Setiap tim yang bermain tentu saja ingin mencetak gol. Sepakbola tanpa gol ibarat orang Indonesia makan sayur tapi tidak memakai nasi. Nikmatnya kurang pas. Ketika melihat ke belakang, permainan dengan gaya bertahan pernah diacuhkan. Faktanya, strategi bola jaman dahulu pernah memakai empat striker sekaligus. Apabila mengacu di sepakbola modern saat ini, mencetak gol bukan lagi tugas utama striker. Setiap posisi punya kesempatan untuk membobol gawang lawan. Namun, tumpuan utama gol tetap berada dipundak striker.
Gol tercipta, penonton bersorak kegirangan, selebrasi ! Masih ingat gaya khas penyerang mungil Vincenzo Montella ketika berhasil menyarangkan gol ? Atau ayunan tangan legenda sepakbola Indonesia, Bambang Pamungkas. Saat Klose masih muda, kita sangat terhibur bukan ketika dirinya salto sehabis mencetak gol. Sayang, mungkin karena takut encok, gaya khas Klose tersebut tidak pernah muncul lagi. Selebrasi yang unik dan khas memang tidak pernah lekang ditelan zaman. Tersimpan dengan indah di memori pecinta sepakbola.
Beberapa pemain memang mempunyai gaya selebrasi khusus, semacam isapan jempol Totti. Banyak sekali selebrasi yang dilakukan sehabis membobol gawang. Melepas kaos, menari-nari ala capoera Brasil, menimang bayi atau berlari kencang ke arah suporter. Mirko Vucinic pernah melakukan selebrasi dengan cara melepas celananya. Balotelli mencopot jersey lalu mempertontonkan tubuhnya yang kekar. Namun selebrasi tadi tidak melulu mereka lakukan.
Proses terjadinya gol disebabkan aliran kerjasama antar lini. Sepabola adalah permainan kelompok. Tidak pantas apabila luapan kegembiraan dirayakan sendirian. Terlalu banyak perayaan yang indah, bahkan buruk. Semoga artikel The Telegraph atau Buzzfeed bisa mewakili serta mengajak kita semua untuk bernostalgia atas nama selebrasi.
Namun, satu hal yang menganggu pikiran saya. Kenapa seorang kiper tidak pernah bersama-sama ikut selebrasi ? (ataukah saya yang tidak tahu ?) atau mengapa tidak ada perayaan ketika kiper mampu menyelamatkan gawangnya ? saat seorang pemain mampu membuat gol, teman-temannya akan mengerubutinya bukan ? entah itu bek, gelandang, atau striker. Tapi saya jarang sekali melihat seorang kiper ikut berlari lalu ikut bersenang ria. Maklum, sepakbola memang dibatasi oleh waktu, 90 menit saja, eh lebih sedikit sih. Jadi, wajar apabila kiper berhasil mengamankan gawangnya tidak ada yang selebrasi. Mereka dikejar waktu.
Mungkin saja penjaga gawang memang ditakdirkan untuk berbesar hati. Seorang kiper lebih memilih untuk menendang atau mengoper bola ke kawannya. Menyuruh rekan-rekan yang lain untuk secepatnya memainkan bola, lalu bawa ke depan dan cetak gol. Kiper lebih senang selebrasi sendirian di belakang. Mengangkat tangannya, berteriak sendiri atau melompat dengan sukacita. Peristiwa dimana Dante memeluk Neur hanyalah sebagian kecil dari mayoritas bentuk selebrasi yang sudah disampaikan diatas. Perayaan tersebut jarang sekali diperoleh oleh sosok yang bernama, kiper. Satu hal yang perlu kita ketahui, tidak semua kiper itu seperti Chilavert, Rogerio Ceni, Rene Higuita yang mempunyai kemampuan mencetak gol lewat bola-bola mati. Atau seberuntung Asmir Begovic sewaktu membobol gawang Southampton.
Messi, Pacho Rubio, Maldini, Baggio, Rodrigo Araya, Hendro Kartiko, Ahn Jung Hwan, Maradona, Kahn, Roger Mila, Mursyid Effendi atau Platini adalah sebagian dari banyaknya aktor di lapangan hijau. Mereka menyihir jagad sepakbola untuk bersedih atau tertawa. Menggiring bola, menekel, mengumpan, menutup ruang, menarik kaos lawan, menepis bola, mencetak gol, memungut bola, lalu selebrasi, bertengkar, bertukar kostum atau menundukkan kepala. Seperti sosok wayang Kresna yang terkadang membuat kita merasakan keindahan, sering pula meninggalkan kesedihan.
Bergandengan tangan, berlari bersama rekan lain yang duduk di bangku cadangan. Lalu melompat setinggi-tingginya ke arah penonton. Perayaan atas kesatuan permainan (gol, tekel, tepisan, marking, assist, crossing, tangkapan dan lain sebagainya). Atas nama selebrasi. Kemenangan itu adalah kebersamaan....

