siapa sutradaranya bung ?

Selain dua penalti, apakah proses terjadinya gol Bonucci juga patut diperdebatkan ? sebenarnya bisa apabila mengacu pada aturan FIFA, seperti yang pernah dijelaskan oleh Pandit Football. Saat itu posisi Arturo Vidal berada sejajar dan menghalangi Skorupski. Lihat gambar dibawah, sesuai dengan Laws of the Game no 11 FIFA, Vidal bisa dianggap mengganggu pandangan Skorupski terhadap bola yang akan bergulir. Biarpun Vidal tidak menyentuh bola tersebut, namun ia berkesempatan untuk menganggu lawan dan kemungkinan besar bisa memperoleh bola.


Tapi toh, pihak Roma juga diingatkan oleh Marotta selaku manajer utama kubu Juventus. Roma pernah mendapatkan peristiwa serupa ketika melawan Juventus di tahun 2010. Saat itu penalti diberikan kepada Roma karena handball Simone Pepe. Proses terjadinya penalti mirip dengan kasus handsballnya Maicon. Dirinya juga mengingatkan, bahwa Juventus sudah mendapatkan hukuman atas segala kontroversialnya. Dua scudetto yang hilang dan harus rela turun kasta. Pernyataan tersebut memang patut diamini. Jangan lupa juga, ketika Roma menjamu Juventus di tahun 2012. Peristiwa yang diingat tentu tendangan Totti yang menghujam keras ke gawang Buffon. Tapi perlu diingat, saat itu Juventus mendapatkan hak untuk melakukan tendangan sudut. Sampai – sampai Buffon maju ke depan untuk turut membantu. Ketika Juventus bersiap – siap melakukan corner kick, wasit malah meniup peluit tanda berakhirnya pertandingan. Juventus jelas dirugikan saat itu dan pihak Roma tidak bisa mengelak tentunya.



Agak disayangkan memang, keharmonisan Roma dan Juve harus pudar. Mereka sempat saling bergandengan tangan ketika mendukung pencalonan Albertini. Mereka bersikeras menolak pencalonan Tavecchio menjadi presiden FIGC. Terutama setelah komentar rasis yang dilontarkan pria asal Ponte Lambro tersebut. Terlalu banyak perseteruan di pertemuan kemarin, amat emosional. Totti harus kembali menghadapi kenakalan Lichsteiner. Begitu juga dengan Holebas yang sempat adu mulut dengannya. Ditambah Radja Nainggolan yang mewarisi keberingasan Daniele De Rossi. Puncaknya, keributan yang melibatkan dua pemuda belia, Manolas dan Morata.

“kontrak wasit dengan juventus ini habisnya kapan.” (Pindho Adiyaksa / sarjana Antropologi, pecinta AS Roma)

“Jangan salahkan Wasit, nikmati saja partai seru ini 👏👏👏 Forza Roma” (Tio Nugroho / presenter bola sekaligus fans AS Roma)

Keep Calm Roma, Dont’ Panic..
Pertandingan memang usai, namun perang kata – kata masih terus terlontar dari kedua kubu. Begitu pun dengan media – media di Italia. “Rocchi Horror Picture Show”, “Rocchi was a disaster”, “a falsified league”. Ketiga kalimat tersebut termasuk beberapa headline di Italia sana. Seperti yang disampaikan pengamat sepakbola Italia, Maurizio Crosetti. Insiden – insiden yang terselip pada pertandingan kemarin akan terus dibahas selamanya. Baik di kantor, pabrik, sekolah, kereta, televisi, twitter dan koran. Dugaan tersebut memang terjadi, kontroversi adalah hal menarik untuk diulas, dikonsumsi atau dikomersilkan. Damiano Tommasi selaku ketua Asosiasi Pemain Italia dan mantan pemain Roma turut berkomentar.
“It was a game between 2 well balanced teams. It's a shame there's more talk about controversy than the game's excitement" (Damiano Tommasi)

Beberapa komentar terkait pertandingan antara Juventus dan Roma memang terkesan menyulut amarah. Tapi, adapula yang berkomentar netral. Berikut ini beberapa komentaratau pendapat yang dilontarkan. Baik oleh media – media dan pengamat sepakbola yang berbasis di Roma.

Memang sedikit mengecewakan melihat komentar Totti dan Rudi Garcia selepas pertandingan. Kritik mereka terhadap Juventus begitu terang – terangan dan tidak terkontrol. Kemarahan jelas menyelimuti tubuh mereka. Seharusnya mereka sudah bisa berpikir dewasa tanpa mengeluarkan kritik yang teramat panas. Tandanya, Juventus sudah menang dua kali. Pertama, kemenangan di lapangan hijau dengan skor 3-2. Kedua, keberhasilan mereka membuat kubu AS Roma panik dan naik pitam.

Sikap diplomatis ditunjukkan oleh Buffon dan Maicon. Kapten timnas Italia tersebut menolak untuk berkomentar terkait keputusan Rocchi. Buffon sendiri merasa bahwa pertandingan kemarin berlangsung menarik. Juventus dan Roma satu level, tidak ada jarak diantara mereka. Maicon memang memberikan kritik terhadap Rocchi berhubungan dengan penalti Juventus yang pertama. Namun, ia juga menyatakan bahwa Juventus tetaplah kandidat favorit Scudetto.

Tidak ketinggalan pendapat Walter Sabatini yang menganggap bahwa ketiga golJuventus tidak valid. Biarpun ia memuji memuji tendangan ajaib Bonucci. Sabatini sendiri tidak menyesali kekalahan Roma, ia senang dengan penampilan Keita dkk malam itu. Berbeda dengan Pavel Nedved yang mengecam komentarTotti. Mantan pemain Lazio itu mengutarakan, bahwa Totti tidak mengerti apa-apa tentang Juventus.

Pertandingan yang disaksikan Pep Guardiola tersebut sudah dua hari berlalu. Jeda internasional telah tiba dan Roma akan rehat selama seminggu lebih. Kekalahan atas Juventus wajib dilupakan secepatnya. Masih banyak pertandingan yang akan dijalani. Musim ini, kesabaran menjadi ujian terbesar bahkan terberat bagi Roma.

Laga yang diakhiri dengan kemenangan di tangan La Vechia Signora kemarin, menunjukkan beberapa sisi positif. Setidaknya pemain – pemain Roma terlihat semakin erat. Punggawa Giallorossi yang absen karena cedera seperti Strootman, De Rossi dan Astori hadir di Juventus Stadium untuk mendukung rekan-rekan mereka. Sebuah suntikan motivasi ditunjukkan atas kehadiran ketiga pemain tersebut. Reaksi De Rossi bahkan sempat tertangkap kamera. Lalu muncul kabar Strootman mengungkapkan kemarahannya dihadapan fans Juventus. Rumornya, dikarenakan fans Juventus menghina Ljajic karena beragama Islam. Berita tersebut memang simpang siur, mengingat salah satu pemain Juventus juga menganut Islam, yaitu Paul Pogba.

Percikan – percikan emosi mesti dihapus. Pada tanggal 18 Oktober, Roma akan menghadapi Chievo Verona dan wajib menunjukkan tajinya. Jangan sampai kekalahan di pekan kemarin menghancurkan mental juara yang sedang dibangun.
La Tua Forza, La Nostra Fede. Forza Roma !

   
"It's hard to make predictions for Juventus-Roma, I hope it's a good game. The title? I think Roma will win it” (Carlo Ancelotti)


"I ask everyone to believe in the scudetto even more. Referees and other considerations apart, what matters is the football - Roma, nine months on from that game on January 5, have improved immeasurably and they are having difficulties" (Tonino Cagnucci)

Tambahan, artikel terkait yang mesti disimak :
Blogistuta – Juve 3-2 Roma
Football Italia – Roma are none the wiser

Minggu, 05 Oktober 2014

Rivalitas itu Terbit Kembali


Romantisme Rivalitas Juve dan Roma
Pada pekan ini, beberapa mantan punggawa AS Roma dan Juventus mengeluarkan statementnya terkait kans Scudetto dan rivalitas Juve – Roma di musim ini. Kedua klub tersebut akan bertemu nanti malam di Juventus Stadium. Mirko Vucinic bersikap netral, namun ia berpendapat bahwa Juve adalah John Cena, sedang Roma adalah Batista. Lalu Zbigniew Boniek, ia berujar bahwa persaingan Juventus – Roma mengingatkannya pada era 80an. Dimana Boniek sempat membela kedua klub tersebut dan merasakan aroma persaingan yang begitu pekat. Don Carlito, mantan kapten Roma yang paling sukses juga memberikan pendapat, ia memprediksi bahwa Roma akan juara di musim ini. Di sisi lain, Antonio Cabrini berujar bahwa Juventus akan meraih tiga poin.

Buffon merasa senang dengan persaingan di musim kemarin. Serie A kembali kompetitif, tidak lagi didominasi oleh penguasa tunggal. Pernyataan paling seru jelas muncul dari Lichsteiner. Ia berujar, Roma bagaikan seorang lelaki yang menghembuskan nafas dileher sang Nyonya Tua. Il Capitano tak ketinggalan untuk membuka mulut. Pada bulan Januari 2014, ia berpendapat bahwa Juventus selalu dibantu “pihak” lain. Nampak mengulang kembali pernyataan Totti di tahun 2005. Kala itu dirinya mendapat hukuman dari FIGC karena menyatakan, ketika melawan Juve, berarti kita harus berhadapan dengan 14 orang. Sebelas pemain, dua penjaga garis dan satu wasit. Begitupun dengan Morgan De Sanctics, Juventus menjadi kuat karena “Italian system”. Karena itulah ketika dilapangan, secara psikologis Juventus amatlah diuntungkan.

Era 80an, persaingan sengit antara Juve dan Roma memang tercipta pada dekade tersebut. Juventus dihuni berbagai macam pemain bintang Italia macam Dino Zoff, Cabrini, Gentille, Sciera atau Paolo Rossi. Lalu bintang Prancis yang sekarang menjadi presiden UEFA juga pernah menghuni skuad Juventus, Michel Platini. AS Roma kala itu tidak kalah hebat sebenarnya. Namun komposisi skuadnya bisa dikatakan kurang imbang. Setidaknya pemain sekaliber Bruno Conti, Falcao, Di Bartolomei, Pruzzo, Ancelotti pernah hinggap di kubu Il Lupi. Masing – masing klub juga diasuh pelatih yang ciamik. Trapattoni berada di Turin, Nils Liedholm mendiami kota Roma.

Permusuhan Juventus dan Roma di era 80an tidak melulu di tengah lapangan. Ada cerita bahwa masing – masing presiden kerap lempar – lemparan pendapat di koran lokal Italia. Suatu ketika, Dino Viola pernah menerima surat dari Giampiero Boniperti, presiden Juventus, entah apa isinya. Kontroversi memang kerap melekat di tubuh Juventus. Di tahun 1983, mereka berhasil mengalahkan Roma pada menit – menit akhir. Konon posisi Platini lebih dahulu offside, ia lalu memberikan crossing dan disambar Sergi Brio, skor 2-1 untuk Juventus.

Sebelumnya di tahun 1981, menurut versi dari kubu Roma, kemenangan mereka telah dicuri. Saat itu Turone berhasil menceploskan bola ke gawang Dino Zoff, namun wasit menganulir gol tersebut. Peristiwa tersebut menjadi pembahasan utama di media – media Italia. Lucunya wasit pada pertandingan diatas adalah Paolo Bergamo, sosok yang pernah terlibat skandal calciopoli di tahun 2006. Persaingan kedua kubu juga menyulut Gianni Agnelli untuk angkat bicara. Ia berkelakar, “Roma sudah mempunyai Paus, Giulio Andreotti, dan matahari. Setidaknya, meninggalkan kita sebuah Scudetto..” Perseteruan yang melibatkan dua kubu diatas pernah diulas oleh James Horncastle dengan apik, silahkan simak disini.

Toh Roma sendiri juga tidak lepas dari skandal. Luciano Moggi yang dianggap sebagai aktor utama Calciopoli pernah bergabung dengan klub ibukota tersebut. Dia pernah mengatur sebuah pertandingan antara Roma kontra Dundee United. Hasilnya, Roma mampu lolos ke final Champions League di tahun 1983. Moggi oh Moggi. Dari Moggi mari kita menuju ke Zeman. Kisah Roma dan Juve kembali memanas ketika Il Lupi ditangani si tua Zdenek Zeman. Zeman sempat menuduh bahwa Del Piero dan Gianluca Vialli memakai doping. Pernyataan tersebut jelas membuat kuping panas para fans Juventus.


Dari Nakata ke John Arn Riise
Kemenangan terakhir Roma di kandang Juventus terjadi pada tahun 2011. Roma memang kalah superior dengan Juventus. Statistik mencatat bahwa Roma baru menang 40 kali atas Juventus dari 167 pertemuan. Nanti malam, Roma akan dijamu oleh Juventus. Apakah mereka mampu membawa pulang tiga poin ? Mari kita bernostalgia sebentar.

Bulan Mei tahun 2001, saat itu Juventus menjamu serigala ibukota, AS Roma di Stadion Delle Alpi. Babak kedua memang belum berakhir, namun Juventus sudah unggul 2-0 sejak menit-menit awal. Gawang Van Der Sar masih perawan bung. Er Pupone akhirnya ditarik oleh Fabio Capello, digantikan si sipit Nakata. Permainan terus berlanjut, dari luar kotak penalti, Nakata melakukan tembakan dan berbuah gol. Skor berubah menjadi 2-1. Permainan mulai memasuki menit-menit akhir, Roma terus melakukan penetrasi di area pertahanan Juventus. Tendangan Nakata berhasil dihalau pemain Juventus, kemelut terjadi di depan Van Der Sar. Bola yang terus berputar lalu disepak oleh Montella. Ia berlari kegirangan, terbang di Delle Alpi dan selebrasi di depan fans Roma yang jauh – jauh berkunjung ke Turin. Nampak, Capello tersenyum kegirangan, begitupun dengan pemain Roma yang lain. Pertandingan memang berakhir 2-2, namun hasilnya bukan hanya skor belaka. Intesitas pertandingan semakin memanas, Alesio Tachinardi dan Marcos Asuncao di hadiahi kartu merah karena terlibat adu mulut. Hasil tersebut amat bernilai bagi Roma, mereka mampu memotong jarak dengan Juventus. Enam minggu kemudian, Roma berpesta di Olimpico, kalau tidak percaya silahkan tanya ke kapten Juventus sekarang.

Sembilan tahun setelah itu, Roma kembali bertandang ke Turin. Juventus yang ditangani Ciro Ferarra sempat unggul 1-0 atas gol yang dicetak Del Piero. Serangan demi serangan terus dibangun, baik oleh Roma maupun Juventus. Rodrigo Taddei yang sedang mengolah bola tiba-tiba dilanggar di kotak penalti oleh pahlawan Italia, Fabio Grosso. Il Capitano berhasil membobol gawang Buffon dari titik putih. Bencana kembali menimpa Juventus, sang kapten diganjar kartu merah. Buffon yang kelabakan, maju ke depan dan memutuskan untuk menyapu bola sedang dikontrol John Arn Riise. Sayang, pelanggaran dilakukan oleh Buffon, kartu merah langsung. Totti sempat menyambut Buffon dan memeluknya, sebelum sang rekan keluar dari lapangan. Skor 1-1 masih bertahan hingga menit 90. Dari sisi kanan, Pizzarro memberikan umpan silang ke John Arn Risse. Bola tersebut lalu diterjang oleh Riise yang bergerak tanpa pengawalan. Sundulannya membuahkan hasil, Roma membawa pulang tiga poin.


Menimbang permainan Juventus dan Roma
Tren positif memang sedang diraih oleh masing-masing klub. Juventus dan Roma bertengger di papan atas dengan poin yang sama. Mereka belum pernah terkalahkan diajang domestik, bersama Sampdoria tentunya. Begitupun dengan Buffon yang belum pernah pernah kebobolan di Serie A. Di ajang Champions League kemarin, Juventus kalah dihadapan pendukung Atletico Madrid. Berbeda dengan Roma, setidaknya mereka berhasil membawa pulang satu poin. Petualangan mereka di tanah Inggris tidak sia – sia. Sang kapten pun dinobatkan menjadi pencetak gol tertua di ajang Champions League. Masing – masing hasil diatas tentu menjadi motivasi tersendiri bagi mereka.

Agaknya Juventus memang diuntungkan untuk pertandingan nanti malam. Kandang Juventus selalu angker. Lini pertahanan mereka juga sulit dibongkar. Roma sendiri dalam kondisi yang mengkhawatirkan sebenarnya. Beberapa pemain kunci absen karena cedera, De Rossi, Castan, Astori, De Sanctics, Boriello (mungkin bukan pemain kunci) ditambah cedera panjang yang mendera Strootman dan Balzaretti. Hal tersebut berakibat pada rotasi pemain yang tidak sempurna. Bayangkan, Keita, Pjanic, Nainggolan, Manolas dan Yanga Mbiwa hampir bermain 90 menit, setidaknya dalam tiga laga terakhir (Parma, Verona dan Manchester City). Tentu kebugaran menjadi masalah bagi kelima pemain tersebut. Selain itu, Skorupski juga belum teruji diajang Serie A. Beruntung pemuda Polandia tersebut, benteng pertahanan yang dimotori Manolas dan Yanga Mbiwa memang kokoh ketika melawan City. Tapi City bukan Juventus yang sudah familiar dengan permainan Roma. Biarpun, Juventus sendiri juga mempunyai masalah dengan kebugaran pemain mereka.

Strategi Antonio Conte memang dijiplak oleh suksesornya, Masimilliano Allegri. Memakai strategi 3-5-2, Juventus kerap memasang dua striker utama mereka, yaitu Llorente dan Tevez. Bisa ditebak bahwa lumbung gol berpusat kepada dua penyerang tersebut, terutama Carlos Tevez yang sudah mengoleksi tujuh gol sejauh ini. Dua striker mungkin bisa diimbangi dengan dua bek tengah ditambah Keita dan Nainggolan yang kerap memotong alur serangan. Hanya saja, dua pelapis bek tengah Roma memang kurang mumpuni. Michele Somma dan Arturo Calabresi masih terlalu hijau untuk bermain di pertandingan besar kontra Juventus. Namun, satu hal yang patut diwaspadai justru berasal dari wingback, terutama Lichtsteiner. Mantan pemain Lazio tersebut dikenal dengan kecepatannya serta staminanya yang kuat. Tentu hal tersebut menjadi ujian berat bagi Ashley Cole atau Holebas. Roma sendiri dikenal susah diprediksi alur serangannya. Mereka memang memakai tiga penyerang, namun bukan striker murni layaknya Llorente atau Tevez. Skema tersebut mungkin membingungkan rival – rivalnya. Namun, apabila lini pertahanan Juventus mampu mengimbangi kecepatan Gervinho atau Iturbe, kemungkinan besar tiga poin mampu mereka raih.

Satu lagi kelemahan Roma adalah ketidakmampuan mereka untuk bermain positif selama 90 menit. Di menit – menit akhir mereka kerap kali kelelahan dan dibombardir serangan bertubi – tubi. Pertandingan melawan Fiorentina, Verona, Parma dan City menjadi contohnya. Jadi, satu hal yang wajib dilakukan Roma adalah cetak gol secepatnya, supaya mereka tidak kecolongan di injury time. Ingat, kiper Roma bukanlah De Sanctis yang sering melakukan penyelamatan ajaib. Selain itu, Roma tidak punya pelapis bek tengah. Kabar buruk bagi Roma adalah isu bahwa Pirlo sudah fit dan bisa dimainkan. Apabila Pirlo bermain, kemungkinan besar ruang kreatifitas yang biasa dibangun Totti dan Pjanic akan tumpul. Medan serangan yang biasa dibangun dari lini tengah dengan mudah akan dipotong oleh Juventus.

Kisah antara Juventus dan Roma kerap putus nyambung. Iya, rivalitas mereka tidak pernah abadi. Tak seperti persaingan antara Juventus dengan Inter ataupun dengan Milan. Wajar, sebab merekalah penguasa titel Serie A sejauh ini. Juventus mungkin menjadi musuh semua klub di Italia. Iya, mungkin mereka iri atas mahkota – mahkota yang mampu diraih si Nyonya Tua. Fiorentina pun begitu benci dengan Juventus. Mereka beranggapan bahwa Juventus sudah berebut hak Scudetto La Viola di musim 1982. Begitu pula dengan kebencian Napoli atas Bianconeri, sampai – sampai mereka mengadakan “pemakaman” untuk Juventus dan Milan di bulan Mei 1987, ketika mereka mampu meraih Scudetto untuk pertama kalinya. Bersyukurlah, bahwa Juventus kembali menemukan pesaing lamanya. Genderang perang sudah mulai ditabuh, siapa yang akan tercabik malam ini ? Semoga sang Kaisar Roma mampu merayu si Kekasih Italia dan membuatnya takluk, bertekuk lutut dihadapannya.

Senin, 22 September 2014

S-21: The Khmer Rouge Killing Machine : Menyelami Kepedihan, Penghancuran dan Kebimbangan Para Korban


“There are no more ideals, no more human conscience. We distinguish man from animals. Men are different from animals, they're two distinct things, man and animal. If men turn human beings into animals, or worse than animals, then.. that's not right. It's not right. If you think about the world "destruction", it's more than cruel. In the word "kill", there still seems to be a moral aspect. In "destruction", there's nothing human left. We become dust, just particles blowing in the wind. Annihilation, nothing. In "kill" there was still.. we still had a certain value. "Destruction" is the end. Even for animals you don't speak of destroying, but of killing. We become dust in the wind. There's no humanity left. I think that "destruction" refers to flesh, to the body, but not to the soul”

(Van Nath)



Beberapa pekan yang lalu, seorang teman yaitu mbak Heni, menawari saya untuk menonton S-21: The Khmer Rouge Killing Machine. Film tersebut disutradari oleh Rithy Panh dan selesai pada tahun 2003. S-21: The Khmer Rouge Killing Machine menceritakan tentang kekejaman rezim Khmer Merah di Kamboja, dibawah pimpinan Pol Pot. Rithy Panh sendiri dikenal kerap membuat film dengan latar belakang Khmer Merah. Baru – baru ini dirinya menyelesaikan The Missing Picture (2013) dan masuk nominasi di ajang Academy Awards. 

Di Bawah Kendali Khmer Merah 
Saat Khmer Merah berkuasa di Kamboja pada kurun 1975 – 1979, kelompok yang kontra revolusi dihabisi oleh pemerintahan Pol Pot. Seperti yang disampaikan Benedict Anderson, ada tiga pihak yang turut terlibat, yaitu loyalis Sihanouk, kelompok Lon Nol yang militeristik serta rezim Pol Pot yang memakai tameng komunis. Lon Nol sendiri menggulingkan Pangeran Sihanouk di tahun 1970 dengan suntikan dana dari Amerika Serikat. Perang saudara lalu meledak di Kamboja dan dimenangkan oleh Pol Pot di tahun 1975. Tepatnya di tanggal 17 April 1975, ketika pasukan Khmer Merah berhasil menguasai Pnom Penh. Ada kabar bahwa Sihanouk menyerahkan mandat kepemimpinannya kepada Pol Pot. Kaum loyalis Sihanouk pun turut mendukung pemerintahan Pol Pot. Akhirnya didirikanlah pemerintahan Democratic Kampuchea (DK) dan Pol Pot menjabat sebagai perdana menteri.

Rezim Pol Pot memang menghendaki adanya masyarakat tanpa kelas yang disokong oleh kaum – kaum petani. Tidak heran apabila ada kebijakan relokasi penduduk kota ke desa – desa dan dipekerjakan sebagai petani. Segala sesuatu yang berbau asing juga dibinasakan. Imbasnya merembet kepada kaum intelektual yang notabene fasih berbahasa asing. Mereka yang berprofesi semacam guru, dosen, dokter atau tenaga ahli ditangkapi, disiksa bahkan dibunuh oleh pemerintah Angkar (sebutan lain pemerintahan Khmer Merah). Parahnya, penduduk yang berkacamata pun ikut ditangkap dengan alasan mewakili ciri khas kaum intelektual atau kelompok profesional. Selain itu, agama juga dilarang dan sekolah – sekolah ditutup, adapula yang dihancurkan. Di desa – desa, didirikan kamp – kamp untuk dihuni para penduduk yang dipaksa untuk bertani. Nah, gambaran tersebut dapat kita tonton dalam film The Killing Fields. 

Ijinkan saya untuk melebarkan pembicaraan terlebih dahulu. Film The Killing Fields merupakan adaptasi atas pengalaman pribadi dua orang jurnalis, yaitu Dith Pran dan Sydney Schanberg. Dith Pran sendiri sempat merasakan sadisnya rezim Pol Pot. Ia dikirim ke desa untuk dipekerjakan sebagai petani. Karena itulah Sydney Schanberg harus berpisah dengan Dith Pran dan kembali ke Amerika. Film tersebut disutradarai oleh Roland Joffe dan berhasil menyabet tiga nominasi di ajang Academy Awards. Uniknya, Haing S Nagor, aktor yang memerankan Dith Pran juga pernah menjadi pekerja paksa dan berhasil menyelamatkan diri. Sebelum menonton S-21: The Khmer Rouge Killing Machine, alangkah baiknya menyimak film The Killing Fields sebagai acuan historis (latar belakang). Bagi saya, The Killing Fields amatlah menyentuh. Diiringi lagu “Imagine” nya John Lennon, sayapun sempat menitikkan air mata di ending film tersebut, huhuhuhu.

Baiklah, mari kembali membicarakan Pol Pot dan rezimnya. Jadi, selain mendirikan kamp – kamp di desa, banyak didirikan pula penjara untuk menahan dan menghabisi simpatisan Lon Nol serta warga yang tidak sepaham dengan pemerintahan Khmer Merah. Rithy Panh sendiri sempat merasakan kekejaman pemerintahan Khmer Merah. Beruntung dirinya masih bisa selamat dari bayang – bayang kematian. Salah satu penjara yang dianggap paling mengerikan adalah S-21 (Security Prison 21). Ada puluhan ribu tahanan di penjara yang sebelumnya merupakan gedung sekolah tersebut (dulunya bernama Chao Ponhea Yat High School), konon hanya ada tujuh orang yang selamat. Nah, penjara S-21 tersebut yang menjadi objek utama di dalam film S-21: The Khmer Rouge Killing Machine. Sekarang bangunan tersebut dijadikan museum, yaitu museum Tuol Sleng. Untuk mengingat dan menjadi pelajaran sejarah bagi warga Kamboja atas tragedi dibawah pemerintahan Khmer Merah.

Bergaya dan Mengulik Kembali Sebuah Memori 
Sebelumnya, mbak Heni sempat bercerita, bahwa Joshua Opeinheimer terinspirasi dengan film diatas. Ketika Joshua Oppenheimer membuat film The Act of Killing, dirinya terkesan dengan gaya penceritaan film S-21: The Khmer Rouge Killing Machine. Di dalam film The Act of Killing terdapat adegan semacam rekonstruksi cara menghabisi simpatisan PKI. Nah, film S-21: The Khmer Rouge Killing Machine juga memakai gaya semacam itu. Para mantan petugas penjara S-21 dihadirkan dalam film tersebut untuk menggambarkan bagaimana cara mereka menginterogasi, melayani atau menghabisi tahanan. Hanya saja cara Rithy Panh untuk merekonstruksi ulang lebih realis. Berbeda dengan The Act of Killing yang cenderung berlebihan serta imajinatif.

Mungkin gaya penceritaan S-21: The Khmer Rouge Killing Machine adalah kebalikan dari film Nuremberg. Sama – sama merekonstruksi ulang sebuah peristiwa namun tujuan serta hasilnya berbeda. S-21: The Khmer Rouge Killing Machine menjadi sebuah film dokumenter sedangkan Nuremberg bukanlah film dokumenter.

Selain fokus menggambarkan ulang proses serta keseharian di penjara S-21. Film S-21: The Khmer Rouge Killing Machine juga mempertemukan kembali dua orang tahanan yang selamat, yaitu Vann Nath yang berprofesi sebagai pelukis dan Chum Mey, seorang mekanik. Uniknya, mereka berdua juga dipertemukan dengan beberapa mantan petugas penjara S-21. Mereka bertugas di S-21 ketika masih belia, ada yang bertugas sebagai dokter, fotografer, penjaga sel, juru ketik, interogator, tukang jagal, sopir.

Film S-21: The Khmer Rouge Killing Machine diawali dengan footage – footage berupa bangunan, gedung dan jalan raya disekitar kota Pnom Penh. Selanjutnya footage tersebut ditabrakkan dengan kedatangan Pol Pot bersama pasukannya, mungkin sedang melakukan inspeksi atau blusukan. Kota tersebut terlihat kosong, terdengar sayup-sayup suara ledakan atau mungkin tembakan. Beberapa bangunan rusak, adapula yang terbakar. Lalu tibalah di sebuah desa yang “dihiasi” para petani, mereka memikul sesuatu, entah apa tidak jelas isi dan bentuknya. Apakah ada yang tahu lagu apa yang mengiringi scene tersebut ? Yak, Anthem of Democratic Kampuchea, liriknya seperti ini : 
“Bright red blood that covers cities and plains of Kampuchea, our motherland. Sublime blood of workers and peasants. Sublime blood of revolutionary fighting men and women.” 

Berikutnya muncul scene orang – orang bercocok tanam. Salah satu sosok dari mereka adalah Houy Him, mantan deputi penjara S-21. Di rumahnya, Houy Him bercakap – cakap dengan kedua orang tuanya. Mereka membicarakan masa lalu Houy Him yang sempat bekerja dibawah rezim Khmer Merah. Orang tua Houy Him menyuruh anaknya untuk mengelar sebuah upacara, supaya tidak ada karma yang menimpa keluarga mereka. Houy Him kerap merasakan nyeri dikepalanya dan tak kuat makan apabila mengingat masa lalunya. Di scene lain, Houy Him mengutarakan, bahwa dirinya sempat meminta kepada Son Sen, selaku Menteri Pertahanan, agar dipindah tugaskan. Ia lebih memilih bertarung di medan perang sebagai tentara, ketimbang mengeksekusi orang, menyiksa dan menginterogasi. Ia meyakini bahwa dirinya bersama rekan – rekan yang lain juga termasuk korban dari kebijakan pemerintah Angkar. 

Scene berikutnya memuat perbincangan dengan Van Nath. Sembari melukis ia menceritakan kisahnya ketika pertama kali masuk penjara S-21. Ia disiksa dengan listrik, kakinya dirantai satu sama lain, matanya ditutup. Rincian peristiwa yang digambarkan Van Nath terpampang pula dengan jelas diatas kanvas. Semua tahanan yang masuk S-21 lalu dipotret. Sisa-sisa foto mereka masih tersimpan di museum Tuol Sleng.


Setelah itu muncul Chum Mey, mantan tahanan yang berhasil selamat. Ia begitu tertekan ketika disuruh bercerita mengenai masa lalunya. Chum Mey kehilangan anak dan istrinya. Tak kuasa ia menahan tangis, berbeda dengan Van Nath yang lebih tegar. Van Nath lalu mengajak Chum Mey untuk melihat arsip – arsip yang terdapat di museum Tuol Sleng. Dulu setiap tahanan diinterogasi dan wajib membuat sebuah pengakuan. Arsip pengakuan Chum Mey ternyata dipelintir, berbeda dengan apa yang sejatinya ia sampaikan. 

Di bagian lain Van Nath berada disebuah ruangan dan melukis wajah Pol Pot. Menurut pengakuannya, ia kerap menulis di tempat tersebut dan disaksikan oleh Duch (Kang Kek Iew), pimpinan penjara S-21. Kepada dirinya, Duch kerap bercerita tentang pelukis – pelukis ternama seperti Picasso dan Van Gogh. Kala itu, ia mengaku tidak mengenal dua nama tersebut. Menariknya, diatas kursi terpampang foto Duch, seolah-olah dirinya sedang mengamati dan bercakap – cakap dengan Van Nath. Ia sendiri mengakui, dirinya selamat karena Duch senang dengan lukisannya. Padahal ada banyak pelukis yang turut ditahan di S-21. Sayang lukisan mereka tidak disukai, nyawapun menjadi bayarannya.

Perlu diketahui, para mantan petugas S-21 juga turut dipertemukan kembali. Mereka pun turut berbincang dan menceritakan ulang peristiwa – peristiwa di penjara bersama Van Nath. Di hadapan para mantan petugas, Van Nath menunjukkan sebuah lukisan. Ia menggambarkan penjara yang diisi para tahanan. Hampir setiap hari ada tahanan yang meninggal. Mayatnya ditinggal begitu saja dan baru diambil 10-12 jam kemudian. Pernah pula kepala seorang mayat ditendang dan disiksa oleh petugas, padahal dirinya sudah tidak bernyawa.


Menurut pengakuan seorang mantan petugas, biro S-21 mencuci otak mereka, didoktrin bahwa semua tahanan adalah musuh, baik anak kecil sekalipun. Para mantan petugas juga merekonstruksi ulang, bagaimana mereka menyusuri beberapa sel serta mencatat setiap kejadian. Tersisa sebuah arsip yang menceritakan tentang seorang tahanan yang menutup lubang kunci dengan kapas. Ada juga yang menangis, tidak mengerti kenapa Angkar menganggap dirinya sebagai musuh. Ada pula seorang tahanan yang komplain karena kurang asupan makan. Semua kejadian tersebut tercatat dan tersimpan dengan baik di museum Tuol Sleng. 

Mereka yang dulu bertugas di S21 tetap bersitegas, bahwa apa yang dikatakan oleh pemerintah adalah benar. Semua yang masuk penjara adalah musuh dan bersalah. Van Nath mempertanyakan rasa kemanusiaan mereka, namun mereka tetap bersikeras, karena semua itu adalah perintah pimpinan dan wajib dipatuhi.


Satu sosok yang unik adalah Prakk Khan, ia bekerja sebagai interogator merangkap penyiksa, tukang pukul atau penganiaya. Ia kembali menyusuri tahanan, berjalan menuju sel yang sedang ia tuju. Di telapak tangannya tertulis nomor sel, tempat tahanan yang akan dia bawa untuk diinterogasi. Prakk Khan pun sampai di sel nomor 39 dan meminta penjaga penjara untuk membawa tahanan nomor 13. Penjaga tadi menyuruh tahanan nomor 13 untuk berdiri. Borgol dikakinya dilepas, lalu menutup matanya dengan kramar dan mengikat tangannya. Tahanan lalu seolah-olah diserahkan kepada Prakk Khan.


Prakk Khan lalu membawa tahanan nomor 13 tersebut untuk diinterogasi dan disiksa. Penyiksaan dilakukan untuk membuat tahanan menderita. Dipukuli, diteror dan ditakut-takuti namun tidak boleh sampai mati. Sebelum diinterogasi tahanan harus diperiksa dahulu kesehatannya. Ternyata di penjara S21 terdapat tiga grup interogator (lebih tepatnya tukang pukul). Prakk Khan tergabung dalam grup Rabid yang dipimpin A'Nan. Dua grup lainnya bernama Mild dan Hot. Mild bertugas untuk menginterogasi keterkaitan politik tahanan, apabila memperoleh jawaban, data tersebut dimasukkan ke dokumen. Namun, jika tidak menjawab akan diserahkan ke grup Hot. Di kelompok tersebut, tahanan terlebih dahulu dipukuli dan disiksa. Apabila ada jawaban, pengakuan mereka dimasukkan ke dalam dokumen. Apabila hasilnya tetap nihil, ia akan diambil alih oleh grup Rabid. Eksekusinya masih sama namun lebih sadis. Tahanan dipukuli hingga penuh luka dan berdarah-darah. Beberapa ada yang menjawab dan hasilnya masuk ke dokumen. Apabila tidak menjawab tahanan terusa-terusan dihajar hingga berhari hari, berbulan – bulan, bertahun-tahun sampai luka mereka membusuk. Siksaan dilakukan secara dingin namun kejam. Prakk Khan mengakui saat itu dirinya mempunyai kuasa, merasa arogan dan memandang tahanan seperti binatang.

Pada adegan lain, Houy Him bersama enam mantan petugas berkumpul disatu ruangan. Mereka disuguhi arsip - arsip yang berisikan alasan mereka bergabung dengan Khmer Merah. Houy Him mengaku, ia tertarik dengan cita-cita Angkar yang ingin membuat masyarakat tanpa kelas. Selain itu dirinya juga ingin melawan imperialisme Amerika. Alasan tersebut berbeda dengan Sours Thi yang dulu bekerja sebagai Kepala Bagian Pendaftaran. Dasar utama dirinya bergabung dengan pemerintahan Pol Pot dikarenakan kampungnya pernah di bom oleh Jenderal Lon Nol di tahun 1970. Lebih karena loyalitasnya terhadap Prince Sihanouk yang memerintahkan rakyatnya untuk melawan pemerintahan Lon Nol.


Scene kembali berganti namun berlangsung sebentar. Ada sebuah adegan dimana Chum Mey berdiri. Terdengar suara ketikan dan ia menangis. Bisa jadi dia mengingat awal mula namanya terdaftar dan masuk ke dalam penjara S-21.

Pukul 10 malam, tahanan yang dinterogasi dikembalikan ke sel. Petugas membuka pintu dan memasukkan mereka, memborgol kakinya dan mengunci kembali pintu penjara. Para tahanan dilarang bersuara dan berisik. Ada seorang tahanan yang meminta sup, petugas pun memberikan sup. Ia berteriak memerintahkan tahanan lain untuk tidak mengambil atau merebut sup tersebut. Ia mengancam akan membawanya ke tukang pukul apabila tidak menurut perintahnya. Penjaga penjara tadi juga mengintai sel – sel yang lain. Ia terus – terusan meneror para tahanan agar diam dan tidak menimbulkan keributan.



Cerita Tentang Perempuan dan Darah 
Prakk Kahn disuguhi sebuah foto seorang tahanan yang sempat dia siksa. Ia lalu menceritakan kronologis kejadian. Kakinya dia ikat dan dihubungkan ke meja. Tahanan tersebut dipukuli dan mulutnya dibekap dengan tas. Beberapa kertas yang berisi pengakuan tahanan namun tidak jelas isinya alias tidak sesuai dengan keinginan interogator, diremas-remas lalu dibuang. Ada begitu banyak sampah kertas dalam ruangan tersebut. Tahanan tadi lalu dibawa ke doktor untuk dibalut lukanya. Dokumen tentang penyakit tahanan dibacakan oleh mantan petugas S21. Ada yg kelelahan, dadanya dan perutnya terluka, demam serta terkena gangren. Beberapa tahanan juga terserang disentri, sakit kepala, gangguan pernapasan serta diare. 

Tibalah pertemuan antara Van Nath dengan mantan dokter S21, yaitu Mak Thim, ditemani Prakk Khan. Ia lalu berbicang dengan Van Nath dan mengaku dikirim ke Ta Khmao untuk belajar obat-obatan selama tiga bulan 20 hari. Di saat kursus berlangsung, ia diajari bagaimana cara memberikan suntikan dengan medium bantal, bukan ke manusia langsung. Diajarkan pula cara mengindetifikasi jenis-jenis obat yang ada dalam botol. Mereka juga belajar membuat vitamin C dengan tepung, gula dan cuka. Setelah kursusnya selesai, ia lalu bertugas di S21 untuk menangani para tahanan. Apabila ada tahanan yang terluka sampai pendarahan, ia akan membersihkan luka tersebut dengan air garam lalu diolesi obat merah dan kasa. Untuk tahanan yang menderita kelumpuhan, akan diberi vitamin B12 dan B1 (syaraf). Untuk yang kelelahan diberi vitamin C. Ternyata dokter pun diberi keleluasan untuk memukuli tahanan yang sedang ia periksa disamping mengobati pasien. Van Nath lalu menunjukkan sebuah dokumen mengenai seorang tahanan yang memukul kepalanya dengan lampu minyak. Ia bertanya, apakah dirinya mengetahui kejadian tersebut. Mak Thim menjawab tidak tahu, namun mendengar peristiwa tersebut. Ada juga seorang tahanan yang sedang menulis pengakuan, namun pena yang ia pakai malah digunakan untuk menusuk tenggorakannya. Mak Thim tahu namun bukan dirinya yang mengobati tahanan tersebut.


Terdapat pula bagian donor darah di penjara. Van Nath memegang sebuah dokumen yang bertuliskan “Destruction for blood”. Jangan bayangkan seperti donor darah pada umumnya. Proses pengambilan darah tidak sesuai dengan prosedur dan jumlah yang diambil per orangnya bisa mencapai tiga atau empat kantong darah. Mak Thim tidak tahu prosesnya, setahu dia darah yang diambil akan dimasukkan ke kulkas dan diletakkan entah dimana. Prakk Khan mengetahui proses pengambilan darah tadi. Para tahanan direbahkan di atas tempat tidur yang tidak ada kasurnya, hanya beralaskan besi. Kakinya digantung, mata dan mulutnya ditutup. Kedua lengannya dipasangi selang dengan dua buah kantong darah. Selepasnya, tahanan tersebut tidak merasakan apapun, matanya melotot dan jantungnya terus berdetak. Menurut cerita Prakk Khan, tahahan tadi lalu dikubur disebuah lubang yang sudah mereka gali, dekat dengan penjara. Kantong – kantong darah tadi dikirim ke rumah sakit utama apabila mereka membutuhkan. Biasanya sekitar sebulan atau dua bulan sekali. Prakk Khan melihat ada sekitar 20 orang yang diambil darahnya. 

Prakk Khan sendiri mempertanyakan, kenapa setiap tahanan disini selalu diinterogasi. Mereka ditanyai mengenai kehidupan pribadi mereka. Berbeda dengan yang ada di desa- desa, mereka disuruh menanam kentang, tapi tidak diinterogasi dan pada akhirnya tetap dibunuh juga. Prakk Khan mengaku menginterogasi seorang perempuan muda, yang bernama Nay Nan. Berdasarkan data, ia adalah seorang dokter di Rumah Sakit 98. Selama empat sampai lima hari nihil hasilnya. Ia bertanya apa organisasi yang ia ikuti, apa hubungannya dengan kepala organisasi tersebut ? namun gadis tadi tetap tidak menjawab. Ia pun bertanya ke Duch and Chan (Kepala Unit Interogasi) apa yang harus dilakukan supaya perempuan tersebut mengaku. Duch and Chan menyuruhnya untuk menggunakan strong-arm taktic. Ia mengintimidasi, menghina untuk menakuti perempuan tadi. Prakk Khan menggunakan ranting pohon yang dia patahkan untuk memukul si perempuan. Akhirnya Nay Nan pun mau membuat pengakuan.



Seusai interogasi, Prakk Khan membaca pengakuan gadis tersebut, namun ia tidak menemukan dan tidak mengerti apa jaringan yang diikuti, apa partainya. Pada akhirnya mereka memang memanipulasi data gadis tersebut. Para interogator juga tidak mau kehilangan kesempatan untuk meremas dada tahanan perempuan serta mencubit pipinya. Prakk Khan mengakui kecantikan Nay Nan, ia jatuh cinta padanya dan merasa kasihan, namun dia adalah musuh. Mereka dilarang untuk mencintai seorang perempuan apalagi dia adalah musuh. Hatinya merasa sakit dan ia diselimuti hawa nafsu. Khan merasa marah karena tidak mampu menyentuh bahkan menyetubuhinya. Ia dipenuhi rasa kebencian dan akhirnya memukul Nay Nan.


Salah satu petugas yang menjaga sel perempuan dan anak menjelaskan, beberapa dari penjaga ada yang memperkosa tahanan. Dirinya mengaku, Sours Thi selaku kepala register berbohong kepada salah satu tahanan. Ia mengaku membawa bayinya untuk diobati, padahal bayi tersebut dibawa untuk dibunuh disamping penjara. Seorang penjaga mengaku salah satu dari grupnya memperkosa seorang perempuan. Saat itu rata-rata umur sekitar 13-14 tahun dan 22-23 tahun. Tidak ada petugas perempuan di penjara S21. Mereka masih muda dan mempunyai dorongan seksual yang kuat. Wajar memang, sebab mereka tak boleh pergi kemana-mana, tak boleh pulang kerumah, sehari-hari berada di wilayah S21. Ketika perbincangan tersebut berlangsung, mereka dihadapkan pada sebuah lukisan. Seorang perempuan yang sedang menggendong bayinya namun hendak diambil oleh petugas S21.


Eksekusi : Menuju Rumah yang Baru 
Mendekati akhir film, digelar sebuah foto yang panjang. Foto tempat dimana dulu para tahanan dieksekusi, lokasinya di Choeung Ek. Hou menunjukkan sebuah kuburan lama China, dimana mereka membangun gubug. Untuk dihuni para tahanan yang dibawa dari Tuol Sleng. Ditempat tersebut, sebuah truk diparkir. Para tahanan disuruh keluar dan dimasukkan ke dalam gubug. "Jangan takut, kalian akan menuju ke rumah yang baru.." begitu kata Hou Him. Satu persatu tahanan mereka dikeluarkan dan masing-masing namanya dicatat. Sebelum eksekusi dimulai, terlebih dahulu disiapkan sebuah lubang. Salah satu dari mereka dibunuh dan dilemparkan ke dalam lubang. Suatu saat, ketika Houy Him membawa mereka ke Choueng Ek. Ia merasakan dan mencium bau amis yang mengerikan. Ketika mengeksekusi, Houy tidak berpikir apapun, tidak berkata satu patah kata pun, tidak bertanya kepada mereka. Mereka lalu diambil untuk dibunuh supaya pergi ke rumah lebih cepat.



Saat eksekusi berlangsung dihidupkan generator di gubug, suaranya yang memekikkan membuat para tahanan tidak mendengar apapun. Satu persatu tahanan dibawa keluar dari gubug. Saat eksekusi Duch hadir sambil merokok. Tahanan disuruh berlutut, matanya ditutup kramar, tangan mereka diborgol. Tahanan dihantam dengan pukul besi, tepat di leher belakang. Lalu tenggorokan mereka digorok dengan pisau. Borgol dilepaskan, apabila baju mereka tidak bernoda, baju tersebut diambil. Tubuh mereka lalu dibuang ke lubang. Setelah ekseskusi selesai, para petugas memeriksa kembali daftar nama. Apabila tidak sesuai dengan daftar dikarenakan ada yang hilang, mayat-mayat tadi diangkat kembali dan dihitung ulang. Setelah dihitung, mereka dibuang kembali ke lubang dan dikubur. Baju dan borgol dibawa ke truk untuk dipakai tahanan yang lain. Si sopir yang bernama Peng Kry juga mengakui bahwa dirinya turut membantu membawa tahanan ke tempat eksesusi. Selesai eksekusi ia membersihkan truk yang penuh dengan bau kororan dan kencing. Setelah itu dirinya berisirahat, di sore hari ia mencari kangkung dan rumput untuk pakan kelinci, kambing dan domba. 

Sebuah Pengakuan 
Ada sebuah scene dimana Van Nath berdiskusi dengan para tiga mantan petugas, yaitu Sours Thi, Prakk Khan dan Houy Him. Bagi Van Nath, apa yang dulu mereka lakukan sama sekali tidak bisa diterima. Para petugas penjara tersebut membuat aturan atau hukum yang mengada-ada untuk memaksa para tahanan berbohong, bukan menginterogasi. Houy Him berpendapat bahwa apa yang mereka perbuat adalah wujud rasa patuhnya terhadap Angkar. Van Nath sebagai mantan tahanan meluncurkan beberapa kalimat yang menyentuh. Ia menganggap, proses eksekusi yang dilakukan tidak manusiawi. Manusia dan hewan adalah sesuatu yang berbeda. Namun kenapa kelakukan petugas S21 bak hewan ? Van Nath juga mengungkapkan bahwa kata “penghancuran” berbeda dengan “pembunuhan”. Di dalam kata “pembunuhan”, setidaknya masih ada unsur moralnya. Sedangkan “penghancuran” sama saja dengan pemusnahan dan tidak menyisakan apapun. 

Houy mengakui, apa yang dirinya lakukan saat itu karena alasan hormat kepada Angkar. Dirinya juga masih muda saat itu. Namun sekarang, ia sadar apa yang dirinya perbuat telah melanggar hukum. Ia malu terhadap dirinya sendiri. Van Nath lalu menyatakan, bahwa pertemuan ini sangatlah menyakitkan. Ia mengaku bahwa dirinya tidak ingin datang dalam pertemuan ini. Karena kita disini tidak akan bercerita tentang kisah yang menyenangkan. Kita hanya berbicang-bincang tentang masa lalu yang sejatinya tidak pernah diinginkan. Namun sayang, semuanya tidak mampu terbendung dan kita tidak bisa mengelak bahkan melarikan diri. Van Nath mencoba untuk mengerti apa yang sebenarnya terjadi, merasakan atas semuanya sebagai refleksi. Ia lalu memberikan sebuah kesimpulan, bahwa pertemuan ini bukan berarti sebuah kesempatan untuk membersihkan diri kita dari kejahatan.


Bukan perkara mudah memang untuk mengakui sebuah kesalahan. Saya sendiri memandang, apa yang dilakukan Houy Him dkk dikarenakan sebuah sistem. Apakah mereka juga layak disebut korban ? Aku pikir iya. Toh umur mereka saat itu masih muda. Sama seperti disaat kita belum dewasa, dengan mudahnya kita akan mencontoh ataupun meniru. Satu hal lain yang patut kita pelajari, mereka tidak menutup-nutupi semua kejadian. Begitupun dengan masyarakat Kamboja, arsip dan dokumen yang menjadi saksi bisu tidak mereka buang. Mereka simpan supaya menjadi pelajaran bagi generasi baru atas masa kelam yang pernah menimpa pendahulunya. Saya sebenarnya agak sedikit bingung ketika menonton S-21: The Khmer Rouge Killing Machine. Maklum, pengetahuan saya soal Kamboja amatlah minim. Apalagi pembahasannya lebih detail, yaitu penjara S-21. Di dalam film tersebut juga tidak disertai keterangan mengenai rincian lokasi penjara S-21. Tapi toh, film yang berdurasi hampir dua jam tersebut patut kita nikmati. Sebuah film dengan gaya penceritaan yang unik. Perpaduan antara monumen, lukisan, dokumen lalu dibungkus dengan rekonstruksi ulang oleh mantan petugas dan tahanan. Silahkan menonton kawan – kawan.

Kamis, 18 September 2014

Biar Kutulis Sebuah Catatan Jelek yang lain

“Apa yang diinginkan oleh perempuan dari seorang laki – laki ?” lalu seorang suster menjawab, “Kehangatan, kasih sayang dan cinta..” Kalimat semacam itulah yang terlontar dari sebuah dialog antara kakek tua dengan seorang suster. Kakek tua berambut gondrong dan beruban tersebut menceritakan kisah cintanya yang suram. Sedang si suster terlihat jengkel melayani kakek tua yang begitu rewel.

Gambaran tersebut saya tonton kemarin malam ketika menyaksikan pentas kelompok Forum Aktor dengan lakon “Biar Kutulis Untukmu Sebuah Puisi Jelek yang lain”. Lakon tersebut ditulis Andri Nur Latif. Kalau tidak salah ingat, lakon tadi pernah dibacakan dalam acara IDRF (Indonesian Dramatic Reading Festival) tahun 2010 di LIP. Bagi saya, pentas Forum Aktor di Kampus Sanata Dharma semalam cukup menarik. Mengangkat sebuah cerita realis dengan setting yang minimalis. Cukup mudah untuk dicerna karena dimainkan dengan begitu segar dan jenaka. Hanya saja judulnya tidak minimalis sih, hihihi.


Apabila melihat judulnya, tentu kita akan menduga bahwa lakon tersebut berisikan puisi – puisi yang indah (bukan jelek). Dugaan tersebut benar adanya, beberapa dialog kerap melemparkan bait – bait puisi yang berbau cinta. Lakon “Biar Kutulis Untukmu Sebuah Puisi Jelek yang lain” bukanlah drama bersajak atau drama berpuisi semacam Bebasari karya Rustam Effendi. Dialognya tidak berbentuk sajak dan harus dibacakan dengan gagah dan berapi – api. Namun sebuah puisi menjadi objek utama untuk dikuliti dan hampir dibicarakan di dalam semua dialog yang ada.

Lakon tersebut menceritakan tentang dua tokoh utama, yaitu seorang kakek yang mengaku berumur 70 tahun. Serta seorang perempuan tua yang berusia 65 tahun. Mereka berdua terpaksa tinggal di panti jompo. Masing – masing dirawat oleh dua orang suster yang cantik nan aduhai. Namanya Meri dan Rosi, penting untuk diketahui, status mereka tidak single alias punya pacar. Ada pula seorang dokter beristri satu dan belum fasih memakai alat pengukur tensi.


Saat dimulainya pentas, saya merasa bahwa settingnya berada disebuah rumah sakit, bukan panti jompo. Si kakek kerap menceritakan masa lalunya bersama sang kekasih kepada suster Meri. Terlihat dari raut mukanya yang kusut, si suster kurang sreg dengan tingkah laku si kakek. Sehari – hari hanya menulis puisi dan curhat mengenai kisah cintanya yang kandas. Padahal suster Meri sendiri terlihat kurang suka dengan puisi. Selain itu, si kakek juga kerap protes soal minuman yang selalu memakai gula jagung. Parahnya lagi, si lelaki tua tersebut sering melontarkan rayuan gombal yang kadarnya mungkin cuman 1%.

Di kamar yang lain, seorang perempuan tua sedang duduk diatas kursi roda. Saat itu dirinya sedang bersenda gurau dengan suster Rosi. Sama dengan kakek tua, perempuan tersebut juga mengutarakan masa lalunya. Ia mengaku sempat dekat dengan seorang laki – laki yang pandai menulis puisi. Namun ia memilih untuk meninggalkannya. Lagipula lelaki tersebut gagal menjadi pengusaha mebel, begitu menurut tuturan si nenek tua. Selain itu, dirinya juga tidak peduli apabila lelaki tadi masih mencintainya sampai sekarang. Maklum, apabila seorang perempuan kerap jual mahal terhadap lelaki. Apalagi kepada laki – laki berhidung belang.

Ternyata, si nenek kerap dikirimi puisi – puisi yang indah, entah oleh siapa. Mungkin saja itu hanyalah imajinasi liar si perempuan tua alias ilusi yang mengada-ada. Singkat cerita, seorang dokter berkunjung ke kamarnya untuk memeriksa kesehatan si nenek. Nah, si nenek tadi merasa pernah melihat dan mengenal si dokter. Namun ia lupa dimana mereka saling mengenal. Dokter yang disebut – sebut sebagai laki – laki beruntung tersebut pun menyangkalnya. Merekapun lalu bercakap – cakap panjang lebar dan membahas tentang puisi tentunya. Sebelum memeriksa si nenek, sang dokter terlebih dahulu mengunjungi si kakek tua. Di tempat tersebut, dirinya juga diajak mengobrol oleh kakek gondrong yang gemar membuat puisi. Mereka berdua lalu ngobrol ngalor ngidul. Mulai dari keadaan keluarga si dokter hingga problematika cinta si kakek. Sayang, dokter berkacamata tersebut tidak mahir soal puisi. Sedang si kakek sempat memaksa dirinya untuk membacakan salah satu bait puisi yang ia buat.

Di penghujung cerita, kakek tua dan nenek tua sempat saling bertemu. Si kakek mengeluh atas pelayanan para suster yang tidak sepenuh hati. Mereka juga saling pamer soal sudah berapa lama tinggal di panti jompo. Obrolan – obrolan lain pun melesat dari mulut mereka. Sayang, otak saya tidak cukup mampu untuk merekam detail – detail dialog mereka. Si kedua suster juga saling bertemu. Suster Rosi menyesal bekerja di panti jompo karena orangtua yang tinggal di tempat tersebut sangat rewel dan banyak maunya. Mereka pun sempat menceritakan mengenai kelakuan si kakek gondrong dan si perempuan tua. Intinya, si kakek suka membuat puisi, sedangkan si nenek kerap dikirimi puisi. Suster Meri lalu membacakan secarik puisi yang dibawa oleh suster Rosi. Mereka berdua menduga, bahwa kakek lah yang seringkali menuliskan puisi untuk si nenek.

Pentas “Biar Kutulis Untukmu Sebuah Puisi Jelek yang lain” diakhiri dengan pandangan si kakek dan si nenek di balik jendela. Si nenek begitu senang atas turunnya hujan yang mungkin membasahi rumput dan dedaunan. Sedangkan si kakek gondrong masih saja menangisi dan meratapi nasib asmaranya.

Sekali lagi, pentas yang dijalankan oleh Forum Aktor memang terasa renyah dengan dukungan durasi yang pas. Serta lontaran kata – kata yang cukup membuat penonton terpingkal – pingkal. Entah karena improvisasi si aktor atau seratus persen mengacu naskah tanpa adanya “penyembelihan” dialog. Faktor lain yang patut diapresiasi adalah musik. Iringan musik yang diaransemen oleh Gardika Gigih juga apik dan simple. Cukup membantu penonton untuk turut membangun suasana akan jalannya cerita.

Selasa, 16 September 2014

Di antara Sore dan Malam

Sore tadi menjelang maghrib,  saya menyempatkan waktu untuk bersenda gurau dengan beberapa kawan. Menghabiskan waktu di sebuah kantin. Nah, seorang kawan bertanya tentang perkembangan wanita incaran. Sayapun menjawab kalau sedang tidak mengincar siapa – siapa. Lalu saya menyahut kembali, bagaimana kalau “dia”. Kebetulan, kawan saya barusan satu jurusan dengan “dia”. Teman saya yang sejatinya berbadan gemuk tsb berujar, “Wah, mending cari yang pasti – pasti aja bung, yang ada disini..”

Beberapa jam kemudian, selepas dari kumpul – kumpul serius di sekitaran Njeron Beteng, saya kembali lagi ke kantin. Hanya untuk mainan HP sembari minum teh hangat dan menghisap rokok yang sebenarnya juga cuman minta. Tiba – tiba aku teringat obrolan tadi sore dan memutuskan untuk mengepo si “dia”. Sekedar menghibur hati dan melepas penat. Melihat senyumnya, memandangi tingkah lakunya dan menyadari betapa bodohnya diriku. Ketika melihat salah satu postingan instagramnya, ternyata oh ternyata, si “dia” sudah meninggalkan tanah air beta. Di negeri nun jauh disana, negerinya William Wallace.


Sudah ah.. Selamat belajar disana J