"Aku ingin meletakkan sekuntum sajak di makam Nabi, Supaya sejarah menjadi jinak. Dan mengirim sepasang merpati" (Kuntowijoyo)

Kamis, 24 Juli 2014

Walter Sabatini dan Primavera : Menatap Masa Depan AS Roma

Giancarlo de Sisti, namanya memang tidak setenar Totti. Belum lama ini, mantan pemain Roma di era 70an tersebut menceritakan kisah lamanya di Olimpico. Saat merumput di Roma, De Sisti merupakan rekan satu tim dengan Walter Sabatini, direktur sepakbola Roma sekarang. Mereka berada dibawah asuhan Nils “Baron” Liedholm. De Sisti menceritakan bahwa Sabatini pernah bertengkar dengan Francesco “Kawasaki” Rocca. Mereka hampir berkelahi namun berhasil dilerai oleh Liedholm. Saat itu Liedholm berujar, “Kalian berdua pukul saya sekarang !”

Karir Sabatini sebagai pemain memang tidak gemilang dibandingkan De Sisti serta Rocca. Mereka berdua sempat menjadi punggawa timnas Italia. Sabatini ? sayang, keringatnya belum pernah menetes di jersey Azurri.

Bagaikan seorang Midas, pemain murahan berhasil beliau sulap menjadi emas yang gemilang. Sebelum kembali lagi ke AS Roma, Sabatini sempat menepi di Palermo dan Lazio. Siapa yang tidak mengenal Pastore, Lichsteiner atau Kolarov. Awalnya pemain-pemain tersebut dibeli dengan harga yang murah. Namun beberapa tahun kemudian, harganya melonjak drastis.

Perlu diingat, sebelum transfer gila-gilaan yang dilakukan Roma saat ini. Sabatini sudah merekrut beberapa pemain yang namanya tidak terlalu kita kenal. Bibit-bibit muda ditanam oleh Sabatini di Trigoria sejak Januari kemarin. Antara lain, Valmir Berisha, Petar Golubovic, Vlad Marin, Tomas Vestenicky, Leandro Paredes, Tony Sanabria dan Nemanja Radonjic. Bahkan belum lama ini ada dua nama yang baru direkrut, yaitu Danny de Silva dan Silvio Anocic.

Berisha, Vlad Marin, Radonjic serta Vestenicky merumput dengan Roma Primavera. Leandro Paredes dipinjamkan ke Chievo dan hanya bermain sekali disana. Lalu Tony Sanabria selama enam bulan melabuh di Sassuolo.

Sanabria, Vestenicky dan Golubovic sempat bermain ketika Roma melawan timnas Indonesia U-23. Kabar mengenai Vlad Marin masih belum jelas, statusnya juga pinjaman dari Juventus. Untuk musim ini, Valmir Berisha kemungkinan akan dipinjamkan untuk menambah jam terbang yang kompetitif. Pemain dari Swedia tersebut memang berbakat, bahkan dia mendapat julukan “The next Ibrahimovic”. Apalagi kompetisi Primavera di Italia kurang menggigit persaingannya.

Apabila ada yang menyebutkan kata “Primavera”, apa yang terlintas dibenak pikiran kita ? sebagai masyarakat Indonesia, tentu kita akan merujuk ke beberapa nama pemain sepakbola. Kurniawan “Si Kurus”, Kurnia Sandi atau Bima Sakti adalah produk dari Primavera Indonesia. Ketiga nama diatas sempat menghabiskan waktu di negeri Italia, memperkuat sektor muda Sampdoria. Mereka khusus dikirim oleh PSSI untuk menuntut ilmu sepakbola di negeri yang konon dikenal sebagai sarang mafia tersebut. Di era 90an, sepakbola Italia memang digemari oleh warga Indonesia. Wajar, klub-klub Italia sedang gencar-gencarnya merajai kancah Eropa. Beauty of calcio.

Pembinaan pemain muda memang menjadi kewajiban klub. Namun, ketika melihat gelagat sepakbola saat ini, metode diatas cenderung diacuhkan. Terlihat dari usaha klub-klub besar yang doyan membajak pemain “jadi”. Mahar yang dikeluarkan pun gila-gilaan. Siapa yang dirugikan ? tentu pemain akademi mereka sendiri. Peluang mereka untuk unjuk gigi bisa dikatakan tertutup. UEFA, selaku lembaga tertinggi sepakbola di Eropa sadar dengan indikasi diatas. Karena itu tim-tim yang berlaga di kompetisi kontinental Eropa, wajib mendaftarkan minimal empat pemain didikan akademi mereka. Serta empat pemain yang sebelumnya pernah merumput selama tiga musim penuh di satu atau lebih klub dalam satu asosiasi tertentu sebelum usia mereka 21 tahun. Tapi kenyataannya banyak klub yang melanggar aturan tersebut. Kalaupun ada yang didaftarkan, toh mereka hanya menjadi pemanas bangku cadangan. PR besar untuk persepakbolaan di Eropa.

Kompetisi yang melibatkan pemain-pemain muda memang kurang mengigit daya jualnya. UEFA Youth League, Viareggio Cup atau kompetisi reguler lainnya di liga tertentu tidak laku sebagai barang jualan. Di tahun 2013 kemarin ada kejuaraan Piala Dunia U-19. Namun peminatnya begitu sedikit, bahkan dari tahun ke tahun jumlah penontonnya selalu menurun. Gaung Piala Dunia U-19 mungkin kalah dibandingkan Piala Konfederasi di Brasil kemarin. Tetapi kompetisi yang tahun kemarin diraih oleh Prancis tersebut, juga masih kalah kelas daripada Piala Eropa U-21. Dugaan saya, sedikitnya pemain besar yang tampil turut mempengaruhi gebyar kejuaraan tersebut. Berbeda dengan Piala Eropa U-21, beberapa pemain bintang turut berpartisipasi. Semacam Thiago Alcantara, Strootman, Insigne, De Gea, Koke atau Marco Verratti. Nama-nama mereka turut mengangkat reputasi kompetisi. Sepakbola memang menghibur, konsumsi publik dan perlu dibisniskan.

Ada sebuah pepatah yang berbunyi, “You can’t win anything with kids”. Walter Sabatini sadar betul dengan ungkapan tersebut. Di musim 2011/12 dan 2012/13, mayoritas pemain AS Roma adalah anak muda. Mereka gagal total di kompetisi Serie A bahkan urung kembali ke kancah Eropa. Tidak heran apabila di musim kemarin terjadi perombakan skuad besar – besaran. Line up utama AS Roma tidak lagi dipenuhi para anak kecil.

Sebagai juru transfer, Walter Sabatini juga harus memperhatikan pemain-pemain berbakat yang ada di tim junior. Namun ketika melihat bursa transfer yang dilakukan oleh Roma baru-baru ini, saya melihat ada kecenderungan bahwa Sabatini acuh dengan pemain yang dibina langsung oleh klub. Nama – nama yang disebutkan diatas bukanlah produk murni AS Roma. Sanabria contohnya, pemain Paraguay tersebut merupakan didikan La Masia. Leandro Paredes yang ditahun ini berusia 20 tahun adalah produk Boca Juniors. Pertanyaannya, kenapa mereka ditransfer sekarang ? kemungkinan besarnya adalah Roma sedang membangun skuad masa depan. Talenta – talenta ciamik dikumpulkan saat ini supaya mendapatkan status homeground sebagai syarat di Liga Champions. Apabila dilihat dari sisi finansial juga cukup menguntungkan. Ibaratnya Roma sedang menanam padi dan kelak siap memanennya. Namun siapa yang tahu kalau tiba – tiba padi tersebut diserang hama ? sebuah perjudian juga sih. Tapi toh, mumpung harganya masih murah dan siapa tahu kelak daya jual mereka melunjak.

Memang tidak semua didikan akademi klub akan sukses menjadi pemain. Manchester United pernah menelurkan Clash of 92. Tapi toh selain Beckham, Butt, Neville bersaudara, Giggs serta Scholes, masih ada pemain – pemain lain yang pernah merumput bersama mereka ketika masih cupu. Nasib mereka mungkin tidak seberuntung Beckham dkk. Ulasannya bisa disimak di artikel berikut. Salah satu penulis favorit saya, yaitu Blogistuta pernah menguraikan tulisan mengenaikedatangan Paredes dll dan nasib pemain akademi Roma. Tulisan tersebut berkaitan erat dengan dokumenter yang berjudul Zero a Zero. Sebuah dokumenter yang bercerita tentang kegagalan tiga pemain akademi Roma yang pernah merebut Scudetto di kompetisi Primavera. Ketiga pemain tersebut seangkatan dengan Francesco Totti. Ada yang karirnya berakhir karena cedera. Bahkan ada pula yang harus berakhir karena masuk penjara.


Lalu bagaimana nasib didikan akademi Roma sendiri ? Kedatangan Iturbe, Ucan, Emanuelson serta Ashley Cole baru – baru ini jelas menutup peluang mereka untuk menerobos skuad utama di musim ini. Sejauh ini saya melihat hal tersebut merupakan problem di AS Roma. Karena selain berhadapan dengan pemain “jadi”, bibit asli Roma juga dibayang-bayangi oleh impor pemain muda non akademi. Para pemain akademi AS Roma tentu tidak ingin nasibnya seperti Fabio Allesandrini yang baru – baru ini harus berurusan dengan polisi karena mengonsumsi narkoba. Semuanya ingin menjadi seperti Totti, De Rossi, Aquilani, Bruno Conti, Florenzi dll. Tapi semua terserah anda, Mr. Sabatini. Kita tahu bahwa anda perokok berat dan anda juga tahu bahwa tembakau yang disimpan lebih lama rasanya lebih nikmat. Semoga Roma bisa menikmatinya.


Senin, 14 Juli 2014

Wayang Bocor yang sedikit “Bocor”

Ketika pertunjukkan sedang berlangsung, suasana hening menjadi buyar karena tangisan anak kecil. Di belakang saya juga terdengar suara anak yang sedang bertanya kepada orangtuanya. Rasa penasaran anak kecil tadi cukup besar.  “Itu siapa ?”, “Apa itu ?”
Gangguan-gangguan semacam itu mungkin kurang asyik bagi para penonton yang sedang khusyuk mencermati jalannya pertunjukkan. Salah seorang teman saya juga sempat mengeluh, merasa terganggu. Tapi ketika kita sedang asyik melihat wayang kulit semalam suntuk, entah itu di lapangan yang luas, halaman rumah atau di gedung, agaknya kejadian semacam itu menjadi sebuah pemandangan yang biasa. “Norma-norma” menonton wayang kulit memang tidak ketat. Toh, saya sendiri kerap mengobrol dengan teman sebelah ketika menyaksikan wayang kulit. Bahkan ketika hati sedang gundah gulana, saya malah sibuk curhat ketimbang konsen mendengar ocehan sang dalang.
Jadi begini, gangguan-gangguan diatas saya temui Jumat malam. Ketika sedang menonton pertunjukkan Wayang Bocor di auditorium LIP. Wayang Bocor diinisiasi oleh perupa kontemporer Yogyakarta, Eko Nugroho. Karena kontemporernya, maka Wayang Bocor juga diembel-embeli sebagai wayang kontemporer. Apa itu kontemporer ? lebih baik tidak usah dibicarakan, karena bisa melebar urusannya.
Pertunjukkan yang diselenggarakan selama dua hari tersebut (10-11 Juli) menyuguhkan lakon “Hikayat Agar-Agar Bertanduk”. Naskah serta penyutradaraan dipercayakan kepada Gunawan Maryanto yang juga merangkap sebagai dalang, narator, MC, aktor, komplit lah pokoknya. Jamaah yang hadir lumayan banyak. Tidak kalah dengan jamaah tarawih, merapatkan shaf dan berjejer-jejer.
(Photo by Swandi Ranadila)
Menurut booklet pementasan, Wayang Bocor bercita-cita mengenalkan kembali wayang kepada khalayak umum. Tentunya dengan kemasan yang lebih mudah dicerna. Tidak seperti pementasan wayang kulit yang mungkin terkesan menggurui, membosankan dan terlalu chauvinistik. Tokoh-tokoh yang muncul juga berbeda bentuknya dengan karakter wayang yang lazim kita saksikan. Tanpa maksud merendahkan cerita Panji, Menak, Damarwulan dsb, tidak bisa dipungkiri bahwa kita lebih mengenal kisah Ramayana dan Mahabarata. Namun, ceritanya lain lagi apabila kita  menonton Wayang Bocor. Tidak ada yang namanya Janaka, Rama, Kresna, Baladewa, Kunthi, Durna, Sengkuni, Bathara Narada dsb. Eko Nugroho punya karakter sendiri, entah apa nama-namanya.
Bentuk wayang disesuaikan dengan motif atau desain yang biasa dipakai oleh Eko Nugroho. Biarpun disebut wayang kontemporer, mereka tetap mengindahkan beberapa tradisi yang dianut wayang klasik. Antara lain kelir yang dipakai, tiga punakawan (Gareng, Petruk, Bagong), nembang serta suluk dan janturan.
Saat kelir mulai “bermain”, sang dalang njantur “Hong ilaheng, hong ihaleng awigna mastu purnama sidhem, awigna mastu silat mring Hyang Jagatkarana...”* Deskripsi keadaan pun mulai disenandungkan dengan bahasa Jawa. Dalam jagad wayang kulit, hal tersebut disebut janturan. Saya ingat betul, terucap kata "data pitana", “Astinapura” dll. Sebagian pengunjung mungkin tidak mengerti maksud kata-kata yang terselip dalam janturan tersebut. Beruntung, setelah itu penonton mulai “ditenangkan” dengan ucapan bahasa Indonesia. Asumsi saya, olahan kata-kata tadi merupakan tafsir atau terjemahan atas janturan yang biasa dipakai di dalam pagelaran wayang kulit (tradisi). Ketika adegan (mungkin) goro-goro dalam pertunjukkan Wayang Bocor, dimulai dengan jineman terlebih dahulu, “Bocah bajang nggiring angin, anawu banyu segara, ngoningonĂ© kebo dhungkul, saksisih sapi gumarang” Baru tiga punakawan muncul untuk mengocok perut handai taulan yang hadir.
Oiya, ada yang terlupakan. Sebelum sosok-sosok wayang dimainkan, ada satu “gunungan” yang masih menancap. Pada pakeliran wayang klasik pun berlaku seperti itu. Secara visual, ada tiga kelir yang dipasang. Tiga-tiganya berfungsi untuk memainkan atau menimbulkan bayangan. Kelir utama tetap berada ditengah. Selain itu, adegan-adegan yang muncul tidak melulu bermain di belakang kelir. Para aktor kerap muncul di tengah panggung untuk berinteraksi. Meminjam istilahnya Umar Kayam, Wayang Bocor bisa dikatakan mengaplikasikan apa yang dimaksud dengan “Kelir tanpa batas”
(Photo by Swandi Ranadila)
Bagi saya, salah satu keunggulan Wayang Bocor adalah apiknya permainanan cahaya. Sangat membantu untuk membangun imajinasi penonton supaya tetap setia menonton. Mirip sekali ketika kita melihat pementasan Wayang Ukur dll. Namun sayang, saya tidak sempat mencermati iringan musiknya. Bisa jadi, basis penciptaan musiknya berasal atau menyesuaikan pula dengan kaidah pakeliran ringgit wacucal sedalu natas. Dari pathet nem, pathet sangan hingga pathet manyura.
            Pertunjukkan “Hikayat Agar-Agar Bertanduk” menampilkan dua tokoh utama, yaitu Ali dan Seroja. Karena dari dua tokoh tersebut kita bisa melihat kegelisahan-kegelisahan yang ada di negeri ini. Seroja dan Ali bertemu di Malaysia secara tidak sengaja. Ali tiba di Malaysia karena dia ingin berjihad ke Afghanistan. Entah kenapa kok malah mampir ke Malaysia. Berbeda dengan Seroja, perempuan yang sebenarnya sudah bersuami tersebut bekerja sebagai TKW disana. Demi mencukupi kebutuhan hidup keluarga yang kelimpungan karena suaminya tidak bertanggung jawab.
Permasalahan yang muncul muncul di dalam lakon merupakan cerminan kondisi negeri ini. Kejadian yang muncul bertolak belakang dengan cita-cita founding father negeri ini yang termaktub dalam Pancasila. Maaf ini bukan pelajaran PPKN ataupun penataran bagi para pegawai negeri.
         Ada adegan dimana Seroja heran dengan peristiwa pemboman gereja di hari Natal. Anehnya, Ali justru memuji peristiwa tersebut. Lalu disaat tiga sekawan, Gareng, Petruk dan Bagong bercengkerama. Mereka mengeluhkan masyarakat yang tidak lagi guyub. Negeri ini ibarat kepingan gelas yang baru jatuh dari jendela.
     Ketika melihat tajuknya yang memakai kata “hikayat”, awalnya saya mengira pementasannya akan berbau Melayu dan mendayu-dayu. Oh, ternyata tidak. Sangat sedikit ditemui budaya Melayu. Tapi mungkin itu jadi alasan kenapa di dalam Wayang Bocor muncul kostum-kostum yang berbau Melayu, lalu ada percakapan khas Upin Ipin. Ceritanya memang berbau atau menyinggung agama Islam (maaf, biarpun terkesan fundamentalis). Karena ketika kita membaca hikayat, unsur-unsur Islam begitu kental.  Saya jadi ingat ketika kuliah semester awal disuruh mereview babad, hikayat dsb. Waktu itu saya membahas Hikayat Perang Sabil. Unsur daya juang Islam ketika perang di Aceh begitu tinggi. Tapi mengenai unsur Melayu, saya pikir tidaklah terlalu penting. Mengingat basis penciptaan Wayang Bocor bersifat kontemporer. Usaha untuk memasukkan hal-hal yang berbau tradisional patut diacungi jempol. Lagian seorang Semaun pernah juga menulis Hikayat Kadiroen yang isinya jauh dari budaya Melayu. Biarpun novel tersebut memakai bahasa Melayu. Maklum, dari jauh-jauh hari bahasa Melayu memang dikenal sebagai lingua franca.
            Sebenarnya, pementasan Wayang Bocor memang menghibur. Namun alangkah baiknya apabila mempertimbangkan lakon wayang yang lazim didengarkan. Maksudnya mengangkat beberapa cerita-cerita tradisi dan dihubungkan dengan dinamika kehidupan sosial dewasa ini. Mungkin seni wayang memang terlupakan, tapi ada lagi yang terlupakan, yaitu cerita wayang. Pengangkatan kembali cerita wayang namun dalam bentuk atau karakter yang berbeda dan unik. Menurut saya, itulah “kebocoran” Wayang Bocor. Satu hal yang tidak mereka sentuh, ketika kembali melihat tujuan Wayang Bocor yang ingin mengenalkan seni wayang yang katanya sudah lama terlupakan. Satu hal yang mengganjal, seni wayang seperti apa bung ?
            Sebelum Wayang Bocor muncul, beragam cara sudah dilakukan untuk menarik perhatian masyarakat menyaksikan wayang. Ki Djoko Edan misalnya, beliau pernah memakai band rock untuk mengiringi pementasannya. Atau Bupati Tegal sekarang, Ki Enthus Susmono, pakeliran wayang beliau rubah sedemikian megah. Bahkan bentuk gunungan yang biasa kita lihat pun beliau ganti wujudnya. Strategi pementasan wayang kulit sekarang juga sudah usang. Masih saja mereka memakai hiburan-hiburan demi menarik massa. Semacam diselingi dangdutan lah, dagelan lah, campursari yang durasinya sungguh minta ampun. Konon, suwargi Ki Hadi Sugito pernah “mencak-mencak” melihat trend tersebut menjamur di kalangan dalang-dalang.
Kasus Sujiwo Tejo serta Nanang Hape menarik untuk diikuti. Mereka tetap setia dengan cerita serta tokoh wayang klasik. Cara penyajian mereka patut diapresiasi. Sujiwo Tejo mempunyai Wayang Jazz, sedangkan Nanang Hape mengenalkan Wayang Urban. Gebrakan yang dibuat Ki Sukasman juga menarik sebenarnya. Hanya saja, Wayang Ukur bisa dianggap “belum” berhasil dari segi permainan. Disamping susah memainkan wayangnya, penerus Ki Sukasman pun tidak ada. Hal tersebut sudah diprediksi jauh-jauh hari oleh Ki Timbul Cerma Manggala dan Kasidi Hadiprayitno.
Aku pikir wayang merupakan karya masterpiece. Wayang di Indonesia lho. Kita sudah tahu bahwa cerita wayang diimpor dari negeri India. Epos paling populer di negeri ini jelas Mahabarata serta Ramayana. Wayang paling dikenal di Indonesia jelas wayang kulit Purwa. Entah bagaimana nasib wayang Klithik, wayang Madya, wayang Gedog, wayang Krucil, wayang Drupara, wayang Sasak atau wayang Beber kelak. Mengingat posisi wayang Purwa memang begitu hebat. Biarpun saat ini kepopuleran wayang Purwa masih kalah telak dengan gemuruh dominasi budaya massa.
Seperti yang dikhawatirkan Umar Kayam dalam catatannya yang berjudul “Wayang ke Manakah Kau ?”Apakah wayang akan habis ditelan jaman ? ah, biar itu jadi urusan masing-masing. Toh, sampai sekarang wayang masih bisa bertahan dihati para penggemarnya. Selain itu, disetiap jaman wayang selalu berevolusi. Entahlah, masa keemasan wayang memang pernah terjadi. Kita ingat betul bahwa wayang merupakan “lidah penyambung rakyat”di era Orde Baru. Program-program atau mungkin propaganda Orba kerap disisipkan. Sebelum Orba, Lekra sendiri kerap merawat wayang dengan menggelar pagelaran di kalangan akar rumput. Namun, aku juga tidak yakin bahwa bentuk pementasan wayang yang sekarang benar-benar “pakem”. Jaman memang sudah berubah, wayang sendiri harus siap menghadapinya. Semoga kita tetap merawat esensi wayang itu sendiri.

Ket :
*Menurut penuturan Brian, salah seorang kawan saya, janturan tersebut hanya dipakai oleh gaya Yogyakarta. Lengkapnya sebagai berikut :

Hong ilaheng, hong ilaheng awigna mastu purnama sidhem, awigna mastu silat mring Hyang Jagatkarana, siran tandha kawisesaning bisana, sana sinawung langen wilapa, estu maksih lestantun lampahing Budda, jinantur tutur katula, tela-tela tulat mring labeting paradya Winursita ngupama pramengniskara, karana dya tumiyeng jaman purwa,winusidha trah ingkang dinama dama, pinardi tameng lalata, mangkya tekap wasananing gupita Tan wun renggeng pralambang atumpa tumpa, manggung panggeng panggunggung sang murweng kata.

Selasa, 08 Juli 2014

Menanti Taring Serigala


Piala Dunia 2014 tinggal menyisakan beberapa pertandingan. Sejauh ini kompetisi akbar tersebut sudah mencapai babak semifinal. Beruntung salah satu gladiator Roma masih berlaga, siapa lagi kalau bukan Douglas Maicon. Setelah Piala Dunia selesai tentu kita harus menunggu sekitar dua bulan untuk menikmati liga-liga Eropa. Namun kita masih bisa disuguhi laga-laga uji coba yang apik sembari menanti kompetisi reguler.

Baiklah, beberapa hari ini saya cukup heran dengan kebijakan transfer AS Roma. Mereka merekrut beberapa pemain yang menurut saya sudah tidak layak bermain lagi alias veteran. Antara lain Ashley Cole dan Seydou Keyta. Beruntung, keduanya didapatkan secara cuma-cuma. Namun yang menjadi peroblem tentu gaji mereka yang terbilang lumayan tinggi untuk ukuran Serie A. Entahlah, mungkin karena dimusim ini AS Roma kembali lagi berkancah di ajang Liga Champions, mereka membutuhkan beberapa pemain yang mempunyai pengalaman mumpuni. Hal ini akan saya bahas di tulisan lain.

Ada baiknya kedua pemain veteran tadi kita koreksi lewat ajang pra musim. Jadi begini, ada beberapa ajang uji coba yang akan dimainkan oleh skuad Il Lupi. AS Roma menjadwalkan latihan perdananya pada 15 Juli 2014. Setelah itu mereka akan menjalani beberapa partai persahabatan. Laga pertama yang harus mereka hadapi adalah skuad Indonesia U-23. Pertandingan tersebut dilaksanakan tanggal 18 Juli di Stadion Rieti. Mengingat Trigoria, markas latihan Roma sedang direnovasi. Aku kok curiga bahwa sebenarnya laga tersebut merupakan pengganti gagalnya kunjungan AS Roma tahun kemarin. Mengingat EO ujicoba tersebut adalah Nine Inc Sport. Sama dengan EO yang berusaha mendatangkan Roma kemarin. Indonesia memang melakukan tur di Italia sebagai persiapan untuk menghadapi Asian Games. Selain berhadapan dengan AS Roma, mereka juga akan bertanding dengan Cagliari serta Lazio de Merda.

Kemudian skuad Rudi Garcia akan terbang ke Amerika. Mereka akan menjalani laga eksebisi dengan klub-klub besar. Di negeri Paman Sam tersebut, Roma mengikuti kompetisi Guiness International Champions Cup 2014. Eksebisi tersebut dibagi menjadi dua grup. Grup A diisi oleh Manchester United, Real Madrid, Inter Milan serta AS Roma. Sedangkan di Grup B ada Liverpool, AC Milan, Olympiakos dan Manchester City. Apakah Il Principe dkk mampu membalaskan dendam mereka atas tragedi 7-1 ? Kita lihat saja besok..

Sebelum menjalani kompetisi Guiness International Champions Cup 2014, AS Roma akan bertanding dahulu dengan Liverpool. Masing-masing klub sudah sepakat untuk bertarung pada 23 Juli 2014 di Fenway Park. Menarik ya, karena kita akan melihat tiga pemain yang masih setia dengan jersey kebanggaannya. Siapa lagi kalau bukan Totti, De Rossi serta Steven Gerrard. Akupun berharap supaya Fabio Borini ikut dalam skuad Liverpool. Daje Borini !

Kembali ke kompetisi Guiness International Champions Cup 2014. Ajang tersebut akan digelar pada 24 Juli – 4 Agustus 2014. Masing – masing juara grup akan bertemu di Sun Life Stadium untuk menjalani laga final. Musuh pertama Roma adalah Manchester United. Mereka bertanding pada tanggal 26 Juli, tepat dihari ulangtahunku. Semoga saja AS Roma mampu menggilas The Red Devils. What a nice gift ! Hihihi. Karena males mengetik jadwal lengkapnya silahkan dicek dibawah bung, sudah disesuaikan dengan Waktu Indonesia Barat.

Pelatihan pra musim AS Roma ternyata masih berlanjut. Mereka akan meluncur kembali ke Eropa. Sekembali dari Amerika, Totti dkk tidak langsung menuju Italia. Mereka terlebih dahulu mampir di Austria untuk menjalani summer camp. Lokasinya berada di Bald Waltersdorf Sport Centre. Rencananya summer camp tersebut dilaksanakan pada tanggal 9 sampai 15 Agustus 2014. Disekitar lokasi, manajemen Roma juga membangun Cuore Solle Village. Akan terdapat berbagai macam games, hiburan serta merchandise. Seperti ketika AS Roma menjalani laga kandang, manajemen Roma selalu membuat Cuore Solle Village sebagai ajang promosi.

Tidak lupa pula De Rossi dkk menjajal beberapa klub Austria. Ada dua klub yang akan mereka hadapi. Pada tanggal 10 Agustus 2014, Roma ditantang SV Eltendorf 10 di Stadion Sporplaz. Lalu di laga kedua mereka akan menghadapi Wienner SK pada 15 Agustus 2014 di Stadion Wiener Sportclub. Fuh, jadwal yang padat ternyata.

Karena Serie A musim 2014/15 baru dimulai pada 31 Agustus, alangkah baiknya kita menikmati laga ujicoba diatas dengan sepenuh hati. Sembari menimbang apakah dimusim ini Roma layak meraih scudetto setelah 13 tahun yang lalu. Apakah musim ini Serigala-serigala mampu mempertajam taringnya ? Can we challenge the Scudetto and Coppa Italia this season Mr. Rudi ? i hope you can bring our glory again. Yes, we really really desperate for the succes and the glory. Grazie Roma, core de sta citta....




"The Good, The Bad, The Ugly"

Kala itu, ditahun 2009, Roma dilatih oleh Claudio Ranieri. Sebelumnya, Luciano Spalletti memilih untuk mengundurkan diri dari jabatannya, Roma memang dalam keadaan sulit waktu itu. Krisis keuangan melanda mereka. Tapi anehnya ada isu unik yang merebak. Roma berencana membangun stadion, Stadio Franco Sensi. Ranieri dipercaya menggantikan pelatih berkepala plontos tersebut. Namun, pelatih spesialis runner up tersebut juga tidak bertahan lama. Pada bulan Februari musim 2010/11, Ranieri dipecat. Montella ditunjuk sebagai caretaker Roma saat itu. Di akhir musim, Roma hanya finish diperingkat enam. Beruntung Roma masih bisa lolos ke kompetisi Eropa.

"The Ugly"
Pada tahun 2011, Roma menjadi klub Italia pertama yang dimiliki oleh orang asing. Secara resmi, Thomas di Benedetto mengambil alih kekuasaan keluarga Sensi. Sebelumnya, memang sudah ada perjanjian antara kedua belah pihak. Rosella Sensi tetap menjadi presiden klub, selama utang-utang Roma di Unicredit berhasil dilunasi oleh Thomas di Benedetto. Tampuk kekuasaan pun berpindah, visi misi klub pun ikut berubah. Orientasi bisnis jelas menjadi prioritas utama jutawan Amerika tersebut. Kita sudah tahu bukan bagaimana gelagat jutawan-jutawan yang mengakuisisi klub-klub sepakbola di Eropa. Sebut saja, PSG, Manchester City, Manchester United, Chelsea ataupun Zenit.
Agaknya Roma terpikat dengan hegemoni gaya sepakbola Barcelona di Eropa, tiki taka. Montella dipecat, Luis Enrique diangkat. Notabene, Luis Enrique merupakan pelatih Barcelona B. Apakah Roma lupa bahwa gaya tiki taka yang ditunjukkan oleh Pep Guardiola tersebut juga berakar dari permainan milik Spalletti ketika mengasuh Totti dkk. Entahlah, tapi menurut beberapa pengamat, Luciano Spalletti termasuk "pencetus" atau "pembaharu" gaya sepakbola yang sekarang dikenal dengan istilah False Nine tersebut. Gaya tersebut lalu dimodifikasi oleh Sir Alex Ferguson, bahkan oleh Spanyol saat mereka meraih Piala Dunia 2010. Pep Guardiola semakin berhasil ketika false nine dipadukan dengan tiki taka.
Roma sangat menaruh harapan yang tinggi ditangan Luis Enrique. Sepakbola indah ingin mereka tonton di jagad Serie A. Miliaran rupiah digelontorkan untuk mendatangkan pemain-pemain bintang. Bojan Krick, Erik Lamela, Miralem Pjanic, Gabriel Heinze, Marten Stelekenburg datang ke Trigoria. Hasilnya, tiki taka Roma mandul tak berkutik. Tak kuasa menahan malu, Enrique mengundurkan diri ketika musim 2011/12 sudah berakhir. Roma kembali kelabakan.

"The Bad"
Menghadapi musim yang baru, Serie A bakalan kedatangan orang lama. Pescara yang dihuni banyak pemain daun muda berhasil promosi. Siapa pelatihnya ? Zdenek "The Old Man" Zeman. Roma ingin bernostalgia tampaknya, Zeman dipanggil kembali ke Trigoria. Strategi kembali berubah. Luis Enrique jelas mengutamakan ball possesion, bermain sabar. Namun, Zeman tetaplah Zeman, keras kepala. Serang, serang dan serang adalah ciri khasnya. Banyak yang berpendapat bahwa Zemanlandia merupakan gaya yang tidak imbang. Buktinya, gawang Roma terlalu sering dibobol, biarpun mereka juga mencetak banyak gol. Beberapa pemain tidak puas dengan kinerja Zeman. Antara lain, Daniele De Rossi dan Miralem Pjanic. Di musim itu, De Rossi bagaikan pangeran mati di kerajaannya sendiri. Rumor kepindahannya terdengar santer, konon De Rossi tidak puas bermain di Roma. Sampai – sampai, mantan istri De Rossi angkat bicara.

Era Zeman II akhirnya runtuh. Aurelio Andreazolli ditunjuk menjadi caretaker. Andreazolli datang ke Roma pada tahun 2006. Ia termasuk staff yang dibawa khusus oleh Spalletti saat itu. Hasil akhirnya memang tidak memuaskan, Roma kembali gagal lolos ke zona Eropa. Hasil paling buruk adalah disaat mereka takluk di tangan "saudara"nya sendiri. 1-0, Lazio berpesta mengangkat piala Coppa Italia. Dua musim yang gelap bukan ?


"The Good"
Serigala yang kikuk. Kalimat yang tepat disandang AS Roma dimusim 2012/13. Ketika Sabatini gagal membujuk Allegri atau Mazzari untuk hijrah ke Trigoria, lalu memilih Rudi Garcia, siapa yang tidak pesimis. Bahkan, politisi ternama Italia, Maurizio Gasparri pun berujar "Who is Garcia, is he Zorro's friend ?" Wajar apabila politisi dari partai Forza Italia tersebut muak dengan kebijakan tersebut. Maklum, Gasparri termasuk pemegang saham di AS Roma. Lalu ketika saya sedang kumpul-kumpul di Gelanggang, seorang teman yang bernama Marwan bertanya, “Roma pelatihnya sekarang siapa ?” aku jawab, “Rudi Garcia bung..” Mas Marwan pun membalas, “Sopo kuwi ?”
Tapi sudahlah, toh keraguan tersebut terjawab sudah. Ya, sebagai fans Roma setidaknya kita sudah bisa bernapas lega. Aku yakin, Daniele De Rossi pun merasa lega sekarang, begitu juga dengan Totti, Pallotta, Venditti, Carlo Verdone, Bruno Conti bahkan Max Biaggi.
Tidak usah membahas panjang lebar soal Garcia. Kegagalan AS Roma merengkuh scudetto tidak perlu disesali. Kali ini Roma sedang merajut masa depan bersama Rudi Garcia. Mereka sudah berada dijalur yang tepat karena seorang Rudi Garcia berhasil menjinakkan kelemahan terbesar AS Roma, yaitu mentalitas. Garcia mengawali karirnya dari bawah. Dia bukan pemain beken di era 80an semacam Platini, Maradona dll. Pria yang mempunyai butik desain interior tersebut pernah menjadi scout. Bahkan jalur physio pun pernah dia tempuh. Segala lini yang menyangkut struktur klub setidaknya sudah pernah disinggahi. Baiklah, sudah cukup mengenai Rudi Garcia. Until now, he’s “The Good”. Yes, I’m sure about that.

Jumat, 27 Juni 2014

Kisah dari Tukang Dongeng

Ada sebuah kisah yang baru saja aku dengar. Kisah yang aku simak dari seorang Tukang Dongeng. Cerita tentang pertemuan. Iya, lagi-lagi tentang pertemuan yang misterius. Kalau tidak salah ingat atau salah dengar, kejadiannya sekitar beberapa bulan yang lalu.
Jadi begini, cerita yang aku dengar tersebut lokasi utamanya berada di sebuah perpustakaan. Konon, ada seorang lelaki yang berjalan dari arah parkiran menuju perpustakaan. Langkahnya tergesa-gesa. Begitu menitipkan tas kepada petugas, lelaki tadi langsung masuk ke perpustakaan tanpa absen terlebih dahulu.
Nah, laki-laki tadi lalu bergerak ke tempat komputer untuk mencari buku. Setiba disana ternyata komputer yang dihadapannya sedang rusak, error. Kacau bung ! Ia pun menoleh ke sebelah kiri. Di situ ada seorang perempuan. Si laki-laki agak curiga. Sebab si perempuan tampak tak berniat mencari buku.
Si lelaki tersebut lalu bertanya, “Mbak, komputernya bisa dipakai nggak ya ?”
Sang perempuan menjawab, “Nggak tahu mas. Masnya duduk sini aja.”
“Oh, makasih ya mbak.” sahut si lelaki.
Mereka pun saling bertukar tempat.
Di saat si lelaki sedang asyik mengecek buku, si perempuan bertanya kepadanya, “Ada mas bukunya ?”
“Ada, tapi dipinjam’e.” jawab si lelaki sambil mengetik judul buku lain yang ingin dicari. Anggap saja laki-laki tadi sedang mencari bukunya Franz Magnis Suseno yang berjudul “Pemikiran Karl Marx : Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme”
“Kamu S2 ya mbak ?” selidik sang lelaki.
“Enggak mas, masih S1, mahasiswa baru !”
“Oh, kirain S2. Haha. Lha, kamu asli mana tho ?”
“Magelang mas” jawab si gadis sambil menjulurkan tangan kanannya. Mereka pun lalu memperkenalkan nama masing-masing.
“Lha, kamu tuh jurusan apa’e ?”
“Jurusan *ini*  mas.” (Tukang Dongeng bilang supaya jangan diceritakan ke orang lain tentang asal jurusan si perempuan. Maaf ya sebelumnya L )
Si laki-laki lalu menanyakan hal yang standar. Apakah kenal si A, si B, kenal si itu dong, kalau sama si ini tahu, bla bla bla bla. Saat itu di sebelah mereka juga ada beberapa orang. Nampaknya, mereka juga bukan teman dari si lelaki serta si perempuan.
“Kamu sendiri angkatan berapa mas ?” tanya si perempuan yang ketika itu sedang memakai jilbab berwarna hitam.
“2008”
“Wah, bentar lagi dong !” sontak si perempuan.
“Hahahaha, iya, amin-amin. Duluan ya.” jawab si laki-laki sembari berpamitan.
“Iya mas.”
Lelaki tadi lalu naik ke atas. Menyusuri beberapa anak tangga untuk sekedar mencari buku lalu membacanya demi sebuah cita-cita. Entah, apa yang dilakukan oleh si perempuan. Mungkin dia pulang atau mungkin ada jam kuliah. Si Tukang Dongeng juga tidak menceritakannya kepadaku. Selain cerita di perpustakaan tersebut, Si Tukang Dongeng juga mengisahkan cerita-cerita lain. Ada cerita tentang lelaki yang dikirimi lagu oleh seorang gadis. Si gadis merekam lagu yang ia mainkan dengan piano kesayangannya. Beruntung, gadis tersebut merupakan dambaan si lelaki. Ada juga cerita lucu tentang anak muda yang mengantarkan pulang seorang gadis. Mereka naik vespa berduaan, menyusuri malam.
Entah, apa yang akan terjadi selanjutnya. Si Pedongeng masih menyembunyikan ribuan ceritanya. Menunggu saat yang tepat untuk  diungkapkan kepadaku. Akan tetapi, aku berimajinasi bahwa lelaki-lelaki tadi sedang berjalan menuju sebuah kepastian. Sebuah instrumental “Guns Don’t Argue” milik Ennio Morricone sedang berdendang. Terdengar pula sayup-sayup lagu “The Return of Ringgo”
“Because we are fearless men”
“Because we are fearless men”
“Because we are fearless men”
Tatkala semua cerita sudah tersampaikan, semoga berakhir dengan bahagia. Aku sendiri juga masih menantikannya.

Is there anybody going to listen to my story
All about the girl who came to stay?
She's the kind of girl you want so much
(The Beatles - Girl)

Daun, Tanah dan Hujan

Ada kalanya, tanah merindukan hujan. Rintik-rintik menghujam, serasa lembut. Daun, ranting, batu dan material-material yang lain juga menunggu pelukan hujan. Namun, sebuah tanah tidak akan pernah cemburu, biarpun menjadi peraduan terakhir hujan.
Di sela-sela percumbuan hujan dengan daun, tercium wangi harum dari mawar yang hampir layu. Ada air yang menetes dari mahkota sang mawar. Mungkin itu tangisan, mungkin juga bukan.
Di bawah, ada satu sosok yang bersembunyi di balik kegelapan. Dia adalah raja kodok yang sedang menunggu putra-putrinya. Mungkin mereka sedang tersesat.
Di lain pihak, pasukan semut saling berbincang. Mereka sedang menggunjing. Hujan berselingkuh dengan daun. Seekor kucing liar yang senantiasa mengasihi anak-anaknya kelihatan tidak peduli. Baginya, perbuatan serong tersebut bukan urusan yang penting. Toh, dia juga kerap diperlakukan sama oleh kucing-kucing bermata keranjang.
Akhirnya tiba juga waktu dimana tanah mulai dijilati oleh hujan. Basah. Hujan dan tanah saling melepas rindu. Malam itu mereka benar-benar gembira. Tertawa, terbayar sudah siksaan oleh sang surya.
Sayang, sebelum pagi mulai membangunkan daun-daun, kisah mereka sudah habis. Karena sang bulan tak mengijinkan hujan untuk berlama-lama di bumi.

Selasa, 24 Juni 2014

PERJUMPAAN

Suatu saat, ketika saya bersama seorang kawan sedang nongkrong di kantin. Suasana di kantin memang sedang riuh, penuh dan ramai. Tiba-tiba datang dua mahasiswa. Kursi di depan kita memang kosong, mereka pun duduk satu meja dengan kami. Daripada terkesan aneh, sayapun mengajak mereka berbicara. Mulai dari obrolan sederhana, sepele lalu beranjak ke percakapan yang serius. “Anak ekonomi ya mas ?” “temennya si ini ya ?” “kalau mas nya jurusan apa ?” bla bla bla. “Jokowi kemarin waktu tes nggambar ini,” “dulu kalau mau masuk Sadar harus tes potensi akademik dulu” “perceraian Prabowo dengan Titiek kan karena persoalan politik” “kalau itu makamnya Sambernyawa, haa kalau yang itu makamnya Samber mbledek”. Beribu kata saling meluncur dari mulut kita berempat. Hingga dua mahasiswa tersebut memutuskan untuk pamitan, mungkin karena bosan atau memang sedang dikejar waktu.

Kadang-kadang kita menemui perjumpaan yang sifatnya tidak disengaja. Peristiwa yang muncul secara tiba-tiba, tidak terduga. Bayangkan ketika kita sedang berada di kereta, bus atau travel. Di sekeliling atau di samping kita adalah orang-orang asing. Ada yang mencurigakan, ada yang ramah, pendiam dsb. Mungkin beberapa dari kita pernah mengalami hal serupa. Mengajak ngobrol mereka tanpa berkenalan lebih dahulu, menawarkan makanan, lalu saling berpisah tanpa meninggalkan nama. Atau mungkin malah ada yang bernasib sama seperti di film Before Sunrise ? oh, it’s so nice..

Ketika semua perjumpaan yang tidak terencana tadi sudah berakhir, apakah kita akan berpikir bahwa Tuhan menyimpan sebuah rahasia atas peristiwa tersebut. Aku pikir tidak, itu merupakan hal yang wajar bagi kita semua. Namun Tuhan pernah menyimpan sebuah rahasia untukku. Bermula sekitar enam tahun yang lalu, disaat aku pernah bertemu dengan seseorang. Akupun tidak pernah menduga bahwa akan bertemu kembali dan benar-benar mengenalnya. Pernah pula bertemu dengan sosok yang lain lagi. Hanya bertemu, melihat, memandang, tanpa timbul sebuah percakapan. Sampai sekarang pun belum mengenalnya. Ada kabar bahwa dia keterima sekolah di luar negeri. Baiklah, kesempatan untuk sekedar melihat pun semakin berkurang. Selamat yang buat kamu !

Okay, mari kita mulai mensyukuri semua perjumpaan, atas pertemuan yang dirahasiakan oleh Nya dan diakhiri juga dengan rahasia. Semoga kita semua mendapat hikmah dari perjumpaan-perjumpaan. Semoga kita berjumpa kembali..

Kampanye

Kemarin, sekitar pukul satu pagi, saya keluar dari rumah untuk membeli rokok. Berhenti di depan gapura kampung, sembari menengok kiri kanan, untuk menyeberang jalan. Di seberang gapura tersebut, terpasang spanduk kampanye capres bertuliskan “Selamatkan Indonesia”. Sayapun meluncur ke arah utara, lagi-lagi saya menemui berbagai macam spanduk serta bendera. Kali ini dari rival spanduk yang saya lihat sebelumnya. Bahkan di tengah perempatan kecil daerah Nglempongsari, jalan tersebut mereka cat dengan gambar banteng moncong putih. Sayapun belok ke barat karena berniat ke Circle K di jalan Palagan. Pada saat itu saya menemui beberapa orang yang sedang menggotong spanduk. Lalu saya iseng berteriak, “Jokowi !”, sontak mereka menjawab, “Yo !”
            Beberapa minggu ini kita akan disuguhi pertempuran-pertempuran antara kedua belah pihak yang sedang bertarung memperebutkan kue kekuasaan. Saya sendiri agak jengkel ketika berada di rumah. Bapak saya hobinya nonton berita tentang kampanye. Kemarin malam, ibu saya sembari mengetik sempat mengeluh. Dia sudah capek dan heran dengan kelakukan bapak saya, kok ndak bosen-bosen nonton berita yang isinya cuman copras-capres. Ia pun berujar, “Mbok gek tanggal 9, ben ndang rampung !”
            Entahlah, tapi saya sendiri cukup miris dengan suasana ini. Masing-masing stasiun tv atau beberapa media sudah tidak netral lagi. Kampanye benar-benar jadi dagangan demi menjadikan jagoan mereka memegang tampuk kekuasaan negeri ini. Media punya peranan besar untuk mempengaruhi cara pandang masyarakat. Keponakan saya yang baru berumur 7 tahun saja sudah bisa nyanyi, “Prabowo, Presidenku..” Bahkan hapal dan tahu siapa saja tokoh-tokoh di negeri ini, semacam Hatta Rajasa, Megawati, Mahfud MD, Hidayat Nur Wahid dan bayangkan Aburizal Bakrie pun dia tahu. Tapi ketika saya menunjukkan gambar Panglima Besar Revolusi, Bung Karno, dia tidak tahu siapa beliau. Fak !
            Saya sendiri tidak terlalu berminat untuk aktif di kegiatan berbau politik. Entah itu ikut organisasi politik di kampus, ataupun apalah itu. Biarpun kakak perempuan saya beserta suaminya aktif di salah satu partai yang ngakunya Islam. Saya ingat benar, bahwa dulu bapak pernah melarang supaya jangan masuk ke politik. Bagi beliau, politik itu kotor. Sampai sekarang saya masih mengamini saran beliau. Kalau untuk pengetahuan sih tidak masalah. Tapi kalau sudah terlibat ke dalam praktik-praktik berbau politik, sama sekali tidak berminat.
             Sudah sewajarnya apabila akhir-akhir ini banyak orang yang menjadi latah politik. Tapi satu hal yang perlu diingat, politik bukan hanya perkara soal kampanye, presiden dan negara. Sejatinya, politik lebih dari itu. Coba perhatikan pernyataan Miriam Budiarjo dalam bukunya yang berjudul Dasar-dasar Ilmu Politik. Menurut beliau, politik adalah berbagai macam kegiatan dalam suatu sistem politik (negara) yang menyangkut proses menentukan tujuan-tujuan dari sistem itu dan melaksanakan tujuan-tujuan tersebut. Politik menyangkut beberapa konsep pokok, yaitu : negara, kekuasaan, pengambilan keputusan, kebijaksanaan dan pembagian atau alokasi. Selain itu, politik tidak hanya berada dalam tingkatan negara. Pemilihan lurah pun termasuk praktik politik di tingkat lokal. Sejalan dengan pendapat Deliar Noer, politik memang mempunyai perhatian khusus terhadap masalah kekuasaan di dalam kehidupan sebuah masyarakat. Namun, di era modern saat ini, kekuasaan tersebut berhubungan erat dengan negara.

            Baiklah, saya juga tidak berniat untuk membahas mengenai panasnya persaingan Prabowo dan Jokowi. Cuma sekedar mengingatkan aja sih, supaya jangan mudah terbuai oleh media-media yang sejatinya sedang bermuka dua. Pintar-pintar lah memilih berita dan jangan gampang tertipu oleh berbagai macam isu yang beredar. Gitu aja sih, selamat malam kamu.. J 

Kamis, 15 Mei 2014

All I want is a Roman.. ( Percakapan Pertama )

Belum lama ini, mantan PM Italia, Silvio Berlusconi mengutarakan kegelisahannya terhadap sepakbola Italia dewasa ini. Beliau mengomentari dominasi pemain asing di final Coppa Italia yang berlangsung pekan lalu. Lantaran, hanya Aquilani dan Insigne yang mewakili Italia di line up utama kedua kubu. Selebihnya diisi oleh pemain-pemain impor. Padahal pertandingan Napoli kontra Fiorentina tadi disaksikan oleh PM Italia, Matteo Renzi serta Cesare Prandelli selaku pelatih timnas. Beruntung muka Italia masih diisi dua pemain lagi, yaitu Matri dan Giuseppe Rossi yang sejatinya lahir di Amerika.
Kegelisahan Berlusconi diatas patut direnungkan oleh klub-klub di Italia. Sebelum Berlusconi, mantan presiden Rosella Sensi juga jengah dengan migrasi pemain asing di Italia. Menurut putri Franco Sensi tersebut, pemain asing yang singgah di Italia merupakan pesepakbola buangan alias kelas dua. Mungkin saja dirinya merujuk pada beberapa pemain semacam, Higuain, Callejon, Tevez, Llorente, Kaka dll. Patut diapresiasi kritikan pedas Rosella Sensi diatas. Biarpun komentar tersebut bagaikan menjilat ludah sendiri. Sebagai fans AS Roma, saya ingat benar saat di masa kepemimpinan Rosella Sensi, beliau juga melakukan hal yang sama. Cicinho, Julio Baptista, Gago, Adriano. Apa kabar kalian ?
Oke, sebelum tulisan ini muncul, saya sempat posting curhatan mengenai Roma dan Champions League. Setelah memastikan lolos ke Liga Champions musim depan, tentu ada banyak PR untuk membenahi segala lini. Seperti yang disampaikan oleh Rudi Garcia, bahwa skuad AS Roma musim depan harus kompetitif. Apalagi ada beberapa aturan yang wajib dipatuhi oleh AS Roma sebagai syarat tampil di Liga Champions. Antara lain pemain homeground serta Financial Fair Play (FFP). Apabila pernah bermain FM 14, istilah tersebut tentu sudah akrab ditelinga.
Mengenai FFP, saya memang tidak terlalu paham. Sepengetahuan saya, klub yang tampil di kompetisi kontinental Eropa, keuangannya harus sehat. Masing-masing klub dilarang menderita kerugian diatas 45 juta euro. Aturan tersebut diterapkan mulai musim depan. Namun UEFA sudah melakukan ujicoba FFP ditahun ini. Situs Bola Total pernah membahas tentang aturan FFP, dugaan mereka aturan finansial tersebut justru membuat sepakbola semakin komersial. Lebih jelasnya silahkan baca artikel berikut, “Sisi Lain Financial Fair Play”.
Selanjutnya tentang aturan homeground player. Dari 25 pemain yang didaftarkan ke Liga Champions, delapan diantara mereka harus berstatus homeground. Apa itu homeground ? mengutip kicauan akun sepakbola @bolatotal, homeground adalah pemain yang “sudah terdaftar selama tiga musim penuh di satu atau lebih klub dalam satu asosiasi tertentu sebelum berusia 21 tahun”. Sebenarnya sejak musim 2008/09, UEFA sudah menerapkan aturan diatas. Rumitnya lagi, diantara delapan pemain tersebut, klub wajib mendaftarkan minimal empat pemain asli didikan akademi mereka. Wajar apabila PSG serta Manchester City kelabakan, mengingat mereka lebih senang membeli pemain “jadi”. Ada kabar, kedua klub diatas dikenai sanksi oleh UEFA akibat pelanggaran FFP serta homeground.
Untuk kasus homeground, bagi Roma nampaknya aman-aman saja. Ibaratkan AS Roma mendaftarkan pemainnya di Liga Champions dengan skuad saat ini. Paling tidak kita bisa menyebut Totti, De Rossi, Florenzi serta Romagnoli, empat dari homeground didikan akademi. Berikutnya, sebut saja Nainggolan, De Sanctis, Ljajic, Balzaretti atau Destro. Aku pikir tidak ada masalah dengan aturan homeground.
Mengenai FFP, mungkin baru bisa dicermati ketika bursa transfer sudah dibuka. Karena dapat dicermati dari pengeluaran atau pemasukan transfer klub, keseimbangan gaji, serta sponsor. Saya sendiri kurang paham dengan kondisi keuangan AS Roma sekarang. Memang, belum lama ini muncul berita bahwa AS Roma termasuk dari Top20 Most Valuable Soccer Club versi majalah Forbes. Namun, aku pikir itu belum bisa menjadi patokan. 
Baik, mari kita mulai bercakap-cakap. Kali ini saya mau menguraikan sebuah impian. Serie A tinggal menyisakan satu pertandingan. Pertarungan di papan atas sudah selesai, pertaruhan di zona degradasi juga sudah resmi. Hanya tinggal perebutan jatah Europe League. Apa lagi Serie A ? Yak, gong dimulainya bursa transfer akan segera ditabuh. Masing-masing klub akan saling jegal, bukan lagi Napoli vs Roma, melainkan Roma vs Muenchen. Cakupan wilayahnya begitu luas, dari Italia sampai Inggris, menuju Argentina ataupun Afrika. Intinya, demi menghadapi kompetisi kedepan, apa yang harus dilakukan Roma di kompetisi transfer. Bersiap-siaplah untuk menggerutu atau tertawa, this is Transfer Madness guys...
Sayangnya saya tidak mempunyai kontak telepon Walter Sabatini atau Rudi Garcia. Atau memiliki keahlian untuk menyihir seseorang. Bahkan, aplikasi semacam Football Manager Real Time Editor (FMRTE) di dunia nyata. Apabila semua imajinasi tersebut bisa saya peroleh dari Doraemon, tentu saya akan menyulap AS Roma menjadi tim paling kuat sedunia. Kalaupun boleh bermimpi, saya membayangkan skuad AS Roma diisi oleh pemuda-pemuda yang berasal dari Roma. Lebih tepatnya sih mereka lahir di wilayah yang masih menjadi bagian Region Lazio. Entah itu dari provinsi Roma, Frosinone, Latina, Rieti atau Viterbo. Local youth bung. Huehehehehe.
Katakanlah kebijakan yang masih dianut oleh Athletic Bilbao sampai detik ini kita taruh disistem perekrutan pemain AS Roma. Bilbao memang tim yang unik, kebijakan klub mewajibkan mereka untuk merekrut pemain yang berasal dari Basque Country. Bilbao tidak mungkin membeli Cristiano Ronaldo atau Eden Hazard. Karena kedua pemain tadi punya darah keturunan Basque. Hebatnya lagi, Les Leones bersanding bersama Barcelona dan Real Madrid sebagai klub yang tidak pernah degradasi. Aturan tadi ternyata tidak dipermasalahkan oleh para suporter. Bahkan mereka lebih memilih untuk degradasi ketimbang menghapus kebijakan diatas.
Agak sedikit keras kepala sih kebijakan tersebut. Tapi lucu aja kalau AS Roma menerapkan sebuah aturan bahwa mereka hanya boleh merekrut pemain yang berasal dari region Lazio. Selama ini, AS Roma selalu identik dengan simbol seorang pangeran. Aku kira hal tersebut dipengaruhi oleh faktor sejarah. Maklum, dimasa lampau, kota Roma menjadi pusat Roman Empire. Tidak heran apabila pemimpin atau kapten yang mereka puja, merupakan putra asli Roma. Siapa yang tidak kenal Totti, De Rossi atau Giannini, mereka lahir di Roma. Sebelumnya, sebut saja Rocca "Kawasaki", Agostino Di Bartolomei, Bruno Conti, Giacomo Losi, Atillio Ferrari, Fulvio Bernardini, Amedeo Amedei, dsb. Alangkah menariknya apabila skuad sekarang juga berasal dari Roma atau Region Lazio.

Tapi apakah mungkin hal yang saya uraikan diatas akan terwujud ? aku kira tidak mungkin. Susah sekali mewujudkan tradisi ala Athletic Bilbao, mengingat kebijakan tersebut sudah diterapkan lama oleh mereka. Agak riskan kalau AS Roma coba-coba meniru kebijakan Les Leones. Nah, kalau mayoritas skuad Il Lupi diisi oleh pemuda lokal provinsi Roma dan sekitarnya bagaimana ? emm, besar kemungkinan bisa, karena menyangkut kebijakan UEFA diatas sih. Jadi bagusnya gimana dong ? woles sih, yang penting jangan jadi tim kayak mie instan, xixixixixi.....

Unforgettable : Giorgio Rossi

Suatu ketika, ada sebuah percakapan di Anzio, pinggiran Roma. Di kelas kecil, antara guru dengan sepuluh muridnya. Beberapa murid ada yang menengok ke belakang untuk melihat jam, ada juga yang menoleh ke jendela sebelah kiri. Apabila menengok ke jendela, kita akan melihat sepetak lapangan sepakbola, tidak panjang, tidak pula lebar. Dikelilingi pagar, namun pintunya rusak, ada tiang gawang tapi tidak dihiasi jaring. Si ibu guru mengerti bahwa beberapa muridnya sudah tidak sabar untuk keluar kelas. Putaran jarum memang menunjukkan bahwa waktu di kelas tinggal 10 menit. Sebelum pelajaran sejarah ditutup, sang ibu guru mengajukan satu pertanyaan kepada murid-muridnya.

Bu Guru : Menurut kalian, siapa saja yang pantas menjadi legenda AS Roma ?

Bocah berkacamata : Francesco Totti !

Bocah berkepang : Ago !

Bocah ingusan : Vincezooooooo, Montelllaaaaa....

Bu Guru : ada yang lain ?

Bocah berambut pirang : Bruna..

Bu Guru : yes, Bruno Conti

Bocah jangkung : Pluto ! Delvecchio, Tommasi, Candela, Batigol !

Bocah beranting : Losi, Rocca, Pendolino, Falcao, Bimbo, Nela, Giannini, Perrotta, De Rossi, Rugantino, Prati, Tempestilli, Pruzzo..

Bocah lain tidak kalah girangnya menyebutkan beberapa nama.

Bocah berkucir : Tancredi, Antonioli, Konsel, Doni.. lalu, Carboni, Santarini, Panucci, Spinosi,

Bocah gundul : ah, Spalletti, Capello, Niels “Baron” Liedholm..

Bocah berambut panjang : Voller, Balbo, Rizzitelli, Righeti, Maldera, Boniek, Cerezo... umm, Dino Viola dan Sensi

Bu Guru : yap, Presidente

Bocah bermata biru : Giorgio Rossi

Bu Guru : (kaget dan heran) hah, Giorgio Rossi ?

Bocah bermata biru : ya, Giorgio Rossi, il massagiatore..

Bocah berkacamata : alasannya ?

Bocah bermata biru : Sejak era Guido Masetti, Gunnar Nordahl, Helenio Hererra, Sven Goran Eriksen, Vuja Boskov hingga Zeman II. Dari Olimpico, mampir sejenak ke Flaminio dan kembali ke Olimpico. Segelintir nama yang kalian sebutkan barusan pernah menjalani karir bersama Giorgio Rossi. 55 tahun di Roma. Dia adalah kakek, ayah, pengasuh, rekan bahkan seorang legenda. Giorgio Rossi..

Suasana sempat hening, namun kembali riuh karena tiba-tiba bel istirahat berdering. Ibu guru memimpin doa. Selesai. Para murid berlarian keluar kelas, mencari bola.


AS Roma and Champions League

Kompetisi Serie musim 2013/2014 tinggal menyisakan dua pertandingan. Selamat untuk Juventus ! Sedangkan Roma beserta Napoli sudah dipastikan mendapat jatah Liga Champions. Dua pekan terakhir akan menjadi kompetisi bagi tim yang mengincar kursi di Europe League. Satu slot sudah dikunci oleh Fiorentina. Dua slot lainnya akan diperebutkan oleh Inter Milan, Torino, Parma, Milan, Verona serta Lazio. Gonjang-ganjing di jurang degradasi juga menarik untuk diikuti. Sejauh ini belum ada yang dipastikan siapa yang akan meluncur ke Serie B. Pekan kemarin, Sassuolo berhasil menikam Fiorentina. Berardi dkk terbang ke peringkat 16. Akan tetapi posisi mereka belum aman, peringkat 16 sampai 20 masih terus berjuang untuk menjauh dari zona degradasi (Sassuollo, Chievo, Bologna, Catania dan Livorno)

Baik, mari percakapan tentang AS Roma kita mulai. Maaf apabila sedikit bertele-tele. Satu kata, kompetitif. Itulah yang diinginkan Rudi Garcia untuk menghadapi musim depan. Skuad AS Roma harus kompetitif. Jauh sebelumnya, Totti juga berujar bahwa Roma membutuhkan penyerang yang berkelas agar mampu bersaing di kancah Eropa. Muncul satu nama, yaitu Didier Drogba. Lupakan soal penyerang Galatasaray yang kontraknya akan habis di bulan Juni nanti. Satu hal yang penting adalah, tim yang kompetitif dan bermental juara. Quote kompetitif dan Drogba

Harap maklum apabila Rudi Garcia was was dengan skuad AS Roma sekarang. Mayoritas pemain Roma minim jam terbang di kompetisi Eropa. Beberapa dari mereka seperti Totti, De Rossi, Taddei, Maicon mungkin kerap mengecap kompetisi semacam Liga Champions. Namun yang perlu digaris bawahi, AS Roma sudah lama absen di Eropa. Tentu bukan perkara mudah menghadapi tim-tim luar Italia. AS Roma memerlukan adaptasi setelah sekian lama hanya merumput di negeri Pizza. Apabila mengacu pada beberapa klasemen di kompetisi domestik yang lain, beberapa tim sudah memastikan jatah Liga Champions. Paling tidak AS Roma akan menghadapi klub semacam Real Madrid, Bayern Muenchen, Dortmund, Atletico Madrid, Barcelona, Liverpool, Manchester City, Olympiacos, Ajax, Benfica, PSG, Sporting CP, AS Monaco dan Juventus. Beberapa tim lain yang kemungkinan akan menyusul adalah Chelsea, Schalke, Zenit, Basel, Shaktar Donetsk, Galatasaray atau Besiktas. Tim-tim yang lolos namun harus berjuang lebih dahulu lewat jalur kualifikasi juga patut di perhitungkan. Sebut saja, Bilbao, Napoli, Porto, Feyenoord, atau Celtic. Calon lawan yang tentunya tidak boleh dipandang sebelah mata.

Curhatan saya belum selesai. Apabila diatas sudah ditekankan bahwa Roma membutuhkan skuad yang mumpuni. Satu hal yang cukup meresahkan adalah mengenai tradisi di Eropa. Sejauh ini, tradisi Roma ketika berkompetisi baik di Liga Champions atau Europe League tidaklah mengesankan. Kalau boleh memuji, hanya duo Milano yang kerap membanggakan negerinya di Eropa. Tim yang lain ? menurut saya hanya sebagai penghibur sesaat, angin-anginan. Ingat, Lazio, Sampdoria atau Parma pernah menjajah Eropa. Bahkan gelar UEFA Cup / (RIP) Winners Cup pernah mereka arak dihadapan para pendukungnya. Sekarang ? maaf, untuk saat ini gaung mereka terdengar lirih sekali. Oh, ada yang terlupakan ya ? Juventus, iya Juve, satu-satunya peraih bintang tiga berwarna emas. Delapan belas tahun yang lalu dihadapan “sang ibunda tercinta”, piala Liga Champions mereka rengkuh. Di stadion Olimpico (Rome), pasukan Marcelo Lippi berhasil menundukkan Ajax lewat drama penalti. Di atas sudah saya sebutkan, 18 tahun silam. Italia memang penguasa generasi 90an ya.


Lalu, seperti apa sepak terjang serigala kota Roma di kompetisi kontinental ? Geliat Il Lupi di Eropa pernah dikicaukan oleh akun twitter @RomaIndonesia. Secara sekilas dapat kita cermati via link berikut. Nah, prestasi terbaik AS Roma di Liga Champions terjadi pada musim 1983/84, dulu namanya masih European Cup. Sayang, dihadapan para pendukungnya, mereka menyerah ditangan Liverpool. Konon, keberhasilan Roma lolos ke final diwarnai unsur kecurangan. Polemik tadi terjadi saat semifinal antara Roma kontra Dundee United, lebih jelasnya simak artikel berikut. Final kembali dinikmati punggawa AS Roma pada 1991. Namun buka Champions League, melainkan UEFA Cup (sekarang Europe League). Apabila di musim 1983/84, nama-nama yang tenar adalah Falcao, Conti, Ancelotti, Tancredi, Nela dan tentu saja Il Capitano, Agostino di Bartolomei. Era 90an adalah masanya Aldair, Rudi Voeller, Tempestilli serta Il Principe, Giuseppe Gianinni. Sayang mereka gagal karena dijegal Inter Milan. Roma kalah agregat, 1-2 untuk Inter Milan.

Mari menengok ke belakang sebentar. Di era 60an, sempat ada kompetisi kontinenantal yang bernama Fairs Cup. Beruntung, Roma menjadi juara di tahun 1961 setelah mengalahkan Birmingham City. Menginjak periode 70an, ada kompetisi antar tim Italia dan Inggris, namanya Anglo Italian Cup. Roma merengkuh kejuaraan tersebut pada tahun 1972, Blackpool mereka kalahkan. So last year bung.

Beranjak ke era kekinian. Pada kompetisi Champions League 2007/08, AS Roma berhasil lolos di perempatfinal setelah menyingkirkan Real Madrid. Di Olimpico menang 2-1, dilanjutkan kemenangan fantastis di Bernabeu dengan skor yang sama. Namun, petaka terjadi karena mereka bertemu kembali dengan Manchester United di perempatfinal. Di musim 2006/07, saat leg kedua perempatfinal melawan Manchester United. Sir Alex Ferguson terbukti lihai menjinakkan strategi ciamik Luciano Spalletti yang saat ini dikenal dengan istilah false nine. Kekalahan 7-1 di Old Tradford menjadi penutup kiprah Roma di kompetisi yang kelak disabet AC Milan. Nasib buruk kembali menimpa Totti dkk, mereka takluk dua leg sekaligus. Manchester United lolos setelah menang agregat 3-0 atas Roma. Uniknya, dalam setahun Roma bertemu United empat kali karena sebelumnya mereka juga saling bertarung di grup F. Total, tiga kemenangan untuk MU dan satu hasil imbang.


Sejak kegagalan Roma di perdelapanfinal Champions League 2008/09, kompetisi tersebut tidak pernah lagi dijamah oleh mereka. Musim 2009/10, Roma hanya lolos UEFA Europe League. Parahnya, itulah kompetisi Eropa terakhir yang akan mereka jalani. Sebab di tahun 2010/11, mereka tidak memperoleh jatah Eropa. Lalu saat diasuh Luis Enrique, Roma punya kesempatan untuk bertarung di Europe League. Sayang di fase playoff mereka kandas di tangan Slovan Bratislava. Jadi selama lima tahun Roma absen di kancah Champions League dan selama empat tahun mereka tidak berkeliling Eropa. Akhirnya, lima tahun yang panjang.

Kompetisi di tahun 2014/15 akan menjadi pekan yang padat. Tidak lagi 38 pertandingan, melainkan lebih. Semoga saja musim depan Roma mampu menjalani 57 pertandingan. Hahaha. Artinya, mereka akan menuntaskan kompetisi Serie A, lalu mencapai Final Coppa Italia, serta lolos Final Liga Champions. Syukur-syukur mereka bisa treble musim depan. Ngimpi ya bung ? Emang, namanya juga harapan.

Minggu, 11 Mei 2014

Football Manager

Menjadi pelatih sepakbola memang tidak semudah ketika kita bermain game Football Manager atau sejenisnya. Karir “kepelatihan” saya di Football Manager terbilang lumayan dengan menyandang nama Vito Andolini Corleone, berasal dari kota Corleone, Provinsi Palermo. Maklum saya sendiri penggemar film Godfather.
Selama lima tahun melatih AS Roma, saya berhasil mengangkat derajat klub ibukota Italia tersebut. Beberapa gelar sudah saya persembahkan, antara lain lima kali juara Coppa Italia, empat Super Coppa dan satu Europe League. Sudah berjuta-juta uang saya tinggalkan. Tentunya dari hasil penjualan pemain serta hadiah kompetisi. Pemain-pemain muda pun juga menjadi bintang dan diincar banyak klub besar macam, Barcelona, Manchester United, Real Madrid, PSG dan sejenisnya. Waktu itu juga sempat lolos ke final Liga Champions, namun kalah di tangan Barca. Uniknya, sewaktu semifinal melawan Porto, di kandang mereka kita kalah 4-0. Namun, saat leg kedua dihadapan para suporter, kita mampu menang 8-0. Miralem Pjanic mencetak lima gol sekaligus. Tampaknya tidak mungkin ya kalau di dunia nyata, namanya juga game.
Lalu di musim 2019/20 saya memutuskan meninggalkan AS Roma. Waktu itu James Pallotta selaku presiden klub tidak mau membangun stadion. Sayapun ngambek dan membeberkan hal tersebut ke media. Presiden klub mengajak rapat, mereka tidak senang atas kelakuan tersebut. Saya lebih memilih out, lagian sudah jadi icon di klub. Hahaha.
Akhirnya sayapun nganggur selama beberapa bulan. Beberapa klub dan negara menawari saya pekerjaan, semacam Arsenal, Soton, serta Spanyol, namun saya menolaknya. Di lain pihak, AS Roma mengangkat pelatih yang cukup ternama. Dia adalah Carlo Ancelotti, pelatih sukses dan bertalenta tinggi. Kalau tidak salah, waktu itu Don Carlitto sedang melatih Dortmund.
Di bawah asuhan Ancelotti, AS Roma tampil menggila. Saingan mereka di musim 2019/2020 masih itu-itu saja, semacam Juventus, Milan dan Napoli. Eh, tiba – tiba ada satu klub Italia yang meminta saya untuk jadi pelatih, yaitu Napoli. Saya ogah menerima tawaran mereka, maklum kelahiran Palermo, sejak lahir sudah musuhan sama mereka. Hihihihi. Selanjutnya saya melihat Sampdoria memecat pelatih mereka, yaitu Roberto “Laziale de Merda” Mancini . Sayapun apply for job, siapa tahu mereka tertarik. Setelah berunding dengan pimpinan klub, mereka menawari saya kontrak. Saya setuju dengan tawaran mereka dan optimis mampu bertahan di Serie A, mengingat posisi Sampdoria saat itu berada di peringkat 18. Setelah melihat komposisi pemain, ternyata mereka tidak terlalu menonjol, sebut saja Paloschi, Zapata, Uric, Daniel Akyei, Fossatti, Scheloto dll. Saat jendela transfer kedua dibuka, beberapa pemain hebat saya beli, antara lain Daniele De Rossi, Mandzukic serta pemain regen dari Rusia. Alhamdulillah, saya berhasil membawa Sampdoria finish di peringkat 6 dan juara Coppa Italia. Di sisi lain, klub kesayangan saya berhasil meraih Scudetto serta menggilas Porto di final Liga Champions. Grande Don Carlito !
Berdasar pengalaman “kepelatihan” saya di Football Manager, ternyata David Moyes bisa membawa Manchester United menjuarai Premier League serta Champions League di musim pertamanya. Ironi memang apabila dibandingkan dengan kenyataan sekarang, #MoyesOut. Mungkin waktu itu David Moyes sedang lelah dan lupa save game terlebih dulu. Hahahaha. Erik Lamela sang wonderkid juga bermain bagus dan lumayan sukses saat merumput bersama Tottenham Hotspur. Namun nyatanya, pemain kelahiran Argentina tersebut nasibnya terkatung – katung sekarang, diacuhkan oleh sang pelatih, cedera pula. But, that’s football guys.

Nah, sepakbola selalu menghiasi dinamika kita, baik laki-laki atau perempuan. Saat masih duduk di bangku SD dan SMP, saya masih sering bermain bola setiap sore. Bersama tetangga serta beberapa pemuda yang ngekost di kampung saya. Atau terkadang datang ke Tridadi dengan niat menyaksikan aksi Marcelo Braga dkk. Baik dengan membayar tiket atau jadi laskar jebolan di menit – menit akhir pertandingan. Sepakbola memang candu, Football Manager juga candu. Bagi yang sedang skripsi saya sarankan untuk segera pensiun dari Football Manager. Uninstall dan delete semua file-file yang berhubungan dengan FM. Gitu aja sih. Semoga mencerahkan. Ciao !

Atas Nama Selebrasi

Pada masa ini, setidaknya ada tiga tipe penonton sepakbola. Penonton yang datang ke stadion, penonton sepakbola layar kaca serta penonton bola di lini masa twitter. Ada tambahan ? Nah, tentu saja masing-masing punya cara untuk mengekspresikan dukungannya ke tim yang mereka support. Entah itu koreo yang apik dan kompak, umpatan ke pemain lawan, melompat kegirangan ketika gol tercipta atau secepat mungkin update status (ngetwit) “GOL, Evan Dimas !”

Setiap tim yang bermain tentu saja ingin mencetak gol. Sepakbola tanpa gol ibarat orang Indonesia makan sayur tapi tidak memakai nasi. Nikmatnya kurang pas. Ketika melihat ke belakang, permainan dengan gaya bertahan pernah diacuhkan. Faktanya, strategi bola jaman dahulu pernah memakai empat striker sekaligus. Apabila mengacu di sepakbola modern saat ini, mencetak gol bukan lagi tugas utama striker. Setiap posisi punya kesempatan untuk membobol gawang lawan. Namun, tumpuan utama gol tetap berada dipundak striker.

Gol tercipta, penonton bersorak kegirangan, selebrasi ! Masih ingat gaya khas penyerang mungil Vincenzo Montella ketika berhasil menyarangkan gol ? Atau ayunan tangan legenda sepakbola Indonesia, Bambang Pamungkas. Saat Klose masih muda, kita sangat terhibur bukan ketika dirinya salto sehabis mencetak gol. Sayang, mungkin karena takut encok, gaya khas Klose tersebut tidak pernah muncul lagi. Selebrasi yang unik dan khas memang tidak pernah lekang ditelan zaman. Tersimpan dengan indah di memori pecinta sepakbola.

Beberapa pemain memang mempunyai gaya selebrasi khusus, semacam isapan jempol Totti. Banyak sekali selebrasi yang dilakukan sehabis membobol gawang. Melepas kaos, menari-nari ala capoera Brasil, menimang bayi atau berlari kencang ke arah suporter. Mirko Vucinic pernah melakukan selebrasi dengan cara melepas celananya. Balotelli mencopot jersey lalu mempertontonkan tubuhnya yang kekar. Namun selebrasi tadi tidak melulu mereka lakukan.


Proses terjadinya gol disebabkan aliran kerjasama antar lini. Sepabola adalah permainan kelompok. Tidak pantas apabila luapan kegembiraan dirayakan sendirian. Terlalu banyak perayaan yang indah, bahkan buruk. Semoga artikel The Telegraph atau Buzzfeed bisa mewakili serta mengajak kita semua untuk bernostalgia atas nama selebrasi.

Namun, satu hal yang menganggu pikiran saya. Kenapa seorang kiper tidak pernah bersama-sama ikut selebrasi ? (ataukah saya yang tidak tahu ?) atau mengapa tidak ada perayaan ketika kiper mampu menyelamatkan gawangnya ? saat seorang pemain mampu membuat gol, teman-temannya akan mengerubutinya bukan ? entah itu bek, gelandang, atau striker. Tapi saya jarang sekali melihat seorang kiper ikut berlari lalu ikut bersenang ria. Maklum, sepakbola memang dibatasi oleh waktu, 90 menit saja, eh lebih sedikit sih. Jadi, wajar apabila kiper berhasil mengamankan gawangnya tidak ada yang selebrasi. Mereka dikejar waktu.

Mungkin saja penjaga gawang memang ditakdirkan untuk berbesar hati. Seorang kiper lebih memilih untuk menendang atau mengoper bola ke kawannya. Menyuruh rekan-rekan yang lain untuk secepatnya memainkan bola, lalu bawa ke depan dan cetak gol. Kiper lebih senang selebrasi sendirian di belakang. Mengangkat tangannya, berteriak sendiri atau melompat dengan sukacita. Peristiwa dimana Dante memeluk Neur hanyalah sebagian kecil dari mayoritas bentuk selebrasi yang sudah disampaikan diatas. Perayaan tersebut jarang sekali diperoleh oleh sosok yang bernama, kiper. Satu hal yang perlu kita ketahui, tidak semua kiper itu seperti Chilavert, Rogerio Ceni, Rene Higuita yang mempunyai kemampuan mencetak gol lewat bola-bola mati. Atau seberuntung Asmir Begovic sewaktu membobol gawang Southampton.

Messi, Pacho Rubio, Maldini, Baggio, Rodrigo Araya, Hendro Kartiko, Ahn Jung Hwan, Maradona, Kahn, Roger Mila, Mursyid Effendi atau Platini adalah sebagian dari banyaknya aktor di lapangan hijau. Mereka menyihir jagad sepakbola untuk bersedih atau tertawa. Menggiring bola, menekel, mengumpan, menutup ruang, menarik kaos lawan, menepis bola, mencetak gol, memungut bola, lalu selebrasi, bertengkar, bertukar kostum atau menundukkan kepala. Seperti sosok wayang Kresna yang terkadang membuat kita merasakan keindahan, sering pula meninggalkan kesedihan.

Bergandengan tangan, berlari bersama rekan lain yang duduk di bangku cadangan. Lalu melompat setinggi-tingginya ke arah penonton. Perayaan atas kesatuan permainan (gol, tekel, tepisan, marking, assist, crossing, tangkapan dan lain sebagainya). Atas nama selebrasi. Kemenangan itu adalah kebersamaan....