"Aku ingin meletakkan sekuntum sajak di makam Nabi, Supaya sejarah menjadi jinak. Dan mengirim sepasang merpati" (Kuntowijoyo)

Rabu, 30 April 2014

Title race is not over yet *


Pep Guardiola, pelatih yang semasa mudanya pernah merumput di Italia tersebut mungkin agak sedikit bernapas lega. Semua penikmat bola tahu, bahwa FC Holywood sudah memastikan gelar Bundesliga musim ini. Pekerjaan Guardiola hanya tinggal dua, Liga Champions dan DFB Pokal. Selain Bayern Muenchen, beberapa tim di Eropa juga sudah berpesta, sebut saja, Ajax, Celtic, Benfica, Fenerbahce dsb. Persaingan di kancah liga besar Eropa belum berakhir. Real Madrid dan Barcelona musim ini dibuat pusing oleh kelakuan Diego Simeone. Begitu pula dengan liga paling makmur di Eropa. Sampai detik ini, tabel klasemen Premier League belum memastikan siapa yang mampu merengkuh titel di tahun 2014. Kompetisi di negeri kelahiran Napoleon Bonaparte pun juga masih gonjang ganjing, antara AS Monaco atau Paris Saint Germain, bahkan Lille.

Mari kita menengok sejenak ke negeri Pizza. Jumat malam, tiga poin berhasil diraih AS Roma. Kemenangan tersebut menyatakan sebuah pesan bahwa perebutan scudetto belum berakhir. Selisih poin Roma dengan pemuncak klasemen berjarak lima poin. Dua gol berhasil disarangkan oleh Pjanic dan Gervinho ke gawang Abbiati. Kemenangan Il Lupi tidak lepas dari kuatnya barisan belakang. Sejauh ini gawang Morgan De Sanctis baru kebobolan 19 gol di laga Serie A. Tentunya kita tidak boleh melupakan peran Leandro Castan, Benatia, Rafael Toloi, Romagnoli, Toro, Dodo, Maicon serta Balzaretti. Sepakbola bukan sekedar gocekan, passing, assist serta gol belaka. Tepisan, marking, tekel dsb adalah bagian lain yang tidak boleh dipandang sebelah mata.

Tanpa banyak alibi, Seedorf mengakui kekalahan AC Milan dengan lapang dada. Musim ini AC Milan memang tampil terlunta-lunta. Namun di lima pertandingan terakhir, kubu Diavolo Rosso selalu meraih kemenangan. Sayang sekali penampilan impresif mereka berhasil dijinakkan serigala ibukota. Akhirnya Radja Nainggolan mampu mengalahkan Seedorf. Radja mengakui selama bermain di Serie A, Seedorf merupakan pemain yang susah dijinakkan. Good job Ninja !

Sudah kalah dihabisi pula. Kasihan betul bomber Milan, Mario Balotelli. Performanya yang buruk menjadi santapan para pengamat sepakbola Italia. Balotelli dikritik habis-habisan oleh legenda Milan, Zvonimir Boban. Selain Boban, pemain yang pernah membela Manchester City tersebut juga harus menghadapi mantan punggawa timnas Italia, Christian Panucci dan Giancarlo Marrocci. Memang permainan Balotelli di Olimpico kemarin tidak memuaskan. Tujuh puluh menit bermain tanpa satu pun shoot on goal. Aktingnya di tengah lapangan juga membuat jengkel Adem Ljajic. Balo oh Balo, why "always" you ?



Berbicara titel Serie A, semua tahu bahwa persaingan Scudetto memang masih terbuka. Conte juga belum yakin bahwa Juventus telah mengunci mahkota Serie A. Ia masih was-was dengan performa Roma sejauh ini. Untuk dua pekan ke depan, si Nyonya Tua membutuhkan empat poin sebagai garansi perisai Scudetto. Berdasarkan beberapa prediksi di media, Juventus akan memastikan scudetto pada giornata ke 36. Serta mampu membuat rekor baru, yaitu klub yang mencapai 100 poin dalam sejarah Serie A . Berikut gambaran tabel prediksi Serie A 2013/14 :

Juventus
Prediksi
Poin

Roma
Prediksi
Poin
Sassuolo
T
Menang
93
Milan
K
Menang
85
Atalanta
K
Menang
96
Catania
T
Menang
88
Roma
T
Imbang
97
Juventus
K
Imbang
89
Cagliari
K
Menang
100
Genoa
T
Menang
92

Musuh Juventus selanjutnya adalah Sassuolo. Prediksi berbicara, Juventus akan mencuri tiga poin di Stadion Maipei. Biarpun di pertandingan sebelumnya, Sassuolo berhasil merengkuh poin penuh di kandang Chievo. Apalagi klub yang ditangani mantan pemain Roma tersebut, yaitu Eusebio Di Fransesco masih terus berjuang untuk menghindar dari zona degradasi. Namun, sayangnya beberapa pemain kunci Sassuolo harus absen ketika menghadapi Juventus. Bisakah Di Fransesco membantu klub lamanya dulu ? Kita tunggu saja. Mari kita bermimpi, berikut ini adalah tabel imajinasi yang saya buat.

Juventus
Prediksi
Poin

Roma
Prediksi
Poin
Sassuolo
T
Kalah
90
Milan
K
Menang
85
Atalanta
K
Imbang
91
Catania
T
Menang
88
Roma
T
Kalah
91
Juventus
K
Menang
91
Cagliari
K
Menang
94
Genoa
T
Menang
94

Idealnya, nanti malam waktu Italia, Juventus kalah di tangan Sassuolo. Jarak poin sudah pasti terpotong menjadi lima poin. Kenapa kalah ? Konsentrasi Bianconerri tentu akan pecah, mereka semakin frustrasi dan tertekan. Apalagi di tengah pekan ada second leg Europa Cup melawan Benfica. Tekanan psikologis akan mendera Buffon dkk. Tabel diatas menarik buat saya, poin Juventus dengan Roma berakhir sama. Scudetto pada akhirnya akan ditentukan antara head to head atau selisih gol. Menarik bukan ?
Baik, mari kita membuat skenario kedua.

Juventus
Prediksi
Poin

Roma
Prediksi
Poin
Sassuolo
T
Kalah
90
Milan
K
Menang
85
Atalanta
K
Menang
93
Catania
T
Menang
88
Roma
T
Imbang
94
Juventus
K
Imbang
89
Cagliari
K
Menang
97
Genoa
T
Menang
92

Di atas digambarkan Juventus tetap kalah melawan Sassuolo. Namun pada pertandingan berikutnya, Atalanta berhasil mereka bungkam. Nah, klub yang dijuluki Kekasih Italia tersebut hanya membutuhkan satu poin untuk mengunci capolista. Scudetto tiga kali berturut-turut , rekor baru untuk Juventus, rekor baru di kompetisi Serie A. Karena itu Roma harus berjuang mati-matian di Olimpico ketika mereka menjamu Juventus. Satu poin saja cukup membuat Antonio Conte terbahak-bahak di kota Roma. Mau ? aku sih ogah. Bagaimanapun juga skenario pertama lebih bisa diterima. Silahkan bermimpi..


Bukan catatan pinggir :

1. Hari ini, coach Rudi Garcia mendapatkan penghargaan Giuseppe Prisco Award. Penghargaan tadi ditujukan atas loyalitas serta keramahannya (fairplay) di jagad sepakbola. Selain Garcia, striker Torino, Ciro Immobile juga memperoleh penghargaan yang sama tadi pagi (28 April 2015).

2. Sejak musim 1994-95, Serie A mulai memberlakukan sistem tiga poin bagi tim yang meraih kemenangan. Sebelumnya, berlaku sistem dua poin bagi yang menang.

3. Vujadin Boskov, mantan pelatih AS Roma di musim 1992-93 meninggal dunia pada usia 83 tahun. Dia lah yang pertama kali mengenalkan Francesco Totti di jagad Serie A. Pada usia 16 tahun, Totti melakukan debutnya di Serie A melawan Brescia dibawah asuhan Vujadi Boskov. Selamat jalan.. Ciao, Vujadin Boskov..

4. Apabila sudah menonton The Great Beauty, pasti kita akan menemukan tiga Romanisti di film tersebut. Carlo Verdone, Sabrina Ferilli serta Antonello Venditti beradu akting di film yang disutradarai oleh sutradara kondang Italia, Paolo Sorenttino. Tiga artis Italia tadi sudah dikenal sebagai fans sejati Roma.

  


Keterangan :
Tulisan ini rencananya akan diunggah sebelum pertandingan Sassuolo vs Juventus dimulai. Sayang sekali, ketika berniat posting, file yang dibawa tidak bisa dibuka di warnet. Merda...

The Rise of Rome Empire

“Nobody knows Roma in Europe now” (Luciano Spalletti)

Pria botak itu kembali lagi menyaksikan anak asuhannya. Ah, mantan asuhan maksud saya. Luciano Spalletti, pria berumur 55 tahun tersebut datang ke Artemio Franchi, Sabtu malam waktu Italia. Mungkin saja mantan pelatih AS Roma tersebut berniat untuk nostalgia dan mengingat masa lalu yang indah bersama Giallorossi. Atau sekedar menghabiskan waktu luang di kampung halamannya, Florence. Selain Spalletti, perdana menteri Italia yang baru juga berada di stadion. Matteo Renzi berasal dari Florence dan terlahir sebagai fans La Viola. Beberapa “mata-mata” dari Liverpool, Manchester United, Zenit serta Juventus juga turut hadir. Kurang tahu siapa yang sedang dipantau, namun beberapa rumor mengatakan bahwa mereka mengamati Pjanic, Ljajic serta Cuadrado.



Malam itu, raihan tiga poin merupakan target Rudi Garcia serta anak asuhnya. Tentu saja mereka ingin mengunci tiket Liga Champions musim depan. Faktor lain adalah hasrat serigala – serigala Roma yang ingin membuktikan bahwa persaingan Scudetto belum habis. Namun perlu disadari, Juventus teramat tangguh di Italia musim ini bahkan di Eropa kasta kedua. Hanya faktor keberuntungan yang bisa mewujudkan harapan Roma meraih Scudetto musim ini. Jadi bermimpilah supaya Juventus kalah terus selama empat pertandingan ke depan.

“The winning mentality is one of those things about Juventus that, deep down, we Romanisti have always envied” (“the 8th King of Rome / Paulo Roberto Falcao)


Apabila mengacu statistik lima pertemuan terakhir, dibawah komado Vincenzo Montella, Fiorentina selalu menelan kekalahan. Sampai – sampai Montella berkelakar, bahwa dirinya terlalu mencintai AS Roma sehingga tidak mampu mengalahkan mereka. Nyatanya, sampai detik akhir pertandingan, gawang Morgan De Sanctics masih perawan. Roma membawa pulang tiga poin atas goal Radja “Ninja” Nainggolan. Horas ! Montella kembali tertunduk ditangan AS Roma. Sepuluh tahun di Roma terlalu manis untuk Montella. Kamu terlalu berbakti kepada Roma.

“I’m very flattered to receive this important recognition, although it does feel strange to be entering the Hall of Fame at my age. It fills me with pride to know that it was the fans who voted for me, the same fans who were at the Olimpico when we won the Scudetto. I’ll never forget the years I spent at Roma and all the great times i had with my team-mates” (Vincenzo Montella)


Kemenangan di Artemio Franchi sangat penting bagi Roma. Terkunci sudah tiket Liga Champions musim depan. Hadiah Paskah yang indah. Di akhir pertandingan pemain – pemain Roma merayakan kemenangan dengan penuh suka cita. Setelah tiga tahun mereka absen di kancah Eropa. Saat konferensi pers, Rudi Garcia berujar bahwa lolosnya Roma di Liga Champions dia persembahkan untuk Kevin Strootman. Aku pikir itu sebuah metode untuk membangkitkan mental pemain. Rudi Garcia tidak hanya mengubah cara bermain AS Roma. Tapi juga menumbuhkan semangat, kebersamaan dan mental juara.

Mari kita tunggu kiprah AS Roma musim depan. Rudi Garcia sudah membuktikan kapasitasnya musim ini. Apabila musim depan Roma mampu tampil menggigit, baik di kancah Italia atau Eropa, sudah saatnya para Romanisti mengibarkan bendera bergambar Rudi “Porompopero” Garcia.

“Everybody knows Roma in Europe now” Daje Roma !

Rabu, 19 Februari 2014

Hari ini ada Wisuda

“The saddest thing in life is wasted talent” (Robert De Niro | A Bronx Tale)

Hari ini ada wisuda. Beruntung, jurusan Sejarah meluluskan tiga mahasiswa untuk wisuda periode ini. Maaf untuk kawan – kawan dari Sastra Nusantara, kenapa tidak ada wakil dari kalian ? Hahaha.

Senang rasanya melihat teman – teman berkeliaran memakai toga hitam serta dihiasi bunga-bunga yang berwarna – warni. Kita akan disuguhi berbagai macam adegan layaknya aktor yang sedang bermain peran di panggung teater. Manisnya senyum orang tua wisudawan, mungkin pula tangis haru dari mereka. Bangga melihat putra – putrinya mampu menyelesaikan satu kewajiban. Ada juga beberapa kawan yang rela menunggu berjam – jam kawannya keluar setelah resmi ditasbih oleh sang Rektor. Mereka lalu berduyun – duyun mendatangi gerombolan wisudawan, memberikan selamat, mengajak foto bareng. Simpan kenangan tersebut kawan !

Beberapa kawan yang sudah menyandang gelar sarjana juga turut berdatangan. Tak lupa juga para sarjana tadi memberikan semangat kepada kawan-kawanya yang masih “berjuang”. Wisuda memang menjadi ajang nostalgia atau mungkin sosialita. Ya begitulah, namanya juga mahasiswa.

Lalu mau apa lagi setelah diwisuda ? Mungkin itu pertanyaan besar bagi para sarjana hari ini. Ya semoga aja deh kalian semua segera diberi pencerahan untuk menggayuh masa depan yang cerah. Pokoknya selamat deh buat yang sudah wisuda. Good luck buat kalian semua. Amin. Oh iya, selamat wisuda juga buat kamu. Kita memang tidak saling mengenal sih. Tapi ya, sukses lah dan semoga cita – citamu tercapai. Amin.

Sampai jumpa di episode berikutnya.. Eh, aku juga pengen wisuda lho.

Kotabaru, 19 Februari 2014

Jumat, 03 Januari 2014

A Message To You, Rudi !

“Because I grew up playing for Roma and I want to die playing for Roma, because I have always been a Roma’s fan !” (Francesco Totti)

“We were here. We are here. We’ll always be here. In victory or defeat, never slaves to the result" (banner in the Curva Sud)


Mungkin ini setengah musim terbaik yang pernah saya alami ketika mendukung AS Roma. Tahun kemarin dan kemarin–kemarinnya, saya rasa sangat hambar. Terutama ketika AS Roma dipaksa takluk dihadapan rival abadinya. Beberapa tahun terakhir, Roma tak pernah menang ketika menghadapi Lazio. Namun di bulan September kemarin, racikan indah Rudi Garcia berhasil menjinakkan elang liar tersebut. Luka lama di bulan Mei saat final Coppa Italia dengan cepat terobati. Forza Roma, Daje Garcia !

“Not knowing how to respond to a defeat is worse than the defeat itself !” (banner by Roma fans)

“Schedule has given us chance to rise from dead quickly..” (Rudi Garcia)



Saya sendiri sempat menyumpah AS Roma ketika mereka memutuskan untuk menjual Erik Lamela. Siapa yang tidak terpana melihat skill bocah yang termasuk jajaran wonderkid Football Manager tersebut. Tampaknya, ditahun ini, Roma benar-benar ingin menciptakan sebuah balance antara golongan muda dan tua. Musim kemarin, dibawah asuhan Zdenek Zeman, pasukan muda Roma tidak terlihat tajinya. Mungkin Zeman memang bukan pelatih yang bergelimang piala. Tapi jangan salah, opa Zeman lihai memoles pemain muda dan menciptakannya menjadi bintang. Sebut saja, Giuseppe Signori atau Fransesco Totti. Kalau di era sekarang, tentunya kita terkesan dengan Lorenzo Insigne dan Marco Veratti, notabene mereka adalah asuhan Zeman ketika di Pescara. Grazie Zeman !

"Who are the best five Italian players? Totti, Totti, Totti, Totti, Totti." (Zdenek Zeman)

Sebagai pecinta Roma, tahun ini mungkin saatnya untuk berkoar-koar. Kapan lagi kita bisa menyombongkan diri ketika awal pekan harus bertemu teman-teman dan pasti akan menyinggung soal sepakbola. Musim depan belum tentu kiprah mereka menjanjikan. Biarpun harapan saya, AS Roma tetap konsisten dari tahun ke tahun. Mampu bersaing dan berkompetisi baik di kancah lokal ataupun Eropa.

"Rome wasn't built in one day"

Memang membanggakan, rekor demi rekor mereka ciptakan, setidaknya fans AS Roma sudah jatuh hati kepada Rudi Garcia. Bersama Rafael Benitez, mantan pelatih Lille tersebut menjadi pelatih asing (non Italia) pertama yang mampu menduduki puncak klasemen selama tiga pekan. Rekor lainnya, AS Roma mampu meraih 10 kali kemenangan berturut–turut dalam sejarah Serie A. Hasil tersebut memecahkan rekor milik Juventus. Si Nyonya Tua mampu meraih delapan kali kemenangan berturut – turut selama tiga kali, terakhir di tahun 2005/06. Fabio Capello turut berbangga, karena Roma yang mampu memecahkan rekor yang dia buat saat bersama Juventus. Berikutnya, Alesio Cerci patut berbangga karena mampu menyelamatkan Torino dari kekalahan. Namun bisa juga bersedih, karena mematahkan rekor tim kesayangannya. Sayang karena gol Cerci tadi, ketika Roma bertandang melawan Torino, rekor milik Tottenham Hostpur tak mampu mereka samai. The Spurs mampu meraih sebelas kali kemenangan beruntun di tahun 1960/61 dan masih bertahan sampai sekarang di jagad Eropa. Kita tunggu musim depan, siapa yang mampu menghancurkan rekor Tottenham tersebut.

"I'm very happy it was Roma who ended my record," (Fabio Capello)




Pertanyaannya, apakah Roma masih bisa konsisten di tahun 2014. Pemegang tahta Scudetto musim kemarin masih susah dijinakkan. Juventus mengakhiri tahun 2013 dengan menjadi capolista. Mungkin saja gelar Campione D’ Inverno mereka raih musim ini. Saya pikir, scudetto musim ini masih menjadi jatahnya Juventus. Namun, AS Roma harus dan wajib meraih Coppa Italia di musim ini. Simbol bintang perak akan terpampang di jersey mereka musim depan dan musim-musim selanjutnya. Bagi saya, daripada menambang emas, lebih baik mereka menambang perak. You can do it, Rudi ! You can do it, Giallorossa !

Benvenuto 2014 ! Auguri a tutti e forza Roma !


Sabtu, 21 Desember 2013

Kampus dan Sore Hari

Menghabiskan waktu di kampus itu memang menyenangkan. Sehabis mengetik di perpustakaan langsung meluncur ke kantin (baca : bonbin). Berkumpul bersama teman – teman Sejarah ( Sidik, Raka, Pandonyet, Dimas, Ginanjar, Giri, Yoga, Haris, Posan, Adib, Brok, Deston dll ). Kita saling ejek -  mengejek, saling menyindir atau ngrasani orang lain dan tentu saja curhat berooooo. Padahal orangnya juga cuman itu – itu aja sih. Tapi tetep aja asik.

Atau mungkin mengajak ngobrol orang lain yang tidak pernah kita kenal sebelumnya. Pernah suatu sore, saya sedang nongkrong bersama Adib. Saat itu kita satu meja dengan dua anak Psikologi. Satunya asli Jogja, yang satu lagi dari Solo. Kita berempat mengobrol satu sama lain. Tanpa berkenalan dan berjabat tangan, siapa nama kita, siapa nama mereka. Tapi ketika kita bertemu lagi, tetap saling menyapa.

Ada banyak perjumpaan yang saya temui di setiap sore. Nongkrong di Kandang Antro, melihat rekan – rekan Dekan Buayan latian dangdut. Tidak lupa untuk request satu lagu andalan, yaitu Masa Lalu !

Pernah pula ketika sedang mengetik di perpustakaan, saya berbincang – bincang dengan tiga mahasiswa Sastra Inggris angkatan 2011. Cantik – cantik lho boeng. Nah dua dari mereka asli Cirebon dan mengenakan jilbab, sedang yang satunya lagi asli Lombok, rambutnya sebahu. Kita berempat lalu nggosip. Nah, bumi gonjang – ganjing, langit kelap – kelap. Salah satu kawan seperjuangan dari jurusan Sastra Nusantara tiba – tiba muncul dan ikut nimbrung. Wah, njuk dadi goro – goro tenanan. Badut…

Sore kemarin, ada pertemuan lain yang aku pikir cukup mengejutkan. Intinya, sore hari itu memang menyenangkan, namun ada kalanya menegangkan dan menyebalkan. Aku pikir niat dan mimpi seseorang itu mirip lenyapnya matahari di sela – sela sore. Toh, di keesokan hari akan muncul lagi. Gitu aja sih.


Sampai jumpa !

12/21/13

Nouvelle Vague - In A Manner of Speaking

Suatu sore di perpustakaan, memutar lagu Nouvelle Vague “In A Manner of Speaking”, tak kusangka, ternyata ada kamu disana. Sayangnya, kita tak sempat saling menyapa dan bercanda.


 “Oh give me the words, give me the words, that tell me nothing. Oh give me the words, give me the words, that tell me everything..”


Sabtu, 26 Oktober 2013

Perpustakaan

Ketika paduan kata dan pikiran sempat bersatu menjadi sebuah nada berupa suara ketikan. Hanya saja, semua menjadi goyah ketika ada satu sosok tiba-tiba lewat. Suasana ruangan tersebut memang sunyi, menciptakan ketenangan.

"JAGA KETENANGAN RUANGAN INI"

"ANDA AKAN DIPERINGATKAN APABILA AKTIVITAS ANDA MENGGANGGU KETENANGAN DI RUANGAN INI"

Begitulah.

Iya, dia lewat, menemui teman-temannya, lalu duduk. Tanpa diduga, tanpa diprediksi, dia muncul. Entahlah, mungkin dia sedang ada tugas. Beberapa menit berlalu, dia hendak keluar. Sempat lewat disampingku, namun tak menyapa. Maklum kita memang tidak akrab.
Lalu, aku menengok ke belakang, dan tiba-tiba dia juga menengok ke arahku. Ah, mungkin mau melihat orang lain. Haha

Aku pikir semuanya sudah selesai dan dia pergi. Ternyata tidak, dia datang lagi, lalu duduk di tempat semula. Pukul 14.25 WIB, dia belum keluar juga. Dering bel berbunyi, tanda bahwa perpustakaan akan tutup. Aku belum beranjak dari kursiku. Menunggu.

Lalu, aku pun tersadar, "Oh tidak, Philip Morris ku terbengkalai".

25-10-2013
2.26 PM

Selasa, 08 Oktober 2013

Elegi Negeri Bahari

Perlu ada upaya melihat,
Upaya melihat dengan menjungkir-balikan segala makna
yang sudah ada
Untuk sampai pada yang tak dikenal
Hidup sejati yang berada di tempat lain
Di bawah sini cuma khayali
Dijejali dengan rangka kerontang
Hasil pemikiran sempit masyarakat Barat
Arthur Rimbaud | Penyair terkenal dari Prancis yang sempat mampir di Salatiga dengan menaiki kapal serdadu Hindia Belanda di tahun 1876

Ketika berkunjung ke ART|JOG, saya sempat memandangi salah satu karya yang berjudul “Bahtera Kaum Urban”. Saya sendiri lupa, siapa perupa karya tersebut. Satu hal yang membuat saya tertarik dari karya tersebut adalah wayang. Ya, si perupa menampilkan sosok punakawan dalam karya tadi. Sebuah kapal yang diisi oleh Semar, Gareng, Petruk dan Bagong. Mereka saling bekerja satu sama lain dengan riang dan gembira. Itulah punakawan, simbol pekerja keras dan gemar bernyanyi, biarpun mereka ditempa oleh kerasnya kehidupan.
Saya jadi ingat sebuah tulisan milik (alm) AB Lapian, sejarawan bahari kita yang terkemuka. Di dalam bukunya yang berjudul Pelayaran dan Perniagaan Nusantara : Abad Ke-16 dan 17,[1] beliau menjelaskan mengenai strata sosial pelayaran di sekitar abad 16 dan 17. Golongan paling atas adalah para “perwira”. Mereka yang disebutkan sebagai “perwira” antara lain nakhoda, jurumudi, jurubatu, serta mualim. Nakhoda sendiri masih dibagi menjadi dua, yaitu nakhoda laut yang mengurusi pelayaran serta nakhoda darat, tugasnya mengurusi muatan, mencatat segala pemasukan dan pengeluaran. Lalu jurumudi, sudah terlihat dari namanya, tugasnya pasti mengemudikan kapal. Lain jurumudi, lain pula jurubatu, apa itu jurubatu ? namanya unik juga ya. Ternyata jurubatu bertugas mengurusi jangkar. Kadang-kadang jurubatu jumlahnya ada dua, posisi mereka berada di haluan karena bertanggung jawab supaya kapal tidak menabrak karang.
          Posisi berikutnya adalah mualim, sekarang lebih dikenal sebagai navigator. Posisi ini sangat penting disaat kapal sedang berlayar. Seorang mualim yang bekerja dalam kapal dengan ukuran besar, biasanya dibantu oleh mualim kecil. Tugasnya juga beda, mualim kecil berurusan dengan layar dan tali temali kapal. Selain itu, mualim kecil harus mempunyai pengetahuan tentang arah angin. Maka dari itu, mualim kecil juga disebut sebagai mualim angin.
          Hierarki selanjutnya ada golongan para tukang atau bintara. Pemimpin golongan ini disebut tukang agung. Tukang agung mempunyai beberapa asisten, yaitu tukang kiri (mengurusi lambung kapal bagian kiri) serta tukang kanan (mengurusi lambung kapal bagian kanan). Lalu ada tukang tengah yang bertugas dibagian tengah kapal. Selain itu adapula tukang petak, tugasnya memilah-milah penempatan barang. Terakhir, tukang gantung layar, pekerjaannya langsung dibawah pengawasan mualim angin.
          Golongan paling bawah dalam kapal adalah awak kapal (anak kapal). Awak kapal dipimpin oleh serang (mandor). Bisa dikatakan isi dari awak kapal adalah para orang rendahan. Misalnya orang banyak (orang merdeka), orang abdi (budak) serta orang berhutang. Ada juga yang disebut sebagai orang turun penukan , dirinya dipekerjakan oleh nakhoda selama masih mempunyai hutang, namun dirinya punya kekuasaan atau tanggungjawab tertentu dalam kapal. Selanjutnya ada golongan yang disebut sebagai muda-muda, yaitu seorang taruna atau pelajar yang sedang mencari pengalaman di kapal. Saat magang, mereka bertugas mengawasi orang abdi serta menemani nakhoda apabila turun ke darat. Selain itu, saat pelayaran berlangsung, muda-muda juga bertugas mengawasi orang jaga dan orang yang bekerja di bagian anjungan.
          Ada juga sosok-sosok lain dalam kapal, namun posisi mereka tidak masuk dalam hierarki atau struktur organisasi dalam kapal. Contohnya, para kiwi, yaitu pedagang-pedagang yang kepentingannya hanyalah berdagang, mereka tidak turut andil dalam pelayaran. Para kiwi  tadi dipimpin oleh maula kiwi. Lalu, orang tumpang atau orang penumpang , mereka ikut berlayar dengan cara membayar uang tambang. Terakhir, orang senawi, mereka menumpang dan ikut berlayar dengan cara membantu di kapal tanpa membayar uang tambang.
          Saya pikir karya “Bahtera Kaum Urban” memang sarat akan simbol di dunia pelayaran kita. Terutama ketika si perupa menghubungkan antara kapal dengan wayang. Kapal merupakan warisan maritim kita, begitu pula dengan wayang (punakawan). Apakah kita pernah menemukan sosok punakawan dalam cerita Mahabharata di India ? tentunya belum pernah. Lautan yang luas cerminan dunia yang keras, terombang-ambing oleh derasnya badai dan ombak. Namun kejamnya alam tadi, dicairkan oleh luwesnya punawakan, sosok yang kuat nan penggembira, penghibur para raja dikala gundah gulana.
***
Menarik, ketika pergelaran ART|JOG kali ini mengangkat tema mengenai maritim. Karya-karya yang ditampilkan memang menawan. Lekat dengan suasana maritim, ya ini Indonesia, ini Maritim ! Budaya maritim bukanlah sekedar gambaran mengenai hamparan lautan luas, lalu dihiasi oleh kapal-kapal yang berlayar. Atau mungkin para nelayan yang terombang-ambing karena besarnya ombak. Saat mengunjungi ART|JOG, kita akan sadar dan tercengang, bahwa maritim lebih dari itu semua. Transaksional (ekonomi), ikan, budak, buku harian, rempah-rempah, strata sosial, konflik, imigran dan masih banyak lagi.
          Siapa yang tidak tahu bahwa negara kita adalah negara maritim. Ketimbang disebut negara agraris, Indonesia lebih layak disebut sebagai negara maritim alias bahari. Mengingat luas lautnya lebih besar ketimbang daratan. Mengamini apa yang disampaikan Anthony Reid, salah satu sejarawan terkemuka mengenai Asia Tenggara, beliau menyatakan bahwa Indonesia merupakan tempat penting dalam perdagangan Asia Tenggara. Sebelum abad ke 19, jaringan perdagangan (pelayaran) sangatlah ramai. Namun setelah abad 19, sistem tersebut dihancurkan. Reid juga menjelaskan, di abad 18 Indonesia dilanda krisis ekonomi. Penyebabnya adalah hancurnya kekuasaan lokal serta jayanya kongsi dagang terkenal di dunia kala itu, VOC. Ada cerita, bahwa Sultan Agung menjadi salah satu faktor krisis tersebut.
***
          Sesungguhnya, kita patut bertanya-tanya, apakah benar “Di Laut Kita Jaya?” Kalau kita menengok masa lalu, jawabannya mungkin “iya”. Siapa yang tidak mengenal digdayanya Majapahit serta Sriwijaya. Atau mungkin, kita juga bisa mempertanyakan, kenapa sampai ada relief kapal di Candi Borobudur, mengingat secara geografis, wilayah Borobudur berada di daerah agraris.
Dulu, negeri ini memang mendominasi jalur-jalur perdagangan di Asia Tenggara. Bayangkan, saking ramainya, Malaka membutuhkan empat orang syahbandar untuk mengurusi pelabuhan tersebut. Di pelabuhan Banda Aceh juga mengalami nasib yang sama, terutama pada rezim Sultan Iskandar Muda. Agaknya romantisme historis seperti itu perlu dihilangkan sejenak, sudah saatnya kita merefleksikan kisah historis negeri ini, menjadikannya sebagai pengalaman dan tumpuan untuk melihat ke depan. Jangan sampai kita dikebiri lagi, bercerminlah pada pengalaman yang dulu-dulu. Ingat, di abad 17, rakyat di Maluku dibebani pajak yang amat berat. Siapa yang menikmati keuntungan tersebut ? Tentunya para pedagang asing, raja-raja lokal serta para pegawai pelabuhan. Mereka menikmati hasil pungutan pajak tadi. Degradasi ekonomi benar-benar dialami Maluku ketika VOC memutus tali perdagangan dengan pedagang asing. Hak monopoli rempah-rempah semakin membabi buta. Habis sudah Maluku di sekitar abad ke-18 dan 19.
          Maritim bukanlah petualangan sekelompok pelaut untuk menemukan pulau Greenland seperti yang digambarkan komik One Piece. Namun maritim adalah ranah ekonomi ( urusan perut, urusan duit ), politik, sosial dan juga budaya. Negeri ini sudah cukup dibohongi atau dikhianiati, baik oleh oknum asing ataupun penguasa lokal. Mari kita kembalikan lagi semboyan “Di Laut Kita Jaya !”



[1] Bisa dilihat dalam Adrian B. Lapian, Pelayaran dan Perniagaan Nusantara Abad Ke-16 dan 17  (Jakarta: Komunitas Bambu, 2008).

Kamis, 26 September 2013

“Karena aku merokok !”

Malam itu, oh maaf mungkin dini hari, iya dini hari. Ada cerita tentang laki-laki dan perempuan yang sedang mengobrol. Mereka saling bertemu di malam minggu, tanpa janjian terlebih dahulu. Mereka bukan sepasang kekasih, nampaknya itu perlu ditekankan. Ingat, bukan sepasang kekasih.

Ceritanya, si perempuan tiba-tiba ingin menonton wayang. Si lelaki akhirnya menjemput si perempuan dikostnya. Tapi karena lika-liku pikiran lelaki yang sedang ruwet, akhirnya mereka malah mampir untuk meminum kopi sebentar. Pada akhirnya mereka berhasil menyaksikan pagelaran wayang dan saling berpamitan sebelum adzan subuh berkumandang.

Nah, ketika sedang meminum kopi, terciptalah sebuah percakapan diantara mereka. Ada beberapa pohon beringin disekitar mereka, mungkin usianya sudah ratusan tahun. Mungkin juga pohon beringin tadi ikut nimbrung dan menguping apa sih yang sedang mereka bicarakan.

Lalu, si lelaki ingin merokok, namun koreknya habis. Si perempuan tiba-tiba mengeluarkan sebuah korek. Laki-laki tadi heran, “Kok kamu bisa bawa korek ?” Gadis tersebut sempat tertawa, lalu menyahut dengan girang “Karena aku merokok !” Sebungkus rokok Sampoerna Mild Flava ia keluarkan dari tasnya lalu diletakkan diatas meja.

Gadis tadi sempat menyalakan rokoknya disela-sela perbincangan. Dia mengaku, bahwa dirinya bukanlah seorang perokok. Namun si lelaki menyadari, perempuan yang sedang bersamanya tersebut, sudah cukup lihai untuk merokok. Banyak hal yang mereka obrolkan, mulai dari watak orang Jogja, kuliah, unit kegiatan mahasiswa, si Kribo, dan lain-lain. Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk menyudahi pembicaraan. Sekian ..

Jumat, 20 September 2013

Perang, Kebencian dan Dendam di Kota Abadi


“Who will fight with me? Who will fight with me? Will you fight for me? Will you fight for me?” (Ancient Rome The Rise and Fall of an Empire : Caesar | BBC )

Siapakah yang akan menjadi bangkai di hari Minggu besok ? pertanyaan tersebut agaknya tepat untuk dilayangkan kepada tifosi Lazio dan AS Roma. Sejarah akan mencatat rekor baru, dimana Serie A 2013/14 akan mempertontonkan lima derbi (derbi satu kota) dalam satu musim. Derby Della Capitale patut berbangga, karena mereka menjadi bagian dari kelima derbi yang lain. Sisanya, Derby Della Mole (Juventus vs Torino), Derby Della Madonina/Derby Milano (AC Milan vs Inter Milan), Derby Della Lanterna (Sampdoria vs Genoa) dan Derby Verona (Chievo vs Verona).

Beberapa media ada yang mengatakan kalau Derby Della Capitale merupakan derby paling panas dibanding derby-derby lain di Italia. The Rome Derby lebih ganas dan sarat emosi dibanding Derby Della Madoninna atau Derby Della Mole bahkan Derby Italia. Harga diri menjadi taruhannya, serta siapa yang layak mengibarkan bendera diseantero kota Roma.

Faktanya, persaingan sengit kedua klub tersebut dimulai sejak tahun 1927. Perlu diingat, Giallorossi adalah gabungan dari tiga klub di Roma pada saat itu. Yaitu Pro Roma (1911), FBC Roma (1899) dan Alba Audace (1907). Secara resmi, AS Roma baru terbentuk pada tahun 1927. Penggabungan alias merger tiga klub kota Roma tersebut digagas oleh diktator Italia kala itu, yaitu Benito Musollini. Dimana Musollini merasa jengah atas dominasi klub Italia Utara di jagad sepakbola Italia. Uniknya, Lazio merupakan satu-satunya klub kota Roma yang menolak merger tersebut, Lazio sendiri lahir pada tahun 1900.

Sejauh ini, Lazio menganggap bahwa merekalah klub pertama di kota Roma, mengingat AS Roma baru muncul 27 tahun kemudian. Merekalah yang pantas mendapatkan gelar kaisar Roma. Nah, AS Roma pun menghujat Aquile. Bagi mereka, pendukung adalah orang luar/outsider di kota Roma. Lazio adalah sekumpulan petani dari pedesaan. Selain itu, warna biru langit serta lambang burung elang sama sekali tidak menunjukkan ciri khas dari sebuah kota Roma. Warna biru langit milik Lazio justru menunjukkan tipikal dari bendera Yunani. Sedangkan elang adalah hewan sakral milik Dewa Jupiter.

Apabila mengacu dari mitologi Romulus dan Remus, serigala menjadi peranan penting dalam sejarah kota Roma. Warna merah mewakili Vatikan, sedang warna kuning mengadopsi warna kebanggaan kekaisaran Romawi. Selain itu, serigala juga kerap dihubungkan dengan Mars (dewa perang), ayah dari dua bayi kembar yang lahir dari rahim Rhea Silvia.

Akan tetapi, seekor elang juga merupakan simbol penting disaat kekaisaran Romawi mengalami masa kejayaan. Entahlah, elang ataupun serigala. Pastinya, di setiap tahun mereka selalu bertemu, siapa yang tercabik, lalu dikencingi.

Disisi lain, Lazio juga berpendapat bahwa para fans AS Roma adalah para turis (pendatang dan keturunan imigran) dari daerah selatan nan jauh. Sekedar tambahan, para pendukung Lazio kebanyakan berasal dari utara kota Roma yang kaya serta berhaluan politik sayap kanan. Sedang tifosi AS Roma didominasi oleh masyarakat kelas menengah (kaum proletar) berpaham politik sayap kiri. Mayoritas berasal dari selatan kota Roma. Tempat mereka di stadion Olimpico pun berbeda, Lazio menghuni Curva Nord, sedang AS Roma di Curva Sud.

Berbagai kerusuhan, penghinaan, hujatan serta banner rasis kerap kali muncul di saat berlangsung Derby Della Capitale. Salah satu pemain favorit Lazio, yaitu Paolo Di Canio adalah pemain yang kerap memberikan salam fasis dihadapan pendukungnya. Di tahun 2001, sempat terbentang sebuah banner bernada fasis dan rasis yang ditujukan untuk AS Roma. Banner tersebut menghujat AS Roma, mereka lahir dari ras kulit hitam serta sekelompok masyarakat Yahudi. Rentangan banner tersebut merupakan respon dari Laziale yang sebelumnya sempat dihina oleh suporter AS Roma. Romanisti pernah memajang sebuah banner yang menyatakan bahwa Lazio adalah kambing dan pendukungnya merupakan sekumpulan para penggembala. Sejauh ini pendukung Lazio memang identik dengan simbol-simbol bernada fasis, mereka juga sering memajang lambang swastika. Di musim 98-99, Laziale pernah membuat banner dengan panjang sekitar 50 m yang berbunyi "Auschwitz is your town, the ovens are your houses”


Permusuhan dua klub yang sarat emosi tersebut pun sampai memakan korban, dimana suporter Lazio tewas pada saat derby berlangsung. Di tahun 1979, salah seorang fans Lazio, Vicenzo Paparelli tewas setelah matanya terkena serangan roket jarak jauh. Kematian tersebut menjadi noda hitam persepakbolaan Italia, seorang suporter tewas di stadion. Selanjutnya, pada tahun 2004, pertandingan AS Roma vs Lazio sempat dihentikan oleh suporter AS Roma. Dimana tiga orang dedengkot ultras AS Roma turun ke lapangan dan meminta Fransesco Totti untuk menghentikan pertandingan. Pertandingan tersebut diselimuti rumor adanya kematian seorang anak kecil di luar Olimpico, karena tertabrak mobil polisi. Derby kota Roma akhirnya dihentikan, setelah wasit Roberto Rosetti menelpon Adriano Galliani selaku presiden FIGC. Ada indikasi yang sebenarnya terjadi diluar lapangan adalah keributan suporter AS Roma dengan para polisi. Kerusuhan tersebut mengakibatkan 170 orang terluka dan 13 orang ditahan akibat peristiwa memalukan tadi. Di tahun 2009, pertandingan sempat dihentikan selama 13 menit karena luncuran kembang api ke dalam lapangan yang menyebabkan mata pedih.

Sejauh ini Derby Capitolino sudah berlangsung 172 kali. AS Roma berhasil meraih kemenangan sebanyak 63 kali dibanding Lazio yang baru mengoleksi 48 kemenangan. Sisanya kedua klub tersebut berbagi 61 kali hasil imbang. Derby Roma pertama kali berlangsung pada 8 Desember 1929 di stadion Campo Rondinella. 1-0 untuk AS Roma, gol tersebut dicetak oleh Rodolfo Folk. Kemenangan Lazio yang pertama terjadi pada tanggal 23 Oktober 1932, 2-1 untuk mereka. Gol dari Lazio dicetak oleh Demaría dan Castelli. Kemenangan terbaik untuk AS Roma terjadi pada musim 1933-1934, mereka menang 5-0 atas Lazio. Kelima gol tadi dicetak oleh Tomasi (3 gol) dan Bernardini (2 gol). Sedang hasil terbaik bagi Lazio terjadi pada tahun 2006-2007,  mereka berhasil membungkam AS Roma dengan skor 3-0. Ketiga gol tadi dicetak oleh Ledesma, Oddo dan Mutarelli. Di musim 1997-98 ada peristiwa unik bagi Lazio. Mereka meraih empat kali kemenangan Derby Roma dalam satu musim. Mereka menang 3-1 dan 2-0 di kompetisi Serie A. Serta dua kemenangan lagi di perempat final Coppa Italia dengan skor 4-1 dan 2-1.

Il Capitano Fransesco Totti merupakan pemain dengan penampilan terbanyak dalam Derby Roma, total 31 pertandingan ia jalani. Di Lazio ada Aldo Pulcinelli dan Giuseppe Wilson, masing-masing menjalani 19 kali Derby. Legenda AS Roma, Dino Da Costa meduduki puncak pertama sebagai top scorer di Derby Della Capitale. Sebelas gol berhasil ia lesakkan ke gawang Lazio. Pelatih Fiorentina saat ini, Vicenzo Montella menjadi satu-satunya pemain yang mencetak gol terbanyak dalam satu pertandingan. Montella membobol 4 gol ke gawang Lazio pd 11 Mar 2001. Montella mengakui, dirinya begitu gembira saat pertandingan tersebut. Sampai sekarang,Montella masih mencintai AS Roma. Scudetto di tahun 2001 adalah momen terindahselama hidupnya. 


Mungkin agak dibuat-dibuat, tapi fakta membenarkan bahwa haram hukumnya, AS Roma memakai jasa (membeli) pemain yang pernah berbaju Lazio ataupun sebaliknya. Ketika Pazzini pindah ke Milan, atau Ogbona bermain untuk Juventus, hal tersebut tidak menjadi problem bagi mereka. Beberapa pemain yang pernahberseragam Lazio dan AS Roma antara lain, Sinisa Mihajlovic, Roberto Muzzi,Diego Fuser, Luigi Di Baggio, Lionello Manfredonia dll. Entah patut berbangga atau tidak, fakta unik lainnya adalah, Arne Selmosson merupakan pemain yang pernah mencetak gol baik saat membela Lazio atau AS Roma.

"Much more than just a game", itulah kata yang tepat untuk menyebut Derby Della Capitale. Tomasso Rochi juga berujar, bagi mereka Roma adalah Lazio, biarpun warna kota Roma dipakai oleh Il Lupi. Bagi fans Lazio ataupun AS Roma, menang dalam Derby Della Capitale itu lebih indah dan bergengsi daripada meraih Scudetto. Fransesco Totti dan legenda AS Roma, Giacomo Losi juga mengamini pendapat tersebut. Mereka bukan sekadar pemain, tetapi suporter bagi AS Roma. Roman adalah simbol bagi kedua klub. Bagi para Laziale, Paolo Di Canio adalah icon dan menginspirasi mereka, Di Canio adalah Lazio. Kebencian yang mengitari laga tersebut bisa kita nikmati dalam dokumenter yang dibuat oleh Football Rivalries. Kalau boleh bermimpi, entah tahun berapa, saya ingin melihat Montella melatih Roma lagi dan Di Canio menukangi Lazio. Lalu mereka berdua bertemu dalam Derby Della Capitale, Montella yang kalem melawan Di Canio yang agresif. It's very beautiful. Forza Roma !


Kita tahu, benteng terbesar di Italia adalah seorang nyonya yang mampu mengoleksi emas begitu banyak. Tahun kemarin nyonya tersebut berhasil mendulang emas kembali. Musim yang panjang nan terjal harus dilewati seekor serigala. Serigala pincang, iya serigala ompong. Secara tragis, mereka gagal menambang sebongkah perak. Serigala tadi terlihat sangat kelelahan, matanya nanar, menonton seekor elang terbang dengan gemilang dihiasi cincin perak dijarinya. Serigala pincang tadi dianggap wafat. Sebuah pemakaman diadakan untuk menghormatinya. Ironis, ribuan tangis palsu mengiringi jasadnya. Serigala mungkin hanya mati suri. Mereka mencoba untuk bangkit, mencakar dan mencabik-cabik seekor elang. Mencoba menancapkan kembali bendera kuning dan merah diatas kota abadi.


“Are you ready for a war ?” (William Wallace | Braveheart)


Rabu, 18 September 2013

Cerita, Kota dan Senja

Ada cerita dalam senja di sebuah kota tertua di Jogjakarta
Di balik kempul dan gong itu, aku berusaha mencuri pandanganmu
Tanpa harapan, bahwa kamu akan membalasnya
Bisa saja, karena dirimu, aku lupa satu ketukan nada
Satu tabuhan salah, rusak sudah semua perpaduan irama
Asap rokok mengepul, tanpa mempedulikan kiri dan kanan
Sangat disayangkan, tiada lagi pertemuan tabuhanmu dan tabuhanku
Pedih, seperti asap rokok yang menyelip di mataku
Kamu tahu, aku rindu rutinitas di hari itu
Dan disela ramahnya kota tersebut, aku mengingat senyumanmu


2013

Senin, 16 September 2013

Imagining Argentina

Ketika sebuah negara telah berada “dibawah acungan senjata”, saya kira warga yang berdiam disana akan berontak. Entah dalam batin, atau dimunculkan dalam bentuk tindakan. Ada beberapa film mengenai pergulatan antara masyarakat dengan negara yang pernah saya tonton. Antara lain, Diaz Don’t Clean Up The Blood (Italia : 2012). Beberapa hari yang lalu, saya menonton sebuah film Argentina. Film tersebut berjudul Imagining Argentina. Salah satu teman saya, yaitu mbak Heni, merekomendasikan film tadi. Mbak Heni berujar, film tersebut menarik karena menceritakan “petrus-petrus” Argentina pada tahun 1979-1983. Ketika rezim militer menguasai negeri para pesepakbola kondang. Mungkin saja Maradona menjadi saksi ketika Argentina berada “dibawah acungan senjata”.

Imagining Argentina, film yang dibuat oleh Christopher Hampton pada tahun 2004 ini, merupakan adaptasi atas novel karya Lawrence Thornton dengan judul yang sama. Sebuah novel yang latar belakangnya berbasiskan sejarah. Di saat Argentina berada dalam posisi yang pelik, negeri tersebut terlibat “Dirty War” antara tahun 1979-1983. Kita juga tahu, pada tahun-tahun tersebut Argentina sempat beradu meriam dengan Inggris. Pulau Malvinas atau Falkland yang menjadi taruhannya.

Carlos Rueda (Antonio Banderas) dan Cecilia Rueda (Emma Thompson) hidup di Argentina disaat pemerintahannya dikuasai oleh militer. Mereka mempunyai satu putri, yaitu Teresa Rueda (Leticia Dolera). Carlos sekeluarga terpaksa harus melawan pemerintah, ketika Cecilia mengirimkan sebuah artikel yang mengkritik pemerintah Argentina atas kasus “hilangnya” beberapa siswa sekolah yang memprotes kenaikan tarif bus. Akhirnya Cecilia ditangkap oleh sekelompok oknum yang dikendalikan oleh pemerintah.

Berbagai macam usaha dilakukan oleh Carlos untuk menemukan istrinya. Entah darimana datangnya, tiba-tiba Carlos mempunyai kekuatan ajaib alias indera keenam. Carlos bisa mengetahui nasib para korban yang terindikasi telah “hilang”, apabila ia berdekatan dengan siapapun yang berkaitan atas korban-korban yang “dihilangkan”. Tidak ada penjelasan kenapa atau dari siapa Carlos memperoleh kekuatan misterius tersebut. Carlos yang berprofesi sebagai pengajar teater tersebut, akhirnya mengadakan sebuah forum tiap hari Selasa. Forum tadi berisi rekan atau keluarga para korban “hilang”. Carlos memberikan sebuah penawaran atau mungkin bisa disebut solusi, yaitu pembacaan nasib korban-korban yang “hilang”. Menurut saya, forum tersebut bukanlah solusi yang tepat. Carlos tidak menawarkan sebuah solusi, ia hanya membuat problem dan menciptakan kesedihan.

Saya sendiri memberikan nilai tujuh atas film Imagining Argentina. Ada beberapa tokoh atau adegan yang menurut saya tidak terlalu menarik. Antara lain, pertemuan Carlos dengan sepasang suami istri yang sempat menghuni kamp Auschwitz. Carlos yang linglung berusaha mencari pencerahan di sekitar pedalaman Argentina. Sepasang suami istri Yahudi tersebut nampaknya menjadi pemanis atas simbol “imajinasi” dan “perjuangan” dalam film Imagining Argentina.

Selain itu, sang sutradara doyan sekali mengumbar adegan eksploitasi terhadap perempuan. Penamparan, pukulan serta pemerkosaan kerap muncul. Bukannya kelompok subversif di Argentina tidak melulu perempuan. Namun kenapa, korban yang dianiaya oleh pemerintah militer hanyalah perempuan. Ada satu adegan yang mungkin mewakili kaum laki-laki. Yaitu, disaat teman kerja Carlos, Silvio Ayala (Ruben Blades) dipenjara lalu diinterogasi dan akhirnya dihukum dengan cara dijatuhkan dari helikopter. Silvio lebih memilih bungkam dan memproklamirkan dirinya sebagai seorang Argentina sejati ~> “I’m Silvio Ayala, I’m Argentinian !”

Apabila kita berekspektasi bahwa Imagining Argentina akan memunculkan suasana panasnya rezim diktator nan militeristik, sayang sekali, kita tidak akan menemukannya. Imagining Argentina menawarkan kepada kita, untuk tidak mengulangi kembali masa lalu yang suram. “Never to look back. But it is our sacred duty to look back.”

Imagining Argentina, menyuguhkan data-data sejarah untuk mengawali dan mengakhiri adegan. Caption yang disuguhkan untuk mengawali film adalah tampilan foto atau video pada masa berlangsungnya tragedi berdarah di Argentina. Wajah bengis barisan militer, sekelompok ibu-ibu berdemo dll. Sedangkan di penghujung film, si sutradara berusaha menunjukkan kegilaan rezim militer Argentina selama 1979-1983. Ada sekitar 30.000 ribu korban “hilang”, baik laki-laki, perempuan ataupun anak-anak. Data tersebut berdasarkan Amnesti Internasional. Selain itu ditunjukkan pula puluhan ribu korban yang “hilang” diberbagai macam negara. Seperti, Bosnia Herzegovina, Irak, Kongo, Rusia, India, Kuba, Chili, Kolombia, Mexico, Peru, Srilanka, Libya dan tentunya tanah air beta, Indonesia.

Somewhere in the world today, someone is “disappearing!” (Imagining Argentina)

Kamis, 29 Agustus 2013

La Magica Roma

Beberapa bulan yang lalu, saya membaca twit seorang romanisti. Laki-laki tadi menulis lima momen besar selama dia menjadi seorang romanista. Saya lalu membalas twit lelaki tadi, saya menulis “seeing Montella flying !” Ya, melihat seorang bomber mencetak gol lalu melakukan selebrasi ala pesawat terbang sungguh menjadi pemandangan yang indah bagi saya. Saya punya teman, namanya Ijah. Dia pernah berujar, waktu kecil dirinya suka dengan Montella. Kenapa ? Ijah mengaku senang melihat gaya Montella ketika mencetak gol, ditambah paras ganteng Montella yang mempesona kaum hawa.


                Akhirnya bulan bola sudah hadir kawan-kawan. Selama setahun kedepan kita akan disuguhi begitu banyak pertandingan bola luar negeri. RCTI beralih haluan menyiarkan Liga Spanyol, mengingat Liga Champion sudah dibajak SCTV. MNC Group terpaksa harus kehilangan jatah siaran liga paling terkenal di seantero dunia, liga Inggris menjadi hak SCTV. Setelah sekian tahun menghilang, masyarakat Indonesia kembali disuguhi liga Jerman. Kompas TV memegang hak siarnya. Masih seperti tahun kemarin, “beauty of Calcio” tetap berada di tangan TVRI.
                Pastinya setiap akhir pekan, olahraga yang penggemarnya masih didominasi kaum pria tadi menjadi santapan malam nan mengasyikkan. Twit war antar fans tentunya akan hadir disela-sela timeline kita. Lalu setiap hari Senin atau mungkin Selasa, diskusi soal perempuan akan berganti topik. Obrolan tentang bola menjadi kawan bagi teh ataupun kopi di kantin kampus. Ya, perayaan dan hiburan bagi suporter layar kaca akhirnya kembali dimulai. Selamat !
****
                One drama ends, but another drama begins. Sayang, saya bukan seorang WS Rendra yang pintar bermain kata-kata dan mencipta naskah drama. Tapi drama AS Roma kembali lagi menyelimuti hari-hari saya. Drama yang mampu membuat mood saya tiba-tiba berubah. Minggu kemarin, idola saya kembali membobol gawang, setelah 25 pertandingan tanpa satu gol pun di medan Serie A. Grande De Rossi ! Mungkin terlalu awal, ketika saya harus bilang bahwa AS Roma mampu bersaing dalam perebutan Scudetto. Saya sendiri masih yakin, kalau tahun ini masih menjadi jatah si Nyonya Tua. Hanya saja setitik harapan nampaknya muncul, disaat minggu kemarin AS Roma meraih kemenangan tandang.
                Maklum, raihan tiga poin atas Livorno merupakan kemenangan pertama di pertandingan awal musim selama lima tahun terakhir. Grande Rudi Garcia ! Tidak dapat disangkal, Roma dalam posisi yang amat terpuruk semenjak ditinggal Luciano Spaletti. Berbagai macam pelatih dengan gaya strategi yang berbeda-beda didatangkan. Mulai dari Ranieri, lalu Luis Enrique hingga Zdenek Zemanlandia. Sebelum Spaletti, Roma juga dirundung frustrasi soal pelatih. Luigi Del Neri terpaksa harus mundur di musim 2004/05, posisi klasemen yang buruk menjadi alasan suporter Roma mengkudeta Del Neri. Selanjutnya, pos pelatih Roma diisi oleh mantan bintang, bahkan legenda Roma, Rudi Voller dan Bruno Conti. Pada tahun-tahun selanjutnya, terutama pasca Spaletti, beberapa mantan pemain Roma juga mengisi kursi pelatih AS Roma. Ada Claudio Ranieri serta Vicenzo Montella. Roma terjerat utang berkepanjangan, rezim Sensi diganti oleh rezim Amerika. Mungkin, AS Roma terpikat dengan gaya tiki-takanya Barcelona. Luis Enrique muncul, hasilnya apa ? tetap buruk. Musim berikutnya, Zdenek Zeman datang kembali. Pelatih yang doyan merokok tersebut tentunya menjanjikan gaya bermain “attack, attack, attack !”. Lagi-lagi klub melakukan blunder. Roma tidak percaya dengan takhayul ternyata, sejarah mencatat, bahwa mantan pelatih tidak pernah sukses, ketika dia menjadi kembali melatih klub yang sebelumnya pernah dia tukangi.
                Aurelio Andreazolli dipercaya menggantikan Zeman. Aurelio datang semenjak rezim Spaletti, dia memutuskan bertahan di Roma, ketika Spaletti menyatakan mengundurkan diri dari kursi pelatih Roma. Bermusim-musim, Roma dirundung badai, kondisi yang sangat sulit untuk diperbaiki. Saya sendiri tidak tahu apa tips yang tepat untuk klub favorit saya tadi. Puncaknya, Roma harus tertunduk lesu di Olimpico. Serigala tidak mampu menggigit seekor elang. 1-0 untuk Lazio. Olimpia diizinkan untuk terbang mengitari Olmpico. Maaf, Montella tidak lagi terbang di Olimpico.
                Gosip mengenai siapa yang patut mengisi pos pelatih AS Roma terus mengeruak, berbulan-bulan lamanya. Allegri dikabarkan mendekat ke Trigoria, tapi Adriano Galliani buru-buru mengajaknya makan malam. Perpanjangan kontrak di Milan, deal. Muncul nama lain, yaitu Laurent Blanc. Konon kalau Blanc menjadi pelatih Roma, asistennya adalah Vincent Candela. Tapi nyatanya, Blanc malah melatih PSG, menggantikan Ancelotti. Nama terakhir tadi sempat diisukan menjadi pelatih Roma saat klub memutuskan untuk memecat Zdenek Zeman. Isu bahwa Ancelotti akan kembali lagi ke Olimpico sebenarnya sudah lama menjadi konsumsi publik. Dia sempat menyatakan keingginannya untuk melatih Roma. Namun, papa Carlito sendiri berujar, bahwa gajinya yang sangat tinggi menjadi alasan utama klub untuk tidak mengontraknya. Saya sendiri masih ingat ketika membaca tabloid Bola, Ancelotti berkata bahwa klub yang ingin dia latih hanyalah Milan dan Roma. Sayang, pria bertangan dingin tersebut akhirnya menyeberang ke London. Sayapun sejauh ini terus berharap, bahwa Ancelotti akan melatih AS Roma, entah kapan. Comeback to Rome papa Carlo ! 


Drama tentang pelatih Roma memang sudah selesai. Namun, berbagai macam drama masih saja muncul. Lumrah ketika sebuah klub harus merelakan pemain mereka pergi, lalu membeli pemain baru. Memang beberapa tahun terakhir, sepakbola dunia semakin rusak. Teman saya pernah bercerita, dulu sangat  jarang sekali pemain yang baru merumput selama satu atau dua musim, tiba-tiba dijual di musim selanjutnya. Sekarang ? jangan salah, duit sudah menjadi dewa. Sepakbola adalah bisnis bung ! Agaknya, saga transfer adalah tangga dramatik sebelum kita menikmati satu kemenangan atau nir kemenangan selama semusim ke depan.
                AS Roma terpaksa harus menjual salah satu bek muda (saya sempat menyebut dia, The Next Aldair ) menjanjikan ke klub “Arab”, eh maaf, klub Prancis maksudnya. Lalu, Il Lupi berhasil mendatangkan bintang baru Eropa, Kevin Strootman. Pemuda Belanda tersebut sangat bersinar dikancah Piala Eropa U-21 kemarin. Selanjutnya, Mehdi Benatia, seorang muslim yang mungkin akan menemai sholat Miralem Pjanic, mungkin lho bung. Berdasar statistik, permainan Benatia selama di Serie A lumayan diperhitungkan. Determinasinya sangat tinggi, ahli tackling. Roma juga mendaratkan kembali Maicon di tanah Italia, sejarah berkata klub ibukota tersebut sangat hobi memakai jasa pemain asal Brasil. Setelah ditinggal Stekelenburg, praktis posisi kiper menjadi sangat rawan. Siapa yang muncul ? Morgan De Sanctic akan merayakan reuni Italia U-21 bersama Fransesco Totti di Trigoria. Satu bek belia juga hadir, namanya Tin Jedvaj. Entahlah, tapi di Football Manager dia jago. Semoga di dunia nyata juga begitu. Hahaha
                Ketika beberapa pemain datang, otomatis ada pemain yang harus ditendang. Akhirnya, pemain yang dianggap duri dalam daging oleh suporter AS Roma dijual juga. Pablo Osvaldo, striker penggembara berdarah Argentina menjadi barang dagangan ke klub Inggris, Southampton. Seperti yang diucapkan pengamat sepakbola, James Horncastle, akhirnya si bajak laut Argentina menemukan kembali pelabuhannya dinegeri James Cook. Musim memang sudah dimulai, namun bursa transfer belum ditutup. Satu drama muncul kembali, kita tahu bahwa Erik Lamela pernah menandatangani kontrak baru bersama AS Roma. Namun apa yang terjadi ? ada kabar bahwa dia akan di jual ke Tottenham, wtf ! seakan-akan kita dibohongi, terutama saat ada presentasi klub di Olimpico (Open Day). Saat itu Lamela turut serta dikenalkan kepada publik. Polemik sih, bahwa Roma agak tambun disisi sayap. Reuni pemain asli Pantai Gading, Gervinho dengan Rudi Garcia tentunya mengakibatkan posisi sayap makin bertambah. Itupun masih ditambah dengan transfer Adem Ljajic dari Florence ke Roma. Jadi, bagaimana dengan Lamela ? harap-harap cemas bro. <~ ( kalimat tersebut saya tulis, sebelum OFFICIAL transfer ERIK LAMELA. Saat berniat untuk posting tulisan ini, saya membuka twitter terlebih dahulu. Wow, surprise ! )
****
Saat SMP, saya punya teman, namanya Ari. Dia seorang Milanisti, kita kerap saling ejek-mengejek waktu itu. Just for fun, hanya bercanda, tapi itu menyenangkan sekali. Lalu, tiap sore, saya bersama teman-teman sekampung kerap bermain bola. Kita bermain bola bersama para mahasiswa yang ngekost di daerah kami. Posisi saya adalah bek, mereka menjuluki saya “banteng”. Akan tetapi, saya lebih senang menyebut saya sebagai seorang “Mexes !”. Kalian pasti tahu, siapa itu Philipe Mexes. Bek tengah dari Prancis, berambut gondrong, selalu dikuncir tiap kali bermain. Tekel yang keras, beringasan, provokatif, saya senang dengan dia. Mexes ! Sayang sekali ketika dia harus berlabuh ke Milan, tapi itulah sepakbola.


                Bagi saya pribadi, Roma merupakan klub bola yang diselimuti oleh mitos. Mereka sangat memuja-muja seorang Roman (baca orang Roma). Roman adalah simbol bagi mereka, Roman adalah kapten, leader. Mulai dari Giacomo Losi, Fransesco Rocca, Agostino Di Bartolomei, Bruno Conti, Giuseppe Gianinni, Fransesco Totti serta De Rossi, atau mungkin Florenzi. Ya, untuk nama yang terakhir, saya berharap tidak ada lagi Aquilani “kedua”.
Kita tahu kalau suporter AS Roma lebih memuja Fransesco “Il Principe” Totti ketimbang Daniele “Il Capitano Futuro” De Rossi. Tapi saya sendiri lebih menyukai Daniele De Rossi. Lihatlah permainan dia dilapangan, tekel yang tepat, gelandang bertahan perebut bola serta pengumpan yang lihai. De Rossi selalu bermain dengan gaya yang berapi-api. Terbukti ketika dia berani beradu mulut dengan kapten Lazio, Paolo De Canio. Padahal usia mereka jaraknya teramat jauh. Alasan lain kenapa saya begitu suka dengan Daniele, sangat sepele, De Rossi lahir dibulan yang sama dengan saya. Saya lahir di bulan Juli tanggal 26, sedangkan De Rossi pada tanggal 24 Juli. Ajaib bukan ? hahaha. Masih ada keajaiban yang lain bung, AS Roma diresmikan pada 22 Juli 1927.  La Magica Roma !


                Saya tidak mengalami masa keemasan Roma di periode 80an. Scudetto tahun 2001 memang sangat spesial, tapi saya masih kanak-kanak, emosi  akan kemenangan scudetto tidak saya rasakan. Beberapa tahun berikutnya, Roma ditinggal oleh Capello. Kondisi Roma saat itu bisa dikatakan sangat terpuruk. Bahkan Totti sampai berkata, bahwa Fabio Capello mengkhianati AS Roma. Tapi sudahlah bung, akan ada Roma yang baru setelah itu. Terima kasih Capello atas pengabdiannya sebagai pemain dan pelatih. Lain cerita, saya senang ketika ada duet Totti dan Vucinic. Bagi saya, periode Spaletti merupakan era keemasan bagi AS Roma, biarpun agak ternodai di semifinal Champion. 7-1 ? wtf ! Ya, drama, drama dan drama.

                Okee, mungkin agak naif ya tulisannya. Tapi begitulah. Forza Roma !