"Aku ingin meletakkan sekuntum sajak di makam Nabi, Supaya sejarah menjadi jinak. Dan mengirim sepasang merpati" (Kuntowijoyo)

Kamis, 15 Mei 2014

AS Roma and Champions League

Kompetisi Serie musim 2013/2014 tinggal menyisakan dua pertandingan. Selamat untuk Juventus ! Sedangkan Roma beserta Napoli sudah dipastikan mendapat jatah Liga Champions. Dua pekan terakhir akan menjadi kompetisi bagi tim yang mengincar kursi di Europe League. Satu slot sudah dikunci oleh Fiorentina. Dua slot lainnya akan diperebutkan oleh Inter Milan, Torino, Parma, Milan, Verona serta Lazio. Gonjang-ganjing di jurang degradasi juga menarik untuk diikuti. Sejauh ini belum ada yang dipastikan siapa yang akan meluncur ke Serie B. Pekan kemarin, Sassuolo berhasil menikam Fiorentina. Berardi dkk terbang ke peringkat 16. Akan tetapi posisi mereka belum aman, peringkat 16 sampai 20 masih terus berjuang untuk menjauh dari zona degradasi (Sassuollo, Chievo, Bologna, Catania dan Livorno)

Baik, mari percakapan tentang AS Roma kita mulai. Maaf apabila sedikit bertele-tele. Satu kata, kompetitif. Itulah yang diinginkan Rudi Garcia untuk menghadapi musim depan. Skuad AS Roma harus kompetitif. Jauh sebelumnya, Totti juga berujar bahwa Roma membutuhkan penyerang yang berkelas agar mampu bersaing di kancah Eropa. Muncul satu nama, yaitu Didier Drogba. Lupakan soal penyerang Galatasaray yang kontraknya akan habis di bulan Juni nanti. Satu hal yang penting adalah, tim yang kompetitif dan bermental juara. Quote kompetitif dan Drogba

Harap maklum apabila Rudi Garcia was was dengan skuad AS Roma sekarang. Mayoritas pemain Roma minim jam terbang di kompetisi Eropa. Beberapa dari mereka seperti Totti, De Rossi, Taddei, Maicon mungkin kerap mengecap kompetisi semacam Liga Champions. Namun yang perlu digaris bawahi, AS Roma sudah lama absen di Eropa. Tentu bukan perkara mudah menghadapi tim-tim luar Italia. AS Roma memerlukan adaptasi setelah sekian lama hanya merumput di negeri Pizza. Apabila mengacu pada beberapa klasemen di kompetisi domestik yang lain, beberapa tim sudah memastikan jatah Liga Champions. Paling tidak AS Roma akan menghadapi klub semacam Real Madrid, Bayern Muenchen, Dortmund, Atletico Madrid, Barcelona, Liverpool, Manchester City, Olympiacos, Ajax, Benfica, PSG, Sporting CP, AS Monaco dan Juventus. Beberapa tim lain yang kemungkinan akan menyusul adalah Chelsea, Schalke, Zenit, Basel, Shaktar Donetsk, Galatasaray atau Besiktas. Tim-tim yang lolos namun harus berjuang lebih dahulu lewat jalur kualifikasi juga patut di perhitungkan. Sebut saja, Bilbao, Napoli, Porto, Feyenoord, atau Celtic. Calon lawan yang tentunya tidak boleh dipandang sebelah mata.

Curhatan saya belum selesai. Apabila diatas sudah ditekankan bahwa Roma membutuhkan skuad yang mumpuni. Satu hal yang cukup meresahkan adalah mengenai tradisi di Eropa. Sejauh ini, tradisi Roma ketika berkompetisi baik di Liga Champions atau Europe League tidaklah mengesankan. Kalau boleh memuji, hanya duo Milano yang kerap membanggakan negerinya di Eropa. Tim yang lain ? menurut saya hanya sebagai penghibur sesaat, angin-anginan. Ingat, Lazio, Sampdoria atau Parma pernah menjajah Eropa. Bahkan gelar UEFA Cup / (RIP) Winners Cup pernah mereka arak dihadapan para pendukungnya. Sekarang ? maaf, untuk saat ini gaung mereka terdengar lirih sekali. Oh, ada yang terlupakan ya ? Juventus, iya Juve, satu-satunya peraih bintang tiga berwarna emas. Delapan belas tahun yang lalu dihadapan “sang ibunda tercinta”, piala Liga Champions mereka rengkuh. Di stadion Olimpico (Rome), pasukan Marcelo Lippi berhasil menundukkan Ajax lewat drama penalti. Di atas sudah saya sebutkan, 18 tahun silam. Italia memang penguasa generasi 90an ya.


Lalu, seperti apa sepak terjang serigala kota Roma di kompetisi kontinental ? Geliat Il Lupi di Eropa pernah dikicaukan oleh akun twitter @RomaIndonesia. Secara sekilas dapat kita cermati via link berikut. Nah, prestasi terbaik AS Roma di Liga Champions terjadi pada musim 1983/84, dulu namanya masih European Cup. Sayang, dihadapan para pendukungnya, mereka menyerah ditangan Liverpool. Konon, keberhasilan Roma lolos ke final diwarnai unsur kecurangan. Polemik tadi terjadi saat semifinal antara Roma kontra Dundee United, lebih jelasnya simak artikel berikut. Final kembali dinikmati punggawa AS Roma pada 1991. Namun buka Champions League, melainkan UEFA Cup (sekarang Europe League). Apabila di musim 1983/84, nama-nama yang tenar adalah Falcao, Conti, Ancelotti, Tancredi, Nela dan tentu saja Il Capitano, Agostino di Bartolomei. Era 90an adalah masanya Aldair, Rudi Voeller, Tempestilli serta Il Principe, Giuseppe Gianinni. Sayang mereka gagal karena dijegal Inter Milan. Roma kalah agregat, 1-2 untuk Inter Milan.

Mari menengok ke belakang sebentar. Di era 60an, sempat ada kompetisi kontinenantal yang bernama Fairs Cup. Beruntung, Roma menjadi juara di tahun 1961 setelah mengalahkan Birmingham City. Menginjak periode 70an, ada kompetisi antar tim Italia dan Inggris, namanya Anglo Italian Cup. Roma merengkuh kejuaraan tersebut pada tahun 1972, Blackpool mereka kalahkan. So last year bung.

Beranjak ke era kekinian. Pada kompetisi Champions League 2007/08, AS Roma berhasil lolos di perempatfinal setelah menyingkirkan Real Madrid. Di Olimpico menang 2-1, dilanjutkan kemenangan fantastis di Bernabeu dengan skor yang sama. Namun, petaka terjadi karena mereka bertemu kembali dengan Manchester United di perempatfinal. Di musim 2006/07, saat leg kedua perempatfinal melawan Manchester United. Sir Alex Ferguson terbukti lihai menjinakkan strategi ciamik Luciano Spalletti yang saat ini dikenal dengan istilah false nine. Kekalahan 7-1 di Old Tradford menjadi penutup kiprah Roma di kompetisi yang kelak disabet AC Milan. Nasib buruk kembali menimpa Totti dkk, mereka takluk dua leg sekaligus. Manchester United lolos setelah menang agregat 3-0 atas Roma. Uniknya, dalam setahun Roma bertemu United empat kali karena sebelumnya mereka juga saling bertarung di grup F. Total, tiga kemenangan untuk MU dan satu hasil imbang.


Sejak kegagalan Roma di perdelapanfinal Champions League 2008/09, kompetisi tersebut tidak pernah lagi dijamah oleh mereka. Musim 2009/10, Roma hanya lolos UEFA Europe League. Parahnya, itulah kompetisi Eropa terakhir yang akan mereka jalani. Sebab di tahun 2010/11, mereka tidak memperoleh jatah Eropa. Lalu saat diasuh Luis Enrique, Roma punya kesempatan untuk bertarung di Europe League. Sayang di fase playoff mereka kandas di tangan Slovan Bratislava. Jadi selama lima tahun Roma absen di kancah Champions League dan selama empat tahun mereka tidak berkeliling Eropa. Akhirnya, lima tahun yang panjang.

Kompetisi di tahun 2014/15 akan menjadi pekan yang padat. Tidak lagi 38 pertandingan, melainkan lebih. Semoga saja musim depan Roma mampu menjalani 57 pertandingan. Hahaha. Artinya, mereka akan menuntaskan kompetisi Serie A, lalu mencapai Final Coppa Italia, serta lolos Final Liga Champions. Syukur-syukur mereka bisa treble musim depan. Ngimpi ya bung ? Emang, namanya juga harapan.

Minggu, 11 Mei 2014

Football Manager

Menjadi pelatih sepakbola memang tidak semudah ketika kita bermain game Football Manager atau sejenisnya. Karir “kepelatihan” saya di Football Manager terbilang lumayan dengan menyandang nama Vito Andolini Corleone, berasal dari kota Corleone, Provinsi Palermo. Maklum saya sendiri penggemar film Godfather.
Selama lima tahun melatih AS Roma, saya berhasil mengangkat derajat klub ibukota Italia tersebut. Beberapa gelar sudah saya persembahkan, antara lain lima kali juara Coppa Italia, empat Super Coppa dan satu Europe League. Sudah berjuta-juta uang saya tinggalkan. Tentunya dari hasil penjualan pemain serta hadiah kompetisi. Pemain-pemain muda pun juga menjadi bintang dan diincar banyak klub besar macam, Barcelona, Manchester United, Real Madrid, PSG dan sejenisnya. Waktu itu juga sempat lolos ke final Liga Champions, namun kalah di tangan Barca. Uniknya, sewaktu semifinal melawan Porto, di kandang mereka kita kalah 4-0. Namun, saat leg kedua dihadapan para suporter, kita mampu menang 8-0. Miralem Pjanic mencetak lima gol sekaligus. Tampaknya tidak mungkin ya kalau di dunia nyata, namanya juga game.
Lalu di musim 2019/20 saya memutuskan meninggalkan AS Roma. Waktu itu James Pallotta selaku presiden klub tidak mau membangun stadion. Sayapun ngambek dan membeberkan hal tersebut ke media. Presiden klub mengajak rapat, mereka tidak senang atas kelakuan tersebut. Saya lebih memilih out, lagian sudah jadi icon di klub. Hahaha.
Akhirnya sayapun nganggur selama beberapa bulan. Beberapa klub dan negara menawari saya pekerjaan, semacam Arsenal, Soton, serta Spanyol, namun saya menolaknya. Di lain pihak, AS Roma mengangkat pelatih yang cukup ternama. Dia adalah Carlo Ancelotti, pelatih sukses dan bertalenta tinggi. Kalau tidak salah, waktu itu Don Carlitto sedang melatih Dortmund.
Di bawah asuhan Ancelotti, AS Roma tampil menggila. Saingan mereka di musim 2019/2020 masih itu-itu saja, semacam Juventus, Milan dan Napoli. Eh, tiba – tiba ada satu klub Italia yang meminta saya untuk jadi pelatih, yaitu Napoli. Saya ogah menerima tawaran mereka, maklum kelahiran Palermo, sejak lahir sudah musuhan sama mereka. Hihihihi. Selanjutnya saya melihat Sampdoria memecat pelatih mereka, yaitu Roberto “Laziale de Merda” Mancini . Sayapun apply for job, siapa tahu mereka tertarik. Setelah berunding dengan pimpinan klub, mereka menawari saya kontrak. Saya setuju dengan tawaran mereka dan optimis mampu bertahan di Serie A, mengingat posisi Sampdoria saat itu berada di peringkat 18. Setelah melihat komposisi pemain, ternyata mereka tidak terlalu menonjol, sebut saja Paloschi, Zapata, Uric, Daniel Akyei, Fossatti, Scheloto dll. Saat jendela transfer kedua dibuka, beberapa pemain hebat saya beli, antara lain Daniele De Rossi, Mandzukic serta pemain regen dari Rusia. Alhamdulillah, saya berhasil membawa Sampdoria finish di peringkat 6 dan juara Coppa Italia. Di sisi lain, klub kesayangan saya berhasil meraih Scudetto serta menggilas Porto di final Liga Champions. Grande Don Carlito !
Berdasar pengalaman “kepelatihan” saya di Football Manager, ternyata David Moyes bisa membawa Manchester United menjuarai Premier League serta Champions League di musim pertamanya. Ironi memang apabila dibandingkan dengan kenyataan sekarang, #MoyesOut. Mungkin waktu itu David Moyes sedang lelah dan lupa save game terlebih dulu. Hahahaha. Erik Lamela sang wonderkid juga bermain bagus dan lumayan sukses saat merumput bersama Tottenham Hotspur. Namun nyatanya, pemain kelahiran Argentina tersebut nasibnya terkatung – katung sekarang, diacuhkan oleh sang pelatih, cedera pula. But, that’s football guys.

Nah, sepakbola selalu menghiasi dinamika kita, baik laki-laki atau perempuan. Saat masih duduk di bangku SD dan SMP, saya masih sering bermain bola setiap sore. Bersama tetangga serta beberapa pemuda yang ngekost di kampung saya. Atau terkadang datang ke Tridadi dengan niat menyaksikan aksi Marcelo Braga dkk. Baik dengan membayar tiket atau jadi laskar jebolan di menit – menit akhir pertandingan. Sepakbola memang candu, Football Manager juga candu. Bagi yang sedang skripsi saya sarankan untuk segera pensiun dari Football Manager. Uninstall dan delete semua file-file yang berhubungan dengan FM. Gitu aja sih. Semoga mencerahkan. Ciao !

Atas Nama Selebrasi

Pada masa ini, setidaknya ada tiga tipe penonton sepakbola. Penonton yang datang ke stadion, penonton sepakbola layar kaca serta penonton bola di lini masa twitter. Ada tambahan ? Nah, tentu saja masing-masing punya cara untuk mengekspresikan dukungannya ke tim yang mereka support. Entah itu koreo yang apik dan kompak, umpatan ke pemain lawan, melompat kegirangan ketika gol tercipta atau secepat mungkin update status (ngetwit) “GOL, Evan Dimas !”

Setiap tim yang bermain tentu saja ingin mencetak gol. Sepakbola tanpa gol ibarat orang Indonesia makan sayur tapi tidak memakai nasi. Nikmatnya kurang pas. Ketika melihat ke belakang, permainan dengan gaya bertahan pernah diacuhkan. Faktanya, strategi bola jaman dahulu pernah memakai empat striker sekaligus. Apabila mengacu di sepakbola modern saat ini, mencetak gol bukan lagi tugas utama striker. Setiap posisi punya kesempatan untuk membobol gawang lawan. Namun, tumpuan utama gol tetap berada dipundak striker.

Gol tercipta, penonton bersorak kegirangan, selebrasi ! Masih ingat gaya khas penyerang mungil Vincenzo Montella ketika berhasil menyarangkan gol ? Atau ayunan tangan legenda sepakbola Indonesia, Bambang Pamungkas. Saat Klose masih muda, kita sangat terhibur bukan ketika dirinya salto sehabis mencetak gol. Sayang, mungkin karena takut encok, gaya khas Klose tersebut tidak pernah muncul lagi. Selebrasi yang unik dan khas memang tidak pernah lekang ditelan zaman. Tersimpan dengan indah di memori pecinta sepakbola.

Beberapa pemain memang mempunyai gaya selebrasi khusus, semacam isapan jempol Totti. Banyak sekali selebrasi yang dilakukan sehabis membobol gawang. Melepas kaos, menari-nari ala capoera Brasil, menimang bayi atau berlari kencang ke arah suporter. Mirko Vucinic pernah melakukan selebrasi dengan cara melepas celananya. Balotelli mencopot jersey lalu mempertontonkan tubuhnya yang kekar. Namun selebrasi tadi tidak melulu mereka lakukan.


Proses terjadinya gol disebabkan aliran kerjasama antar lini. Sepabola adalah permainan kelompok. Tidak pantas apabila luapan kegembiraan dirayakan sendirian. Terlalu banyak perayaan yang indah, bahkan buruk. Semoga artikel The Telegraph atau Buzzfeed bisa mewakili serta mengajak kita semua untuk bernostalgia atas nama selebrasi.

Namun, satu hal yang menganggu pikiran saya. Kenapa seorang kiper tidak pernah bersama-sama ikut selebrasi ? (ataukah saya yang tidak tahu ?) atau mengapa tidak ada perayaan ketika kiper mampu menyelamatkan gawangnya ? saat seorang pemain mampu membuat gol, teman-temannya akan mengerubutinya bukan ? entah itu bek, gelandang, atau striker. Tapi saya jarang sekali melihat seorang kiper ikut berlari lalu ikut bersenang ria. Maklum, sepakbola memang dibatasi oleh waktu, 90 menit saja, eh lebih sedikit sih. Jadi, wajar apabila kiper berhasil mengamankan gawangnya tidak ada yang selebrasi. Mereka dikejar waktu.

Mungkin saja penjaga gawang memang ditakdirkan untuk berbesar hati. Seorang kiper lebih memilih untuk menendang atau mengoper bola ke kawannya. Menyuruh rekan-rekan yang lain untuk secepatnya memainkan bola, lalu bawa ke depan dan cetak gol. Kiper lebih senang selebrasi sendirian di belakang. Mengangkat tangannya, berteriak sendiri atau melompat dengan sukacita. Peristiwa dimana Dante memeluk Neur hanyalah sebagian kecil dari mayoritas bentuk selebrasi yang sudah disampaikan diatas. Perayaan tersebut jarang sekali diperoleh oleh sosok yang bernama, kiper. Satu hal yang perlu kita ketahui, tidak semua kiper itu seperti Chilavert, Rogerio Ceni, Rene Higuita yang mempunyai kemampuan mencetak gol lewat bola-bola mati. Atau seberuntung Asmir Begovic sewaktu membobol gawang Southampton.

Messi, Pacho Rubio, Maldini, Baggio, Rodrigo Araya, Hendro Kartiko, Ahn Jung Hwan, Maradona, Kahn, Roger Mila, Mursyid Effendi atau Platini adalah sebagian dari banyaknya aktor di lapangan hijau. Mereka menyihir jagad sepakbola untuk bersedih atau tertawa. Menggiring bola, menekel, mengumpan, menutup ruang, menarik kaos lawan, menepis bola, mencetak gol, memungut bola, lalu selebrasi, bertengkar, bertukar kostum atau menundukkan kepala. Seperti sosok wayang Kresna yang terkadang membuat kita merasakan keindahan, sering pula meninggalkan kesedihan.

Bergandengan tangan, berlari bersama rekan lain yang duduk di bangku cadangan. Lalu melompat setinggi-tingginya ke arah penonton. Perayaan atas kesatuan permainan (gol, tekel, tepisan, marking, assist, crossing, tangkapan dan lain sebagainya). Atas nama selebrasi. Kemenangan itu adalah kebersamaan....




Rabu, 30 April 2014

Title race is not over yet *


Pep Guardiola, pelatih yang semasa mudanya pernah merumput di Italia tersebut mungkin agak sedikit bernapas lega. Semua penikmat bola tahu, bahwa FC Holywood sudah memastikan gelar Bundesliga musim ini. Pekerjaan Guardiola hanya tinggal dua, Liga Champions dan DFB Pokal. Selain Bayern Muenchen, beberapa tim di Eropa juga sudah berpesta, sebut saja, Ajax, Celtic, Benfica, Fenerbahce dsb. Persaingan di kancah liga besar Eropa belum berakhir. Real Madrid dan Barcelona musim ini dibuat pusing oleh kelakuan Diego Simeone. Begitu pula dengan liga paling makmur di Eropa. Sampai detik ini, tabel klasemen Premier League belum memastikan siapa yang mampu merengkuh titel di tahun 2014. Kompetisi di negeri kelahiran Napoleon Bonaparte pun juga masih gonjang ganjing, antara AS Monaco atau Paris Saint Germain, bahkan Lille.

Mari kita menengok sejenak ke negeri Pizza. Jumat malam, tiga poin berhasil diraih AS Roma. Kemenangan tersebut menyatakan sebuah pesan bahwa perebutan scudetto belum berakhir. Selisih poin Roma dengan pemuncak klasemen berjarak lima poin. Dua gol berhasil disarangkan oleh Pjanic dan Gervinho ke gawang Abbiati. Kemenangan Il Lupi tidak lepas dari kuatnya barisan belakang. Sejauh ini gawang Morgan De Sanctis baru kebobolan 19 gol di laga Serie A. Tentunya kita tidak boleh melupakan peran Leandro Castan, Benatia, Rafael Toloi, Romagnoli, Toro, Dodo, Maicon serta Balzaretti. Sepakbola bukan sekedar gocekan, passing, assist serta gol belaka. Tepisan, marking, tekel dsb adalah bagian lain yang tidak boleh dipandang sebelah mata.

Tanpa banyak alibi, Seedorf mengakui kekalahan AC Milan dengan lapang dada. Musim ini AC Milan memang tampil terlunta-lunta. Namun di lima pertandingan terakhir, kubu Diavolo Rosso selalu meraih kemenangan. Sayang sekali penampilan impresif mereka berhasil dijinakkan serigala ibukota. Akhirnya Radja Nainggolan mampu mengalahkan Seedorf. Radja mengakui selama bermain di Serie A, Seedorf merupakan pemain yang susah dijinakkan. Good job Ninja !

Sudah kalah dihabisi pula. Kasihan betul bomber Milan, Mario Balotelli. Performanya yang buruk menjadi santapan para pengamat sepakbola Italia. Balotelli dikritik habis-habisan oleh legenda Milan, Zvonimir Boban. Selain Boban, pemain yang pernah membela Manchester City tersebut juga harus menghadapi mantan punggawa timnas Italia, Christian Panucci dan Giancarlo Marrocci. Memang permainan Balotelli di Olimpico kemarin tidak memuaskan. Tujuh puluh menit bermain tanpa satu pun shoot on goal. Aktingnya di tengah lapangan juga membuat jengkel Adem Ljajic. Balo oh Balo, why "always" you ?



Berbicara titel Serie A, semua tahu bahwa persaingan Scudetto memang masih terbuka. Conte juga belum yakin bahwa Juventus telah mengunci mahkota Serie A. Ia masih was-was dengan performa Roma sejauh ini. Untuk dua pekan ke depan, si Nyonya Tua membutuhkan empat poin sebagai garansi perisai Scudetto. Berdasarkan beberapa prediksi di media, Juventus akan memastikan scudetto pada giornata ke 36. Serta mampu membuat rekor baru, yaitu klub yang mencapai 100 poin dalam sejarah Serie A . Berikut gambaran tabel prediksi Serie A 2013/14 :

Juventus
Prediksi
Poin

Roma
Prediksi
Poin
Sassuolo
T
Menang
93
Milan
K
Menang
85
Atalanta
K
Menang
96
Catania
T
Menang
88
Roma
T
Imbang
97
Juventus
K
Imbang
89
Cagliari
K
Menang
100
Genoa
T
Menang
92

Musuh Juventus selanjutnya adalah Sassuolo. Prediksi berbicara, Juventus akan mencuri tiga poin di Stadion Maipei. Biarpun di pertandingan sebelumnya, Sassuolo berhasil merengkuh poin penuh di kandang Chievo. Apalagi klub yang ditangani mantan pemain Roma tersebut, yaitu Eusebio Di Fransesco masih terus berjuang untuk menghindar dari zona degradasi. Namun, sayangnya beberapa pemain kunci Sassuolo harus absen ketika menghadapi Juventus. Bisakah Di Fransesco membantu klub lamanya dulu ? Kita tunggu saja. Mari kita bermimpi, berikut ini adalah tabel imajinasi yang saya buat.

Juventus
Prediksi
Poin

Roma
Prediksi
Poin
Sassuolo
T
Kalah
90
Milan
K
Menang
85
Atalanta
K
Imbang
91
Catania
T
Menang
88
Roma
T
Kalah
91
Juventus
K
Menang
91
Cagliari
K
Menang
94
Genoa
T
Menang
94

Idealnya, nanti malam waktu Italia, Juventus kalah di tangan Sassuolo. Jarak poin sudah pasti terpotong menjadi lima poin. Kenapa kalah ? Konsentrasi Bianconerri tentu akan pecah, mereka semakin frustrasi dan tertekan. Apalagi di tengah pekan ada second leg Europa Cup melawan Benfica. Tekanan psikologis akan mendera Buffon dkk. Tabel diatas menarik buat saya, poin Juventus dengan Roma berakhir sama. Scudetto pada akhirnya akan ditentukan antara head to head atau selisih gol. Menarik bukan ?
Baik, mari kita membuat skenario kedua.

Juventus
Prediksi
Poin

Roma
Prediksi
Poin
Sassuolo
T
Kalah
90
Milan
K
Menang
85
Atalanta
K
Menang
93
Catania
T
Menang
88
Roma
T
Imbang
94
Juventus
K
Imbang
89
Cagliari
K
Menang
97
Genoa
T
Menang
92

Di atas digambarkan Juventus tetap kalah melawan Sassuolo. Namun pada pertandingan berikutnya, Atalanta berhasil mereka bungkam. Nah, klub yang dijuluki Kekasih Italia tersebut hanya membutuhkan satu poin untuk mengunci capolista. Scudetto tiga kali berturut-turut , rekor baru untuk Juventus, rekor baru di kompetisi Serie A. Karena itu Roma harus berjuang mati-matian di Olimpico ketika mereka menjamu Juventus. Satu poin saja cukup membuat Antonio Conte terbahak-bahak di kota Roma. Mau ? aku sih ogah. Bagaimanapun juga skenario pertama lebih bisa diterima. Silahkan bermimpi..


Bukan catatan pinggir :

1. Hari ini, coach Rudi Garcia mendapatkan penghargaan Giuseppe Prisco Award. Penghargaan tadi ditujukan atas loyalitas serta keramahannya (fairplay) di jagad sepakbola. Selain Garcia, striker Torino, Ciro Immobile juga memperoleh penghargaan yang sama tadi pagi (28 April 2015).

2. Sejak musim 1994-95, Serie A mulai memberlakukan sistem tiga poin bagi tim yang meraih kemenangan. Sebelumnya, berlaku sistem dua poin bagi yang menang.

3. Vujadin Boskov, mantan pelatih AS Roma di musim 1992-93 meninggal dunia pada usia 83 tahun. Dia lah yang pertama kali mengenalkan Francesco Totti di jagad Serie A. Pada usia 16 tahun, Totti melakukan debutnya di Serie A melawan Brescia dibawah asuhan Vujadi Boskov. Selamat jalan.. Ciao, Vujadin Boskov..

4. Apabila sudah menonton The Great Beauty, pasti kita akan menemukan tiga Romanisti di film tersebut. Carlo Verdone, Sabrina Ferilli serta Antonello Venditti beradu akting di film yang disutradarai oleh sutradara kondang Italia, Paolo Sorenttino. Tiga artis Italia tadi sudah dikenal sebagai fans sejati Roma.

  


Keterangan :
Tulisan ini rencananya akan diunggah sebelum pertandingan Sassuolo vs Juventus dimulai. Sayang sekali, ketika berniat posting, file yang dibawa tidak bisa dibuka di warnet. Merda...

The Rise of Rome Empire

“Nobody knows Roma in Europe now” (Luciano Spalletti)

Pria botak itu kembali lagi menyaksikan anak asuhannya. Ah, mantan asuhan maksud saya. Luciano Spalletti, pria berumur 55 tahun tersebut datang ke Artemio Franchi, Sabtu malam waktu Italia. Mungkin saja mantan pelatih AS Roma tersebut berniat untuk nostalgia dan mengingat masa lalu yang indah bersama Giallorossi. Atau sekedar menghabiskan waktu luang di kampung halamannya, Florence. Selain Spalletti, perdana menteri Italia yang baru juga berada di stadion. Matteo Renzi berasal dari Florence dan terlahir sebagai fans La Viola. Beberapa “mata-mata” dari Liverpool, Manchester United, Zenit serta Juventus juga turut hadir. Kurang tahu siapa yang sedang dipantau, namun beberapa rumor mengatakan bahwa mereka mengamati Pjanic, Ljajic serta Cuadrado.



Malam itu, raihan tiga poin merupakan target Rudi Garcia serta anak asuhnya. Tentu saja mereka ingin mengunci tiket Liga Champions musim depan. Faktor lain adalah hasrat serigala – serigala Roma yang ingin membuktikan bahwa persaingan Scudetto belum habis. Namun perlu disadari, Juventus teramat tangguh di Italia musim ini bahkan di Eropa kasta kedua. Hanya faktor keberuntungan yang bisa mewujudkan harapan Roma meraih Scudetto musim ini. Jadi bermimpilah supaya Juventus kalah terus selama empat pertandingan ke depan.

“The winning mentality is one of those things about Juventus that, deep down, we Romanisti have always envied” (“the 8th King of Rome / Paulo Roberto Falcao)


Apabila mengacu statistik lima pertemuan terakhir, dibawah komado Vincenzo Montella, Fiorentina selalu menelan kekalahan. Sampai – sampai Montella berkelakar, bahwa dirinya terlalu mencintai AS Roma sehingga tidak mampu mengalahkan mereka. Nyatanya, sampai detik akhir pertandingan, gawang Morgan De Sanctics masih perawan. Roma membawa pulang tiga poin atas goal Radja “Ninja” Nainggolan. Horas ! Montella kembali tertunduk ditangan AS Roma. Sepuluh tahun di Roma terlalu manis untuk Montella. Kamu terlalu berbakti kepada Roma.

“I’m very flattered to receive this important recognition, although it does feel strange to be entering the Hall of Fame at my age. It fills me with pride to know that it was the fans who voted for me, the same fans who were at the Olimpico when we won the Scudetto. I’ll never forget the years I spent at Roma and all the great times i had with my team-mates” (Vincenzo Montella)


Kemenangan di Artemio Franchi sangat penting bagi Roma. Terkunci sudah tiket Liga Champions musim depan. Hadiah Paskah yang indah. Di akhir pertandingan pemain – pemain Roma merayakan kemenangan dengan penuh suka cita. Setelah tiga tahun mereka absen di kancah Eropa. Saat konferensi pers, Rudi Garcia berujar bahwa lolosnya Roma di Liga Champions dia persembahkan untuk Kevin Strootman. Aku pikir itu sebuah metode untuk membangkitkan mental pemain. Rudi Garcia tidak hanya mengubah cara bermain AS Roma. Tapi juga menumbuhkan semangat, kebersamaan dan mental juara.

Mari kita tunggu kiprah AS Roma musim depan. Rudi Garcia sudah membuktikan kapasitasnya musim ini. Apabila musim depan Roma mampu tampil menggigit, baik di kancah Italia atau Eropa, sudah saatnya para Romanisti mengibarkan bendera bergambar Rudi “Porompopero” Garcia.

“Everybody knows Roma in Europe now” Daje Roma !